Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#36 Memilih Cincin


__ADS_3

 


Aura dingin sangat terasa di dalam mobil barack siang itu, apa lagi ditambah hembusan angin yang keluar dari ac mobil barack yang terus berhembus ke arah luna, dia terus berfikir kalau barack sengaja melakukan itu karena setiap kali luna mengecilkan suhu ac nya, barack dengan sengaja menambah suhu ac nya kembali, padahal dia sudah tahu kalau luna merasa kedinginan.


 


Tatapan matanya yang sangat tajam selalu tertuju kepada jalan yang sekarang sedang di lewati. Terlihat sesekali dia memegangi keningnya yang sudah terlihat berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu.


Mulutnya selalu mengunci tak keluar sepatah katapun semenjak keluar dari rumah luna, sampai akhirnya mereka telah sampai di depan rumah barack, mobil barack pun berhenti di halaman depan rumah.


Lagi lagi barack tidak mengatakan sesuatu, bahkan dia langsung melepas sabuk pengamannya yang memeluk tubuhnya itu, dan segera keluar dari mobil meninggalkan luna yang masih terlihat heran dengan sikap barack.


Luna melepas sabuk pengamannya, di bukanya pintu mobil itu dan segera turun sembari sesekali melirik ke arah barack yang sudah jauh berjalan di depannya.


"tuh orang kenapa sih" luna merasa hari itu barack sedikit bertingkah laku aneh.


Angin berhembus menerpa tubuh luna mengiringinya berjalan menuju pintu masuk rumah barack.


"permisi" luna melayangkan pandangannya menuju ruang tv melewati sebuah pintu yang berseberangan dengan ruang tamu.


Terlihat barack sedang berbicara dengan mamahnya, luna berjalan menghampiri mereka ke ruang tv.


"mah, kata barack mamah menyuruh luna buat datang kesini? kenapa mah?" luna bertanya kepada mamahnya barack sembari sesekali melirik ke arah barack yang meninggalkan dia dengan sengaja untuk mengobrol dengan mamahnya.


Terlihat wajah yang sumringah dari raut wajah bu bowo, seakan akan dia habis memenangkan lotre, diraihnya pundak luna yang mungil itu.


"habis ini kamu sama barack ikut mamah memilih cincin ya, buat acara pertunangan kalian, nanti takutnya kekecilan kaya yang waktu malam itu" kemudian bu cokro berjalan ke arah dalam mengambil tas berwarna hitam.


Luna tidak bisa menolak ajakan bu bowo, pandangannya mulai tertuju ke arah dapur, dilihatnya barack sedang berdiri di belakang meja makan sambil menuangkan segelas air putih ke gelas ktistal dan meneguknya perlahan.


Luna berjalan mendekati barack yang saat itu tengah menghabiskan air putih dalam beberapa kali teguk.


"terus gimana ini?" luna melayangkan pertanyaan kepada barack mengenai ajakan mamahnya itu. Suaranya terdengar lirih alih alih agar bu cokro tidak mendengarnya.


Terlihat barack terus menatap ke arah luna yang berdiri di depannya sambil meletakkan gelas yang sudah kosong itu di atas meja. Tatapan itu kosong dan tak mengisyaratkan apun.


"aku juga nggak tahu" suara barack terdengar berat di telinga luna.


Barack membuang pandangan ke arah mamahnya yang baru saja keluar dari dalam kamar denagn sudah membawa tasnya, dan terlihat sudah siap untuk pergi sekarang juga.


"ayok" bu bowo memberi perintah kepada barack dan luna untuk segera bergegas pergi sambil berjalan menuju arah luar.


Barack dan luna hanya saling melempar pandang dan tidak mengiyakan ajakan mamahnya itu.


Bu buwo merasa aneh melihat anaknya hanya berdiam dan tak segera bergegas.


"sampai kapan kalian mau berdiam diri di sana?" bu bowo mengeraskan suaranya sekali lagi.


Luna dan barack kemudian menghampiri bu bowo yang sudah berjalan terlebih dulu.


