Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#113 Menikah


__ADS_3

Setelan jas berwarna merah padam dan tatanan rambut yang rapih melekat pada tubuh Laki laki itu, dia masih setia membungkuk dan mengulurkan tangan menunggu Luna meraihnya.


Laki laki iti terlihat sangat terpukau saat melihat kecantikan wajah Luna. Dia tertegun dan sempat melamun sejenak sebelum suara Luna meracau pikirannya.


"Aku baik baik saja!" Luna berusaha bangun tanpa menerima bantuan Laki laki itu. Namun kakinya yang terkilir tak mampu menopang tubuhnya dengan baik.


Dengan gesit Laki laki itu meraih lengan Luna dan membantu menahan tubuhnya saat dia akan berdiri.


"Aku bisa jalan sendiri" Luna masih terus berusaha menolak bantuan Laki laki yang kini sudah berhasil memapahnya ke arah kursi.


"E, makasih!" tambahnya saat dia berhasil duduk di kursi.


Kini laki laki itu malah menekuk ke dua lututnya di depan Luna, memaksa mata perempuan itu membulat dengan penuh seketika.


"Aa, a apa yang kamu lakukan?" ucapnya terbata.


Laki laki itu hanya diam dia membantu melihat kaki Luna yang terkilir.


"Tidak perlu!" Luna mencoba menepis tangannya.


Namun laki laki itu tetap memaksa membantunya. Kini matanya melihat ke arah leher Luna, tepat di bekas lehernya yang memerah.


Dia hanya tersenyum saat melihat itu.


Membuat Luna menjadi bertanya tanya saat mengetahui laki laki itu kini terkekeh dengan caranya yang elegan.


"Maaf!, , kenapa kamu tersenyum" Luna masih kebingungan.


"Aauuu!!!" Dia berteriak karena jari kakinya tengah di otak atik kesana kemari.


"Aduhhh" keluhnya lagi.


"Sudah selesai!, kakimu akan baik baik saja" ucap laki laki itu sambil beranjak dan pergi meninggalkan Luna.


Luna masih terheran dengan kakinya yang sudah bisa menopang tubuhnya dengan baik saat dia mencoba berdiri.


Namun saat dia menoleh untuk mengucapkan terima kasih, laki laki itu telah pergi dan masuk ke ruangan kusus di restoran itu.


"Lun?" Luna terkejut saat mendengar suara Leo dari arah belakangnya, seketika mengalihkan pandangan Luna ke arahnya.


"Kenapa kamu berdiri di sini?"


"Mm, , tadi tidak sengaja kakiku terkilir, , tapi sekarang sudah mendingan ko" ucapnya sambil melirik ke arah Klara yang berdiri di samping Leo.


Klara sudah mengetahui keadaan Luna, karena Leo tadi sempat menceritakannya saat dalam perjalanan menuju ke restoran.


"Hai?" sapanya.


Luna hanya tersenyum getir, ke arah Klara.


"Mm"


Leo mengajak dua perempuan itu untuk duduk di meja yang sudah di pesan olehnya.


"Sekarang kakimu sudah baikkan?" Leo menarik Kursi untuk Luna. Setelahnya dia bergantian menyiapkan kursi untuk kekasihnya.


"Sudah ko. Oh ya sebenarnya ada hal penting apa?" Luna langsung bertanya perihal sahabat kecilnya itu mengajaknya untuk bertemu.


"Sabar dong lun!, , kita makan dulu ya sambil membicarakannya nanti"


♡♡♡


"Maaf sudah membuatmu menunggu lama!" suara Helena yang cempreng itu memekik telinga Barack. Dia baru saja datang setelah telat hampir 2 jam dari waktu yang sudah di tentukan.


"Maaf Nona Helena! hari ini waktuku habis percuma karena harus menunggumu" Wajah Barack nampak muram setelah melihat kedatangan Helena.

