
“Kau lupa janjimu dulu, Nola??”
“Tidak Juull! Tapi kenapa tidak, anggap saja ini sebagai balas budi karena kebaikan keluargamu! Bagaimana... kau menerima lamaran pekerjaanku, kan?” kedua alisnya terangkat bersamaan berulang kali saat menunggu jawaban dari Juliet.
“Bodoh! Kita masih sekola Nola, tapi kau sudah memikirkan pekerjaan?”
“Apa bedanya denganmu? Bahkan kau bekerja sejak dulu waktu umur 7 tahun!” sahut Nola tak mau kalah.
Juliet menghela nafas panjang. “Yang seperti ini mau menjadi asistenku? Apa kau bisa jamin kalau kita tidak akan bertengkar setiap hari?” ucapnya sambil berlalu.
Mereka berdua berjalan menuju ke kelas sambil terus beradu argumen tentang masalah pekerjaan. Sampai pada akhirnya perhatian mereka teralihkan ke Rachel yang secara tiba-tiba menyahut pembicaraan.
“Jadi ini gadis yang merasa paling cantik di sekolah? Sampai-sampai menolak hadiah mobil dari Serxas!” Rachel melangkah mendekati Juliet yang menghentikan langkahnya di depan pintu kelas setelah mendengar ucapannya. “Munafik! Haha... padahal kau bisa saja mengatakan kepada Serxas kalau kau menginginkan hadiah yang lebih dari sebuah mobil! Oh... atau bisa jadi, ini adalah caramu memancing Serxas agar memberikan apa yang kau inginkan tanpa harus memintanya?” tak hanya senyumnya, ekspresi wajah dan juga tatapan matanya semua terlihat licik. Ibarat tokoh antagonis dalam film yang selalu dia perankan, maka Rachel sejatinya tidak pernah berakting di depan kamera karena itu adalah watak dari dia yang sesungguhnya.
Juliet tidak pernah menanggapi ocehannya sejak dulu saat pertama kali mereka bertemu di toilet. Tapi lama-kelamaan mulutnya semakin berbisa. Dengan sikap tenang Juliet pun berucap. “Jika kau menginginkan hadiahnya... kenapa tidak kau saja yang mewakiliku menerima mobil itu?” tatapannya terlihat santai tapi sangat mengintimidasi Rachel. “Kenapa? Apa kau malu mengatakannya sendiri kepada Serxas? Kalau tidak keberatan aku akan meminta Nola untuk menemui kakak kelas kita!”
Rachel terdiam menahan kesal, niatnya ingin membuli Juliet malah dia yang tak bisa membalas ucapannya. Bibirnya tersenyum gadis itu teramat sangat pandai menyembunyikan rasa kesal. Bibir dan hatinya selalu bertolak belakang. “Aku bisa membelinya sendiri. Tapi, apa kau lupa Juliet... orang tuamu terutama Ayahmu, agensi yang saat ini menaungi kita berdua sedang mengalami kesulitan!” haha.... tawanya dipenuhi kebencian yang mendasar.
“Apa kau bilang?” Juliet terkejut begitu juga dengan Nola.
Rachel mengambil ponselnya lalu memperlihatkan berita yang baru saja diunggah di media sosial kepada Juliet. “See?? Perusahaan ayahmu sedang mengalami defisit! Dalam hitungan jam... sebentar lagi ayahmu akan kehilangan D Entertainment!”
Juliet terpaku membaca rentetan kalimat yang terpampang di depan mata. Tangannya bergerak nyaris meraih ponsel milik Rachel tapi gadis sombong itu terlebih dulu menjauhkan ponsel dari jangkauan Juliet. “Biarkan aku membacanya sampai selesai!” pintanya. Wajah Juliet seketika pucat dipenuhi keringat dingin.
“Kau benar-benar putri mereka yang sangat egois, terlalu memikirkan karier hingga kau tidak tahu kalau ini adalah minggu kedua bagi D Entertainment mengalami kesulitan!”
“Hentikan omong kosongmu!” sahut Nola yang mulai tak bisa lagi tinggal diam melihat Juliet selalu diperlakukan buruk oleh Rachel.
