Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
9 S3: Love Romanvce Sebuah kesalahan


__ADS_3

Nafasnya terasa sangat panas, terlebih lagi bibirnya karena suhu badannya sangatlah tinggi. Bunga tak kuasa menolaknya baginya ini terlalu manis dan sangat lembu.


Bahkan ketika ciuman itu semakin dalam dan lebih intim membuat darahnya berdesir dan seakan memanas hingga tubuhnya menegang, Bunga tetap tak bisa menolak dan mendorong tubuh Davien, tangannya tiba tiba melemah seakan kekuatannya lenyap menghilang begitu saja.


Bunga membuka matanya perlahan ketika merasa ciuman itu sedikit demi sedikit melemah hingga akhirnya bibir mereka saling berjauhan. Kini Bunga hanya merasakan nafas panasnya saat menyapu wajahnya.


Davien menyandarkan kepalanya di kening Bunga hidung nereka saling menempel, kedua tangannya pun merangkup pipinya dengan erat. Matanya terpejam, kemudian dengan lirih dia berucap.


"Maaf!, , tidak seharusnya aku melakukan hal ini" Davien menarik tubuhnya kebelakang menjauhi Bunga.


"Aku akan membaik setelah minum obat! pulanglah".


Bunga terdiam, masih berusaha mencerna ucapan Davien. Setelah beberapa saat membuatnya terbang melayang hingga ke awan kini tiba tiba dia jatuh ke hingga merasa sakit di bagian dadanya.


"Apa ini??, ,secara tidak langsung dia mengatakan bahwa ciuman ini sebuah kesalahan? dalam sekejap dia mampu membuatku merasa bahwa aku seperti wanita murahan!!"


Sakit serta nyeri yang menjalar di dadanya kini semakin terasa ketika Davien mengalihkan pandangannya ke arah lain. Seolah tak ingin menatalnya karena merasa ciuman itu adalah memang sebuah kesalahan. Bunga beranjak berdiri dari ranjang, dengan menahan rasa jengkel dia kemudian berucap.


"Aku sudah menyiapkan bubur untumu, aku akan menghangatkannya sebelum pergi!" Bunga sedikit membungkukkan badanya sebagai rasa hormat kepada Davien sebelum keluar dari kamar.


♡♡♡


Tangannya bergerak menghapus air yang mencuat dari ujung matanya.


"Jangan menangis Bunga!, , ini bukan apa apa. Kahidupanmu jauh lebih pahit ketimbang hal yang memalukan ini!!!"


Bunga merasa sakit hati, tetapi tak sepenuhnya menyalahkan Davien. Dia juga merasa bahwa dirinya memang terlalu mudah luluh kepada laki laki itu.


"Di mana Bunga yang tegar??, , itu bukan apa apa Bunga. Itu hanya sebuah ciuman. Ciuman dari orang bodoh!! tapi ini sangat memalukan!!!"


Bunga mengacak acak rambut dengan kedua tangannya karena jengkel merasa telah menjadi wanita murahan yang gampang di cium oleh seorang laki laki.


Bunga tidak ingin memikirkan hal itu lagi, dia kini lebih memilih untuk pergi dan kembali pulang.


Perempuan itu terperanjak kaget ketika memutar tubuhnya dan mendapati Davien berdiri sambil menyandarkan pinggangnya ke meje.


Davien diam diam mengawasinya dari arah belakang. Laki laki itu melangkah mendekat. Membuat Bunga waspada dan melangkah mundur menjauh.


"Aku minta maaf" suaranya parau, dan sangat berat. Davien menyeselinya karena telah mencium Bunga tanpa permisi.


Bunga tak ingin membaha atau pun mendengar tentang hal itu. Dia kini lebih memilih berjalan ke arah lain mengambil sebuah mangkuk lalu menyiapkan bubur yang masih panas untuk Davien.


Bunga meletakkan mangkuknya di atas meja.


"Ini masih panas, jangan langsung di makan karena lidahmu akan terbakar, tunggulah beberapa menit lagi kamu baru bisa memakannya"


Bunga melepaskan celemek kemudian menaruhnya kembali ketempat semula.


"Aku pamit!" Bunga menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Aku bisa mengantarmu" Davien ingin menebus rasa bersalahnya.


"Tidak perlu, kondisimu sedang tidak baik. Aku bisa jalan kaki. Baru jam 8, masih ada bus untuk pulang!" Bunga sempat memutar tubuhnya untuk pergi, tetapi dia menyempatkan sejenak waktunya untuk mengucapkan kalimat yang mengganggu pikirannya.


"Kamu tenang saja, aku juga sudah melupakan hal itu" ucapnya merujuk pada apa yang sudah Davien lakukan terhadapnya.


"Dan, , aku juga minta maaf untuk kejadian tempo hari saat James hampir saja menabrakku. Aku harap perlakukan aku sama seperti pegawai lain setelah aku menyampaikan kata maafku ini!" Bunga berharap Davien bisa brsikap baik, seperti halnya dengan pegawai lain. Bunga juga ingin di perlakukan sama karena selama ini Bunga tak tahu kesalahan apa yang membuat Davien sangat membencinya.


Di luar permasalahan itu Bunga tak ingin membahasnya, terlebih lagi ciuman yang baru saja terjadi.


Davien terdiam, memaku tubuhnya ketika Bunga beejalan menjauh keluar dari rumah.