__ADS_1


"Maaf Barack, ayolah aku juga tidak dengan sengaja ingin datang terlambat. Aku harus menyiapkan segala sesuatu karena Ayahku bilang dia akan datang untuk bertemu denganmu" Helena meraih Ice Coffe Latte milik Barack dan menyeruputnya hingga habis tak tersisa.


"Eh" Barack berusaha menghentikan Helena namun perempuan itu sudah terlanjur menyeruput Ice Coffe Lattenya.


"Maaf aku kehausan!" ucapnya tanpa rasa bersalah.


Barack hanya menggeleng keheranan.


"Aku ingin kita belanja dulu sebelum membahas masalah kontrak kerja" Helena meraih kursi dan duduk di sebelah Barack.


Barack tak mampu berkata apa apa mendengar permintaan kliennya itu.


Bahkan dia sempat menyodorkan map ke arahnya namun Barack kembali menyimpannya lagi.


Sepertinya dia akan benar benar di buat sters dengan satu kliennya ini.


"Bagaimana kalau kita bahas dulu kontraknya, setelah itu kamu baru bisa belanja dengan sesuka hatimu" Barack berucap dengan lambat dan penuh penekanan di akhir kalimat.


"Aku tidak mau belanja sendiri! kamu harus menemaniku. Ingat kamu harus melayani klienmu dengan baik"


Mulut Barack memaku, sesekali dia memijat keningnya dalam dalam.


♡♡♡


"Serius kalian mau menikah?" suara Luna begitu lantang saat mendengar ucapan Leo.


"Mm" Leo mengangguk.


"Minggu depan, kamu harus datang ya!" tambahnya. Mata Leo selalu tertuju ke arah leher Luna.


"Kamu kenapa senyum senyum gitu!" Luna mulai penasaran.


Leo hanya mengeleng pelan.


"Tidak apa apa!" dia hanya merasa geli melihat bekas merah di leher Luna.


Ujung mata Luna melirik ke arah Klara yang sedang menikmati makanannya.


"Mm, kamu serius sudah tidak ada hubungan dengan Barack?" ucapnya ke pada Klara


Hampir saja makanan yang masih tertahan di tenggorokan Klara mencuat keluar setelah mendengar pertanyaan dari Luna.


Leo memberikan segelas air putih kepada calon Istrinya itu.


"Kamu sudah tahu kalau akau akan menikah dengan Leo, bagaimana ceritanya aku masih ada hubungan dengan Suamimu!" Klara menghela nafas panjang sebelum kembali meneruskan ucapannya.


"Lun, , Jangan pernah khawatir tentang perasaan Barack padaku. Aku dan Barack sudah berakhir lama. Cintanya kepadamu itu melebihi segalanya. Kamu ingat waktu kalian bertemu di jembatan di paris? sebelumnya dia sempat kembali ke Indonesia, lalu ke Tokyo dan akhirnya dia kembali lagi ke Paris hanay untuk menemuimu. Dia berpindah tempat dari satu negara kenegara lain untuk mengejarmu"


Kening Luna berkerut, dia nampak sedang memikirkan ucapan Klara.


Ada sekelebatan ingatan tentang kambang api, jembatan dan dirinya di sana namun wajah Barack masih terlihat samar samar


Kerutnya semakin dalam hingga terlihat di di sekitar area matanya.


"Kamu baik baik saja?" Klara meraih pundak Luna untuk memastikan.


Luna memijat kecil keningnya yang terasa sedikit ngilu.


"Aku akan mengantarmu pulang" ucap Leo, dia terlihat khawatir saat melihat Luna kesakitan.


"Mm, , tidak perlu aku bisa meminum obat pereda nyeri" Luna mengambil beberapa pil dari dalam tasnya lalu menelannya.


"Maaf aku tidak bermaksud untuk menyakitimu" Klara merasa khawatir melihat keadaan Luna.


"Tidak apa apa, sebentar lagi juga baikkan" Luna berusaha menenangkan dirinya.

__ADS_1


♡♡♡


Aryo masih duduk di ruang rapat yang di kelilingi oleh dinding kaca, di dalam ruang itu dia hanya berdua dengan salah satu sekretarisnya.


