
"Aku harus pergi, ada barack yang akan selalu menemanimu" ucap leo dengan nada lembut kepada luna.
Kening luna berkerut, seakan dia tidak ingin kalau teman kecilnya itu meninggalkan dirinya hanya berdua dengan barack.
Tangan luna menahan lengan leo untuk tidak beranjak dari sampingnya.
Sementara leo melihat ke arah barack yang sedang menatap ke arahnya dengan tajam, seolah dia tidak rela melihat tangan istrinya melekat kepada laki laki di depannya itu.
Leo merasa bersalah, senyumnya terlihat canggung ke arah barack sambil melepas pelan tangan luna.
"Aku pergi dulu ya" ucapnya kemudian.
Leo beranjak dari sisi luna dan berjalan ke arah pintu untuk di bukanya dan kemudian keluar meninggalkan mereka berdua.
Keheningan seketika membentang di antara mereka berdua.
Barack masih bertahan duduk di tepian ranjang sambil memandang wajah istrinya.
Namun luna terus menghindar dari pandangan mata barack, dia merasa tidak nyaman berada di satu ruang dengannya.
Luna meringis kesakitan mendesis pelan sambil memegangi perutnya.
Ada rasa perih seperti di sayat sayat yang tiba tiba muncul dari dalam perutnya.
Mata barack mengerucut ke arah luna memindai raut wajahnya yang berubah sedikit memucat.
"Perut kamu sakit?" ucapnya sambil meraih tangan luna.
Luna nampak jengkel ketika barack menyentuh tangannya, namun dia tahu rasa perih di perutnya itu lebih penting ketimbang harus jengkel kepada laki laki yang ada di depannya.
Luna mengangguk pelan sambil memandang ke arah lain.
"Aku akan mengambilkan obat untukmu" ucap barack, dia meraih beberapa obat yang ada di nakas di dekat ranjang.
Barack menyodorkan obat yang ada di telapak tangannya berharap luna akan mengambil sendiri, namun yang ada luna malah merasa canggung saat akan mengambil obatnya karena harus menyentuh tangan barack.
Dengan segera barack meraih tangan luna dan menaruh obat itu ke telapak tangannya.
"Minumlah" ucap barack dengan nada menuntut.
Sementara luna memasukkan obat ke dalam mulutnya barack mangambilkan air putih untuk membantu luna menelan obat.
"Masih sakit?" kening barack berkerut, mengawasi raut wajah luna.
"Ya masih lah, baru juga di minum obatnya! emang ada gitu minum obat langsung sembuh" ucapnya dengan nada jengkel.
Barack merangkup pipi luna dengan ke dua tangannya.
"Kalau begitu kamu istirahat ya, aku akan menjaga dan mengawasimu di sini" ucapnya dengan tenang.
Luna merasa kaget, matanya membulat.
"Memangnya aku anak kecil? pakai di awasi segala" luna menggerutu.
"Terserah apa kata kamu, yang penting sekarang kamu istirahat" barack menarik tangannya kembali, bergerak mendorong tubuhnya sendiri ke arah luna seperti ingin memeluk tubuhmya dari arah depan namun kepalanya bergerak menyamping mengawasi bagian belakang tubuh luna dan ternyata barack sedang membantu luna untuk menata bantal di belakangnya.
Dada luna berdebar ketika dada barack berada di dekatnya, persis di depan matanya hingga menempel di hidung luna.
Mencium aroma tubuh barack membuat darahnya semakin berdesir dan memanas.
__ADS_1
"Mau ngapain kamu!!" tanyanya seketika sambil mendoyongkan tubuhnya ke arah belakang untuk menghindar dari barack.
"Membantumu menyiapkan bantal" barack melihat pipi luna yang memerah, tangannya bergerak menyentuh kening luna untuk memastikan suhu badan istrinya itu.
"Suhu badanmu normal, tapi kenapa pipimu memerah?, , aku pikir karena suhu badanmu yang tinggi" tambahnya.
Dengan cepat luna menyingkirkan tangan barack yang ada di keningnya.
"Aku baik baik saja"
Luna segera berbaring memebelakangi barack, berusaha menyembunyikan wajahnya yang merona karena malu.
Mata luna membulat ketika barack meletakkan salah satu tangannya di depan wajah luna untuk menyangga badannya dan satunya lagi bergerak mengusap membelai rambut luna dengan lembut.
Wajah luna berkerut, berfikir dengan keras karena tidak percaya laki laki di sebelahnya itu kini sudah bersetatus sebagai suaminya.
Luna menyadari saat tubuh barack bergerak mendekati dirinya, karena seperti ada kehangatan yang menyelingkupi tubuhnya saat itu.
Dia tidak tahu apa yang sedang di lakukan oleh barack, namun dengan segera luna membalikkan tubuhnya dan benar saja wajah barack kini tepat persis berada di atasnya. Meringkuk tubuh luna dari atas.
Mata luna kembali membulat.
"Mau ngapain kamu!!" ucapnya dengan galak.
"Munciummu" suara barack terdengar rendah dan menenangkan.
Namun tidak bagi luna yang mendengarnya, dia nampak resah ketika barack semakin mendekatkan bibirnya ke arah bibir luna, dengan sigap luna langsung menutup mulutnya rapat rapat dengan tangannya.
Kening barack berkerut, dia tersenyum tipis saat melihat ekspresi luna yang lucu ketika dirinya hendak mencium bibir luna.
