Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#52 khawatir


__ADS_3

 


Ke dua pipi luna memerah setelah mendengar kata kata barack itu.


 


"Tidak!, , siapa yang menggodamu" luna mencoba beranjak dari sofa karena meresa malu dengan barack.


Namun barack tiba tiba menarik tangan luna hingga terduduk lagi di atas sofa, dengan cepat barack mendorong pundak luna hingga sebagian tubuhnya itu tertidur di atas sofa.


 


Barack menekuk ke dua lututnya di samping paha luna, dan membiarkan kaki luna terkunci di sela sela ke dua kaki barack.


 


Meletakkan tangannya di samping kanan kiri pundak luna untuk menahan badannya agar membuat sedikit jarak antara tubuhnya dan tubuh luna yang ada di bawahnya.


Nafas luna terdengar kasar dan sedikit ngos ngosan karena merasa kaget saat barack melakukan hal itu.


 


Barack terus memandangi wajah luna yang terlihat tersipu malu.


 


Pandangan mata barack membuat luna menjadi salah tingkah, namun dia tidak bisa pergi dari hadapan barack.


Perlahan barack mendekati wajah luna yang mencoba menghindari pandangan matanya. Hingga hidung mereka saling bersentuhan satu sama lain.


 


Nafas barack terasa panas saat mengenai wajah luna dan terdengar sangat kasar.


 


Karena menahan rasa malunya, luna segera menutup matanya dengan cepat.


Dia tidak tahu kalau itu malah membuat barack berfikir agar dia cepat segera menciumnya.


 


Terlihat senyum di bibir barack setelah melihat luna menutup matanya.


 


Dan dia pun melayangkan ciumannya ke bibir luna yang masih tertutup rapat.


Di ciumnya dengan sangat lembut bibir luna yang terasa keras itu.


Namum seketika barack menghentikan ciumannya dan membuka sedikit matanya, dilihatnya mata luna yang ditutup rapat rapat sampai terlihat kerutan di sekitar matanya.


 


Barack seperti merasa kalau luna tidak ingin di cium olehnya.


 


Makanya dia mencoba menyandarkan keningnya di kening luna.


Luna sadar saat barack menghentikan ciumannya itu, makanya dengan perlahan dia membuka kembali matanya.


Dan dilihatnya wajah barack masih berada dekat di depannya.


"Kenap?, , kamu tidak nyaman?" tanya barack.


Aroma kopi yang sangat kental tercium dari mulut barack saat dia berbicara, mungkin itu sisa tadi saat dia minum kopi di kantor nya.


Terasa panas, tidak kalah panasnya dengan nafas yang keluar dari hidungnya.


"Hm" luna hanya menggeleng dengan pelan.


"lalu?" sahut barack.


"A, aku, , , mmm, , aku tidak tahu harus bagaimana, saat, , , , saat kamu, , menciumku" kata luna terbata bata karena menahan rasa malunya,


"Serahkan padaku!" suara barack terdengar sedikit serak di telinga luna.


"Ha??, , " luna tidak mengerti dengan apa yang di katakan barack.


"Biarkan aku yang menuntunmu" kata barack, matanya tidak pernah lepas dari wajah dan bibir luna yang sangat berada dekat di depannya itu.


Luna hanya diam mendengar perkataan barack.


Dengan segera barack kembali memcium bibir luna, dan terus melumat bibirnya dengan perlahan, namun kali ini bibirnya tak sekaku saat pertama kali barack menciumnya.


Dan perlahan luna kembali menutup matanya.


 


Kini rasa lembut saat barack mencium bibir luna itu membuatnya samakin mendorong kepalanya ke arah wajah luna hingga ciumannya semakin dalam.


 


Barack menuntun luna untuk membuka sedikit mulutnya itu, dan luna pun mengikutinya.


Karena saking kencangnya detak jantung barack sehingga memaksa luna untuk mendengar detak jantung barack yang kencangnya melebihi detak jantungnya sendiri.


 


Semakin dalam dan semakin kencang ciuman barack, membuat luna merasa sedikit sakit di bagian bibir bawahnya, terlihat sedikit kerutan di dahi luna.


 


Dengan cepat luna langsung membuka matanya, dan tangan luna mencoba meraih dada barack.


 


Dia berusaha mendorong tubuh barack yang ada di atasnya itu dengan pelan, agar barack menghentikan ciumannya itu.


 


Namun percuma, barack masih terus mencium habis bibir luna.


 


Luna terus berusaha mendorong tubuh barack yang berat itu, dengan sekuat tenaga luna berhasil membuat barack melepaskan ciumannya.


 


Terdengar nafas luna dengan kasar, dan masih terengah engah sambil mencoba mengatur nafasnya.


Barack hanya melihat dengan tatapan keheranan saat itu.


