
Iris terlihat melamun di lorong perpustakaan. Menyandarkan tubuh dan kepalanya di atas meja merupakan hal ternikmat baginya saat itu.
Dia sangat tidak bersemangat untuk mengikuti jam kuliah selanjutnya. Matanya selalu tertuju kearah ponsel di depannya.
Iris mencoba menghubungi Kenzi tetapi belum sempat di angkat, dia memutuskan panggilannya.
Dia menghela nafas panjang, menarik tubuhnya menegakkan punggung kearah belakang.
Tubuhnya terperanjak ketika Kenzi kembali menghubunginya.
Iris kelimpungan, dia bingung ingin berucap mulai dari mana.
"Hal, ,halo?" suaranya sangat lirih, karena sadar dia berada di dalam perpustakaan.
"Halo?, , kenapa bbisik bisik?" Di seberang sana, Kenzi juga ikut berbisik bisik ketika mendengar Iris memelankan suaranya.
"Tunggu sebentar Kak, aku akan keluar dari perpuastakaan" Iris berjalan keluar menuju kehalaman kemudian duduk di bangku bawah pohon.
"Kak, kamu masih ada di situ?" Iris sudah berbicara dengan normal, bahkan suaranya terdengar jelas di seberang sana.
"Iya, aku masih ada di sini. Di hatimu" Kenzi dan Iris tertawa senang.
"Apaan coba, " perempuan itu menambahkan.
"Ka, ,mmm aku ingin mengatakan sesuatu" mendengar suara Iris yang terdengar tidak mengenakkan hati, membuat Kenzi sejenak terdiam.
"Ka??"
"Iya aku mendengarmu, katakan ada apa?" Kenzi diam menunggu Iris untuk mengatakan sesuatu.
Iris nampak ragu, mungkin hal itu akan membuat Kenzi terkejut. Atau bahkan marah besar.
"Bisakah, , pernikahan kita di undur?"
Sejenak tak terdengar sahutan dari Kenzi, sepertinya laki laki itu sedang mencerna ucapannya.
"Kamu akan mendapatkan apa pun yang kamu mau. Kamu ingin menundanya??, , maka aku akan menghubungi kedua orang tuaku"
"Kenapa setelah mendengar jawaban dari Kak kenzi hatiku merasa sakit??, , aku hanya ingin Kak David dan Aileen menikah terlebih dulu. Tetapi aku merasa Kak Kenzi sangat sedih"
"Kak??, , apa kamu marah??, , kenapa kamu tidak menanyakan alasannya?" Iris terlihat murung.
"Tidak sayang, aku tidak marah. Aku tahu kamu pasti memiliki alasan yang tepat"
"Maaf, , "
"Tidak perlu minta maaf, Orang tuaku pasti mengerti, toh mereka beberapa bulan terkhir ini juga masih sibuk. Jadi belum belum ada waktu untuk membahas soal pernikahan. Kamu tenang ya?"
"Ee, ,iya, , "
"Kalau begitu aku akan kembali kerja, aku tutup dulu ya"
Iris menghela nafas panjang, dia merasa lega karena sudah mengutarakan keinginannya.
♡♡♡
"Bukan!, , ini bukan tentang perempuan lain. Ini tentang kamu!" Abell mulai terlihat serius.
Raut wajah yang sempat menegang kini sedikit terlihat lebih tenang.
"Aku? kenapa denganku?" Aileen bingung rahasia apa yang di miliki David tentang dirinya.
"David cerita kalau dia mulai menyukaimu sejak kalian bertemu di mini market" Abell memulai bercerita.
Sementara Aileen berusaha mengingat kejadian itu.
"Kamu perempuan pertama yang membuat David membuka hatinya untuk seorang perempuan"
"Bukankah selama ini banyak wanita yang ada di sisinya?, , bagaimana aku bisa menjadi yang pertama?" Aileen menyela pembicaraan.
"Pertama, yang membuat David bisa merasakan cinta, selama ini perempuan yang ada di sisinya hanya untuk sensasi dan kesenangan semata. Tapi denganmu, , dia bersungguh sungguh, , dan sangat mencintaimu. Dia sangat takut kehilanganmu"
Aileen terkekeh dia masih tidak bisa percaya dengan cerita itu.
"Terserah kamu percaya atau tidak, tapi aku sebagai sahabanya tidak pernah melihat rasa sayang kepada seseorang sebesar ini di matanya. Dan kamu tahu, , David hampir tak perduli dengan hidupnya setelah kamu pergi meninggalkan Paris. Dia tak hanya kehilangan setengah namun hampir seluruh hidupnya!"
