
Malam itu Luna sangat terlihat cantik dengan gaun berwarna baby pink yang membalut tubuhnya dengan sangat indah hingga memperlihatkan setiap lekukan tubuhnya.
Barack mempersilakan Luna untuk merangkul lengannya, laki laki itu tersenyum karena dia terlalu takjub dengan kecantikan Istrinya.
Setiap hari Luna selalu membuat hatinya luluh, apa lagi ketika melihat perempuan itu bangun tidur. Wajahnya yang polos tanpa polesan sedikit pun membuat Barack selalu jatuh cinta padanya setiap hari.
Barack mempersilahkan Istrinya untuk duduk di kursi yang sudah dipersiapkan olehnya.
"Kenapa?" Luna berucap saat mengetahui suaminya itu selalu melihat ke arahnya dengan tatapan lembut namun menajam.
Laki laki itu menggelang pelan, senyum manis selalu menghiasi bibirnya.
Kemudian Barack mendekati telinga Istrinya dan berbisik disana.
"Bagaimana kalau kita pulang saja?"
Luna memukul pelan dada Barack, senyumnya mulai terlihat mengembang karena malu. Kemudian mendaratkan cubitan di paha Suaminya. Seakan dia tahu apa maksud dari ucapan Barack.
"Luna?" suara sahabatnya itu menarik perhatian Luna hingga mengalihkan pandangannya dari Barack.
"Cici, kamu udah baikkan?" ucap Luna, perempuan itu berdiri menyambut kedatangannya.
"Mm, , udah ko!"
Sementara ujung mata Luna kini beralih ke arah Aryo yang berdiri di belakang sahabatnya itu.
Luna tersenyum senang saat melihat mereka datang bersama.
"Ggmm!" dia berdehem untuk menetralkan perasaannya.
"Jadi???, gimana?" Luna menaikkan ke dua alisnya dengan cepat ke arah Cici.
Cici hanya diam tak menjawab pertanyaan Luna, dia tahu sebenarnya kemana arah pembicaraan sahabatnya itu.
Aryo meraih lengan Cici untuk menuntunnya duduk di kursi.
Setelahnya Barack mengajak Aryo untuk menemui rekan bisnisnya yang sempat dia lihat, kebetulan rekan bisnisnya juga datang memenuhi undangan Leo.
"Pak Ricard?" sapanya sambil mengulurkan tangannya kepada Ayahnya Helena itu.
"Barack?" Pak Ricard menyambut uluran tangan dari rekan bisnisnya.
__ADS_1
Lalu Barack mrmperkenalkan Aryo kepada Pak Ricad, hingga terjadi percakapan yang lumayan panjang di sana.
♡♡♡
"Apa kamu mau minum?" luna menawarkan dirinya untuk membantu Cici mengambilkan air minum.
"Tidak perlu, nanti saja waktu standing party kita lahap semua makanan di sini" ucapnya membuat Luna tertawa seketika. Dan saat itu juga ujung mata Cici mengarakh ke pada Adrian yang sedang berjalan ke arahnya.
Cici betdiri untik menyambutnya.
"Pak Adrian?" sapanya.
Luna agak terkejut, dia pun menengok ke arah Adrian yang ada di belakangnya.
"Duduk saja, tidak perlu berdiri untuk menyambutku, dan satu lagi. Cukup panggil namaku saja baik saat kerja atau pun tidak dan itu berlaku untuk kalian berdua" kemudian Adrian membuang senyum ke arah Luna.
Dan Luna pun membalas aenyumnya dengan sedikit menahan rasa canghungnya.
Di meja itu mereka bertiga pun berbincang bincang dengan sangat akrab.
Sementara dari sisi di mana Barack duduk, pandangannya beralih ke pada Istrinya yang sedang tersenyum saat meladeni Atasannya. Ada rasa cemburu di hayi Barack tetapi itu wajar baginya, Barack pun berusaha bersikap seperti biasanya.
Saat yang bersamaan ujung mata Luna melirik ke arahnya, lalu tatapan mata mereka bertemu. Luna juga bersikap seperti biasanya saat suaminya itu melihat ke arahnya dengan lekat. Toh dia bersikap sewajarnya saat berbincang dengan Adrian.
