Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
83. Benarkah Kalian Menikah?


__ADS_3

“Kenapa? kenapa kau ingin membawa kembali Juliet ke sana?” Davien sempat terkejut karena takut itu benar-benar akan terjadi.


“Karena di sana Juliet tidak pernah seperti ini! Itu sebabnya... aku sempat tidak percaya mendengar cerita Juliet saat mengatakan dia bisa tidur nyenyak di mobilmu.”


“ Aku berharap setelah ini Juliet bisa tidur nyenyak seperti sekarang.”


Hening, mereka berdua terdiam menikmati minumannya.


‘Tidak, paman. Paman Marvel dan Ibu tidak menikah mereka hanya berteman. Ibu bilang paman Marvel sudah seperti kakak baginya.’


Ucapan Juliet seketika terlintas di benaknya, Davien semakin penasaran kenapa hanya saat berada di sampingnya Juliet bisa tidur lelap. “Bunga?”


“Ya?” sempat matanya beralih menatap Davien, tetapi tak lama kemudian Bunga mengalihkan pandangannya ketika Davien menatapnya semakin lekat.


“Bagaimana keadaan Juliet ketika dia tidur di samping Ayahnya?” Davien sengaja memancing. “Apakah dia juga tertidur lelap? Seperti saat ini?”


Bagaimana harus menjawab pertanyaan Davien yang Bunga sendiri tak tahu jawabannya. “Uhmm... itu–,”


“Lupakan pertanyaan bodoh dariku! Pastinya Juliet juga bisa tidur nyenyak di samping Marvel!” Davien sengaja menyebut namanya karena ingin melihat reaksinya.


Bunga semakin gugup parah pipinya memerah, memalingkan wajah karena tak ingin Davien melihatnya.


“Bunga? Lihat kemari!” pintanya dengan suara lembut dan berat.

__ADS_1


“Ya, katakan saja aku bisa mendengarmu!” Bunga menolak melihat kearahnya, karena itu bisa membuat dadanya semakin berdebar. Untuk menetralisir perasaannya Bunga meraih cangkir, mencercap coklatnya beberapa kali.


Tak pernah ter bayangkan lelaki itu secara tiba-tiba akan menyentuh wajahnya. Davien menggerakkan satu tangannya yang sempat dia gunakan untuk menyangga kepala, kini tangan itu tengah menyelusup ke sela rambutnya yang panjang menyentuh pipinya tepat di bagian rahang sampai ke belakang hanya menyisakan ibu jari yang mengusap pipinya. Kemudian memaksa Bunga menghadap kearahnya.


Bunga terpaku saat wajahnya di angkat paksa, mendongak menatap Davien yang lebih tinggi. Wajahnya begitu dekat, terlalu dekat bagi Bunga sampai terlihat begitu jelas bagian dalam matanya yang tajam. Bunga bisa melihat bayangan wajahnya di kedua bola mata yang sedang menatap kearahnya tanpa berkedip. Sangat mudah baginya untuk menghindar, tapi Bunga merasa berat hati dan enggan melakukannya. Tak ingin melewatkan momen itu sedetik pun. ‘Aroma ini?’ Bunga menghirup dalam-dalam aroma wangi tubuhnya, sampai-sampai memenuhi ke bagian terdalam dadanya. Di saat itulah Bunga seakan bisa merasa membaur dengan tubuhnya mengobati rindu yang bahkan dia sendiri tak tahu sudah sebesar apa rindunya kepada Davien saat ini.


Begitu juga dengan Davien, pandangannya tak pernah beralih dari Bunga. Wajahnya sudah berada di depan mata, posisi kepala Davien pun sedikit menunduk saat itu, sehingga sangatlah mudah bagi Davien untuk mencium bibirnya tapi, tubuhnya terasa berat saat ingin melakukannya. Davien tak ingin gegabah, harus perlahan dan sesuai rencana. Setidaknya dia harus yakin bagaimana perasaan Bunga saat ini. Davien berusaha mempertahankan posisi mereka, walau beberapa kali Bunga sempat menghindar namun tetap saja akhirnya perempuan itu pasrah dan menyerahkan diri membiarkan Davien menguasai dirinya. “Kenapa begitu sulit bagimu melihat kearahku! Apa di matamu... aku terlihat sangat menjijikkan?”


“E.mm.... “ Bunga refleks menggelengkan kepalanya.


“Lalu... kenapa kau selalu menghindar ketika aku menatapmu? Semuanya sudah berlalu, Bunga!” Davien terdiam sejenak berusaha mengendalikan perasaannya yang semakin kuat dan nyaris menguasai akal sehatnya. “Sekarang jawab pertanyaanku!”


Suaranya yang berat dan juga matanya yang bercahaya di tambah bulu mata lentik seolah seperti mantra yang mampu menghipnotis pikiran Bunga, ketika lelaki itu melemparkan pertanyaan dengan mudahnya Bunga menjawab tanpa berpikir panjang. “Ya, aku akan menjawabnya!” ucap Bunga terbata.


“Aku... tidak pernah membenci, aku hanya kesal, marah dan sakit hati saat itu!”


“Lalu kenapa kau pergi? Kenapa kau meninggalkanku tanpa kabar? Aku tidak pernah mendengar kau mengakhiri hubungan kita dulu. Dan... pernahkah kau mendengar aku berucap kalau hubungan di antara kita berakhir?”


“Tidak” Bunga menggelengkan kepalanya pelan.


