Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#25 apa hubungan mereka?


__ADS_3

 


Di kampus setelah selesai mengikuti kelas luna mencoba menghubungi barack.


 


Luna mengambil hpnya dari dalam tas. Segera dia menelpon barack.


tut tut tut, , , tidak ada jawaban.


"*Tu*mben" kata luna dalam hati.


Luna menghelas nafas panjang. Sempat terbesit di dalam benaknya mungkin saja barack sedang ada rapat saat ini.


"Hei, kenapa mengeluh begitu?" tanya aryo yang baru saja dateng sehingga mmebuatnya merasa sidikit kaget.


"Siapa yang mengeluh?" luna mencoba maengelak.


"Tuh barusan kamu menghela nafas, itu artinya kamu lagi mengeluh secara halus" kata aryo.


"Idiiiih emang mahkluk halus apa" kata luna merasa sewot.


"Lah, , ko jadi sewot neng" kata aryo menggoda luna.


"Tidak usah nambeh jengkel ya, awas kamu" kata luna mengancam aryo sambil melangkahkan kakinya ke arah pintu gerbang.


"Kenapa jadi marah?, , , karena barack tidak mengangkat telponmu ya" kata aryo sambil mengikuti luna.


Luna hanya membuang tatapan jengkelnya ke arah aryo. Kenpa juga dia harus mengikutinya terus


"Barack tidak jemput, ko sewotnya ke aku, heheheh, , , kalau behitu aku antar pulang ya?" dia mencoba menawarkan niat baiknya kepada luna, namun aryo sebenarnya berharap luna bisa menganggabnya lebih dari itu.


Sekali lagi nampak luna menghela nafas lagi.


"Yaudah, antar aku ke apartement barack ya mau ambil gaun sama peralatan yang lain" kata luna sambil berjalan ke parkiran.


"Memangnya sudah jadi?" aryo bertanya kepada luna sembari memberikan helm ke luna setelah sampai di parkiran motor.


"m, , , sudah donk, tinggal ambil saja di apartement barack terus kirim ke galeri" kata luna sambil memakai helem.


"Yaudah yuk" kataaryo sambil menyalakan mesin motor.


 


Di bandara barack segera memarkirkan mobilnya dan berjalan ke arah pintu masuk menuju ke blok D, blok kedatangan dari luar negeri.


 


Sambil mengatur nafasnya karena terengah engah barack membuang pandangannya ke sekitar untuk mencari klara.


"Barack" terdengar suara klara memanggilnya dari arah belakang.


Barack pun membalikkan badannya dan melihat klara sudah berdiri di depannya.


Klara berlari ke arah barack dan segera memeluknya.


Namun barack hanya diam dan tidak membalas pelukan klara.


"Kenapa raut wajahmu seperti itu?" tanya klara sambil melepas pelukannya.


"Mmm , , tidak, aku hanya berfikir, kamu bilang katanya du atau tiga bulan lagi baru pulang? kenapa jadi secepat ini?" tanya barack sambil melangkahkan kakinya ke arah pintu keluar.


"Aku mengajukan tanggal event soalnya jadwalku berbentrokan dengan kerjaan yang lain, memangnya kenapa? kamu tidak suka aku datang lebih awal?" tanya klara sambil mengernyutkan dahinya.


"Bukan begitu, hanya, , " kata barack.

__ADS_1


"Hahahah, aku hanya bercanda, mm, , , gimana kalau kita makan siang dulu?" kata klara sambil meraih tangan barack.


"Mm" jawab barack pendek sambil menganggukkan kepalanya.


Merekapun pergi meninggalkan bandara dan menuju ke sebuah restoran.


Saat di jalan di lampu merah, barack menghentikan mobilnya karena kebetulan lampu merahnya menyala, beberapa detik kemudian motor aryo berhenti di sebelah kiri mobil barack, jarak mereka hanya sekitar stengah meter.


Luna mengarahkan pandangannya ke arah sebelah kanannya dan dia merasa kaget saat melihat klara tepat berada si sebelahnya.


Kebetulan kaca mobilnya sengaja di buka sama klara.


"Ya ampun, itu bener klara bukan?, , , iya benar, itu klara, , kla" kata kata luna terputus saat akan mencoba memanggil klara ketika dia melihat laki laki yang duduk berada di samping klara itu adalah sosok yang sangat dia kenal, yaitu barack.


Luna mengurungkan niatnya untuk memanggil klara, dadanya tiba tiba terasa sesak dan susah untuk bernafas.


Tidak lama kemudian lampu berganti warna dengan hijau dan mobil barack pun pergi ke arah kanan terlebih dulu, sedangkan motor aryo trus berjalan lurus.


Luna terus memandang mobil barack sampai menghilang dari pandangan.


"Apa sebenarnya hubungan mereka? sepertinya akrab?" kata luna dalam hati.


Aryo mencoba melirik ke arah luna dari arah sepion sebelah kiri.


"Apartemen aryo di sebelah mana?" tanya aryo dengan nada tinggi karena suara bising kendaraan saat di jalan memgalahkan suaranya.


Luna hanya diam saja seperti tak mendengar petanyaan aryo.


"Lun!! kok malah melamun sih?, , luna" kata aryo semakin manaikkan nada suaranya.


Tapi luna masih saja diam.


Kemudian aryo menepikan motornya ke pinggir jalan dan menghentikan motornya.


Luna masih saja diam tak menyadari kalau motornya telah berhenti.


