
Siang itu cuaca terasa sangat panas, udaranya begitu kental dengan bau debu bercampur asap yang keluar dari motor dan mobil yang berlalu lalang di jalan.
Nampak sekali wajah leo yang masih di dalam mobil enggan untuk beranjak meninggalkan udara yang begitu sejuk di dalamnya.
Namun dia memang harus segera keluar dari mobil untuk segera menemui klara.
Leo keluar dari mobil dan berjalan ke arah belakang untuk membuka bagasi.
Di ambilnya sebuah tas dan beberapa paperbag dari dalam bagasi itu.
Dia menutup kembali pintu bagasinya dan segera masuk ke berjalan ke arah pintu masuk rumah sakit.
Bisa di bilang rumah sakit itu yang terbesar di kotanya.
Leo terus berjalan menuju lift yang bergerak membawanya sampai ke lantai yang dia tuju.
Setelah sampai leo keluar dan hanya berjalan beberapa langkah dia sudah sampai di kamar tempat klara di rawat.
Leo membuka pintu kamar rawat inap yang ada di depannya, dia berjalan ke arah meja yang ada di dalam kamar itu untuk menaruh barang bawaannya.
Di arahkannya pandangan matanya ke arah klara yang masih terbaring di atas tempat tidur.
Dengan alat bantu nafas berbentuk selang yang masih terpasang di dalam mulutnya.
Serta terdengar bunyi mesin yang menandakan kalau detak jantung luna masih berdetak dengan normal.
Flash back on, ,
"Ayolah, , jangan munafik kamu, kamu tahu kan kalau dia sudah tidak bisa kembali padamu?, , kamu juga tahu kan kalau sudah ada wanita lain di hatinya" kata leo.
"Cukup! cukup! cukuuuupppp!!!!" klara berteriak sambil menutup kedua telinga dengan tangannya. karena dia tidak mau mendengar kata kata leo tentang barack lagi.
"Aku tidak mau mendengarnya, aku hanya ingin dia, aku hanya mencintainya, aku hanya butuh dia" kata klara kepada leo dengan mata yang sudah mulai berkaca kaca.
"Lalu kenapa kamu dulu meninggalkan dia?" kata leo.
"Aku pergi karena mengejar cita citaku, namun waktu itu kamu menabrakku!, , kamu yang menolong tapi kamu juga yang sudah menabrakku!!! kalau kamu tidak menabrakku saat itu, sampai saat ini juga pasti aku masih akan terus bersamanya, semua ini gara gara kamu!, gara gara kamu!!" emosi klara meluap luap malam itu, dia terus melampiaskan amarahnya kepada leo sambil terus menangis.
Mendengar kata klara hati leo seperti di sambar petir pasalnya dia selama ini menyembunyikan kebenarannya, karena dia takut kalau klara mengetahui hal itu, dia akan semakin membenci leo.
"Dari mana kamu tahu hal itu?" tanya leo memastikan.
"Aku mengingatnya, aku mengingat wajahmu sebelum kamu menabrakku! tapi aku aku hanya diam, berharap kamu akan mengatakannya dengan mulutmu sendiri" kata klara sambil terus menangis sesunggukan.
"Kamu sudah mengingatnya?? Aku, , maaf, ,aku minta maaf klara" kata leo sambil meraih pundak klara.
"Pergi dari sini, pergi!!! aku tidak ingin melihat wajahmu lagi" kata klara sambil menepis tangan leo yang ingin menyentuh pundaknya.
Leo pun menarik tangan klara dan menarik tubuh klara ke dalam pelukannya.
Dia terus memeluk klara dengan erat.
Namun klara berusaha melepas pelukan leo, akan tetapi kekuatnnya tidak ada sejumput jumputnya dengan kekuatan lengan leo yang dengan erat memeluknya.
Klara terus meronta ronta di pelukan leo.
"Aku minta maaf, aku benar benar tidak sengaja saat itu, aku mohon tenanglah" kata leo meraih kepala klara dan membelainya dengan lembut, dia terus berusaha menenangkan klara saat itu.
