
"Apa aku mengijinkanmu keluar?"
David kini menggunakan salah satu tangannya untuk menyangga dagu yang bertumpu di sandaran samping sofa. Dia bersikap dengan sangat elegan untuk memperlihatkan betapa dirinya sangat berkharisma di depan perempuan itu.
Namun yang ada semua itu malah membuat Aileen jenuh.
"Apa ada hal lain yang Anda butuhkan??, , kalau ada, saya akan membawakannya kemari untuk Anda!" Aileen berucap dengan cepat, dia ingin sekali segera pergi dari ruangan itu.
Raut wajah David terlihat jengkel yang tertahan, sepertinya menggunakan cara dingin tidak akan bisa menarik perhatian perempuan itu.
"Pasti ada cara lain!!"
"Aku tidak membutuhkan apa pun!, , aku hanya ingin dua hal darimu"
Tubuh Aileen terkesiap mendengar ucapan David.
"Apa Tuan?" Dia menghela nafas dengan kasar, seperti sengaja agar David mendengarnya.
"Apa kamu jengkel karen aku menhanmu disini??, , kenapa kamu melakukan itu? bahkan aku bisa mendengarnya ketika kamu menghela nafas!"
"Maaf Tuan, aku tidak bermaksud untuk melakukan itu. Ini sudah terlalu malam aku ingin segera menyelesaikan pekerjaanku. Dan ingin segera pulang karena besok aku ada jam kuliah pagi"
Seketika Aileen memaku bibirnya.
"Kenapa aku menceritakan semua ini padanya!!, , haah otakku sudah tidak waras"
"Duduklah, urusan kita belum selesai" David menatap perempuan itu.
"Urusan??" Aileen mengulangi ucapan David untuk memastikan.
Laki laki itu menunjuk kearah keningnya yang memerah akibat perlakuan Aileen.
"Ooooooh, , itu??, , karena Anda memaksaku harus melakukan hal itu. Jadi itu salah Anda sendiri bukan salah saya" Aileen berusaha mencari pembelaan.
David yang sudah mulai tak sabar pun beranjak dari sofa, dia mendekat kearah Perempuan itu.
Sementara Aileen mulai terlihat menggerakkan tubuhnya mundur kebelakang.
"Maaf Tuan, tapi sepertinya aku harus segera pergi!" Aileen mencoba untuk meraih gagang pintu dan membukanya. Namun tangan David terlanjur menahan pintu itu dari arah belakang tubuh Aileen.
Perempuan itu mengangkat kepalanya menatap tangan David yang jaih lebih tinggi darinya. Aileen merasakan kehangatan di bagian tubuh belakang ketika laki laki itu semakin mendektinya.
Nafas Aileen memburu, dia sempat memejamkan mata dengan erat sebelum akhirnya membalikkan tubuh menghadap kearah David.
"Tunggu!!" Aileen menggunakan kedua tangannya untuk menahan dada David agar tak semakin mendekat.
"Oke Saya minta maaf atas kejadian tadi dan, , " Aileen menghentikan ucapannya ketika David semakin mendekat memaksa tangan Aileen yang tadinya lurus kedepan kini mulai tertekuk di bagian sikunya karena dorongan tubuh David yang sangat kuat.
Laki laki itu tersenyum, menikmati ekspresi wajah Aileen yang ketakutan.
__ADS_1
"Dan apa!!" ucapnya seketika.
"Dan mohon jangan mengadu kepada Ibu kepala tentang kejadian tadi. Aku akan bertanggung jawab dengan lukamu!" Aileen sudah tidak bisa berbesar hati, untuk menggunakan bahasa halus dengan laki laki yang berdiri di depannya.
David mengerutkan dahinya dia malah tidak berfikir sampai kearah sana. Senyum manis mewarnai bibirnya.
"Aku tidak akan mengadu kepada Ibu kepala, asalkan, , " David mendekatkan bibirnya kearah telinga Aileen.
"Asalkan kamu mau berkencan denganku!" bisiknya. Hingga membuat bulu kuduk Aileen merinding.
Dada Ailen berdetak dengan sangat cepat, nafasnya pun ikut memburu.
"Kencan??, , " Aileen tak percaya setelah mendengar ucapan David.
"Maaf, tapi aku tidak tertarik berkencan denganmu!!"
Laki laki itu terkekeh kemudian, sambil menarik tangannya kembali dia mundur satu langkah menjauh dari Aileen.
"Apa kamu sedang menolakku!!" David menatap mata Aileen dalam dalam, dia tak percaya ada seorang perempuan yang berani menolak ajakannya untuk berkencan.
"Apa ucapanku kurang jelas?, , iya aku menolak untuk berkencan denganmu!!" Aileen berucap dengan perlahan agar David bisa mendengarnya dengan jelas.
"Apa kamu tidak mendengar ucapanku dengan baik??, , aku tidak akan mengadu kepada Ibu kepala jika kamu mau berkencan denganku. Jadi itu artinya jika kamu menolak, maka aku akan mengadu kepadanya. Kalau kamu sempat memperlakukanku dengan sangat tidak baik!!!" David berucap dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya.