“Apa? Ha?!! Kau juga... aku yakin sebentar lagi Tuan Davien, ayah dari artis remaja tercantik bernama Juliet ini tidak akan mampu membiayai sekolahmu lagi! Terpaksa kau... harus kembali ke tempat kumuh! Tapi sepertinya kau lebih pantas di sana, Nola!” haha....
“Kau!” Nola hampir saja menampar Rachel jika Juliet tidak menghentikannya.
“Nola!!” seru Juliet. Jika sampai sahabatnya itu menampar Rachel maka, bisa dipastikan besok wajah Nola akan menghiasi semua kabar berita di halaman paling utama baik media elektronik maupun cetak. Dan hal itu akan menambah buruk keadaan perusahaan milik ayahnya.
__ADS_1
***
“Juliet kau mau pergi ke mana?” seru Nola setelah melihat sahabatnya berlari keluar dari kelas membawa tas. Juliet tak menjawab, pikirannya dipenuhi dengan berita tentang D Entertainment dan kedua orang tua terutama ibunya yang sedang hamil tua dan hanya perlu menunggu hitungan hari untuk melahirkan.
Juliet berlari menuju ke jalan raya dan terhenti di trotoar menunggu waktu giliran untuk menyeberang. Saking paniknya sampai lupa bahwa dia adalah artis remaja terkenal yang sedang digandrungi masyarakat. Penampilannya tampak berantakan, rambutnya lusuh dan sebagian basah karena keringat.
Semua orang yang melintas di jalan mulai mengerumuni Juliet. Mengetahui bagaimana sulitnya bertemu dengan artis idolanya, mereka tak mungkin melewatkan momen itu begitu saja.
“Juliet bisakah kita berfoto?”
“Ah, serius itu Juliet? Aku rasa dia hanya mirip saja. Mana mungkin Juliet berkeliaran di jalan seperti ini?”
“Bisa kita foto bersama Juliet? Aku mohon!”
“Aku masuk dalam komunitas penggemarmu, bisakah kita foto bersama?”
“Aaaa! Aku tidak percaya bisa melihat Juliet secara langsung!”
“Juliet, aku menyukai aktingmu... kapan kau main film baru?”
“Permisi jangan dorong-dorong!! Aku terlebih dulu melihat Juliet! Aku harus foto dengannya!”
Mungkin semula hanya sepuluh orang tapi kini semakin banyak yang mengerumuni Juliet sampai gadis itu tak bisa melihat jalan, apa lagi lampu rambu-rambu lalu lintas hampir berubah warna. “Maaf, bisakah kalian memberiku jalan? Ini bukan waktu yang tepat untuk kita saling berinteraksi. Aku mohon pengertian kalian!” dengan sopan Juliet menunduk, memohon berkali-kali tapi mereka tak menghiraukannya.
Sampai akhirnya rambu-rambu lalu lintas berubah dan waktunya pejalan kaki untuk menyeberang. “Permisi biarkan aku lewat tolong!” pintanya. Suara mungilnya tetap terkalahkan oleh suara mereka semua yang berebut ingin mengabadikan momen itu.
Sedih karena mendengar berita tentang perusahaan ayahnya, belum lagi mengkhawatirkan keadaan ibunya kini malah ditambah dengan orang-orang yang berbondong-bondong mengerumuni dirinya. Ada rasa gelisah dan takut karena bisa jadi salah satu dari mereka menggunakan kesempatan itu untuk berniat jahat. Karena tidak semua artis memiliki penggemar baik, ada juga haters dan penggemar fanatik yang bisa melukai Juliet.
‘Bagaimana ini? Aku mohon! Semoga ibu baik-baik saja, please!’ nafasnya memburu, tak ada satu pun dari mereka yang mau mengerti memberi jalan agar Juliet bisa lewat. “Aku mohon!” matanya mulai memerah, ketakutan dan khawatir karena ruang geraknya semakin terbatas. Semua mendesak ingin lebih dekat, Juliet sampai tak bisa bergerak nyaris kehabisan oksigen.
“Jangan dorong-dorong! Kasihan Juliet tidak bisa bergerak!” seru seseorang yang berada di barisan depan.
“Yang belakang tolong berhenti mendorong!!!
__ADS_1
“Sial! Aku harus lebih dekat untuk bisa mengambil foto Juliet!” ucap salah seorang yang berada di barisan belakang, dia mendesak memaksa menerobos.
