Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#153 Mengajarimu selingkuh


__ADS_3

Luna menarik kepalanya ke arah belakang ketika Barack mendorong tubungnya mendekati perempuan itu.


"Kenapa??, , kalau Adrian melihat kita seperti ini. Apa dia akan beranggapan kalau kita sedang berciuman??" Barack semakin mendekat.


Sementara Luna menggunakan kedua tangannya untuk menjaga tubuh Barack agar tidak menempel di dadanya. Telapak tangannya menyentuh dada laki laki itu dan menahannya dengan kuat.


"Dia hanya melihat kita saling berdekatan, dan tidak sedang berciuman. Seperti halnya dengan yang kamu lihat malam itu. Aku hanya tidur di sana. Dan tidak melakukan apa pun dengan Helena. Apa itu bisa di anggap aku melakukan hubungan fisik dengannya?? Tapi jika aku melakukan ini padamu"


Kening Luna berkerut, seolah dia sedang mencerna ucapan Barack. Laki laki itu terlalu berbelit belit, membuat otak Luna semakin berfikir yang tidak tidak.


"Apakah dia sedang menggodaku??, , aahh!! tidak mungkin. Tenang Luna kamu tidak boleh tergoda dengannya!!"


Barack meraih tengkuk Luna, menariknya dan mencium bibir perempuan itu dengan cepat. Hingga membuat Luna tak dapat mengelaknya.


Mata Luna membulat penuh. Bibirnya terasa hangat, sementara nafas Barack terasa sangat panas ketika menyapu wajahnya.


Ketika bibir mereka bersentuhan tubuh Luna terasa ringan hingga dirinya terasa melayang menikmati ciuman yang sudah lama tak pernah dia rasakan.


Luna terpaku, dia menutup ke dua matanya. Sementara Barack mulai memainkan bibir Luna, mencercap mengulumnya berkali kali. Dia tersenyum tipis ketika melihat mata Luna tertutup. Perempuan itu seolah sedang menikmati permainan bibirnya.


Barack menghentikan ciumannya, menarik sedikit kepalanya. Laki laki itu masih menatap wajah Luna dengan lekat. Dan yang terakhir dia menjulurkan lidahnya menjilat bibir bawah Luna, lidahnya bergerak perlahan ke atas hingga sampai ujung hidung perempuan itu.


Luna masih terdiam, dan menutup mata. Bibirnya sedikit membuka ketika Barack sudah tak menciumnya.


"Kamu menikmatinya??" ucap Barack kemudian.


Tubuh Luna tersentak kaget. Seketika dia membuka matanya. Perempuan itu melihat Barack berdiri sambil bersedekap menatap ke arahnya. Dan memperlihatkan senyum tipis di bibir.


Pipi Luna bersemu, suara degub jantungnya memenuhi rongga telinga. Bagaimana tidak baru saja dia menikmati ciuman laki laki itu. Luna merasa ini semua tidak benar.


"Apa yang sedang kamu lalukan??" ucap Luna, dia merasa dirinya sedang di hipnotis ketika Barack menciumnya.


"Aku hanya sedang memperlihatkan padamu. Kalau inilah yang di sebut selingkuh. Dan kamu telah selingkuh denganku di belakang Adrian"


"Tidak!!, , aku tidak menciummu!! kamulah yang sudah memaksaku! kamulah yang menciumku!" Luna berucap untuk membela diri. Seolah dia sedang memperlihatkan kepada Barack bahwa dirinya memang benar benar merasa bersalah dengan Adrian.


"Aku tidak memaksamu!, , bahkan dari awal ketika aku menciummu. Kamu sama sekali tidak mendorongku. Kamu menikmatinya Luna" ujung bibir Barack terangkat. Dia menikmati ekspresi wajah Luna yang seakan tertangkap basah sedang berbohong.


"Aku dan Helena hanya berteman baik. Aku dan dia di jebak seseorang malam itu. Ada yang memukul kepalaku ketika aku ingin keluar dari kamarnya. Malam itu aku ingin mengajakmu untuk mengantar Helena ke kamar karena dia mabuk. Tetapi aku tidak menemukanmu di sana. Sementara Helena sudah bertingkah di luar kendalinya karena mabuk. Aku terpaksa mengantarnya sendiri"


"Kalau memang ada yang menjebakmu, buktikan padaku!" Luna berucap dengan nada menuntut. Menuntut laki laki itu untuk memberikan bukti. Bahwa memang Adrian yang menjebaknya.

__ADS_1


"Adrian sudah menghapus rekaman itu, bahkan dia memgambil copian CDnya, kenapa kamu tidak menanyakan hal itu dengannya!, , bukankah kalian sudah bertunangan??" Barack menatap Luna dengan tatapan menyelidik.


"Seharusnya dengan mudah kamu bida menyelinap ke ruang kerjanya, atau, , kekamarnya untuk mencari bukti itu" ucapnya dengan nada nakal di akhir kalimat


Luna menelan ludahnya dengan susah payah.