"Kalau saja aku yang bekerja di sini, maka hari ini juga aku akan langsung resain!!, , tapi masalahnya pekerjaan ini milik Koyoko!!, , apa yang harus aku lakukan!!"
Semntara David menyimpan kedua tangannya di saku celana, pandangannya terlihat mengawasi wajah Aileen yang masih kebingungan. Laki laki itu kembali tersenyum dan menggerakkan salah satu tangannya untuk meraih ujung rambut Aileen hingga membuat tubuh perempuan itu tekesiap.
"Tenang saja, kamu akan mendapatkan semuanya dariku. Apa pun yang kamu minta aku akan mengabulkannya. Uang, tas, berlian, atm unlimited. Apa pun" ujung jarinya bergerak memutar mutar rambut Aileen.
"Aku tidak membutuhkan semua itu" Aileen berucap dengan penuh keyakinan. Entah kenapa mata Aileen dengan sendirinya menyelidik kearah dada David yang bidang itu. Laki laki itu memang tampan, tapi tidak tahu kenapa Aileen sama sekali tidak tertarik dengannya.
"Munafik!! lalu apa yang kamu inginkan dariku" ujung mata David mengerucut kearah mata Aileen yang sedang memperhatikan dadanya.
Laki laki itu menunduk, memastikan bahwa Aileen memang melihat kearah sana.
Kini David menggerakkan matanya keatas untuk melihat wajah Aileen yang masih terus menatap dadanya.
"Kamu menginginkan tubuhku??" David tertawa geli setelah memergoki Aileen yang terus mengamati tubuhnya.
Aileen terkejut, dia langsung mengubah arah pandangan matanya.
"Apa kamu sudah gila!! aku tidak mungkin menginginkan tubuhmu!!" Aileen langsung memutar tubuhnya dan membuka pintu, dia melangkah keluar menjauh dari ruangan.
Sementara David hanya tersenyum geli karena telah menangkap basah mata Aileen tadi. Namun seketika senyum di wajah David menghilang tak berbekas ketika menyadari bahwa dia sedang tersenyum untuk seorang perempuan, senyum yang berbeda dari biasanya.
David bergidik untuk mengembalikan pikiran warasnya.
"Apa yang kamu lakukan David!!, , jangan bodoh!!"
__ADS_1
♡♡♡
"Makanlah, , aku membelikan ayam goreng untukmu!" Aileen menyiapkan nasi dan juga ayam goreng yang sengaja dia beli setelah pulang kerja.
Koyoko menyelidik kearah daging ayam yang ada didepannya.
"Mmmmm, , kamu dapat tips besar ya malam ini"
"Boro boro!!, , yang ada" Bibir Aileen terpaku, tidak mungkin dia menceritakan kejadian hari ini kepada Koyoko.
"Lupakan!, , anggab saja aku memang mendapatkan tips besar. Ayo habiskan makananmu!!"
♡♡♡
Semalam Aileen pulang dari tempat karaoke pukul 1 malam, dan dia hanya punya waktu untuk istirahat tidur selama 2jam. Maka dari itu hari ini Aileen terlihat masih sangat mengantuk.
Dia berjalan sambil membawa beberapa buku di tangannya.
Matanya terasa masih berat hingga dia pun menabrak Iris ketika melewati sebuah tikungan di salah satu lorong kelas.
Bruk!!
"Kamu lagi??" Iris berucap sambil membuang senyumnya.
Aileen yang sedang tertunduk memunguti bukunya pun kini dia mengangkat kepalanya.
"Iris??, , maaf aku benar benar tidak sengaja" Aileen membantu mengambil kaset milik Iris yang terjatuh.
"Maafkan aku" dia mennyodorkan kaset itu kearah Iris.
"Tidak apa apa" Iris nampak sedang memasukkan kaset kedalam tasnya.
"Army???" Ucap Aileen yang baru saja tersadar, setelah melihat cover kaset milik Iris.
"Ya!!, , kamu juga?" Iris menunjuk kearah Aileen.
"Tidak juga, aku hanya senang mendengar lagu lagu mereka. Karena seperti memberi samangat tersendiri untuk menjalani hari hariku ketika mendengarkannya"
"Ooohh, ,kereenn!! aku mengerti, karena aku juga merasakannya. Oh ya nanti siang setelah selesai kelas mau ikut denganku?" Iris merasa memiliki teman seperjuangan dengannya. Karena dia dan Aileen memiliki ke saaman yang sama. Senang mendengar lagu lagu BTS.
"Ke mana?" ucap Aileen kemudian.
"Ke kantor Kakakku!!, aku ingin mengambil hadiah ulang tahunku!. Aku yakin dia akan memberiku kado merchandise tentang BtS. Karena sebelumnya aku telah meminta Kakakku untuk membelikannya" Iris berucap penuh kegembiraan, dia terlihat sangat imut ketika membicarakan tentang idolanya.
"Ulang tahun?, , kapan??"
"Sudah kemarin sih. Gimana nanti ikut denganku ya. Temani aku plisss!!" ucap Iris dengan nada memohon.
"Oke oke, aku akan menemanimu" mereka berdua pun terlihat berjalan kearah perpustakaan untuk menghabiskan waktu sambil menunggu kelas dimulai.
__ADS_1