Dia tengah sibuk melihat beberapa lembar laporan yang ada di tangannya.


Sesekali dia bertanya dengan sekretarisnya itu, Aryo nampak santai saat dengan semua pekerjanya hingga dengan sekretarisnya pun dia terlihat sangat akrab.


Dia melihat sekelibatan bayangan seseorang dari ujung matanya, dan berhasil menarik perhatiannya hingga Aryo mengalihkan pandangan matanya ke arah luar untuk memastikan.


Ujung bibirnya mengembang saat melihat Cici tengah berjalan ke arah ruang rapat dan tatapan mata mereka pun bertemu.


Cici melihat ke arah perempuan yang ada di samping Aryo, nampak Sekretaris itu seperti sedang menjelaskan isi dari laporan yang ada di meja hingga membuat ke duanya terlihat dekat.


Aryo menyadari hal itu, dia pun menarik kursi Sekretarisnya agar lebih dekat dengannya.


Dia menyangga kepala dengan salah satu tangannya yang bertumpu di atas meja. Tatapan matanya pun melekat ke arah Sekretarisnya, dan tangan yang satunya lagi dia gunakan untuk menahan dinding kursi milik Sekretarisnya hingga memperlihatkan kedekatan mereka yang begitu intim.


Cici mendengus kesal, entah apa yang membuatnya seperti itu. Dia nampak tidak suka dengan kedekatan Aryo dan sekretarisnya.


Lagi pula dari awal Aryo meminta Cici untuk menemaninya di ruang rapat namun Cici meminta Sekretaris lain yang menemani Aryo.


Namun malah sekarang dia yang merasa jengkel.


Cici menghela nafas panjang sebelum masuk ke dalam ruang rapat.


Setelah dia membuka pintu, dia semakin bertambah jengkel karena kedatangannya sengaja tak di hiraukan oleh Aryo.


Brak!!!


Cici menaruh berkas dengan keras di atas meja sengaja mengganggu mereka beruda.


Bola matanya berputar malas saat harus menyaksikan kedekatan Aryo dan Sekretarisnya.


"Maaf kalau aku mengganggumu! tapi berkas ini harus segera di tandatangani" Cici mendorong map itu ke arah Aryo dan berusaha membuat Sekretarisnya sedikit mejauh dari Aryo.


"Mm, , kalau begitu maaf Pak saya harus kembali ke ruang kerja saya, nanti kalau sekiranya ada yang belum di mengerti bisa hubungi saya" ucap Sekretaris itu dengan memlempar senyum ke arah Aryo.


"Oke!" Aryo membalas senyumnya bahkan dia mengedipkan salah satu mata ke arah sekretarisnya.


Cici menghela nafas panjang melihat adegan menjengkelkan itu.


"Buruan!!"


Aryo melirik ke arah Cici dengan sinis.


"Apa? ini bosnya sebenarnya aku apa kamu sih? ko galakan kamu?"


Cici tak bergeming, dia lebih memilih fokus ke pada mapnya.


"Tandatangani ini!" Cici membuka berkas map itu dan memberikan ke pada Aryo.


Tanpa basa basi Aryo langsung menandatanganinya.


"Udah nih" kini dia kembali fokus dengan berkas yang semula.


Aura wajah Cici semakin menggelap saat Aryo seolah tak menganggab dirinya.


"Aku pergi!" ucapnya seketika.


"Mm" tatapan mata Aryo tak pernah berubah, selalu tertuju ke pada lembaran kertas di atas meja dan membiarkan Cici pergi meninggalkan ruangan itu.


Cici nampak jengkel, dia berjalan keluar sambil menekuk wajahnya.


Aryo nampak kegirangan dia berdiri sambil berjoged setelah Cici keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"Yas! yes! yes!!! kenakan!!, , bilang aja cemburu pake sok gengsi. Di deketin nggak mau. Di cuekin marah.. hhhiihhh" Aryo nampak gemas sendiri dengan sikap Cici.


__ADS_2