
"Ini rumah siapa?"
David menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang tak jauh dari jalan raya.
"Turunlah, nanti juga akan tahu"
Aileen beranjak turun, tatapan matanya menyelidik kearah pintu rumah yang terbuka dari arah dalam. Dia melihat Essie keluar dengan menggandeng tangan Enrica.
"Essie??" gumamnya.
Anak kecil itu menoleh kearah Aileen, kemudian berlari dengan cepat menghampirinya.
"Tante?" Essie berlari menuju ke Aileen.
"Sayang??, , bagaimana kabarmu?" Aileen tak bisa menyembunyikan wajah berseri serinya ketika bertemu lagi dengan Essie. Perempuan itu menoleh menatap David, dia tidak menyangka kalau David akan mengajak dirinya untuk menemui Essie.
"Aku sudah bilang, kalau kamu akan mendapatkan samua yang kamu inginkan" David membelai kepalanya dan mendaratkan sebuah kecupan di sana.
Laki laki itu kemudian melirik ke Ius yang berdiri di samping Enrica. Tatapan mereka terlihat sesolah sedang membicarakan sesuatu.
♡♡♡
David mengetukkan jarinya ke meja di taman, sesekali dia melirik ke Ius yang duduk di kursi seberang.
"Maaf, , PresDir tidak seharusnya membawa Nona Aileen kemari. Anda bisa menghubungi saya untuk membawa Essie ke rumah Anda. jadi Anda tidak perlu repot repot" suaranya tertahan ketika David menatap tajam kearahnya.
"Apa sekarang kamu yang memberi perintah??" suaranya terdengar rendah, namun mengerikan di telinga Ius.
Ius berdehem, mencoba menetralkan rasa ketakutannya.
"Maaf PresDir, , mengenai Essie, semuanya tidak semudah seperti yang kita bayangkan, Essie memiliki dua wali" Ius tertunduk, dia tak berani menatap David.
"Mantan Suami Raina?? dan aku??" ucapnya mencoba menebak.
"Bukan!, , menurut yang saya ketahui Raina telah menandatangani surat penyerahan hak asuh anak kepada Felix sebelumnya. Dia Adik dari Suami Raina"
"Bukankah Raina sudah menunjukku sebagai walinya?"
"Iya PresDir, retapi harus ada hitam di atas putih, jika PresDir tetap memaksa membawanya maka mereka bisa menuntut ke pengadilan"
"Lalu kenapa dia menyerahkan Essie kepadaku jika dia sudah meminta Felix sebagai walinya!" David menaikkan sedikit nada bicaranya karena terpancing emosi.
"Tenangkan dirimu PresDir, selama Raina sakit, Felix tidak bisa di hubungi. Jadi dia meminta Enrica untuk membawanya pergi dan meminta tolong kepada Anda"
"Berarti jika aku ingin membawa Essie, aku harus meminta ijin kepada dua orang itu!!" David berucap dengan tenang, namun penuh dengan amarah di setiap kata katanya.
"Membuatku pusing!!" tambahnya sembari memijat kening.
Sejenak David terdiam, memikirkan rencana lain untuk bisa membawa Essie bersamanya.
"Karena Ayah kandungnya masih hidup, pihak pengadilan memutuskan untuk mengembalikan Essie kepada Ayah kandungnya"
David mengela nafas dengan kasar.
"Siapa laki laki itu?" ucap David merujuk kepada mantan Suami Raina.
Ius menyerahkan sebuah map berisikan semua perihal tentang mantan Suami Raina.
__ADS_1
"Beliau sedang berada di luar negeri dan lusa baru kembali ke Paris"
Keningnya berkerut ketika membaca semua data tengtang laki laki itu.
"Dia sedang mencari investor??" David menutup map di tangannya. Sempat menatap Ius sebelum ujung matanya melihat bayangan Aileen yang sedang berjalan menuju kearahnya.
"Berapa pun yang dia butuhkan, hubungi dia jika sudah kembali ke Paris" David mengembalikan map itu kepada Ius.
"Selanjutnya kita bahas di kantor" tambahnya.
Ius menundukkan kepala sebelum meninggalkan David sendiri di taman belakang.
Seketika aura gelap yang sempat melingkupi wajahnya menghilang saat Aileen semakin mendekat. David tersenyum memsang wajah ceria.
"Kemarilah" David berucap sembari menepuk pelan pahanya, meminta Aileen untuk duduk di sana.
Perempuan itu menuruti keinginan Suaminya. Aileen pun duduk di pangkuannya.
"Kenapa kamu tidak memberitahu terlebih dulu kalau ingin mengajakku bertemu dengan Essie?"
"Kenapa?" David menyimpan anak rambut Aleen ke belakang telinga.
"Kamu tidak suka?"
"Bukan! bukan seperti itu" Aileen mengangkat wajahnya menghadap David.
"Jika kamu memberitahuku lebih awal, aku bisa menyiapkan sesuatu untuknya"
"Ai dengarkan aku," David melingkarkan kedua lengannya ke tubuh Aileen.
"Apa kamu sangat menyukai gadis kecil itu?" dia menatap lekat Aileen, menunggu jawaban pasti dari mulutnya.