Barack mengurungkan niatnya, dia tidak jadi mencium bibir istrinya itu, kini dia lebih memilih untuk mencium kening luna.
"Kenapa??? aku tidak boleh menciummu?" ucap barack dengan nada menuntut.
Sejenak luna diam, masih sambil menutupi keningnya.
"Aku tidak yakin kalau kita sudah menikah!!" ucapnya seketika.
Barack menghela nafas panjang.
"Nanti kalau kita sudah pulang dari rumah sakit, akan aku kasih lihat. Buktinya" ucapnya pasti dan lembut.
Luna tidak menjawab dia kembali memunggungi barack dengan cepat.
keningnya berkerut halus, matanya mengerucut berfikir dengan keras, bagaimana bisa dia tidak mengingat kalau dirinya terlah menikah.
"Apa aku sedang bermimpi?, , aku memang senang ketika cici bilang aku telah menikah dengannya, tetapi waktu hari pernikahan dia meninggalkannku bukan? hingga membuat rasa cinta dan sayangku terhadapnya menghilang begitu saja, coba tidur saja deh!! siapa tahu setelah bangun aku kembali mendapatkan serpihan ingatanku yang hilang"
Luna telah memejamkan mata ketika barack masih mengawasi dirinya sambil duduk dengan setia di samping luna.
Mengetahui kalau istrinya tengah tertidur, barack beranjak dari ranjang dengan sangat pelan berusaha untuk tak membuat getaran di ranjang hingga mengganggu tidurnya.
Saat kakinya menyentuh lantai tangannya bergerak mengambil kursi dan mengangkat serta meletakkannya dengan sangat pelan agar tak mengeluarkan bunyi.
Untuk kemudian di duduki sambil mengawasi luna yang tengah tertidur.
♡♡♡
Luna terbangun dari tidurnya di tengah malam, matanya membuka dan dia mendapati dirinya kini tengah berubah posisi menghadap ke arah yang berlawanan, sehingga melihat wajah laki laki yang tengah tertidur bertopang pada bibir ranjangnya.
__ADS_1
Luna menyeret kepalanya sendiri mendekati wajah barack untuk melihat wajahnya dari dekat.
Namun pergerakan tubuhnya membuat barack terbangun hingga memaksanya untuk pura pura kembali terpejam.
Barack setengah kaget ketika membuka mata dan melihat wajah istri tercintanya sudah berada di depan mata.
Mengangkat kepalanya menyangga dagu yang bertopang pada ranjang untuk menikmati kecantikan wajah luna.
Senyum tipis menghiasi bibir barack sebelum dirinya kemudian menciun kening luna.
♡♡♡
Barack menekan pelan setiap tombol angka di pintu apartementnya di depan mata luna, berharap luna mengingat sedikit tentang sandi apartement yang dulu pernah sempat menjadi polemik antara dirinya, luna dan klara.
"Kamu memakai tanggal lahirku untuk sandi apartementmu?" ucapnya penasaran.
"Mm, ,apa kamu mengingat sesuatu?" barack mengangguk pelan.
Luna menggelang cepat, untuk memastikan ke pada barack kalau dia memang tidak mengingat apapun.
"Tidak apa apa, pelan pelan aku akan membantumu, masuklah aku akan membawa barang barangmu"
Luna masih merasa canggung ketika harus masuk ke dalam apartement barack, ada beberapa sekelibatan di otaknya tentang ingatan dirinya saat berada di dalam apartement itu hingga memaksa kedua kakinya memaku di dtempat.
"Kamu tidak apa apa?" ucap barack ketika melihat luna tengah berdiri mematung.
Luna menggeleng pelan.
"Aku baik baik saja"
Barack menggenggam tangan istrinya, mengangguk pelan seolah menenangkannya ketika luna terdiam dan tak yakin saat akan melangkah masuk lebih ke arah dalam apartement.
Langkah luna terasa berat, matanya mengawasi setiap bagian ruangan. Dia memang ingat karena beberapa kali bayangan akan dirinya di ruang itu melintas di benaknya.
Dia juga ingat, ketika datang dengan membawa sebuah kue dan meletakkannya di atas meja dapur, di hari ulang tahun barack.
Namun ingatan akan saat dirinya melihat ke arah sofa di ruang tv membuatnya merasa sakit hati ketika barack menghubunginya dan saat di angkat yang di dengar ternyata adalah suara perempuan dan laki laki yang sedang menggandeng tangannya saat ini dan mereka ternyata sedang berbincang menghabiskan waktu bersama.
"Kenapa?" ucap barack seketika.
Luna menghempaskan pelan genggaman tangan barack.
"Lepas!" ucapnya dengan ketus.
Barack menghela nafas panjang.
"Duduklah, aku akan mengambilkan minum untukmu"
"Tidak perlu, aku bisa mengambilnya sendiri" sahutnya.
Luna berjalan ke arah dapur membuka kulkas dan mengeluarkan sebotol air mineral, membuka tutupnya dan menegug pelan air dalam kemasan itu, seketika bola matanya melihat ke arah meja mini bar di depannya.
Luna menutup botol air mineral, meletakkan kembali ke dalam kulkas dan berjalan mendekat ke arah meja itu.
Seperti ada bayangan samar samar tentang dirinya sedang duduk di atas meja saat sedang bercumbu dengan barack.
Luna bergidik seolah tak ingin memepercayai ingatannya itu.
Namun dia tak bisa mengelak ketika bayangan itu tiba tiba muncul dengan sendirinya.
__ADS_1