
"Aku juga terkejut ketika mendengar Adrian mengatakan hal itu. Aku menyarankan dia untuk menemui Psikiater, saat itu dia masih mau mendengarkan aku. Dokter memberikannya obat penenang untuk Adrian ketika emosinya tiba tiba mencuat dan tak bisa di kendalikan dengan baik"
"Kenapa dia tidak menceraikan Felis?" Barack memotong pembicaraan lagi, dia benar benar penasaran dengan cerita Ernest.
"Adrian sudah tergila gila dengan perempuan itu, seperti yang aku katakan. dia sanggub menunggu Felis membuka hatinya selama 6 bulan lebih dengan tak menyentuhnya sama sekali. Itu bukti rasa cintanya kepada Felis. Karena dia ingin mendapatkan Felis bukan hanya tubuhnya tetapi juga hatinya. Dan malam itu setelah aku mengantar Adrian pulang dari meeting, aku melihat Felis baru saja pulang. Aku tidak tahu dia pergi kemana.
Perempuan itu masuk ke dalam kamar, di sana Adrian telah terlebih dulu menunggu perempuan itu. Ketika aku melangkah melewati setiap ruang untuk menuju ke pintu, aku mendengar Adrian berucap keras kepadanya. Karena aku takut Laki laki itu tidak bisa mengendalikan emosinya. Aku memutuskan untuk kembali berdiri di balik tembok jika dia berbuat hal yang melewati batas, aku berharap aku bisa membantu mengatasi emosinya. Tetapi ketika aku baru saja sampai di depan pintu aku tidak sengaja melihat Adrian sedang membekapnya, bahkan, , dia melakukan hal itu kepada Felis. Dia mengikat tangannya, menyumpal mulutnya dengan kain. Memaksa perempuan itu melayaninya" Ernest menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.
Aku tidak tahu berapa kali dia melakukan hal itu. Aku memilih untuk bersembunyi di balik tembok berharap dia tidak akan melukai Felis. Ketika aku tidak mendengar suara Adrian lagi aku memutuskan untuk pergi!!, , aku pikir mungkin karena dia kelelahan jadi mereka sedang tertidur saat itu. Belum sempat aku melangkah, aku mendengar suara pecahan kaca yang seperti sengaja di pukul. Aku memutuskan untuk membuk pintunya yang sedikit trebuka, di sana aku melihat Adrian tengah mencekik Felia dengan salah satu tangannya. Dan satu tangannya lagi membawa pecahan kaca yang dia arahkan ke wajah Felis. Dia sedang menyayat wajahnya dengan sadis, yang aku lihat saat itu bukan lah Adrian, dia benar benar berubah seperti iblis malam itu. Aku tidak sanggup mendekat untuk menyelamatkan Felis, darah berceran di lantai dan ketika dia menyayat leher perempuan itu dengan kaca di tangannya, darah yang mencuat keluar dari leher Felis membuatku ingin muntah. Namun yang aku Lihat Adrian malah seperti menikmatinya, dia tersenyum dengan wajahnya yang merah karena penuh darah Felis di sana. Yang tidak pernah bisa aku lupakan, , , saat dia menyadari keberadaanku dan ketika dia bergantian melihat ke arahku dengan tatapan yang sama dengan tatapan yang dia gunakan untuk menatap tubub Felis. Aku pun memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Berlari sangat jauh hingga aku tak sadar aku berada di mana saat itu"
Barack dan anak buahnya saling melempar pandang dengan tatapan tak percaya, dahinya pun berkerut kasar dan terlihat sangat dalam. Adrian selama ini selalu bersikap manis seolah tak pernah terjadi hal mengerikan dalam hidup sebelumnya. Laki laki itu benar benar pandai dalam menyembunyikan sisi dirinya yang kelam.