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Aileen mengerutkan dahinya.
"Iris tidak cerita denganmu?" Abel mengerucutkan matanya.
"Cerita tentang apa?"
Melihat dari raut wajah Aileen, Abell bisa menebak bahwa Aileen tak tahu apa pun.
"David merusak hidupnya sendiri, setiap malam aku menemaninya pergi minum. Menemaninya pergi ke Dokter ketika Gastristisnya kambuh. Ketika sembuh, dia kembali mabuk lagi, Kamu pasti tahu tentang penyakitnya yang satu itu"
Aileen terpaku, dia sepertinya mulai percaya dengan cerita itu.
"Dia jarang pulang, setiap hari, waktu, dia selalu menghabiskannya untuk bekerja. Berharap setiap hari akan terlewati dengan cepat. Tak pernah sedetik pun namamu hilang dari ingatannya. Dia terlalu bekerja keras, bukan berusaha untuk melupakanmu tetapi untuk bertahan ketika kamu tidak ada di sisinya" Sejenak Abell berhenti berucap untuk menghela nafas.
"Dia sempat berkata bahwa cintanya semakin menguat, hingga dia tak bisa mengendalikannya. Dua minggu lebih David berada di rumah sakit, dan sampai saat ini jika dia masih bertahan hidup, , tidak lain itu hanya untuk dirimu"
Hati Aileen bergetar mendengarnya.
"Benarkah??, , sebesar itu cintanya terhadapku??, , kenapa aku menjadi begitu egois hingga tak melihat cintanya yang begitu dalam??"
"Dan soal taruhan, ,itu bukan salah David. Aku yang mengajaknya" Abell menambahkan untuk lebih meyakinkan Aileen.
Aileen bergerak maju.
"Tadi pagi, , aku tidak sengaja melukainya, karena, , karena aku merasa benci ketika dia mendekatiku. Dan tadi dia melihatku ada di dalam mobilmu. Aku yakin hal itu pasti menyakitinya." sejenak Aileen terdiam, kemudian berucap lagi.
"Antarkan aku kerumahnya"
Abell mengangguk. Tangannya bergerak membuka pintu mobil kemudian mempersilahkan Aileen masuk.
"Masuklah, , aku akan mengantamu"
♡♡♡
Ting tong!!!
Pelayan terkejut ketika melihat Aileen berdiri di depan pintu.
"Nona cantik?, , ee, ,maksud saya Nona Aileen??" setelah lama menghilang kepal pelayan itu akhirnya bisa melihat Aileen lagi.
"Masuklah Nona, Tuan Muda ada di ruang kerjanya"
Aileen melangkah masuk menuju kearah dalam, dia menghentikan langkahya tepat di depan pintu ruang kerja.
Perempuan itu terlihat ragu ketila ingin mengetuk pintu. Dia akhirnya hanya mondar mandir sambil memikirkan apa yang akan dia lakukan setelah berhasil masuk ke dalam.
Aileen terkejut saat David membuka pintunya dari arah dalam. Pandangan mata mereka bertemu. Sejenak saling memandang satu sama lain.
Belum sempat mengatakan sepatah kata pun, David berjalan melawati Aileen begitu saja tanpa menghiraukan perempuan itu.
Aileen memang pantas mendapatkannya, setelah melukai lengan David, dia duduk berada di dalam mobil dengan Abell. Dalam sehari Aileen membuat David berfikir bahwa dia memang sudah tidak berguna dalam hidup Aileen.
"David?" Aileen melangkah mengikuti David kearah ruang Tv. Dia melihat laki laki itu sedang duduk sambil sibuk mengganti chanel, mencari acara yang menarik saat itu.
Aileen perlahan duduk di sebelah David, sesekali dia melirik kearah lengannya yang terluka.
"Lukamu bagaimana?" Aileen tak bisa memastikan keadaan lengan itu karena David sengaja memakai kaos putih dengan lengan panjang.
David diam membisu, dia bahkan tak melihat ke Aileen.
"Kamu marah??" suara Aileen terdengar rendah, dia seperti sudah putus asa.
"Apa karena melihatku bersama dengan Jack?" Aileen menyelidiki wajah David yang masih tak bergeming.
"Kamu cemburu?" Nada bicara Aileen semakin merendah.
"Kenapa aku harus cemburu?" David berucap dengan sinis.
Aileen seketika menatap wajah david dengan lekat. Entah kenapa kalimat yang keluar dari mulu laki laki itu membuat Aileen sakit hati.
Aileen terdiam membenamkan tubuhnya di sandaran sofa.