"Kenapa aku harus marah?" David meraih dagu Aileen, memaksa perempuan itu kembali menghadap kearahnya.
"Jadi apa kamu mau jika Essie tinggal bersama kita?"
Aileen dibuat menganga dengan pertanyaan yang dilontarkan David kepadanya.
Aileen belum menjawab pertanyaannya, tetapi David bisa menebak hanya dengan melihat raut wajah Aileen yang sangat bahagia.
"Benarkah?, , kamu mengijinkan Essie tinggal bersama kita??" matanya berbinar binar seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan semua keinginannya.
"Kamu mau?" David meyakinkan sekali lagi.
"Mau mau, , aku mau sekali, aku mau dia tinggal bersama kita" Aileen memeluk Suaminya dengan erat, sebagai rasa terima kasih telah mengijinkan Essie untuk tinggal berasama dengan mereka.
"Tapi"
Aileen seketika melepaskan pelukannya.
"Tapi apa?" raut wajahnya terlihat serius.
"Tapi itu tidak gratis" David kemudian mengecup bibirnya.
"Maksudmu?" Aileen mengerucutkan matanya.
"Nanti malam kamu harus membayarku lebih" pintanya kemudian mengecup dada Aileen, menyandarkan kepalanya di sana dan mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
Aileen tersenyum tangannya membelai lembut kepala David dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih"
" Untuk apa?" David mendongak menatap Aileen.
"Semuanya, , semua kebaikanmu kepadaku" Aileen mengecup keningnya, lalu membelai lembut rambutnya.
"Kamu pantas mendapatkannya Ai" David tersenyum, kemudian membenamkan wajahnya di dada Aileen, sengaja menggerakkan kepalanya untuk menggelitikkinya, hingga perempuan itu tertawa geli seketika.
"Tante?" teriak Essie yang berlari dari arah dalam.
Aileen beranjak berdiri dari pangkuan David. Dia menekuk kedua lututnya untuk menunggu Essie menyambut pelukannya.
David tersenyum melihat rona bahagia di wajah Aileen, kebahagiaannya jauh lebih penting ketimbang apa pun di dunia ini bagi David.
"Dengarkan Tante sayang, , sebentar lagi kamu akan ikut bersama dengan Tante dan juga Om, , kamu mau kan?" Aileen merapihkan rambut Essie yang pirang dan panjang itu untuk di tatanya kebelakang.
"Benarkah??" Essie menanggapinya dengan senyuman termanis.
"Mm, , coba, , kamu bilang terima kasih sama Om" Aileen menunjuk ke David
Essie sempat ragu bahkan dia terlihat sangat takut ketika ingin menoleh kearah laki laki itu.
"Te, , terima, , kasih Om" ucapnya terbata.
David hanya tersenyum diselingi anggukan tipis kepada Essie.
♡♡♡
"PresDir!!" Ius masuk dengan tergesa gesa ke dalam ruang kerja untuk menemui David tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
"Kamu tidak bisa mengetuk pintu??" David yang tengah menhubungi Aileen pun terlihat mengerutkan dahi karena Ius menerobos masuk tanpa ijin.
"Maaf PresDir, , ini tentang Mantan Suami Raina" Ius sedikit membungkuk, tangannya tengah sibuk mengusap layar handheald computer. Dia memperlihatkan sebuah situs tentang berita terkini.
"Pesawat yang di tumpangi laki laki itu melakukan pendaratan darurat, karena suatu kesalahan teknis dan pendaratannya tidak berjalan dengan mulus hingga menewaskan seluruh penumpang"
David menarik tubuhnya kebelakang mencoba membuat dirinya tenang. Menarik nafas panjang untuk melegakan dadanya yang sesak. Jika laki laki itu meninggal, maka David harus mencari Felix, karena hak asuh jatuh ketangannya.
Kerutan di dahinya semakin kasar hingga terlihat dalam.
"Lalu, , apa kamu tahu di mana keberadaan Felix??"
Mendengar pertanyaan Atasannya, Ius berdiam diri. Hanya dengan melihat ekspresi wajahnya David pun tahu kalau laki laki yang berdiri di seberang meja itu tak tahu keberadaan Felix.
♡♡♡
Siang itu Aileen menjemput Essie ke sekolah, dia berencana untuk mengajak gadis kecil itu pergi menghabiskan waktu bersama.
"Essie!!" teriaknya sembari melambaikan tangan, setelah melihat anak kecil itu berlari keluar dari arah pintu.
"Tante??" Essie melingkarkan lengannya di paha Aileen. Perempuan itu berdiri membungkuk merangkup kepala Essie dalam dekapannya.
"Kamu sudah siap untuk pergi jalan jalan??" Aileen menggandeng tangan mungil gadis kecil itu.
"Iya" Senyum lebar menghiasi wajahnya. Seolah sudah tidak sabar ingin segera menghabiskan waktu bersama dengan Aileen.
__ADS_1
"Essie???" suara berat seorang laki laki dari arah samping, seketika membuat dua orang itu mengalihkan pandangan kearahnya.