
Di ruang kerjanya, Davien tampak duduk di bangku dengan raut wajah murung. Menatap cincin di atas telapak tangannya yang terbungkus perban.
‘Aku... dan kak Marvel lusa nanti akan bertunangan!’
Davien mendorong punggungnya bersandar di sandaran kursi sembari merapikan rambutnya yang menutupi kening menariknya ke bagian belakang. Menghela nafas panjang kemudian mengusap wajahnya gusar, dia tampak sangat frustasi setelah mendengar kabar mereka berdua akan bertunangan. ‘Mungkinkah sudah saatnya aku menyerah? Membiarkan Bunga hidup dengan Marvel... lelaki itu pasti jauh lebih baik dariku dan akan membuat Bunga selalu bahagia.’
Di sisi lain, tampak Bunga duduk di kursi tepat di samping Juliet yang masih terlelap. Memandangi wajahnya sambil berpikir keras. Bunga sempat merasa kalau dia akan merasa lega setelah mengatakan bahwa dia dan Marvel akan bertunangan, tapi nyatanya itu justru membuat dirinya merasa bersalah.
‘Oh... kalau begitu selamat untuk kalian berdua. Meskipun acaranya masih besok lusa, aku berharap kau mendapatkan kebahagiaan yang kau inginkan. Aku yakin kalau Marvel pasti akan membuatmu bahagia! Mengenai Juliet... biarlah ini menjadi rahasia kita berdua!’
‘Apa maksudmu?’
‘Kenyataan bahwa aku adalah Ayah kandungnya... biarkan itu menjadi rahasia kita. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan Juliet, aku tidak ingin dia terganggu denganku karena sebentar lagi Marvel akan menjadi ayahnya.’
‘Tapi?’
‘Aku mohon, Bunga! Aku tidak ingin ada yang berubah... aku ingin tetap bisa melihat senyumnya.’
‘Aku memang sempat egois, tapi Juliet... berhak tahu siapa ayah kandungnya!’
‘Tidak Bunga! Aku terlalu takut Juliet akan menghindar setelah tahu aku adalah ayahnya. Please! Ini permintaan terakhir dariku sebelum... sebelum kau menjadi milik orang lain!’
Mengingat semua percakapannya dengan Davien, bukannya membuat Bunga tenang semua itu justru membuatnya sakit.
“Apa yang harus Ibu lakukan, Juliet?” Bunga mulai memukul perlahan dadanya. “Kenapa di sini terasa sesak dan sakit saat mengingat semua ucapannya!”
***
“Setelah lama menghilang tanpa kabar, aku dengar kau akan bertunangan, Marvel?” Keiko terlihat duduk di bangku tinggi di depan meja berbentuk setengah lingkaran, pandangannya tertuju pada seorang bar tender yang sedang meracik minuman untuknya.
“Iya, aku harap lusa nanti kau dan Davien bisa datang ke pesta.” Marvel meraih gelas lalu menikmati minumannya.
“Silakan, Nona!” ucap bar tender yang sudah selesai meracik minuman sesuai pesanan.
Marvel melihat kearah gelas milik Keiko, perempuan itu tengah menikmati minumannya. “Sejak kapan kau mulai bisa minum alkohol?” setahu Marvel, Keiko sejak dulu tak begitu kuat menahan minuman beralkohol. Tubuhnya akan langsung bereaksi meskipun sedikit saja mencicipinya. “Bukankah kau tidak bisa minum?”
Keiko tersenyum kemudian meneguk habis sisa minumannya. “Buatkan aku satu gelas lagi!” ucapnya kepada bar tender sembari mengangkat tangannya.
__ADS_1
Marvel segera meraih tangannya kemudian berucap memberi peringatan kepada Keiko. “Kau bahkan buruk dalam mengendalikan alkohol! Kenapa kau masih tetap minum? Apa ini... masih tentang Davien?” Marvel mencoba menebak apa yang sedang membuat Keiko begitu frustasi, wajahnya tampak sedih meskipun bibirnya tersenyum.
“Tidak! Aku sudah merelakan lelaki itu dengan gadis pilihannya sejak dulu. Tapi... sepertinya dia termasuk lelaki yang kurang beruntung dalam hal percintaan. Aku harap dia tidak akan berakhir seperti diriku!” Keiko belum sepenuhnya mabuk, dia masih bisa berbicara dan dapat melihat dengan jelas meskipun alkohol sudah menguasai tubuhnya, beruntung pikirannya masih jernih.
“Tapi... kau belum menjawab pertanyaanku Keiko! Kenapa kau seperti ini? Apa yang membuatmu sering murung akhir-akhir ini?”
Keiko terdiam menatap gelasnya yang sudah terisi lagi, tapi dia tak ingin kehilangan kesadarannya karena masih ingin berbincang dengan Marvel. “Aku sudah seperti ini sejak kehilangan sosok teman yang selalu memberiku perhatian. Bahkan dia menghilang selama beberapa tahun tanpa kabar!” Keiko tersenyum kearah Marvel, senyum menyakitkan yang memiliki arti khusus untuk lelaki di sampingnya.
