Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
44 S3: Love's Romance Tergoda


__ADS_3

Dengan cepat Bunga meraih kedua tangan Davien secara bersamaan. Menghentikan laki laki itu membuka kancing kemejanya.


"Davien!!!" ucapnya memperingatkan laki laki itu.


"Kenapa?? aku hanya ingin membantumu mengganti baju" Davien menepis dengan lembut tangannya agar tak menghalangi ketika membuka kancingnya.


Tubuhnya menegang gugub, jantungnya berdetak kencang tak beraturan ketika Davien masih terus memaksa membuka bajunya. Bunga tertunduk menatap ke arah dadanya, menyaksikan Davien membuka kancingnya.


Dadanya terlihat naik turun dengan cepat karena Bunga semakin takut saat Davien berhasil membuka dua kancing kemejanya.


"Davien aku bisa melakukannya sndiri!!" sekali lagi Bunga meraih kedua tangannya secara bersamaan. Memaksa laki laki itu untuk berhenti.


Davien menundukkan kepalanya menyelidik ke arah wajah Bunga, menahan senyumnya ketika berhasil menggoda Bunga hingga pipinya merona.


"Baiklah, buka bajumu aku akan mengambilkan baju gantinya"


Bunga masih tertunduk menyembunyikan wajahnya karena malu, sementara Davien mengecup ujung kepalanya sebelum melangkah menuju almari kecil yang terletak di belakang Bunga.


Ketika Davien sibuk memilih kemeja, Bunga mulai membuka kancingnya perlahan. Beberapa kali dia nampak terlihat menghela nafas menetralkan perasaan serta rasa gugub yang teramat.


"Situasi macam apa ini??? jantungku hampir saja mau meledak!"


Bunga akhirnya berhasil membuka semua kancing kemudian melepas kemejanya yang kotor dari tubuhnya. Dia terpaku ketika memandang ke depan dan melihat bayangan Davien di cermin sedang menatap ke arahnya dari belakang.


Laki laki itu juga sedang terpaku karena melihat kemolekan punggung Bunga yang terekspose di depan matanya. Pandangannya menyapu setiap inci tubuh perempuan itu. Darahnya berdesir, seketika rasa panas menjalar keseluruh tubuhnya hingga terlihat merona ke bagian pipi. Terlabih lagi saat melihat pengait penyangga dada yang melekat erat di tubuh Bunga, gejolak jiwanya seakan meronta ingin segera menghampirinya dan melakukan apa pun untuk memuaskan dahaganya.


Tetapi Davien laki laki yang cukup pandai menahan perasaannya, hingga dia dapat mengendalikan dirinya dengan baik.


Seketika Bunga memutar tubuhnya dengan cepat. Kini dia menggunakan kemeja kotor yang masih ada di tangannya untuk menutupi bagian depan tubuhnya.


Sesaat Davien mengalihkan pandangannya ke arah lain sembari berdehem mencairkan suasana kaku di antara mereka berdua.


Tak lama Davien kembali menatap nanar ke arahnya, Davien bisa melihat ketakutan melingkupi tubuh Bunga saat menatap kedua tangannya mencengkeram kemejanya kuat.


Davien tersenyum sinis, ketakutan yang sedang di rasakan Bunga malah membuat laki laki itu semakin gemas ketika melihatnya. Tak lama dia melangkah mendekat dengan membawa kemeja putih di tangannya.


Bunga bergerak mundur perlahan hingga akhirnya terpaku ketika tak bisa melangkah mundur lagi karena wastafel di belakangnya.

__ADS_1


"Kenapa ekspresi wajahmu seperti itu?" ucapnya sembari membuka kancing kemeja yang ada di tangannya.


"Mm, , tidak apa apa" Bunga masih tak berani menatap matanya, kini dia menggunakan salah satu tangannya untuk mengusap lengan karena terasa semakin dingin karena ac.


Davien yang tengah sibuk membuka kancing kemeja terakhir itu pun melirik Bunga, menyadari bahwa perempuan itu kedinginan Davien bergerak meraih remot ac yang melekat di sisi tembok. Davien menekan tombol untuk mematikan ac nya setelahnya mengembalikan remot ketempat semula.


"Kemarilah Bunga" perintahnya dengan nada lembut, meminta perempuan itu mendekat.


Bunga terlihat ragu antara ingin memenuhi keinginanya atau tetap berada di tempat semula.


"Kemarilah! atau aku yang akan mendekat dan memaksamu" perintahnya dengan tegas, tak berniat marah Davien sengaja hanya ingin membuat Bunga menurut.


Bunga menelan ludahnya dengan susah payah, dia perlahan melangkah maju mendekatinya.


"Maju lagi!" perintah Davien ketika melihat bunga sengaja memberi jarak di antara mereka.