Suasana terasa hening kembali di dalam mobil barack saat perjalanan menuju sebuah toko perhiasan terbagus di kota itu, terlihat wajah luna sedikit kebingungan, diliriknya ke arah barack yang hanya diam saja dan tanpa exspresi saat itu.


Sesampainya di toko, barack memarkirkan mobilnya dan mereka segera masuk menuju ke arah pintu masuk toko perhiasan itu.


Disambutnya mereka oleh seoarang pegawai toko dengan membukakan pintu dan mempersilakan mereka masuk ke dalam.


Pegawai toko menggiring mereka bertiga menuju sebuah kursi sudut di tengah tengah ruangan toko itu sehingga terlihat semua bagian sisi sisi pojok setiap toko.


Beberapa orang pegawai dengan lincah dan sepertinya sudah sangat terlatih membawa kotak kotak berisikan berlian, mereka membawa dengan sangat hati hati.


Di jembrengnya segala macam bentuk dari emas putih dan emas kuning berhiaskan berlian di ujung cincin cincin yang ada di hadapan luna.


Matanya terbelalak melihat keindahan berlian berlian yang kilaunya manari nari di pupil matanya.


Dipandanginya secara berurutan dari ujung kanan sampai ujung kiri dan dari semua sisi kotak cincin itu tanpa satu cincinpun yang terlewatkan.


"kamu suka yang mana" terdengar suara bu bowo memecah pikiran luna yang terhipnotis karena keindahan berlian di depannya itu.

__ADS_1


Wajah luna kembali terpaku, senyumnya nampak hilang dari wajahnya seketika mulutnya membuka seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tak bisa keluar.


Barack sedari tadi hanya diam melihat ke arah luna, di tendangnya pelan kaki luna agar tersadar dari lamunannya.


"e, , , aku terserah, mamah saja mau yang mana?" luna tak bisa berfikir jernih.


Barack kembali mengusap wajahnya dengan pelan. Badanya dari tadi terus bersandar santai di dinding sofa.


"kan kalian yang mau tunangan kenapa mamah yang disuruh milih cincinnya?" bu bowo membuang pandangannya ke arah barack yang terus diam.


"ayo barack bantu luna memilih cincinnya" bu bowo menambahkan.


Barack agak terkejut mendengar kata kata mamahnya, di seretnya tubuh dia mendekati meja dan menjauhkan badannya dari dinding sofa itu.


"terserah, aku ikut saja" terus terlihat kerutan di kening barack dan alisnya yang sedikit beradu mewakili perasaannya yang tak bergairah hari itu.


Bu bowo mengambil sebuah cincin yang paling menonjol di antara semuanya tapi terlihat elegan.


Dia meraih tangan luna dan mencoba memasukkan cincin itu ke jari manis luna yang sebelah kanan, karena jari manis yang satunya masih ada cincin yang belum bisa terlepas.


"bagus lo, ya kan barack, tapi sedikit kebesaran, , kita pesan yang seperti ini tapi yang seukuran jarimu ya" bu bowo melepas kembali cincin yang sempat dia pasangkan ke jari luna dan memberikannya ke pada pegawai yang sedari tadi menunggu dan berdiri si samping bu bowo.


Luna mencoba melihat ke arah barack yang masih saja diam dengan pandangan kosong.


Bu bowo meraih tas yang ada di sebelahnya kemudian di bawanya tas itu menuju ke meja kasir.


"kalian pulang saja dulu, mamah masih ada perlu janjian ketemu sama teman di sini, mamah akan selesaikan pembayarannya, barack kamu antar luna pulang ya" bu bowo beranjak dari kursi sofa dan berjalan menuju ke meja kasir dimana seorang pegawai perempuan sudah nenyiapkan berkas berkas pembelian berlian itu.


Barack terus melihat ke arah luna yang dari tadi juga terus diam, tatapannya seraya ingin sekali mencercanya dengan berbagai pertanyaan, dia tahu bahwa barack menatap ke arahnya namun dia membuang pandangannya ke sisi lain seolah olah menghindari tatapan mata barack padanya.