Sementara itu di sisi lain di tempat yang sama, mobil mulai berhenti karena lampu merah menyala.
“Juliette? Selamat atas kelulusanmu... dan aku ikut bahagia karena kau diterima di universitas yang kau inginkan sejak dulu” suara berat dan tenang itu keluar dari mulut seorang lelaki tampan yang berada di dalam mobil deretan paling depan. Dia memberikan buket bunga kepada kekasihnya.
“Oh, ini sangat indah Xander. Ini bunga terindah yang pernah aku terima.” Juliette tersenyum bahagia.
“Kau menyukainya? Kalau kau mau aku bisa membeli semua toko yang menjual bunga di kota ini.”
Hehe.... “Jangan bercanda Xander! Ini saja sudah lebih cukup bagiku. Kau tahu apa? Aku hampir tidak percaya lelaki dingin seperti dirimu mempunyai pikiran membeli bunga untuk kekasihmu ini! Ternyata kau bisa romantis juga.”
“Aku sikapku berlebihan?”
“Astaga! Haha... tentu saja tidak, sayang. Hampir semua perempuan di muka bumi ini menyukai... maybe, sangat menyukai bunga yang dia dapat dari kekasihnya. Meskipun ini hal yang sangat sederhana, tapi kau harus tahu... ini mampu menghapus rasa kesal di hati seorang perempuan yang sedang merajuk!”
Lelaki itu menoleh menatap kedua mata Juliette. “Lalu, ketika kau sedang marah aku hanya perlu membelikanmu bunga, begitu maksudmu? Itu hal yang mudah Juliette” ucapnya dengan ekspresi wajah datar. Xander termasuk lelaki yang tidak mudah memperlihatkan ekspresi wajah bahagia, suka atau ketertarikan pada sesuatu yang menarik baginya. Dengan Juliette pun selama bertahun-tahun mereka bersama hanya beberapa kali momen Juliette melihat Xander tersenyum tipis.
Haha.... Juliette tertawa lirih karena ucapan Xander yang terlalu jujur.
Entah bagaimana cara Xander mendeskripsikan kebahagiaan yang dia rasakan sat ini ketika melihat Juliette tersenyum bahagia. Sekilas pandangannya tertuju ke wajah perempuan yang dia cintai tapi sedetik kemudian matanya bergerak menurun tertuju ke kalung yang menggantung di lehernya.
“Kenapa? Ooh... aku tahu. Sudah sejak lama aku memperhatikan dirimu, kau sepertinya sangat tertarik dengan kalung ini?” Juliette melepas kalungnya. “Kemarikan tanganmu Xander!”
Xander tampak ragu tapi dia langsung memalingkan wajahnya ketika melihat Juliette melepas kalung itu.
Karena tak mengindahkan perintahnya, Juliette meraih tangan Xander secara paksa lalu meletakkan kalung itu di telapak tangannya. “Kau boleh memilikinya! Aku akan meminjamkan kalung itu padamu untuk sementara, jika nanti sudah puas kau bisa mengembalikannya padaku kapan pun kau mau.” Lagi-lagi Juliette tersenyum, tapi tidak dengan Xander yang hanya diam menatap bandul kalung berwarna hijau botol di tangannya.
Entah bagaimana caranya mengekspresikan kekaguman pada kalung itu, haruskah dia tersenyum atau tertawa? Xander tidak tahu apa yang harus dia lakukan yang pasti dia benar-benar sangat tertarik dengan kalung itu. Terlebih lagi dengan pemilik kalungnya, Juliette perempuan yang duduk di sampingnya.
Yang dilihat Juliette saat ini hanya ekspresi datar tanpa ada perubahan gerakan alis sedikit pun yang setidaknya bisa membuatnya tahu apa yang Xander rasakan saat itu. Tapi dia tidak terlalu peduli asalkan Xander sudah memperlihatkan ketertarikannya saja itu sudah cukup bagi Juliette. “Bagaimana? Indah bukan?” selanya di tengah kesibukan Xander yang sedang memperhatikan kalung itu.
“It’s Amazing” gumamnya. Ketika sibuk memperhatikan bandul kalung, tiba-tiba Xander dikejutkan dengan kilauan yang keluar dari bandul itu. Matanya sedikit membulat membuat kilauan itu terlihat jelas memantul di kedua bola matanya.
__ADS_1