Klara yang tadinya terus mencoba berusaha melepas pelukan leo pun akhirnya luluh ke dalam pelukan leo.
Namun tiba tiba tangannya jatuh seperti kehabisan tenaga.
Dan leo mendapati tubuh klara melemas saat itu juga, dan ternyata klara sudah pingsan di pelukannya.
"klara???, , klara?".
Wajah leo memaku saat melihat darah segar keluar dari dalam hidung klara.
__ADS_1
Dia mengusap darah yang terus mengalir itu. Darahnya seperti tidak mau berhenti, dan terus mengalir seperti keran air.
Terlihat sekali di wajah leo kalu dia benar benar merasa khawatir.
Dia segera menggendong tubuh klara yang tengah pingsan itu.
Dibawanya klara ke dalam mobil, dan dengan segera leo pergi membawa klara ke rumah sakit.
Sesampainya di sana leo berteriak meminta bantuan perawat yang sedang berjaga.
Dengan sigap perawat pun langsung menolong barack dan membawa luna ke dalam ruang UGD.
"Tolong mas nya nunggu di luar saja" kata seorang perawat menahan leo untuk tidak ikut masuk ke dalam ruangan.
Terlihat wajah leo benar benar takut kalau sesuatu terjadi dengan klara.
Nampak darah klara membasahi hampir di seluruh bagian baju depan leo.
Beberapa menit kemudian seorang dokter datang dan masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa keadaan klara.
"Dokter?" leo mencoba berbicara dengan dokter itu.
"Tunggu sebentar saya periksa pasien dulu!" kata dokter itu.
Leo mencoba menenangkan dirinya dengan duduk di sebuah kursi yang ada di depan ruang UGD tersebut.
Terlihat kedua tangannya yang masih berlumuran darah klara itu namun sebagian sudah mulai mengering.
Leo belum ada niat untuk membersihkan darah itu, sebelum mendengar kepastian kalau klara benar benar sudah baik baik saja.
Terdengar pintu ruang UGD di buka, dan leo melihat dokter keluar dari sana.
Dengan segera leo langsung menghampiri dokter itu untuk menghujaninya dengan berbagai pertanyaan.
Terdengar suara perawat kembali memanggil dokter itu.
"Dokter kondisi pasien, memburuk" teriak salah satu perawat yang ada di dalam ruang UGD.
Dengan segera dokter langsung kembali masuk ke dalam, terdengar suara mesin pendeteksi detak jantung itu berbunyi.
tiiiiiiiiiiiiiiit, , menandakan kalau detak jantung klara telah berhenti.
kebetulan pintu ruang UGD belum tertutup dengan rapat jadi leo bisa mendengar suara mesin pendeteksi detak jantung itu.
Terlihat wajah leo seperti kebingungan saat mendengarnya, apakah dia akan benar benar kehilangan klara saat itu juga.
Sedangkan dokter mulai menyiapkan mesin kejut untuk memacu detak jantung klara kembali lagi.
Sekali dokter mencoba mengembalikan detak jantung klara, namun mesin masih tidak mau mendeteksi keberadaan detak jantungnya.
Sekali lagi dokter menempelkan dua alat yang ada di tangan kanan dan kirinya itu ke arah dada klara sehingga bagian dadanya melambung seperti dipaksa untuk bergerak.
Namun tetap detak jantungnya tidak mau kembali lagi.
__ADS_1
Terlihat wajah leo semakin memucat dan bibirnya terpaku mendengar suara mesin bercampur adu dengan dokter yang sedeng mamberi perintah kepada perawatnya saat itu.
Dokter tetap tidak mau putus asa begitu saja, dia terus memacu detak jantung klara dengan cara lain, bahkan dia juga sudah menyuntik dada klara dengan obat pemacu jantung.
Dan akhirnya, mesin pendeteksi kembali memperdengarkan bunyinya yang berbeda dengan sebelumnya.
tit, tit, tit, , akhirnya jantung klara kembali berdetak lagi.
