Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#106 Hancur


__ADS_3

Aryo membuka almari yang ada di sampingnya lalu mengambil handuk yang memang sudah tersedia di sana untuk menutupi bagian bawah pinggangnya.


Cici mengambil lampu hias di nakas dan melepar ke arah Aryo.


Braaakk!!


Aryo menghindar lagi.


"Ci, ci!! sadar ci!" Aryo ketakutan dia berusaha melangkah mundur menuju pintu.


"Keluar nggak!!!, , Aku bakal potong potong punyamu kalau sampai aku melihatmu lagi!!" teriaknya.


Seketika Aryo menjadi pucat dia segera mengikuti permintaan Cici. Aryo keluar dari kamar dengan terpontang panting.


Flash back off


Mata Luna membulat mendengar cerita aryo.


Namun Barack malah tertawa terbahak bahak setelah mengetahui Aryo meniduri Cici karena pengaruh obat yang seharusnya di berikan kepada Luna istrinya.


Seketika tawanya menghilang saat melihat Luna melotot ke arahnya.


Dia berdehem untuk kembali fokus dengan masalah yang sebenarnya.


"Jadi" ucapan Barack terhenti karena Luna berhasil mendaratkan pukulannya di pipi Aryo.


plak!!!


Luna menampar pipi Aryo, dimana rasa nyeri yang di akibatkan oleh tamapran Cici yang berulang ulang di sana belum hilang kini Luna menambah rasa nyerinya.


Luna beranjak dari kursi lalu menendang memukul kaki serta badan Aryo.


"Lun!, , lun!" Aryo berusaha meminta Luna untuk menghentikan pukulannya.


Sementara Barack bukannya membantu dia malah terus tertawa menikmati pemandangan di depannya.


"Barack!!" Aryo meminta bantuan kepada Barack untuk menghentikan Istrinya namun dia malah berucap kata MAMPUS ke arah Aryo tanpa bersuara.


Aryo berlari ke arah lain untuk menghindar dari Luna namun Luna terus mengejarnya.


Akhirnya Barack memeluk tubuh Luna dari arah belakang untuk menghentikan Istrinya yang sedang emosi.


"Lepas, , dia harus di beri pelajaran!! karena sudah merusak masa depan sahabatku!!" Luna berucap sambil berusaha melepas tangan barack yang melingkar di pinggangnya.


"Luna sabar" ucapnya dengan lembut.


"Dia harus di beri pelajaran!"


"Pliss Lun,, " Aryo berusaha memohon kepada Luna dengan menangkupkan ke dua tangannya.


Nafas Luna memburu karena berusaha mereda emosinya.


Setelah berhasil menenangkan diri Barack melepas pelukannya dan menggenggam tangan Luna membawanya ke arah sofa.


"Lebih baik kamu keluar dari sini" ucap Barack kepada Aryo.


"Kamu nggak lihat keadaanku sekarang?, ,bisa dikira orang gila nanti kalau semua orang melihat bekas ** di dadaku ini" Aryo masih sempat membela dirinya sendiri.


"Itu konsekuensinya, karma tahu nggak!!, , senjata makan tuan itu namanya" Barack kembali tertawa namun Luna menyodok dada Barack dengan sikunya.


Barack berdehem untuk menetralkan perasaannya.


"Pinjami kaosmu ya?" Aryo berjalan ke arah almari dan mengambil kaos milik Barack di sana.


Dia memakainya sambil ke luar dari kamar panginapan.


♡♡♡


Luna membuka pintu kamar Cici, dia menemukan serpihan kaca dan barang barang lain berserakan di lantai.


Matanya mengawasi setiap sudut ruangan itu.

__ADS_1


"Ci" matanya mengawasi pintu kamar mandi yang tertutup rapat.


Tak ada sahutan dari dalam kamar mandi, otak Luna sudah berfikir yang tidak tidak.


Dia segera mengetuk pintu yang ada di depannya.


Tok tok tok !!!


"Ci?" serunya.


Masih tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi.


Tok tok tok!!!


"Cici!!" Luna semakin panik.


Mendengar suara pintu terbuka dari arah dalam, Luna segera mundur menjauh dari pintu.


"Apaan sih lun??, , Berisik!! orang lagi mandi juga!" ucap Cici dengan santai seolah tidak terjadi apa apa dengannya.


"Ci??, , kamu baik baik saja kan?" Luna memastikan sambil berjalan mengikuti Cici dari arah belakang menuju ke kamarnya.


"Baik???" Cici berucap dengan nada bertanya kembali pada Luna.


Sejenak dia menghela nafas panjang.


"Tidak mungkin aku baik baik saja lun!, , aku hanya tidak ingin berlarut larut dalam masalah sepele" Cici berucap seolah dia tak merasa hancur setelah mengetahui Aryo telah merusak masa depannya.


"Sepele kamu bilang??, , Ci!! kamu sudah tidak waras ya?" ucap Luna dia beralih duduk di bibir ranjang dekat Cici.


"Iya!, aku memang sudah gila. Karena dia" seketika tatapan mata Cici berubah tajam.


"Kamu harus minta dia untuk bertanggung jawab"


"Dia pasti tanggung jawab!" Cici sejenak berhenti berucap dia mengalihkan pandangannya ke arah Luna yang masih tengah menunggu dirinya untuk meneruskan ucapannya.


"Tapi aku tidak mau!" tambahnya sambil beranjak dari ranjang dan berjalan ke arah almari.


"Ci!" tambahnya dengan nada setengah berteriak.


Cici membalikkan tubuhnya.


