Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
107 CEO: Love's Romance Nyamuk kecil


__ADS_3

David telah menyuruh Ius sebelumnya untuk mencari keberadaan rumah makan yang menyediakan salah satu makanan Indonesia yang diinginkan oleh Aileen di Paris. Namun Ius tak menemukannya, bahkan dia telah pergi sampai batas kota untuk hanya mencari penjual soto.


"Maaf PresDir sepertinya saya menyerah, dari pagi sampai sore hari ini aku telah berkeliling tetapi tak ada satu pun rumah makan yang menyediakan menu makanan itu" Bahkan Ius yang asli orang Paris pun baru kali ini mendengar nama makanan itu.


"Anda bisa memotong gaji saya bulan ini karena tidak bisa melakukan pekerjaan saya dengan baik!" suaranya terdengar rendah ketika dia merasa bersalah karena tak bisa melaksanakan perintah atasannya dengan baik dari seberang sana.


David berdecak jengkel karena tidak mendapatkan kabar baik dari Ius.


"Lupakan!!, ,aku akan mencarinya sendiri" David memutuskan panggilan. Kemudian menyimpan ponsel ke dalam saku celana.


Sejenak sempat terdiam, namun tak lama dia kembali mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Luna, berharap Orang tuanya tahu kalau ada yang menjual soto di daerahnya.


"Halo sayang??, , kenapa?"


"Mamah tahu ada penjual soto di sekitar sini?" David terdiam cukup lama karena tak mendengar suara Luna dari seberang sana. Sepertinya perempuan itu juga kebingungan mendegar pertanyaan David.


"Soto???" suaranya terdengar meninggi, karena Luna merasa kebingungan saat David menanyakan tentang makanan itu.


"Iya Mah!, , Mamah tahu di mana penjual soto yang ada di daerah sini?"


"Tunggu tunggu!, , ini kenapa kamu tiba tiba mencari penjual soto??, , kenapa tidak meminta Bibik untuk membuatnya. Atau Mamah akan membuatkannya untukmu?"


"Bukan aku Mah, Aileen ingin makan soto. Tapi dia tidak mau kalau seseorang sengaja memasak untuknya. Dia mau langsung beli dan makan di tempat" Davi menjelaskan apa keinginan Aileen sejak tadi pagi hingga sampai sore itu belum kesampaian.


"Aileen??, , mau makan soto??, , ha!!" Suaranya terdegar seolah Luna sendang membungkam mulutnya sendiri. Tak lama setelah bisa mencerna dengan baik pembicaraannya dengan David, Luna telah mengambil kesimpulan sendiri.


"Apa menantu Mamah sedang hamil?" suaranya pecah hingga memekik rongga telinga.


David seketika menjauhkan ponsel dari telinganganya. Menghela nafas karena kaget saat Luna menaikkan nada suaranya. Tak lama dia kembali mendekatkan ponsel ke telinganya.


"Iya mah, Aileen hamil"


Bukannya mendapatkan jawaban tentang penjual soto, dia malah mendengar teriakkan dari Luna dan Iris dari seberang sana yang sangat histeris ketika mendengar Aileen hamil.


David mendengus jengkel, harus kemana lagi dia mencari tahu tentang penjual soto. Pasalnya Aileen juga belum mau makan sampai saat ini hanya minum dan sedikit buah yang mengganjal perutnya. Dan itu pun sebagai penghilang rasa tak nyaman yang bersinggah di tenggorokan karena seharian ini dia masih sering muntah.


"Om mencari penjual soto??" suara mungil itu keluar dari mulu Essie yang berada di belakangnya, anak kecil itu sengaja mencuri dengar pembicaraan David sejak tadi.


David memutar tubuhnya, berjalan mendekati Essie kemudian menekuk lututnya di depan anak kecil itu.


"Iya sayang, , Tante ingin sekali makan soto. Tetapi dia ingin membelinya di rumah makan. Sementara Om tidak tahu di mana penjual soto di daerah sini.


"Aku tahu Om, aku dulu sering membelinya dengan Mamah".


Mendengar ucapan Essie, raut wajahnya terlihat berubah drastis. Tadinya sempat frustasi karena tak bisa memenuhi keinginan Aileen, akan tetapi kini dia seperti mendapat angin segar.


"Benarkah?" David mengusap rambutnya dengan lembut.


