
Memasuki hari kedua kepergian Davien ke Indnesia Bunga terlihat semakin murung. Saat dia mencoba menghubungi Davien, James selalu menghadangnya di tengah jalan.
Sesuai perintah Davien kepadanya bahwa Jameslah yang harus menjawab panggilan ketika Bunga menghubunginya.
"Ada apa denganmu Bunga? beberapa hari ini aku lihat kamu tak bersemangat?" Loria yang sedang duduk membaca buku sembari memakan cemilan di bangku pantry pun pandangannya terlihat menyelidik ke pada Bunga.
Perempuan itu terlihat seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Berjalan mondar mandir seperti orang linglung, sesekali terlihat duduk kemudian berdiri lagi sambil melihat ke arah layar ponselnya.
"Bunga!!, , apa kamu mendengarku!" Loria sedikit menaikkan nada bicaranya.
Bunga yang sedang duduk di bangku pun menoleh, menatap Loria dengan tatapan malas.
"Kenapa kak?"
"Kenapa! kenapa! aku dari tadi berbicara denganmu! apa kamu tidak mendengarku! apa yang sedang kamu pikirkan!!" Loria merasa jengkel karena sedari tadi Bunga tak menghiraukannya.
Perempuan itu beranjak dari bangku kemudian berjalan mendekati Loria, duduk di sebelahnya.
"Ka? kamu sudah menikah kan?"
"Kenapa memangnya" Loria menarik kepalanya mundur, mengerutkan dahinya ketika mendengar pertanyaan dari Bunga hingga merasa heran.
"Mm, ,dulu waktu pertama kali kamu jatuh cinta dengan Suamimu apa kamu merasakan jengkel karena tidak bisa bertemu bahkan mendengar suaranya??"
"Pertanyaan macam apa itu!! ya pasti lah! aku sampai tidak nafsu makan, dia dulu pernah pergi ke keluar kota karena tugas pekerjaannya. Tak bertemu dengannya selama dua hari rasanya mau mati!" Loria sengaja melebih lebihkan pengalamannya, karena dia merasa penasaran dengan sikap Bunga.
"Benarkah sampai seperti itu kak?" matanya membulat, ini pertama kali bagi Bunga mencemaskan bahkan tak bisa menahan ingin segera bertemu dengan Davien.
"Apakah menyukai seseorang bisa tersiksa sampai seperti itu??"
"Bisa lebih parah lagi!, , ,kamu tidak akan bisa bernafas. Dadamu akan terasa sesak tersiksa ketika merindukan dia, terlebih lagi saat tak bisa terlampiaskan walau pun hanya mendegar suaranya saja!" Loria berucap dengan mendramatisir setiap kalimatnya.
Bunga terpaku, membenarkan apa yang di ucapkan oleh Loria. Saat ini memang dadanya terasa sesak, tak nyaman karena menahan rindu.
"Rindu??, , apa saat ini aku sedang menrindukannya?? yang aku tahu sekaranag aku ingin sekali melihatnya!, , , tidak!!. Mendengar suaranya saja aku sudah merasa sangat bahagia"
"Apa yang bisa aku lakukan untuk mendegar suaranya, dia saja tidak mau mengengkat ponselnya!" gumamnya.
"Siapa laki laki itu??" tanya Loria seketika. Membuat Bunga langsung menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Apa Kak?" Bunga tak fokus dengan pertanyaan yang di lemparkan oleh Loria.
"Laki laki itu siapa?!!" ucap Loria mengulang kembali memepringatkan Bunga.
"E, , dia" mengingat bahwa laki laki yang di sukainya adalah orang penting di tempat kerjanya, Bunga tak berani menjawab pertanyaan Loria secara gamblang.
Loria menyelidik ke arahnya. Sesaat dia teringat bahwa beberapa waktu yang lalu Davien menghampiri Bunga ke pantry saat ingin mengajaknya pergi.
Wajahnya terpaku dengan bibir yang sedikit terbuka.
"Jangan bilang kalau laki laki yang kamu rindukan adalah Pres Dir??" Loria membungkam mulut sendiri dengan tangannya, ketika bisa menebak dengan benar.
Bunga tertunduk malu menyembunyikan wajahnya.
"Apa kamu sudah gila Bunya!" Loria menepuk jidatnya, seakan sengaja agar Bunga tersadar dari mimpinya.
"Kenapa Kak Loria bilang seperti itu!!"
"Jangan bermimpi!! Pres Dir orang terpandang! kaya, tampan, keluarganya pasti sudah memiliki calon untuk dia. Kamu lupa dengan Nona Keiko??."
Bunga terdiam, bibirnya seakan terpaku ketika mendengar ucapan Loria.
"Dengarkan aku Bunga!, , kita ini satu kelas. Kita rendah di mata mereka yang beruang. Jangan pernah berharap lebih kepada laki laki kaya yang mencoba mendekatimu. Berhenti sekarang atau kamu akan tersakiti nantinya!, , aku yakin kalau keluarga Pres Dir sudah mempersiapkan Nona Keiko sebagai calon Istri untuknya" Loria menoleh menatap Bunga yang sedang terdiam, seakan merenungi apa yang diucapkan oleh Loria.