Lelaki itu terdiam melihat Keiko yang hampir luput dari pantauannya. “Maaf, aku lupa kalau kau juga membutuhkanku, aku sibuk dengan urusanku sendiri sampai lupa... kalau kau membutuhkan teman untuk bercerita.”
Senyumnya perlahan menghilang, Keiko lalu menghabiskan minumannya dalam sekali teguk. “Baru saja kau kembali... sekarang aku mendengar kabar harus kehilanganmu lagi untuk yang kedua kalinya!”
“Kita masih bisa bertemu, Keiko!” sahut Marvel.
“Tetap saja, situasinya tidak akan sama seperti saat kau masih sendiri setelah bertunangan nanti. Semua perhatian dan kasih sayangmu kau curahkan semua untuknya!”
Selama ini hanya Marvel yang selalu memberi semangat kepada Keiko ketika dia bersedih karena Davien, dia juga selalu menjadi tempat curhat dan keluh kesah selama mendapat masalah dalam hidup terutama dari tempat kerjanya. Keiko sudah merasa nyaman dan bergantung pada Marvel yang selalu bisa di andalkan sehingga saat mendengar lelaki itu akan bertunangan, Keiko merasa berat hati melepaskannya meskipun hanya ada hubungan persahabatan di antara mereka.
“Bodoh! Seharusnya aku senang mendengar kabar kau akan bertunangan, tapi... aku takut tidak lagi mendapat perhatian darimu.” Kedua bola matanya tampak memerah, Keiko sepertinya sudah mulai mabuk.
“Entah apa aku bisa melakukannya... aku sendiri tidak yakin! Benarkah kau ingin membantuku? Karena aku sendiri tidak bisa mengendalikan perasaan mereka, orang yang aku cintai. Setiap lelaki yang menarik perhatianku justru selalu memilih mencintai perempuan lain! Bisakah kau membuat salah satu dari mereka berpaling padaku?” Keiko menoleh menatap wajah Marvel dengan lekat. Berharap Marvel akan memahami apa dan siapa yang sedang dia bicarakan. Masih dengan posisi sama menatap wajahnya, Keiko melanjutkan ucapannya yang sempat terhenti. “Aku pasti akan merasa iri dengan Bunga, karena nantinya dia akan mendapatkan semua perhatianmu! Aku cemburu!” Keiko menghela nafas panjang menundukkan kepala menikmati rasa pening yang mulai menyerang.
Brugh! Keiko nyaris jatuh, beruntung Marvel menangkap tubuhnya. Namun tak lama kemudian Keiko menepis tangan Marvel dan memilih menyandarkan kepala di atas meja.
Marvel merasa sedih melihat kondisi Keiko saat ini. Setelah diam beberapa saat sembari menikmati minumannya, Marvel berencana membawa Keiko pulang. “Kau mabuk? Sudah kubilang jangan minum alkohol karena kau mudah mabuk seperti ini! Bangunlah aku akan mengantarmu pulang!”
“Hmm... aku tidak mau, pulang!” gumamnya dalam kondisi mabuk, mata terpejam dan kepala masih di atas meja.
Marvel telah berhasil melingkarkan tangan Keiko ke lehernya kemudian membantu perempuan itu berdiri menggunakan tangannya yang menahan pinggang Keiko agar tidak terjatuh. “Gerakkan kakimu! Kau harus berjalan Keiko!” seru Marvel sedikit kesal karena Keiko keras kepala dan tak mau mendengar ucapannya.
Seluruh tubuhnya terasa lemas seakan kehilangan tulang yang membuatnya tak bisa berdiri bahkan melangkah dengan baik. Marvel hampir kehilangan keseimbangan, karena Keiko menyerahkan semua berat tubuhnya ke Marvel, lelaki itu nyaris jatuh bersama dengan Keiko yang bersandar di tubuhnya.
Huuuft!! Marvel menghela nafas panjang, tak hanya kesal kini dia juga lelah. Belum setengah perjalanan menuju mobil Marvel dibuat kelelahan. Akhirnya tak ingin membuang tenaga dan waktu lebih banyak lagi, Mevel kemudian memutuskan untuk menggendong tubuhnya.
Lelaki itu telah membungkuk, tangannya berhasil meraih kedua kaki Keiko mengangkatnya membawa perempuan itu ke dalam gendongan mendekap erat tubuhnya agar tidak jatuh. Sadar karena harus menyetir beruntung Marvel tak menyentuh alkohol sedikit pun malam itu.
Sepanjang jalan menuju tempat parkir Keiko terus meracau. Entah apa yang dia ucapkan tak begitu terdengar jelas. Marvel masih terus menggendongnya, fokus ke depan agar tidak tersandung yang nantinya akan membahayakan mereka berdua. Tetapi raut wajahnya terpaku saat perempuan itu memeluk tubuhnya, melingkarkan kedua lengan ke lehernya dengan erat.