"mmmm, bisa kita pulang sekarang?" luna mencoba mengacau tatapan barack yang terus ke arahnya.


Barack meninggalkan kursi empuk yang sedari tadi menopang tubuhnya itu. Luna mengikuti barack dari arah belakang dengan penuh rasa kewaspadaan seolah olah barack akan berhenti mendadak didepannya. Namun pada akhirnya mereka sampai di tempat dimana mobil barack terparkir.


Sebelum meninggalkan tempat itu barack terus menatap luna dengan tajam setelah berhasil memakai sabuk pengamannya.


Barack mengulurkan tangannya dan meraih kunci sabuk pengaman itu dari genggaman luna kemudian membantunnya untuk mengaitkan sabuk pengaman itu. Aura yang tidak mengenakkan mulai terlihat di wajah barack.


"siapa dia?!!" suara barack terdengar sangat rendah yang keluar dari tenggorokannya sehingga membuat luna harus membuang pandangnnya ke mata barack yang dari tadi selalu dihindarinya.


"hm???" luna setengah kaget dan tak mengerti dengan pertanyaan barack yang tiba tiba itu, karena dia merasa dari tadi barack selalu nyuekin luna terus.


Barack menghela nafas terlihat rasa jengkel di wajahnya karena tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan dari mulut luna.


"laki laki itu!, , , siapa dia" barack melontarkan pertanyaan kembali pada luna.


"laki laki?" mulai terlihat kerutan halus di dahi luna, seolah olah membaritahu pada barack bahwa dia sedang berfikir.


"oooowwhhh, , dia leo, bukannya aku sudah ngenalin dia tadi sama kamu, dia temanku waktu aku masih kecil, kenapa memangnya?" tambahnya, kerutan di dahi luna sekilas langsung menghilang dan kembali berani menatap mata barack yang ada di depannya.


"harus ya, bercanda seintim itu" barack kembali memberi pertanyaan pada luna sambil menyenderkan punggungnya ke dinding kursi di belakangnya.


Mulai terlihat senyum mengambang di pipi luna.


"intim? , , , intim gimana maksutnya?" luna terus menatap barack dengan penuh tanda tanya.


Tidak tau kenapa barack harus melontarkan pertanyaan itu, namun dari tadi kata kata itulah yang selalu muncul di benaknya.


"lupakan!!!" Aura dingin kembali melekat di tubuh barack saat itu.


"coba kalau bicara yang jelas deh, biar aku bisa mengerti apa maksut mu?" Luna terus memandangi wajah barack yang tak menghiraukan pertanyaannya itu.


Barack mulai menyalakan mesin mobil kemudian menginjak gas dengan pelan terus meninggalkan toko perhiasan itu.


Di tengah perjalanan luna terus mencoba memikirkan pertanyaan barack, dia selalu berfikir di bagian mananya yang intim saat dia sedang bersama leo temannya waktu itu.


Pikiran luna terbuyar karena mendengar ponsel barack berdering.

__ADS_1


Terlihat barack langsung meraih ponselnya yang ada di sebelah handrem, dilihatnya layar ponselnya itu dan terlihat bahwa klara memanggil.


Aura dingin di tubuh barack menghilang begitu saja, saat mengetahui bahwa klara yang menelepon.


"hallo" dia menjawab panggilan dari klara setelah berhasil memasang earphone di telingga kirinya.


Terdengar suara lirih sekali dari arah earphone yang menempel di telinga barack.


"sedang sibuk?" suara klara mulai terdengar.


"tidak , , kenapa?" Barack menjawab telepon dari klara seolah olah tak ada luna di sampingnya, dan memang di wajah barack terlihat kalau dia melakukan itu dengan sengaja. Luna pun menyadari hal itu.


"bisa datang ke galeriku sekarang?" terdengar suara klara lirih yang mulai menusuk ketelinga luna.


Pandangan barack kembali ke arah wajah luna yang terlihat sedang memalingkan wajahnya ke luar kaca mobil.