Bunga masih duduk di tempat semula, masih merenungi apa yang di ucapkan oleh Loria. Perempuan itu seolah berkata benar bahwa cintanya tak akan terjalin dengan mulus.
"Benar!!, , kamu pikir kamu siapa Bunga! kamu seperti debu di matanya! debu yang mengotori sepatunya. Dan ketika di tiup kamu akan hilang seketika tak berbekas!"
Bunga terkekeh sinis, menikmati rasa kecewa ketika memikirkan apa yang di ucapkan oleh Loria.
Semua yang di ucapkan oleh Loria memang benar, Bunga bahkan kini tak berani membayangkan untuk bertemu dan memeluknya, seperti apa yang sudah dia rencanakan sebelumnya ketika Davien kembali dari Indonesia.
"Hei!! jangan terus melamun! kemarilah bantu aku Aku akan memasak untuk kita berdua" teriak Loria ketika melihat Bunga msaih melamun di sana.
♡♡♡
Terlihat Davien duduk di kursi ruang rapat, entah keberapa kali dia mengikuti pertemuan hari itu. Dia menggerakkan kepalanya merenggangkan otot di bagian leher yang terasa kaku. Menundukkan kepala menetralkan rasa lelah dan letih yang melingkupi tubuhnya.
Namun hanya dengan mengingat kembali wajah Bunga, rasa lelah itu seakan menghilang seketika.
__ADS_1
Sesaat setelah menunduk kepala Davien kembali menengadah, kemudian mengalihkan pandangannya ke ponsel yang terletak di atas meja.
Biasanya Bunga selalu menghubungi bahkan mengirim pesan berpuluh puluh kali.
Namun semenjak semalam perempuan itu tak menghubunginya.
"Apa aku keterlaluan?, ,"
Davien menghela nafas panjang menetralkan perasaannya.
"Lihat saja!, , sepertinya setelah aku pulang nanti aku harus lebih keras terhadapmu!"
Davien menyangga tangannya di atas meja, menggunakan jari jemarinya untuk memijat kecil keningnya. Davien masih berfikir keras hukuman apa yang akan dia berikan kepada Bunga karena telah membuatnya gila.
♡♡♡
Sebuah mobil berhenti tepat di depan halaman loby apartement. Marvel membuka pintu kemudian melangkah keluar dari mobil.
Bersamaan dengan itu Bunga yang baru saja pulang dari tempat kerja memaku langkahnya tepat di belakang mobil milik Marvel.
Laki laki itu berjalan mengitari sebagian mobilnya untuk membukakan pintu. Laura melangkah keluar, tersenyum manis ke arah Putranya kemudian.
Marvel seketika menoleh melihat ke arah Bunga ketika saat menyadari perempuan itu berdiri di sana.
"Bunga" ucapnya menyambut perempuan itu.
Senyum yang semula mengembang di wajahnya, perlahan terlihat menghilang sedikit demi sedikit setelah laura mendengar Marvel menyebut nama itu. Laura memalingkan wajahnya tepat di mana Marvel menatap. Di sana dia melihat Bunga terdiam membisu dengan tatapan kosong serta ekspresi wajah tak terbaca.
"Bunga???" ucapnya lirih kepada Marvel, dengan nada bertanya tanya. Laura menelan ludahnya dengan susah payah, ekspres wajahnya terlihat pucat. Rasa ketakutan melanda hatinya jika tiba tiba saja Bunga membuka kedoknya di depan Marvel.
Marvel melangkah mendekatinya, dengan senyum lebar kemudian dia berucap.
"Kamu??, , baru pulang kerja??" Marvel menyelidik. Berfikir keras kenapa Bunga baru saja pulang dari tempat kerja.
Bunga menghela nafas panjang, masih berusaha mengontrol emosi agar tak meluap secara tiba tiba. Bunga menggerakkan bola matanya ke Laura. Perempuan paruh baya itu semakin terlihat pucat, ketakutan semakin melingkupi dirinya.
"Iya Kak!" ucapnya seketika sembari mengarahkan pandangannya ke Marvel.
"Kamu pasti lelah?" senyum manis menghiasi bibirnya ketika Bunga meresponnya dengan positif,.
__ADS_1
"Soal waktu ith aku minta maaf Bunga!"
"Lupakan Kak!, aku tidak ingin membahasnya lagi!" jika saja Marvel bukan sahabat baik yang sudah dia anggap sebagai Kaka sendiri, mungkin Bunga telah membencinya. Tetapi Bunga harus berfikir lebih dewasa, karena semua bukan kesalahan Marval. Dia tak lantas bisa membenci laki laki itu begitu saja. Marvel bahkan tak mengetahui hubungan apa yang terjalin di antara mereka.