"Jika??, , itu hanya perumpamaan untuk orang yang tidak bisa menerima kenyataan lun. Seharusnya kamu tahu, cita citaku dari awal aku ingin meneruskan sekolahku! lagian mana mungkin semalam aku tidur dengannya dan besok aku langsung bunting?? kan nggak lucu" Cici tertawa menutupi rasa kegelisahan yang menyerang hatinya.


"Nggak lucu Ci!!" ucap Luna dengan tegas.


Cici menunduk, matanya memerah seketika.


Luna tahu Sahabatnya itu sedang berpura pura membohongi dirinya sendiri untuk tidak khawatir dengan semua yang sudah terjadi. Namun dia tahu di dalam relung hati terdalamnya dia merasa sangat hancur.


Luna memeluk Sahabatnya itu yang kini tengah menangisi nasibnya.


♡♡♡


"Apa isi otakmu sebenarnya? bagaimana bisa kamu sengaja memberi obat itu kepada Luna, , , yaaa, , walaupun akhirnya Cici yang terkena imbasnya" ucap Barack, dia menemui Aryo yang Sudah menunggu lama di cafe dia Masih menghunakan handuk dan kaos barack.


"Aku sebenarnya ingin membantumu, cuma dia saja yang tiba tiba kemarin minta tukar minuman sama istrimu"


Barack menggeleng tak percaya Aryo berbuat senekat itu.


Dari awal Barack sudah menolak obat itu namun laki laki yang sedang duduk di depannya itu masih tetap tak mau menyerah.


Dan sekarang malah dirinya yang terkena musibah karena obat itu.


"Terus apa rencanamu?"


Aryo masih terdiam.


"Aku akan menikahinya!" ucapnya dengan putus asa.


Barack terkekeh tak percaya.

__ADS_1


"Karena kamu menidurinya semalam, kamu jadi berfikir untuk menikahinya?? kalau semalam kamu tidak bersamanya, , , apa kamu juga akan menikahinya?" ucap Barack memastikan ke pada Aryo.


Aryo menatap ke arah Barack dengan tatapan sengit.


"Apa maksudmu!!" tanyanya kemudian.


Barack menghela nafas.


"Pernikahan bukan terjadi karena semalaman kamu telah bersamanya!" Barack berucap seakan memberi petuh kepada Aryo.


"Nikah nikah aja sih, ribet amat"


"Terserahlah, , suka suka kamu!" Barack berucap seolah putus asa karena sikap Aryo yang slengean.


♡♡♡


Luna dan Barack telah kembali ke apartement sebelumnya mereka mengantar Cici terlebih dulu ke rumah tantenya.


Barack keluar dari kamarnya berjalan ke arah dapur menghampiri Istrinya yang tengah sibuk membuat kopi untuk suaminya.


Tangannya menelusup kepinggang Luna dan memeluk tubuh Istrinya dari arah belakang.


Mendaratkan sebuah kecupan di pundaknya.


"Apa dia sudah baikkan?" ucapan Barack mengacu pada sahabat istrinya.


"Mm, , dia berusaha untuk baik baik saja!" jawabnya tidak yakin.


"Aryo bilang akan bertanggung jawab"


"Cici menolaknya"


"Apa Cici sudah gila?"


"Cici hanya akan menikah setelah cita citanya terwujud, itu yang aku dengar dari mulutnya"


Barack berdecak jengkel.


"Alasan yang naif!!, dimana mana perempuan pasti akan minta pertanggung jawaban setelah dia berhasil di tiduri oleh laki laki"


"Apa maksudmu!" nada bicara Luna mulai terdengar tidak mengenakkan, akhirnya Barack lebih memilih untuk mengakhiri pembicaraan.


Dia tidak menjawab pertanyaan Luna dia malah mengecup leher istrinya dan meninggalkan bekas di sana.


Seketika Luna bergidik merinding.


"Barack" ucapnya dengan lembut seolah meminta Suaminya itu untuk berhenti menggigit kecil lehernya.


Namun yang ada Barack malah menghujani pundak dan leher Istrinya itu dengan kecupan bertubi tubi.


Luna terus berulah karena merasa geli hingga tanpa sengaja menyenggol cangkir yang sudah terisi penuh dengan kopi panas.


Pyar!!!


Gelasnya jatuh dan pecah, namun tumpahan kopinya sempat mengenai jari kelingkin Luna hingga meninggalkan bekas memerah di sana.


"Sssssssssss" Luna mendesis kesakitan menahan rasa panas yang berubah perih setelahnya.


Luna berusaha meraih keran wastafel untuk meredam rasa panasnya namun Barack terlebih dulu meraih tangan Luna dan mengulum jari kelingling istrinya itu.


Tatapan mata Barack melihat ke arah luna dengan lembut.


Mata luna membulat, pipinya bersemu merona karena malu. Dia mengalihkan pandangan matanya ke arah lain untuk menghindar dari mata Barack yang kini melihatnya dengan sensual.


Luna menarik tangannya.


"Sudah tidak sakit kok" namun pipinya masih merona karena malu.


Barack semakin mendekat ke arah Luna, Luna menahan dada barack dengan tangannya.


"Mm sepertinya aku harus menyiapkan surat lamaranku, karena besok harus di ambil oleh Cici" Luna beranjak dari dapur dan berjalan ke arah kamar untuk menghindar dari Barack.

__ADS_1


Barack menyadari hal itu, dia tidak marah, malah tersenyum melihat gelagat Istrinya yang masih malu malu.


__ADS_2