"Eh, iya kenapa?" luna tersadar dari lamunannya.


"Kamu kenapa sih? aku dari tadi nanyain kamu, kemana arah apartemen barack?" kata aryo.


"Owh, maaf aku tidak dengar, lurus aja nanti di depan ada pertigaan belok kiri, apartementnya di situ" luna mencoba menjelaskan, tak bisa di pungkiri bahwa pikirannya selalu terganggu dengan pemandangan saat di lampu merah tadi


"Ya sudah" aryo memakai kembali helmnya.


Dan mnyalakan mesin motornya lagi.


Mereka pun akhirnya sampi di apartmen barack.


"Kamu tunggu disini saja, aku cuma mau ambil peralatan yang kecil kecil kok" kata luna.


"Terus gaunnya?" tanya aryo.


"Nanti malam aku ambil pakai mobilku saja, tidak enak ngrepotin kamu terus"kata luna sambil melepas helm.


"Tidak kok, nanti malam aku jemput kamu pakai mobil" nada bicara aryo terdengar seperti kalau dia ingin sekali membuat luna selalu bergantung padanya.


"Mm, , kenapa kamu tidak sebaik ini denganku sejak dulu yo? aku pasti bakal merasa bahagia banget" kata luna.


"Maaf"aryo meraih pipi luna dan mengusapnya pelan.


"Memang sekarang kamu sedanh tidak bahagia?" tanya aryo.


", , , , , Mmm aku naik ke atas dulu kamu tunggu sebentar ya" luna tidak menjawab pertannyaan aryo, dia malah langsung segera pergi berjalan ke arah lift dan naik ke lantai lima.


Sampainya di aprtement barack, luna langsung masuk dan segera membereskan barang barang ke dalam kardus.

__ADS_1


Luna melepas gaun dari patung dan menaruh gaunnya di atas sofa. Luna melepas patung satu persatu dan memasukkannya ke dalam kardus.


"Apa lagi yang bisa di bawa ya, mesin sama gaunnya nanti malem saja lah" kemudian luna mengambil tas kecil dari dalam tas ranselnya.


Saat mengeluarkan itu luna tidak sengaja menjatuhkan flashdisk tapi dia tak menyadarinya.


Tas kecil itu luna gunakan untuk tempat benang dan jarum.


Selesai membereskan barang barangnya luna segera turun membawa kardus dan menuju ketempat aryo sedang menunggu.


"Maaf ya menunggu lama" kata luna.


"Tidak papa, , udah semuanya?" tanya aryo.


"Cuma tinggal gaun sama mesinnya saja" kata luna sambil terus membawa kardus itu


Aryo pun memakaikan helm ke kepala luna. dan sesekali dia membuang senyum ke arahnya.


"Ayo" kata aryo.


Mereka pun segera bergegas pergi dari apartement barack dan menuju ke rumah luna.


 


Di sebuah restoran dimana barack dan klara sedang makan siang. Klara terus memandangi wajah barack. Sedangkan barack selalu membuang pandangannya ke sekitar.


 


Barack memesan nasi goreng telur ceplok makanan kesukaan klara sejak dulu.


"Kamu masih ingat saja makanan kesukaanku, ayo dong kamu juga makan" kata klara sambil memakan nasi goreng itu.


Dengan sedikit terpaksa barack memakan nasi goreng itu didepan klara.


Sesekali terlihat di wajahnya bahwa dia merasa kesusahan untuk menelan nasi goreng itu dan dia meminum air putih untuk mendorong makanan yang menyangkut di tenggorokannya.


"Mmm , , om sama tante gimana kabarnya?" tanya klara memecah keheningan.


"Baik" jawab barack pendek sambil sesekali meminum air di depannya.


"Aku masih merasa takut untuk bertemu dengannya, dia pasti marah besar padaku, karena sudah" kata klara.


"Tidak usah di ungkit ungkit lagi" sahut barack.


"Mmm , , barack, , , , kita mulai dari awal yah?" kata klara sambil meraih tangan barack yang ada di atas meja.


Barack yang menyadari itu, perlahan dia langsung menarik tangannya dan berpura pura mengambil ponselnya sebelum klara sempat menyentuhnya.


Barack melihat ke layar ponselnya, tertulis 'satu panggilan tidak terjawab' dan itu panggilan dari luna.


"Kenapa dia menelponku di jam segitu, apa dia tidak ada kelas?" tanya barack dalam hati.


"Barack!, , " suara klara terdengar nyaribg di telinganya, sampai sampai membuyarkan konsentrasi barack saat sedang memikirkan luna.


"Maaf, , aku tidak mendengarmu tadi" kata barack memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong jas.


Kalara mencoba menghela nafa panjang.


"Bagaimana kalau kita mulai dari awal?" tanyanya kembali.


Barack hanya memegangi keningnya sambil menghela nafas dengan pelan.


"Aku tidak tahu harus mulai dari mana, tapi di pikiranku, yang terpenting adalah, menjelaskan kesalah pahamman itu sama kedua orang tuaku, mungkin dengan begitu mereka bisa menerimamu kembali, karena bagaimana pun, restu kedua orang tua itu di atas segala galanya" kata barack.


Wajah klara nampak tidak berekspresi setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulut barack.

__ADS_1


Tak bisa di pungkiri ingin rasanya dia kembali berhubungan dengan barack seperti dulu lagi, namun rasanya masih takut kalau harus bertatap wajah secara langsung dengan ke dua orang tuanya.


***


__ADS_2