"Kenapa kamu tidak melakukannya sendiri, bukankah kamu ingin membuktikannya padaku? tentang kebenarannya!!"


"Kamu yang membutuhkan bukti itu. Sementara aku tidak membutuhkannya lagi. Yang sekarang aku butuhkan hanya kepercayaanmu!"


"Aku sudah memiliki orang lain, bukannya sudah aku katakan padamu. Aku sudah bertunangan dengannya!!"


"Bagaimana kalau dia, , , tunanganmu mengetahui kita sempat berciuman tadi?"


"Bagiku itu bukan apa apa!, , toh dia tidak melihatnya!" Luna menatap Barack dengan tatapan menantang. Dia tidak sadar kalau sedang menyulut api di dada laki laki itu.


"Kalau begitu, kita bisa melakukannya lagi!" Barack melangkah cepat mendekat ke arah Luna.


Dia menelusupkan tangannya ke pinggang perempuan itu. Sementara satu tangannya lagi menahan tengkuk Luna agar dia tak menghindar ketika Barack mencumbunya lagi.


Luna mendorong tubuh Barack ketika laki laki itu telah berhasil mencium beberapa detik sebelumnya.


Terlebih lagi ketika Luna mendorong Barack, bibirnya sempat tertarik ketika Barack menggigit lembut di sana.


Nafas Luna memburu, Tangannya masih bertahan di dada laki laki itu. Menahannya agar memberi jarak di antara mereka.


"Hentikan Barack!" Luna berucap dengan nada penuh penekanan.


Barack terkekeh, dia masih bertahan di posisinya. Tangannya juga masih berada di pinggang dan tengkuk Luna.


"Bagaimana aku bisa menghentikan diriku, jika kamu saja menikmatinya"


Nafas Luna memburu dadanya sudah tersulut emosi.


Di benaknya laki laki itu seperti sudah kehilangan akal.


Luna berusaha melepas tangan Barack yang ada di pinggangnya dengan sekuat tenaga. Dia mencoba berjalan dengan cepat ketika berhasil melepaskan diri dari Barack.


Namun Barack pun mempercepat langkahnya untuk menyusul Luna yang sudah terlebih dulu berjalan mendahuluinya.


Luna berjalan ke arah kamar di mana David berada.

__ADS_1


Namun belum sempat tangannya meraih handel pintu, Barack terlebih dulu meraih tangan Luna menarik tubuh perempuan itu.


Barack memdorong tubuh Luna hingga membentur tembok di sana. Laki laki itu menahan ke dua tangan Luna dan menekan ke arah tembok.


Ke dua mata Luna menatap tajam laki laki di depannya. Dia melihat kobaran api kecemburuan di mata Barack.


Luna menggeleng tak percaya. Sikap Barack telah berubah. Laki laki itu samakin buas baginya.


"Lepas!" ucapnya dengan nada tinggi.


"Teriaklah, kalau kamu ingin membuat David terbangun dan melihat kita"


"Ya ampuun!!!, , apa yang sedang terjadi dengan laki laki ini! dia seperti sudah kehilangan akal sehatnya"


"Kamu!!, , kamu yang sudah membuatku kehilangan akal seperti ini" Barack berucap, seolah dia tahu apa yang sedang di pikirkan Luna.


Barack mendekatkan wajahnya bermaksud untuk mencium Luna. Namun perempuan itu memalingkan wajahnya.


Barack menempelkan hidungnya ke pipi Luna dan berucap di sana.


"Aku merindukanmu!!" bisiknya. Barack kemudian mendaratkan ciuman di leher bagian bawah telinga perempuan itu. Menyesap, menggigit kecil hingga meninggalkan bekas di sana.


Luna menahan teriakkannya, karena dia tidak ingin David mendengar dan melihat apa yang sedang mereka berdua lakukan.


Mata Luna membulat, ketika merasakan ciuman Barack menguat di lehernya.


Tangannya ingin mendorong laki laki itu. Tetapi Barack mencengkeramnya dengan kuat.


Barack menarik tubuhnya menjauh dari Luna, sengaja memberi jarak di antara mereka lalu menatap perempuan itu.


Dia mengawasi Luna yang terdiam. Matanya memerah dan berkaca kaca.


Perlahan Barack melepas tangan Luna. Membiarkah perempuan itu pergi dari hadapannya.


Luna melangkah masuk ke dalam kamar dan langsung menutup pintu. Tangannya mengusap air matanya dengan kasar.


Sementara Barack masih berdiam diri di depan pintu. Tangannya mengepal dengan kuat. Dia hanya berfikir apakah dirinya bersikap keterlaluan pada Luna.


Sebenarnya dia hanya ingin membuat wanita itu jera karena telah berani membohonginya. Dengan berpura pura sudah bertunangan dengan Adrian, tidak lebih.


"Aku bukan laki laki bodoh Luna, , lihat saja. Aku akan melakukan lebih dari ini!"

__ADS_1


__ADS_2