"Kenapa?" tanya barack yang masih berada di atas luna dengan kedua tangannya yang masih terus membantu untuk menopang badannya.

__ADS_1


"Engap!!, , aku tidak bisa nafas tahu, sengaja mau membunuhku ya!!!" kata luna sambil terus mencoba mengatur nafasnya.


 


Barack pun tersenyum dan tidak lama setelahnya dia menarik tubuhnya kembali ke belakang dan menyenderkan badannya ke dinding sofa.


 


"Kamu bilang, aku mau membunuhmu???, , dasar, , " Terdengar suara cekikikan dari arah mulut barack setelah mendengar kata kata luna.


 


Luna pun terbangun dan duduk kembali di atas sofa, Sambil terus merasa heran saat melihat barack yang sedang kegirangan itu.


 


"Kenapa malah cekikikan begitu?, , orang tidak bisa nafas juga" kata luna sambil memegangi bagian bibir bawahnya yang sedikit membengkak itu.


 


Barack langsung menahan tangan luna yang mencoba menutupi bibirnya sendiri.


 "Jangan di tutupi!!" katanya.


"Kenapa?" luna merasa heran.


 


Barack terus memandangi bibir luna yang memerah dan sedikit membesar karena perbuatannya itu.


 


"Aku suka melihatnya, jadi biarkan terus seperti itu" kata barack.


Saat itu juga luna di buat jantungan dengan perlakuan barack terhadapnya.


Barack menyerat badannya sendiri agar mendekat ke arah luna.


"Dengar!, , jangan pernah berpakaian seperti itu lagi di depanku!, , " kata barack sambil menyelipkan tangannya di antara pipi dan rambut luna.


"Kenapa?" tanya luna dengan wajah polosnya itu, seperti tidak merasa bersalah karena membuat barack kesetanan seperti barusan.


"Harus ya, kamu bertanya seperti itu!" barack kebingungan menjawab pertanyaan luna itu.


 


Terlihat sekali di wajah luna semakin merasa kebingungan.


 


"Luna, aku ini seorang laki laki normal" wajah barack terlihat kesal, barack mencoba menjelaskan dengan cara lain berharap agar luna mengerti maksut perkatannya.


"Ya sudah lupakan!, , tidak usah di bahas lagi oke!" kata barak sambil menarik tangannya kembali.


 


Barack segara berdiri dan beranjak dari kursi sofa itu.


 


"Aku akan mengantarmu pulang, sebentar aku ambilkan jaket buat kamu" kata barack.


"Tapi aku bawa mobil" kata luna.


"Aku antar kamu pakai mobilmu, nanti pulang ke sininya, biar aku suruh sopir untuk mengantarku, , oke" kata barack, dia pun berjalan menuju ke arah kamarnya.


 


 


Terlihat dia berdiam diri sesaat sambil memegangi jaketnya itu.


Wajahnya di penuhi dengan rasa penyesalan yang teramat dalam.


"barack barack!!!, , apa coba yang barusan kamu lakukan!!! tahan emosimu!" kata barack dalam hati kepada dirinya sendiri.


Dia pun segera keluar dari kamarnya dan menemui luna yang masih terdiam duduk di atas sofa.


Dia membuka lesreting jaketnya dan menutupi pundak luna dengan menggunakan jaketnya itu.


"Aku bisa pakai sendiri" kata luna sambil memakai jaketnya.


"Kunci mobilmu?" tanya barack kepada luna.


"Di atas meja dapur" Kata luna sambil membenarkan lesreting jaket.


Barack berjalan ke arah dapur untuk mengambil kunci mobil luna, namun dia melihat ponsel luna juga berada di atas meja di dekat kunci mobilnya luna.


 


Dia mengambil ponsel luna dan nermaksut untuk memberikannya kepada luna, namun tiba tiba ponselnya bergetar.


 


dreettt ddreettt, ,


 


Terlihat dilayar ponsel luna, aryo memanggil.


 


Wajah barack seketika berubah menjadi galak.


Diangkatnya telepon dari aryo itu.


"Halo!!! jangan pernah telpon ke nomor ini lagi!!!" kata barack dengan nada ketus.


Dan dia segera menutup telponnya kembali.


Luna mendengar auara barck yang keras itu dari arah dapur.


"Siapa?" tanya luna.


Barack melihat ke mata luna dengan galak.


"Aryo!!, , aku sudah suruh dia, untuk tidak menelponmu lagi" suara barack terdengar dengan penuh nada penekanan di setiap kata katanya.


 


Bukannya ketakutan, luna malah cekikikan mendengar melihat sikap barack.


 


"Kenapa malah cekikikan begitu? ada yang lucu?!" tanya barack dengan rasa sebel kepada luna.