Mendengar suara mesin pendeteksi itu berubah bunyinya, tubuh leo melemas dan jatuh terduduk di depan pintu ruang UGD.
Terlihat wajahnya saat itu penuh dengan rasa lega setelah mengetahui klara kembali bernafa slagi.
flash back off, ,
Leo berjalan mendekat ke arah tubuh klara yang masih terbaring dan tidak berdaya itu.
Di belainya dengan lembut rambut klara sembari sesekali menyingkirkan anak rambut yang menutupi kening klara.
Terdengar suara pintu kamar sedang di buka.
Leo mengarahkan pandangnnya ke arah pintu masuk.
Dilihatnya seorang dokter dan perawat masuk ke dalam kamar dengan membawa berkas berkas untuk mncatat perubahan perkembangan klara setiap beberapa jam sekali.
"Dokter?" leo menyapa dokter yang baru saja datang.
"Sebentar saya cek keadaannya dulu" dokter mengambil sebuah senter kecil untuk mengecek apakah pupil mata klara sudah mau memberi respon yang dia berikan atau belum.
Terlihat dia memberikan instruksi kepada perawatnya.
Dan perawat itu segera menganggukkan kepalanya sambil mencatat sesuatu ke dalam berkas itu.
"Hasil tes keseluruhannya sudah keluar, bisa kita bicara di ruangan saya" kata dokter kepada leo.
Leo tidak menjawab pertanyaan dokter, namun terlihat sekali di raut wajahnya bahwa dia merasa khawatir saat dokter membicarakan hasil tes milik klara.
Saat di ruang dokter leo hanya diam ketika mendengarkan dokter berbicara mengenai hasil tes milik klara.
"Apakah sebelumnya, dia pernah jatuh, atau kecelakan, atau apapun sehingga membuat cedera parah di kepalanya?" tanya dokter kepada leo.
Sesaat leo hanya diam ketika dokter menanyakan hal itu.
"Iya, sekitar beberapa tahun yang lalu" jawab leo.
"Jadi, , apakah selama ini dia meminum obat pereda nyerinya dengan rutin?" tanya dokter kembali.
"Saya sering mengingatkan dok, namun karena saya tidak selalu berada di sampingnya jadi, tidak bisa memastikan apakah dia meminumnya atau tidak" kata leo.
"Dari hasil tesnya, setelah kecelakaan beberapa tahun yang lalau, seperti yang kamu bilang, otaknya mengalami trauma, apa sebelum pendarahan kemarin, dia terjatuh lagi atau terbentur?" tanya dokter kepada leo.
"Tidak, , , , kami hanya sedang membicarakan sedikit maslah di antara kami" jawab leo.
"Trauma otaknya membuat pendarahan terjadi karena otaknya tidak mau menerima kenyataan yang membuatnya, mungkin akan menyakiti dirinya, sehingga otaknya tidak mau bekerja sama dengan organ organ tubuh lainnya, maka dari itu sampai sekarang otaknya menolak untuk sadar dari tidurnya, istilah ini bisa di sebut dengan koma" kata dokter mencoba menjelaskan.
"Bagaimana dia bisa sadar kembali?" tanya leo mulai khawatir.
Mendengar petanyaan leo, dokter hanya diam, dan terlihat sekali di wajahnya kalau sepertinya kesempatan luna untuk sadar kembali, kecil kemungkinannya.
"Apa ada cara lain dok?" tanya leo.
"Orang yang sedang koma, dia tidak akan bisa berinteraksi dengan keadaan di sekitar, namun dia masih bisa mendengar, saya sarankan, sering seringlah ajak dia berbicara seolah olah, bahwa dia sedang tidak koma, ketika dia mendengar suara orang yang mungkin sangat berarti di dalam hidupnya, itu bisa membantu merangsang otaknya untuk mau bekerja sama dengan organ tubuh lainnya, di samping obat obatan yang sudah saya berikan, kamu bisa mencobanya dengan hal itu" dokter menjelaskan.
Terlihat leo hanya diam sambil mengelas nafasnya dengan pelan.
***
__ADS_1