"Beberapa hari setelah aku kabur. Aku mendengar beritanya muncul di TV, aku lebih terkejut ketika dia bisa membuat alibi dengan sangat baik. Hingga bisa mengecoh para penyidik, dia melimpahkan semua bukti bukti pembunuhan kepada Alex. Aku tidak tahu bagaimana caranya membuat semua itu menjadi berkebalikan 180 derajat. Aku ingin mengatakan yang sejujurnya kepada pihak polisi setelah hukuman mati jatuh kepada Alex. Aku merasa jahat karena tidak bisa mengungkap kebenarannya. Dan di mana aku mulai berani ingin membuka kedok Adrian, Anak buahnya mulai menemui keluargaku. Dia mengancam akan membunuh mereka jika aku tidak menyerahkan diri kapada Adrian. Akhirnya aku mengirin surat kepada pihak polisi untuk memberi perlindungan kepada keluargaku dan diriku hingga aku berhasil mengungkap semuanya. Namun Istri dan anakku pergi setelah tahu aku menjadi buronan Adrian, aku merasa seolah akulah di sini yang menjdi seorang penjahat. Hingga harus terus berlari darinya"
Pandangan mata Barack mulai terlihat tajam.
"Dia benar benar sudah gila!!"
Barack menghela nafas panjang setelah mendengar cerita dari Ernest, dia juga sempat beberapa kali merinding.
"Ikutlah dengan Anak buahku, dia ada tempat untuk kamu tinggal sementara aku menyiapkan semua berkas untuk di ajukan ke pihak polisi" sejenak Barack berhenti berucap untuk memberi waktu kepada Ernest berfikir.
"Apa kamu sudah siap?, , memberikan keterangan kepada polisi?"
Ernest terdiam sejenak sebelum akhirnya dia menganggukkan kepala ke arah Barack.
__ADS_1
♡♡♡
Barack melangkah masuk dengan wajahnya yang lesu, dia menenteng jaket dengan satu tangannya. Sementara satunya lagi sedang mengusap wajah dan tengkuknya secara bergantian. Laki laki itu terlihat sangat kelelahan seperti sedang memikul beban berat di kedua pundaknya.
"Kamu baru pulang?" Luna yang baru saja keluar dari kamar, berjalan mendekati Barack. Dia meraih jaket dari tangannya dan memeluk lengan laki laki itu. Menuntunnya ke arah sofa kemudian.
Barack memendam tubuhnya dalam dalam di sandaran sofa. Kepalanya mendongak, sembari memejamkan mata.
"Kamu terlihat sangat kelelahan" Luna meraih kening Barack dan merapihkan anak rambutnya.
Barack memalingkan wajahnya ke arah Luna yang duduk di sampingnya. Dia menarik tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di dada perempuan itu. Dia mencoba mencari kenyamanan di sana.
"Pekerjaan apa yang membuatmu sampai kelelahan seperti ini??" luna membelai lembut kepala Barack kemudian mengecup ujung rambutnya.
"Main rahasia rahasiaan nih?"
"Mmm, , " Barack menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya belum bisa memberitahumu, , "
Seketika ruangan itu hening. Luna juga tidak ingin memaksa Barack saat itu.
"Lun??" Barack berucap dengan nada berat.
"Mm??"
__ADS_1
"Jika nanti sesuatu terjadi denganku, apakah kamu akan tetap mencintaku?, , pasalnya waktu kamu melihatku bersama dengan Helena kamu langsung pergi meninggalkanku!" mendengar ucapan Barack Luna hanya diam memaku bibirnya.
"Kamu tidak bisa menjawabku?, , apa kamu ragu?"
"Memangnya apa lagi yang akan kamu lakukan. Hingga membuat aku harus meninggalkanmu?" perempuan itu menghela nafas panjang.
"Kalau membuatku terluka, bagaimana aku bisa bertahan di sisimu!"
"Jadi kamu ingin meninggalkanku??" kedua alis Barack menyatu.
"Kenapa kamu tiba tiba membahas masalah seperti ini??, , kita sudah bersama lagi. Tidak seharusnya kamu berfikir untuk menyakitikukan!!"
"Oke oke, , maaf" Barack mendaratkan sebuah kecupan di dada Luna yang menjadi sandarannya sedari tadi.
"Baiklah kalau begitu aku akan membuatkan minuman hangat untukmu. Agar otakmu bekerja dengan baik"
"Tidak perlu" Barack semakin mengencangkan lengannya yang melingkar di pinggang Luna.
"Aku ingin seperti ini saja, , . Oh ya David sudah tidur?"
"Iya, , dia juga kelelahan karena ada kagiatan tambahan di sekolah"
"Lalu bagaimana denganmu?" Barack mendongak mengarahkan wajahnya ke arah Luna dengan dagu sebagai penyangga di dada Luna.
"Apa yang kamu lakukan hari ini?, , memikirkanku ya??" Barack dan Luna hanya saling melempar senyum.
__ADS_1