__ADS_1
Marvel sempat menunduk melihat wajah Keiko yang tertutup rambut. Tak terlihat jelas tapi Marvel yakin perempuan itu masih memejamkan matanya rapat.
Keiko menguatkan pelukannya lalu memendam wajahnya ke leher Marvel, menghirup puas aroma wangi dari tubuh lelaki itu. “Bukan hanya sikapmu yang hangat... tubuhmu pun bahkan membuatku nyaman, Mevel!”
Lelaki itu sempat terkejut karena tak menyangka kalau dalam keadaan mabuk Keiko bahkan mampu menyebut namanya dengan benar, Marvel pikir kalau saat ini yang ada di dalam pikirannya adalah Davien. “Beruntunglah kau mabuk Keiko, bisa jadi kau akan sangat malu jika mengatakannya dalam keadaan sadar. Kalau kau mendengar suaraku pegangan yang kuat kita akan masuk lift menuju lantai dasar!”
Entah benar-benar mendengar atau hanya insting, Keiko melakukan apa yang disuruh oleh Marvel. Perempuan itu memeluknya semakin erat.
Di dalam lift hanya ada mereka berdua, Marvel sempat kesusahan menekan tombol tapi akhirnya dia berhasil setelah bersusah payah. Aroma sampo dari rambut Keiko yang menyerbak menarik perhatian Marvel.
Setelah menundukkan kepala, lelaki itu menghirup wangi sampo dari rambut Keiko yang membuatnya penasaran. Aroma wanginya membuat Marvel tersenyum, berkali-kali dia mencium ujung kepalanya seakan tak puas walaupun sudah berkali-kali dia menghirup aroma sampo yang melekat di rambut Keiko. “Merek sampo apa yang kau pakai? Bahkan sampai malam rambutmu masih sangat wangi” gumamnya, Marvel tidak tahu kalau Keiko yang mabuk mendengar suaranya.
Perempuan itu menjawab sembari mengangkat wajahnya. “Kau... menyukai... aro.aroma rambutku?” kepalanya mendongak menghadap ke Marvel yang lebih tinggi darinya. Matanya masih terpejam perlahan membuka, bibirnya tersenyum.
Marvel yang mulai menyadari Keiko tengah memperhatikan dirinya, perlahan menundukkan kepala membalas tatapan matanya. “Kau mabuk berat! Tidurlah Keiko!”
“Kau... belum menjawab!” Keiko kesusahan saat ingin membuka lebar kedua matanya karena terasa sangat berat. “Apa kau tidak lelah menggendong tubuhku... Marvel?”
“Hmm, tentu saja... karena kau sangat berat! Menjawab apa? Tentang sampo? Iya... aku menyukai aroma sampo yang kau pakai, dari dulu sejak duduk di bangku sekolah... aromanya masih sama!”
“Wwaahh... kau sangat memperhatikanku, sam.sampai aroma sampo pun kau masih ingat! Aku semakin iri dengan Bunga, semua perhatian yang tadinya untukku... akan kau berikan padanya!”
“Tenang Keiko, aku akan mencarikan seorang lelaki yang lebih baik untukmu!” Marvel menunduk kembali menatap wajahnya.
Perempuan itu tengah tersenyum menatap wajahnya dengan mata sayu. “Kau yakin bisa... membawa lelaki yang aku inginkan ke hadapanku?”
Haha.... “Apa yang tidak bisa aku lakukan untukmu Keiko? Katakan lelaki seperti apa yang kau inginkan!?”
“Dia... harus tinggi, baik, selalu perhatian padaku, tahu apa pun yang aku sukai.” Keiko memperhatikan raut wajah Marvel lebih teliti untuk mencari bagian dari wajahnya yang bisa digunakan sebagai ciri-ciri untuk bisa mendeskripsikan wajah yang dia inginkan. “Senyumnya harus manis karena setiap hari harus membuatku selalu ingin menatapnya, harus memiliki tahi lalat kecil di leher, bibir yang berisi, bulu mata lentik dan –,”
“Kau sedang mendeskripsikan tentang orang yang kau sukai atau sedang menyebutkan ciri-ciri tubuhku?” Marvel sempat tertawa kecil menyadari kalau Keiko ternyata sedang menyebutkan ciri-ciri tubuhnya sejak tadi.
“Iya, aku sedang menyebutkan semua ciri-ciri lelaki yang kusukai!” Keiko membenarkan ucapan Marvel.
“He?” lelaki itu terkejut refleks menundukkan kepala menatap kedua mata Keiko yang mulai berkaca.
“Aku bisa gila harus kehilanganmu untuk yang kedua kalinya. Tidak bisakah kau berada di sisiku seperti dulu?" Keiko menggunakan kedua tangan yang sejak tadi melingkar di lehernya untuk menarik kepala Marvel kemudian mencium bibirnya.
__ADS_1