Tapi saat itu juga David beranjak berdiri meninggalkan Aileen. Dia melangkah menuju pintu kemudian keluar dari rumah.
Aileen hanya diam sambil mengikuti langkah David dari arah belakang.
__ADS_1
Laki laki itu berjalan menyusuri trotoar, melewati jalanan dengan bangunan tinggi di sana.
David menghentikan langkahnya, membuat Aileen yang sedang tertunduk sambil berjalan tanpa memperhatikan jalan menabrak tubuhnya.
Bruggh!!
"Maaf, ," Aileen mengusap keningnya karena membentur punggung David.
Laki laki itu memutat tubuhnya, kemudian menatap Aileen dengan malas.
"Kenapa kamu mengikutiku??"
"I, , ini sudah malam. Aku khawatir dengan lukamu?"
"Aku tidak menyuruhmu untuk datang kemari dan mengkhawatirkanku!!, , pulanglah" David berucap dengan malas, dia kembali melanjutkan langkahnya.
Begitu juga dengan Aileen, dia masih terus mengikuti David.
Jarak di antara mereka cukup jauh hingga ketika David sudah berdiri di seberang jalan, Aileen masih berada di tempat semula.
"Daviid!!, ,tunggu!" Dia ingin menyebrang, tetapi lalu lintas malam itu lumayan padat.
David tak bergeming tetapi dia sengaja memperlambat langkahnya. Menunggu Aileen menyebrang jalan.
Aileen paling takut jika harus nenyeberang sendiri. Tetapi demi mengejar David dia memberanikan diri.
Ketika selangkah menginjakkan kakinya di jalan raya sebuah mobil melintas dengan cepat
**Tiiiiiinnnn!!
"Cari mati ya**!!" teriak orang dari dalam mobil.
David seketika langsung menoleh, nafasnya memburu. Dia merasa lega ketika Aileen masih berdiri di seberang sana.
Dia akhirnya menghampiri Aileen, meraih tangan dan menggandengnya. Menuntun Aileen untuk menyebrang jalan bersama.
Setelah sampai di sisi jalan, David melepaskan tangan Aileen.
"Kamu bilang kamu tidak suka berdekatan denganku" David berucap dengan tenang, dia mencoba mengontrol dirinya agar emosi di dalam hatinya tidak meluap.
"kamu bilang aku selalu mengganggumu, maka aku akan diam jika di dekatmu!, aku sedang berusaha melakukan apa yang kamu mau. Aku berusaha untuk tidak mengganggumu. Aku sedang berusaha menjaga jarak darimu!, aku berusaha memenuhi semua keinginanmu!" David menghela nafas panjang, mencoba membuat dadanya sedikit merasa lega.
"Sebegitu bencinyakah kamu denganku?? apa masih kurang kamu menyakitiku?, , jika masih maka lakukanlah semaumu!!" tambahnya. David kemudian memutar tubuh melanjutkan langkahnya.
"David??"Suara Aileen tersekat oleh perasaan sakit di dalam hatinya. Saat mendengar David mengatakan hal itu. Dia bisa merasakan apa yang sedang di rasakan oleh laki laki itu.
Seketika David memaku langkahnya. Menoleh kearah samping lalu berucap.
"Jika kamu terpaksa dengan semua ini, aku akan membatalkan pernikahan kita, aku tidak ingin kamu tersiksa lagi jika selalu berada didekatku!"
Tubuh Aileen terpaku, dia terdiam menatap David yang semakin melangkah menjauh.
"Tidak!, , seharusnya bukan seperti ini. David?"
Aileen mempercepat langkahnya mencari David yang sudah menghilang di rerumunan orang.
Nafas Aileen memburu, dadanya terasa sangat sesak ketika mendengar David akan membatalkan pernikahannya.
Dia berusaha menerobos rerumunan orang yang sedang menyeberang di sebuah jembatan.
Tubuhnya terpaku ketika melihat bayangan David tak jauh darinya.
Aileen mengatur nafas sejenak sebelum berterik memanggil nama laki laki itu.
"David!!" nafasnya masih tersengal sengal.
David membalikkan tubuhnya ke belakang. Dari kejauhan dia melihat Aileen berdiri di sana sambil menatap kearahnya.
Aileen berlari, kemudian berdiri di depan David sambil mengatur nafasnya yang tersengal sengal.
"Ada apa lagi??" David menatap malas, suaranya pun terdengar berat. Sengaja memberi waktu sejenak untuk menunggu Aileen berbicara.
♡♡♡
Jangan lupa likenya Kakak 😘😘😘
__ADS_1