♡♡♡


Sepanjang perjalnan menuju halte bus, Bunga melamun sembari terus memainkan bibirnya dengan jari. Mencubit kecil bahkan terkadang mengusapnya kasar.


Seolah ingin menghilangkan bekas ciuman dari Davien yang seakan melekat di bibir bahkan di benaknya.


Tin tin!!


Bunga menoleh ke arah mobil yang berjalan lamban mengikuti dirinya, dia melihat Roland ada di dalam sana.


"Roland?" perempuan itu tersenyum tipis.


Roland menghentikan mobilnya, melangkah turun kemudian menghampiri Bunga.


"Kamu sendirian??" matanya menyelidik ke sekitar.


"Ini sudah malam, aku akan mengantarmu pulang" Ralond mempersilahnkan Bunga untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Aku bisa pulang sendiri"


"Bunga, , ini sudah malam" Roland masih mencoba membujuknya.


"Tapi aku" ucapnya terputus ketika ujung matanya melihat sebuah mobil hitam berhenti jauh di belakang mobil Roland. Bunga sempat menyelidik ke arah dalam, memastikan siapa orang yang ada di dalamnya.


Bunga melihat Davien ada di dalam mobil. Dan ketika Roland menoleh untuk melihat ke arah mana Bunga melihat, Davien langsung menyalakan lampu jarak jauhnya agar laki laki itu tak bisa melihat Davien yang berada di dalam mobil.


Roland menggunakan tangannya untuk menutupi bagian mata ketika merasa silau karena sorot lampu mobil. Tak mau menghiraukan hal itu dia kini lebih memilih fokus dengan bunga.


"Apa yang sedang dia lakukan di sini!!"


Bunga tersenyum sinis, kemudian mengarahkan pandangannya ke Roland dan mengiyakan tawarannya.


"Baiklah, , aku ikut denganmu" Bunga tersenyum lebar, sebelum masuk ke dalam mobil dia melirik ke arah Davien, senyumnya pun menghilang perlahan dan berganti lirikan tajam.


Davien terdiam, dari awal ingin memaksa untuk mengantar Bunga pulang. Tetapi karena perbuatannya yang seolah tak akan pernah termaafkan Davien merasa tidak nyaman dan tak berani memaksanya.


Dia memutuskan untuk mengikuti mereka sampai ke rumah. Davien mematikan lampunya ketika memasuki gang menuju tempat tinggal Bunga, agar tak menarik perhatian perempuan itu serta Roland yang sedan berbincang di luar rumah.

__ADS_1


Dari kejauhan Davien mencoba mengawasi apa yang mereka bicarakan sesaat sebelum Bunga masuk ke dalam.


Perempuan itu terlihat mengangguk beberapa kali dan tersenyum kepada Roland. senyum yang tak pernah dia perlihatkan kepada Davien.


Tak bisa di pungkiri ada perasaan jengkel bercampur sedih ketika melihat bunga akrap dengan laki laki lain. Tetapi di sisi lain Davien tak ingin Bunga berada di sisinya. Dua hal yang berlainan membuat Davien kebingungan.


Dia menghela nafas panjang mencoba menetralkan perasaannya.


Davien kemudian menyalakan mesinnya dan pergi meninggalkan tempat itu melewati Bunga dan Roland yang masih berbincang di sana.


Bunga mengalihkan pandangannya ke arah mobil milik Davien yang melaju kencang.


"Untuk apa dia mengikutiku!!"


Tatapannya terlihat sinis, membuat Roland ikut mengalihkan pandangannya ke arah lain di mana Bunga melihat.


"Siapa??" Roland menyelidik ke mobil hitam yang semakin menjauh di telan kegelapan.


"Aku tidak tahu" Bunga mengangkat kedua pundaknya. Ucapnya mencoba berbohong.


"Masuklah ini sudah malam" Roland mengusap ujung kepalanya perlahan. Setelahnya kembali masuk ke mobil dan pergi meninggalkan bunga sendiri.


♡♡♡


Setelah melangkah turun dari mobil pagi itu Davien memaku tubuhnya. Menatap Bunga yang baru saja keluar dari mobil Roland.


" Sudah sejauh ini kah??, , setelah mengantar pulang semalam, kemudian berangkat bekerja bersama?, , lalu apa lagi?"


Davien terdiam sesaat, menikmati rasa jengkel dengan menggertakkan giginya hingga terlihat urat halus di pelipisnya.


James tahu kemana arah pandangan Davien saat itu. Dia kemudian berdehem untuk menarik perhatian Davien.


Davien seketika mengalihkan pandangannya, menatap James dengan tajam lalu berucap.


"Ada sesuatu yang harus kamu lakukan hari ini!! ikutlah denganku" Davien melangkah masuk ke dalam diikuti okeh James dari arah belakang.


♡♡♡


"Pres Dir yakin ingin melakukan hal ini?" James menatap lekat, masih mengawasi ekspresi wajah Davien untuk mencerna apa yang di perintahkan oleh atasannya.


Davien menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, lalu memejamkan matanya.


"Lakukan dengan baik, jangan sampai dia mengetahuinya!"


James terlihat ragu, melihat perubahan sikap Davien yang sangat berubah drastis. Membuat Dia merasa khawatir dengan apa yang sedang terjadi dengan Davien.


♡♡♡


*Yang belum KLIK BINTANG LIMA di tunggu ya😍😍 aku sangat menyukai bintang lima.

__ADS_1


*Jangan lupa likenya😘


*Vote???? itu nomer sekian😄😄😄


__ADS_2