"Aku tidak pernah berbohong Om, aku bisa mengantar Om dan Tante kalau mau. Kebetulan warung itu mulai buka sore hinnga malam hari"


Senyum manis menghiasi bibirnya, David memeluk Essie kemudian menghadiahi anak kecil itu kecupan di kening.


"Terima kasih sayang, Om akan meminta Tante untuk bersiap siap. Setelah ini kita pergi bersama ya!"


♡♡♡

__ADS_1


Mobil yang di tumpangi mereka memasuki daerah pedesaan, tempat di mana Essie dan Raina dulu sering membeli makanan itu ketika pulang ke desanya.


"Kamu yakin tempatnya di daerah sini sayang?" Aileen nampak ragu saat pandangannya menyelidik tempat itu , karena di sana terlihat kumuh dan jalan yang mereka lewati pun sangat sempit.


"Iya Tante, , itu" Essie menunjuk dengan jarinya ke arah depan.


Aileen melihat sebuah rumah kecil dengan penerangan lampu yang minim di depan sana. Setelahnya dia dan david saling menatap melempar pandang sejenak.


"Kita bisa mencobanya terlebih dulu" Aileen berucap dengan ragu, dia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Suaminya. Mereka berdua ragu sebenarnya untuk masuk ke dalam rumah makan kecil yang terlihat seperti bukan rumah makan.


David menghentikan mobilnya sedikit jauh, mereka bertiga pun melangkah keluar dan berjalan mendekati rumah makan itu.


"Pergi dari sini!!!, , sebagai anak bisanya hanya menyusahkanku saja!!!"


Prank!!!


Seorang Ibu melempari putrinya dengan berbagai alat dapur di depan warung itu. Membuat Aileen kaget hingga mencengkeram kemeja lengan Suaminya. Sementara di sisi lain David menggandeng tangan Essie dengan erat.


"Sayang, , kamu gakin mau beli soto di sana?" David nampak ragu untuk melanjutkan langkahnya.


"Aku lapar, , tapi" melihat apa yang baru saja dilihatnya itu membuat Aileen ragu, tetapi perutnya sudah tidak bisa menahan rasa lapar. Terlebih lagi saat aroma wangi kuah soto yang kaya dan kental akan rempah rampah itu terbawa angin hingga menyebar ke dalam hidung Aileen membuat perutnya semakin perih dan keroncongan.


"Tidak apa apa Tante, , mereka memang sering bertengkar. Perempuan itu putrinya penjual soto. Ayo!" Essie menarik tangan David membawa mereka semakin mendekat dengat rumah itu.


David menggenggam tangan Istrinya, mencoba membuat Aileen tenang karena perempuan itu sedikit terlihat ketakutan.


"Aku ini putrimu Bu!!, , aku hanya meminta uang sedikit kenapa kamu marah marah!!" perempuan bertubuh kurus dan tinggi itu terlihat sedang memarahi Ibunya.


"Kamu pikir aku mesin uang!!, , setiap hari hanya minta uang untuk berjudi dan bersenang senang!!, , aku ini semakin tua! apa kamu tidak bisa hidup sendiri tanpa menggnggu Ibumu ini!!" suaranya menggelegar di keheningan malam, saat memarahi Putrinya.


"Kembalikan uang itu cepat" Ibu itu masih menahan salah satu lengan Putrinya, dia berusaha untuk meminta kembali uang yang diambil oleh Putrinya.


"Kembalikan uang Ibumu!" Aileen berucap dengan sangat berani, rasa takutnya sudah menghilang saat melihat perempuan itu berani melawan Orang tuanya. David tak menyangka kalau Aileen akan seberani itu. Padahal nyalinya sempat menciut beberapa saat tadi.


"Sayang?, , "David mencoba menenangkan Istrinya.


"Bisakah kamu berbuat sopan dengan Ibumu!" Aileen semakin melangkah maju mendekat. Berusaha membantu Ibu itu untuk beranjak berdiri.


Perempuan itu tersenyum sinis, menatap rendah Aileen dengan mata besarnya.


"Siapa kamu!!" matanya melidik ke Aileen, kemudian berganti ke David yang berdiri di sampingnya. Tak lama dia menggerakkan kepalanya untuk melihat ke arah belakang Aileen melihat ke mobil yang terparkir di sana.


"Kalian orang kaya??, , apa kalian pelanggan Ibuku??, , kalau begitu kamu bisa meminjami aku sedikit uang untukku!!"


Plak!!


Perempuan itu mendapat tamparan keras dari Ibunya.


"Uang uang uang dan hanya uang yang kamu pikirkan!!, , selama ini hidup menyusahkanku apa itu belum cukup!"