Melihat Adrian yang tak kunjung pergi dari kursi yang semestinya menjadi tempat duduknya, Barack akhirnya memutuskan untuk berpamitan dengan rekan kerjanya dan kembali menemani Luna.
"Maaf kalau aku mengganggu perbincangan kalian"
Adrian melihat ke arah Barack yang kini sudah berdiri di samping tempat duduk Istrinya.
Barack membalas tatapan Adrian sambil memamerkan senyum ke arahnya. Lalu dia mengulurkan tangannya untuk menyambut Adrian. Sementara satu tangannya lagi meraih pundak Luna dan menyentuh dengan intim di sana seakan dia sedang memperlihatkan atas kepemilikan perempuan itu di depan mata Adrian.
Adrian berdiri untuk menyambut Barack dan mengulurkan tangannya.
"Barack??" ucapnya, sementara matanya menyelidik ke arah Barack.
"Iya, suami Luna. Pegawai barumu" ucapnya memperjelas, senyumnya lebar namun terlihat sangat getir sekali.
"Owh, oke. Baiklah nikmati waktu kalian, kalau begitu aku akan kembali ke mejaku" ucap Adrian sambil beranjak dari kursinya.
Luna membuang pandangan matanya ke arah Barack sambil membulatkan matanya, namun bibirnya menahan senyum.
__ADS_1
Barack malah sengaja memalingkan wajahnya dan menyembunyikan senyumnya dari Luna.
"Ih, , cemburuan!" Luna menyikut perut Barack dengan sikunya. Seolah dia tahu kenapa Barack berucap seperti itu.
"Aduh" Barack terkekeh saat itu.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya sebagian lampu di ruangan itu di padamkan dan hanya lampu sorot yang menyala. Lampu itu fokus ke arah pintu masuk untuk menyoroti kedatangan Klara pengantin wanitanya. Sementara Leo telah menunggunya di atas altar.
Setelah akad nikah selesai, klara dan Leo berganti pakaian untuk acara resepsi mereka. Dan di saat pelemparan bunga, Cici nampak antusias berdiri untuk mendapatkan bunga itu.
Tak banyak yang ikut untuk berebut mendapatkan bunga itu, hanya beberapa orang termasuk Cici.
"Semangat Ci siapa tahu habis ini kamu yang nikah" Luna terkekeh sambil melempar pandangannya ke pada Aryo.
Aryo pun tersenyum manis saat itu.
"Emang bentar lagi aku mau nikah, tapi nggak sama dia!" ucap Cici.
"Jangan mulai lagi deh Ci, awas jangan beranten di sini lo!!" Luna berusaha menggoda dua orang yang berada di sampingnya itu.
Barack hanya tersenyum sambil memeluk tubuh Luna dari arah belakang. Melihat acara perebutan bunga sambil menikmati alunan musik yang sangat romantis malam itu. Menuntun tubuh istrinya untuk bergerak perlahan mengikuti alunan musik.
Dan tiba waktunya klara melempar bunga, semua perempuan yang berebut berharap harap cemas untuk berusaha mendapatkannya.
Hingga akhirnya bunga itu mendarat tepat di tangan Luna. Entahlah mungkin karena Klara yang dengan semangat melepar bunganya sehingga bunga itu mendarat jauh ke belakang bahkan melewati beberapa perempuan yang sedang berebut bunganya.
Luna memaku wajahnya seketika saat mendapati bunga itu ada di tangannya. Barack melepas pelukan tangannya dan mengambil bunga itu dari tangan Istrinya saat mengetahui aura wajah Luna sedikit terkejut dan tidak enak hati.
Barack tersenyum sambil mengambil bunga itu dari tangannya.
"Kita berikan ini pada mereka, oke" ucapnya menenangkan.
Luna pun tersenyum dan mengangguk.
Akhir Barack memberikan bunga itu kepada Aryo.
"Ini, untuk kalian"
Sementara Cici dan aryo hanya saling melempar pandang.
♡♡♡
__ADS_1
"Sendirian?" Helena berucap untuk memecah lamunan Adrian yang sedari tadi hanya diam sambil duduk menikmati alunan musik di acara itu.
Adrian mengalihkan pandangannya ke arah Helena yang sudah berdiri di depannya yang kini sedang menarik kursi untuk di duduki setelahnya.