“Lalu kenapa kau menghilang?” Davien berhenti berucap memberi waktu kepada Bunga memikirkan jawabannya kali ini. “Aku membiarkanmu pergi bukan karena tanpa alasan, kita sama-sama butuh waktu untuk saat itu. Kau memilih pergi keluar dari rumah ini karena aku pikir kau membutuhkan waktu untuk menenangkan diri... begitu juga aku” pandangannya bergerak menurun tertuju ke bibir Bunga yang seakan ingin berucap sesuatu, tapi tak lama kemudian Davien kembali menatap matanya. “Aku butuh waktu menyadari bahwa kau begitu penting untukku, ya! memang saat itu sepenuhnya aku belum rela membuang barang-barang milik Essie. Tapi alasan kenapa aku mengizinkanmu keluar dari rumah ini... karena aku ingin melihat sejauh mana perasaan yang kumiliki untukmu. Satu minggu berlalu aku berencana menemuimu... tapi saat itu aku bertemu denganmu tanpa sengaja karena boneka matahari yang kau berikan padaku dulu. Saat aku melihatmu di desa itu, aku ingin memperbaiki hubungan kita, aku ingin mengatakan bahwa kau terlalu berarti untukku. Dan saat itu... aku merasa siap membuang semua kenanganku bersama Essie. Aku pikir... kau akan merasa lebih tenang tapi malam itu kau bahkan mengusirku tanpa memberi kesempatan untuk berbicara denganmu!” sesaat Davien menghela nafas panjang karena dadanya mulai sesak. Sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya. “Aku bahkan berkali-kali datang ke desa saat itu tapi aku tak pernah melihatmu lagi. Setidaknya... saat itu biarkan aku mendengar kabar tentang dirimu, karena hanya itu yang bisa membuatku tenang.” Davien menghela nafas panjang menundukkan kepala, bersandar di kening Bunga.


Beban di kepalanya seakan sedikit berkurang, akhirnya Davien menyampaikan sebagian keinginannya waktu dulu yang terpendam beberapa tahun ini. Davien merasa lega meskipun besar keinginannya untuk bisa memiliki Bunga kembali seperti dulu masih sangatlah besar. Tetapi melihat situasi di antara mereka sudah tidak seperti dulu, haruskah kali ini dia benar-benar menyerah. Perlahan Davien mengangkat kepalanya tanpa memberi jarak di antara wajah mereka.

__ADS_1


Setelah tadi kening mereka saling menempel, kini giliran hidung mereka saling bersentuhan saat Davien hendak mengangkat kepalanya menatap Bunga. Nafasnya kasar saat berusaha mencurahkan seluruh isi hatinya, berbagi kesedihan karena memang hanya itu yang Davien miliki selama ini.


Bunga tak begitu bisa melihat wajah Davien dengan jelas, tapi mendengar suara nafasnya yang kasar dan sedikit tersendat Bunga yakin lelaki itu tengah berusaha menahan tangisnya. Dan benar dugaannya, Bunga bisa merasakan kedua matanya yang basah ketika Davien perlahan bergerak mendekat lalu mengecup bibirnya.


Sebisa mungkin Davien menahan diri mengendalikan keinginannya menyentuh Bunga. Tetapi ternyata keinginannya begitu kuat hingga tak bisa ditahan lagi. Berharap Bunga tak akan menolak dan marah ketika dia mengecup bibirnya.


Kecupan itu bertahan lumayan lama bersamaan dengan itu Davien membiarkan air matanya terus mengalir. Namun detik selanjutnya saat merasakan sentuhan tangan Bunga di pipinya, refleks Davien menarik kepalanya menjauh.


Bunga membantu mengusap pipinya yang basah, lelaki itu terlihat berantakan dan menyedihkan untuk saat ini. Entah bagaimana penampilannya dulu setelah tahu Bunga menghilang tanpa alasan. “It’s oke! Aku ada di sini sekarang. Kau bisa memakai bahuku untuk–,” ucapnya terputus kala Davien langsung menarik lengannya, menggunakan bahunya sebagai sandaran tanpa menunggu ucapan Bunga selesai.


Davien membawa perempuan itu ke dalam pelukan erat, penuh hasrat keinginan akan memuaskan dahaganya karena kerinduan yang begitu teramat dalam. Bunga sampai kesusahan saat ingin bernafas, tapi dia tak mampu meminta Davien melepaskan pelukannya.


Tak bisa Bunga bayangkan seperti apa Davien saat dirinya memilih pergi ke Amerika, setidaknya dia memiliki Marvel yang selalu menemani lalu setelah kelahiran Juliet, Bunga semakin menikmati hidupnya. Dalam waktu beberapa bulan Bunga bisa melupakan kekecewaannya dan satu tahun selanjutnya senyumnya kembali ceria karena Juliet.


Namun bagaimana dengan Davien? Bertahun-tahun dia hidup dalam siksaan, menikmati kesakitan setiap saat bahkan tidurnya tak tenang, selalu memilih menyendiri dalam kesunyian seolah membiarkan dirinya terbelenggu dalam keterpurukan atas kesalahan yang dia lakukan.


Perlahan tangan Bunga bergerak mengusap lembut kepalanya. “Aku sudah memaafkan semuanya Davien, aku mohon jangan merasa bersalah lagi... kau sudah menebus kesalahanmu selama ini. Sekarang kau harus kembali menjalani hidupmu lebih baik lagi.”


“Bagaimana aku bisa? Aku telah kehilangan seluruh hidupku!” perlahan Davien melepaskan pelukannya. Menatap kedua mata Bunga kemudian. “Sepenuhnya... aku telah kehilangan semuanya.” Davien menundukkan kepala menetralkan nafasnya.


“Bagaimana bisa?”


Davien kembali menatap matanya. “Bunga!” Davien meraih tangannya, menuntun telapak tangan Bunga menyentuh pipi kiri, meminta tangannya bertahan di sana sejenak. “Kau... dan Marvel, benarkah kalian sudah menikah?”

__ADS_1


__ADS_2