"Aku juga perlu menghidupi diriku dan anakku Bu!!" teriak perempuan itu kepada Ibunya.


"Anak??, , kamu bilang anak??"


"Ya!! aku sedang hamil!!, , maka dari itu Ibu harus memberiku uang untuk menghidupi Putrimu ini dan calon cucumu!"

__ADS_1


Ibu itu terlihat sudah kehabisan kesabaran, selama ini dia berjualan untuk menyambung hidup, tetapi putrinya seperti tak tahu balas budi, perempuan itu selalu hidup seperti parasit dalam hidupnya. Tidak mau bekerja, hanya selalu menggunakan waktunya untuk berjudi dan menghabiskan uang Ibunya.


"Brengsek!!, , anak tidak berguna!!, , pergi dari kehidupanku. Jangan pernah datang kemari lagi. Hidupi dirimu dan cari laki laki yang telah menghamilimu! mintap pertanggung jawaban darinya. Jangan memintaku untuk menghidupi kalian. Aku sudah tidak mau ikut campur dalam hidupmu!!"


David dan Aileen saling melempar pandang. dia tak menyangka akan menyaksikan pemandangan yang tidak mengenakkan di depan mata.


"Aku akan pergi, setelah Ibu mau memberiku lebih uang untukku!" ucap perempuan itu tanpa rasa berdosa.


"Jangan panggil aku dengan sebutan Ibu lagi!. Kamu!!"


"Berapa yang kamu butuhkan!!" David memotong pembicaraan, dia hanya tidak ingin Aileen melihat lebih lama lagi pertengkaran mereka berdua, terlebih lagi ingin segera pergi dari tempat itu setelah membeli soto.


♡♡♡


Setelah perempuan itu mendapat uang dari David, dia akhirnya pergi dari tempat itu. Membuat suasana di sana menjadi tenang.


Ibu itu membawa tiga buah mangkok dengan kepulan asap kuah soto panas berterbangan di atasnya.


Aileen semakin tidak sabar ingin segera menyantapnya. Matanya berbinar, air liurnya memenuhi mulut, sementara cacing caing di perutnya seolah sudah tidak sabar ingin mendapatkan asupan makanan.


"Maafkan sikap putriku yang tidak sopan tadi. Untuk uang yang kamu berikan kepadanya, aku akan mengembalikan nanti jika aku sudah memiliki uang yang cukup"


"Tidak perlu Nek, , Suamiku sengaja memberikannya untuk Putrimu. Jadi Nenek tidak perlu memikirkan untuk mengembalikannya"


Ibu paruh baya itu terlihat senang.


"Terima kasih, , " matanya beralih melihat ke arah Essie.


"Kamu bukanya pernah ke sini??".


"Iya Nek dulu aku sering ke sini" Essie tersenyum ke arah Ibu itu.


"Baiklah kalau begitu, silahkan habiskan makanan kalian, aku akan pergi ke belakang dulu"


David menyangga kepalanya di atas meja, menatap Istrinya yang sedang melahap makanan yang sangat diinginkannya sejak pagi.


"Kamu senang?" David membelai rambutnya.


"Mm, , ini enak sekali" Aileen melirik ke mangkuk soto milik David yang tak di sentuhnya sama sekali.


"Kamu tidak makan??"


David menggelengkan kepalanya.


"Tidak, , melihat kamu banyak makan seperti ini sudah membuatku kenyang"


"Benarkah??, , gombal!" Aileen melahap sotonya hingga terlihat membesar pipinya.


"Aku sedang tidak bercanda, , Ai, , pelan lelan makannya" David membersihkan cipratan kuah soto yang menempel di pipi Istrinya. Melihat Aileen semakin lahap, David mendorong mangkuk soto miliknya ke arah Aileen.


"Kamu bisa habiskan soto milikku jika mau"


Aileen tersenyum, setelah mendapat kecupan di pipi oleh Suaminya.


Essie berdehem mencoba mencari perhatian. Dia juga tengah sibuk makan soto di sana.

__ADS_1


"Apa Om dan Tante tidak merasa di sini banyak nyamuk??"


Mendengar pertanyaan Essie, mereka berdua pun tertawa. Membuat suasana malam itu semakin hangat. David dan Aileen tahu kemana arah pemcaraan Essie, tak lama laki laki itu mengusap ujung kepala Essie dan menghadiahi anak kecil itu kecupan di kening.


__ADS_2