__ADS_1


"Ada, , , kamu" luna pun malah tersenyum girang sampai terlihat giginya yang putih bersih itu.


"Terserah!!!" kata barack sambil berjalan menuju ke arah pintu.


 


Selesai makan malam barack langsung mengantar luna pulang ke rumahnya.


 


Barack memarkikan mobilnya di garasi rumah luna.


Kemudian dia mematikan mesin mobilnya.


Mereka berdua segera keluar dari mobil.


"Aku langsung pulang ya" kata barack.


"Tidak ketemu mamah sama papah dulu?" tanya luna.


"Sudah malam, tidak enak nanti mengganggu, salam saja ya buat meteka" kata barack.


Dia pun berjalan ke arah keluar.


Sedangkan luna masih terus berdiam diri sambil melihat ke arah barack yang terus berjalan meninggalkannya.


 


Barack menyadarinya kalau luna masih berdiri sambil terus melihatnya.


 


makanya dia segera membalikkan badannya dan memandangi wajah luna dari ke jauhan.


Terlihat luna membuang senyum manisnya ke arah barack.


Dan barack pun perlahan kembali menghampiri luna kembali.


Nampak dari wajah luna kalu dia merasa heran saat melihat barack kembali berjalan ke arahnya.


Diraihnya leher bagian belakang luna dan barack pun melayangkan ciumannya di kening luna.


"Langsung tidur ya?" kata barack.


 


Luna pun menganggukkan kepalanya dengan pelan.


 


Barack berjalan ke arah keluar dari garasi sambil mengambil ponselnya dari saku celananya.


Di telponnya seorang sopir papahnya yang ada di rumah.


"Jemput aku di rumah luna" tanoa mendengar jawaban dari supirnya, barack pun mematikan teleponnya.


Barack merasa ada yang aneh dengan tangan yang satunya lagi, di angkatnya tangan barack yang sebelah lagi untuk memastikan.


Ternyata barack masih menggenggam kunci mobil luna.


"Ya ampuuun" barack pun kembali berlari ke arah garasi mobil luna.


Namun, dia mendapati pintu yang menghubungkan ke dalam ruangan rumah luna itu sudah tertutub dan di kunci dari dalam.


 


Kemudian barack berlari ke arah depan bermaksut ingin lewat pintu depan rumah luna namun dia melihat seorang mbak ratmi sedang menutup pintunya.


 


"Tunggu tunggu!" barack pun berhasil menghentikan art itu saat akan menutup pintunya.


"Mas barack???, , ada apa ya mas?" tanya mbak ratmi.


"Luna di mana?" tanya barack.


"Oh, ada di kamarnya mas, naik saja" kata mbak ratmi.


 


Barack pun berjalan menuju ruang tengah dan menaiki tangga menuju kamar luna.


 


tok tok tok, , barack mengetuk pintu kamar luna.


"Iya sebentar" terdengar sautan dari dalam kamar luna.


Luna pun membuka pintu dan terdiam saat mendapati barack sudah berdiri di depannya.


 


Tubuh barack memaku saat melihat luna berdiri di depannya, dia memandang ke arah luna dari atas sampai bawah.


 


Dia terus melihat luna yang saat itu hanya memakai atasan b* dan celana pendek sekali, mungkin sekitar satu kilan dari pinggangnya.


"Luna!!!" kata barack dengan penuh penekanan saat memanggil nama luna.


Luna menyadari kalau barack sedang melihat ke arah mana, luna pun segera berlari mengambil piyama dan memakainya.


 


Sambil menautkan tali pinggang piyama itu dia berjalan ke arah barack.


 


"Baru tadi aku bilang sama kamu lo, kamu sudah mengulanginya!" kata barack marah marah kepada luna.


"Loh kan aku tidak dengan sengaja memperlihatkan kepadamu!, , kamunya saja yang tiba tiba datang dan melihatnya, kok malah jadi kamu yang marah, , seharus nya aku donk yang marah" kata luna.


"Ya jelas aku marah, kalau bukan aku yang ketuk pintu, misal laki laki lain bagaimana! dan melihat kamu memakai pakaian seperti tadi!!!" kata barack


"yaa, , aku pikir biasanya mbak ratmi yang suka ketuk puntu, kalau bukan ya pasti mamah, lagi pula kenapa kamu kembali lagi?" kata luna.


"Mmm, , a, aku cuma mau mengembalikan kunci mobil nya, nih" kata barack sambil memberikan kunci mobilnya kepada luna


Wajahnya benar benar terlihat malu dan memerah saat itu.


Barack mencoba membuang pandangannya ke arah lain.


"Yasudah kamu tidur, aku pulang dulu" kata barack.


Diapun berjalan menuruni anak tangga. dan meninggal kan luna.

__ADS_1


*****


__ADS_2