"sekarang?" barack meyakinkan pertanyaan klara sekali lagi.


"iya sekarang barack soooyyooonng" suara klara memang terdengar lirih namun didalam mobil yang tertutup rapat membuat suara di handphone barack itu masih terdengar jelas.


Perkataan klara membuat hati luna bergetar dan dadanya serasa mulai memanas.


Barack sesekali masih membuang tatapan ke luna di sebelahnya, yang masih terlihat seperti tidak mau tahu dengan pembicaraannya di telepon.


"m, aku akan kesana" Barack mematikan ponselnya sembari melepas earphone yang ada di telinganya kemudian meletakkan kembali ke tempat semula.


Luna merasakan bahwa mobilnya semakin melambat, kemudian berjalan semakin menepi dari jalan utama.


Pandangan luna mulai berpindah kepada barack yang menghentikan mobilnya di tepi jalan.


Perasaan luna sudah mulai campur aduk, ingin sekali dia berteriak ke arah barack agar jangan pergi ke sana lagi, namun dia tak kuasa bahkan dia merasa tidak punya hak untuk melarangnya.


Luna masih berada di dalam mobil sambil terus menatap ke arah barack yang mengacuhkannya, dia tahu dengan pasti kenapa barack menghentikan mobilnya, akan tetapi dia tidak akan turun dari mobil sampai dia sendiri mendengar barack yang menyuruhnya turun.


"bisa kamu turun disini?" terdengar suara barack yang berat itu menyulut emosi luna di dadanya.


"serius mau nurunin aku disini" suara luna langsung meninggi.


Barack mulai membuang pandangnnya ke arah luar mobil.


"iya" jawabnya dengan pasti kepada luna.


"udah gila kamu?" luna mengumpat kepada barack yang masih terus memandang kedepan.


"kenapa tidak meminta teman laki lakimu itu untuk menjemputmu?" terdengar kata kata yang keluar dari mulut barack itu seperti sebuah tawaran tapi lebih seperti ke amarah yang tertahan.


Luna terdiam mendengar perkataan yang membuat telinganya itu panas, dia merasa tertantang mendengar itu.


"oke, aku akan meminta dia menjemputku" luna meraih gagang pintu mobil dan membukanya dengan menikmati dada yang serasa memanas, luna keluar dari mobil dan segera menutup pintu itu dengan keras.


Tidak perlu menunggu lama barack meninggalkannya lagi di pinggir jalan, dan ini untuk yang kedua kalinya.


"lihat saja, aku pasti akan membuatmu menyesal kali ini" kata luna dengan penuh penekanan.


Perasaan emosi, sebel, jengkel beradu menjadi satu di hati luna, bagaimana mungkin dia menghubungi leo yang baru saja dia temui tadi pagi setalah bertahun tahun tidak bertemu, sedangkan dia belum tahu nomor leo, bagaimana mau membahas masalah nomor ponselnya, baru saja berbicara sebentar tiba tiba barack datang dan mengacaukannya.


Terasa getaran dari dalam tas luna membuat pandangnnya yang sedari tadi ke arah mobil barack yang mulai menghilang itu berpindah ke arah tas yang ada di genggaman tangannya.


Diraihnya sebuah ponsel dari dalam tasnya, yang kemudian melihat ke layar ponselnya.


Terlihat nomor asing sedang memanggil ke nomornya.


***


MAAF KALAU UP NYA KALI INI AGAK LAMA DI KARENAKAN AUTHOR SEDIKIT TIDAK BERSEMANGAT,, MOHON BANTUANNYA KE PADA PARA PEMBACA UNTUK MEMBERIKAN LIKE DAN YANG PENTING BINTANG 5 AGAR RATING TIDAK TURUN, ITU SUDAH SANGAT MEMBANTU SEMANGAT AUTHOR KEMBALI LAGI. TERIMA KASIH SEBELUMNYA🙏🙏🙏


MMMMUUUUAAAHHHH,.,.

__ADS_1


CIUM JAUH AUTHOR UNTUK KALIAN SEMUA😘😘


__ADS_2