"Kenapa kamu takut?? Bunga kemarilah aku tidak akan melukaimu!" tambahnya.


Bunga perlahan melangkah dengan ragu hingga jarak di antara mereka semakin dekat. Tetapi karena Davien yang mulai tak sabar, laki laki itu seketika meraih lengan Bunga menarik kuat ke arahnya hingga Bunga yang kekuatannya tak sebanding dengan Davien seketika membentur tubuhnya.


Wajahnya sempat membentur dada Davien membuat lipgloos yang menempel di bibirnya meninggalkan bekas di kemeja milik Davien yang putih bersih. Bunga membungkam mulunya sendiri dengan tangan ketika seakan merasa bersalah karena tak sengaja membuat kemejanya menjadi kotor.


"Lupakan Bunga aku bisa menggantinya nanti!" ucapnya meminta Bunga untuk tak menghiraukan kemejanya yang kotor.


"Maaf aku tidak sengaja melakukannya, karena kamu menarikku secara tiba tiba!" Bunga masih berusaha membersihkan bekas lipgloos yang menempel di kemejanya dengan tangan.


"Bunga cukul!!" Davien meraih tangannya memaksa perempuan itu untuk berhenti.


Davien menunduk menatap matanya tajam.


"Aku bilang ini bukan masalah, aku punya kemeja banyak! aku bisa menggantinya nanti"


Bunga mencoba membuat dirinya tenang karena dia merasa sangat yakin bahwa kemeja yang di kenakan Davien pastinya tak murah harganya.


Davien tersadar bahwa dia sedang mencengkeram dengan kuat tangan Bunga.


"Maaf" ucapnya sembari melepaskan tangannya.

__ADS_1


Namun saat itu juga pandangannya tertuju ke arah dada Bunga yang terpampang di depan matanya.


Tak telalu besar dan tak terlalu kecil, tapi menurut Davien sangat pas sesuai dengan seleranya. Davien mengusap wajahnya frustasi karena situasi yang membuatnya semakin tak bisa berfikir bersih.


Pipinya seketika merona, darahnya kembali berdesir bersamaan dengan itu detak jantungnya berdetak semakin kencang berkali kali lipat dari biasanya.


Sejenak Davien mengalihkan pandangannya ke arah lain sembari mengehela nafas menetralkan paresaan.


Karena tak ingin merasa bersalah karena pandangan matanya telah lancang Davien segera menutup tubuh Bunga bagian depan menggunakan kemejanya.


"Pakai ini!!"


Davien melangkah sengaja menjauhinya.


Sementara Bunga tersadar ketika baru saja dadanya terlihat jelas oleh Davien. Pipinya seketika merona, dengan kedua tangan memeluk dirinya sendiri.


"Astaga!!, , kamu ceroboh Bunga!! ya ampun!! ini sangat memalukan!"


Dengan cepat Bunga segera memakai kemeja yang telah di persiapkan oleh Davien sebelumnya.


Namun Davien masih berdiri di dekat pintu dengan salah satu tangan yang sudah bersiap untuk membukanya.


"Bunga??"


"Ya??" Bunga tengah sibuk memasang kancing kemejanya. Kemeja milik Davien terlihat begitu kebesaran di tubuhnya.


Mendengar Bunga menjawab pertanyaannya, secara cepat Davien kembali memutar sebagian tubuhnya menatap Bunga.


Perempuan itu terlihat menggemaskan saat memakai kemejanya.


Davien yang tak bisa menahannya lagi langsung melangkah mendekat.


Salah satu tangan menelusip meraih belakang pinggang dan satu tangannya lagi meraih tengkuk Bunga. Davien menarik tubuhnya dengan kuat seakan tak memberikan kesempatan kepada perempuan itu untuk menolak.


Tubuh mungilnya seakan terseret arus ketika Davien mncoba menciumnya. kini laki laki itu tengah memainkan bibirnya dengan lembut. Mencercap kuat bahkan mengisap indra perasanya ketika berhasil memaksa Bunga membuka mulutnya. Ciuman yang semula terasa manis kini semakin memanas, berkali kali Davien menggerakkan kepalanya ketika sedang menikmati pagutan bibir mereka. Davien bahkan tak memberikan kesempatan kepada Bunga untuk melepaskannya.


Beberapa kali Bunga mencoba mendorong Davien ketika di tengah tengah ciuman yang semakin memanas membuatnya tak bisa bernafas.

__ADS_1


Bunga di paksa untuk mengikuti alur ciumannya, bahkan dia sampai kualahan ketika Davien menciumnya habis habisan. Matanya membuka lebar ketika mendengar Davien mendesah lirih yang menggelitiki telinganya.


__ADS_2