
Waktu menunjukkan pukul 5 sore, semua staf satu persatu mulai meninggalkan meja kerjanya.
Terlihat James berjalan menuju ruang kerja milik Davien, meraih gagang pintu kemudian membukanya.
Setelah berhasil masuk, ujung matanya langsung tertuju ke arah Davien yang tengah sibuk dengan beberapa berkas di atas mejanya.
"Pres Dir" James menundukkan kepalanya.
"Pulanglah terlebih dulu, aku akan menyelesaikan ini" ucap Davien sembari menurup map kemudian meletakkannya di atas tumpukan map lain dan mengganti dengan map yang baru.
"Apa Pres Dir berniat lembur hari ini?"
Davien menghela nafas panjang sembari mendorong tubuhnya kebelakang, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Tatapannya terlihat jengkel ketika menatap James.
"Kamu seperti baru kenal aku kemarin sore!" ucapnya dengan tenang, namun terdengar sangat menjengkelkan.
"Aku sudah terbiasa menghabiskan waktuku di tempat ini, , dan itu bukan hal baru!" tambahnya.
"Baiklah Pres Dir kalau begitu Saya pamit undur diri" James memberi hormat menundukkan kepalanya sebelum dia melangkah keluar dari ruangan.
Davien menggelengkan kepala, setelahnya tak lama terlihat senyuman tipis menghiasi wajahnya ketika mengingat bahwa mulai hari itu Bunga akan ikut pulang bersama dengannya.
Tak menunggu lama Davien langsung kembali menutup berkas yang belum sempat dia baca, dia bergegas beranjak dari kursi untuk segera menemui Bunga di pantry.
Dreet dreettt
Davien meraih ponsel dari dalam saku jas. Matanya tertuju ke arah layar ponselnya yang tengah menyala.
"Halo?" ucapnya menjawab panggilan dari Keiko.
Tak lama seketika langkahnya terhenti ketika dia berhasil meraih gagang pintu dan membukannya. Ekspresi wajahnyapun seketika berubah saat mendengar rintihan suara Keiko dari ujung ponselnya.
"Kamu dimnaa?"
♡♡♡
Bunga telah menyelesaikan pekerjannya, setelah melihat pantry bersih dan bersinar perempuan itu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang terdapat di sana. Dadanya terlihat naik turun dengan perlahan ketika dia menghela nafas panjang.
Bunga meraih tengkuk dengan salah satu tangannya untuk kemudian memijat kecil di bagian sana sengaja agar memberi sedikit kenyamanan.
"Kenapa kamu belum pulang?" ucap Loria setelah selesai mengganti bajunya.
"Mm,, aku, itu sebenarnya" pipinya bersemu merah saat berusaha menjawab pertanyaan dari liora.
__ADS_1
"Kamu sudah ada janji pulang bersama dengan Pres Dir??" ucapnya dengan nada dan tatapan menggoda kepada Bunga, membuat perempuan itu semakin tersipu malu.
Bunga ternganga karena terkejut.
"Dari mana Kak Loria tahu?" ucapnya lirih, Bunga merasa takut bahwa akan ada yang mendengar ucapan mereka.
Loria berdecak sombong.
"Tau lah, , bukan kah memang itu yang biasa di lakukan oleh sepasang kekasih?" ucapnya sembari memamerkan senyum tipis dan menaikkan kedua lisnya secara bersamaan dan cepat.
Bunga tak menjawab dia hanya menundukkan kepala menggigit bibir bawahnya karena malu.
"Baiklah, aku harus segera pulang! anak anakku sudah menungguku" Loria meraih tas kemudian meninggalkan Bunga sendiri di sana.
"Hati hati kak"
"ya"
"Tunggu!! sepasang kekasih katanya?? aku dan Davien???"
"Tidak!! bukan seperti itu, , aku hanya bekerja sebagai asisten pribadi di rumahnya!" Bunga berucap meyakinkan diri sendiri sambil melangkah mendekati sofa dan duduk di sana.
♡♡♡
Ketika pintu lift terbuka lebar, Davien melangkahkan kakinya keluar dan berlari secepat mungkin menuju pintu keluar. Raut wajahnya terlihat cemas semenjak menerima panggilan dari Keiko.
Di sisi lain Bunga nampak melamun sambil sesekali melirik ke arah jam tangan dan pintu secara begantian, merasa bahwa tampat dimana dia bekerja sudah mulai terasa sepi oleh pegawai, Bunga hanya berfikir kalau Davien pasti masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Lagi pula ini juga bukan pertama kalinya aku menunggu dia lembur bekerja" Bunga menghela nafas panjang.
Tangannya bergerak meraih ponsel lalu kemudian menyandarkan punggungnya dan memilih untuk tiduran di sofa. Memakai waktunya untuk bermain game sambil menunggu Davien menghampirinya.
♡♡♡
Mobil Davien melaju dengan sangat cepat, dia membuang pandangannya jauh kedepan melihat beberapa orang nampak mondar mandir di depan sana.
Pandangannya tertuju pada sebuah mobil yang tak asing baginya. Laki laki itu segera menghentikan laju kendaraannya dan membuka pintu kemudian berlari sekencang mungkin menghampiri Keiko.
Dok dok dok!!
Davien memukuli kaca pintu mobilnya sementara tangannya berusaha membuka pintu yang ternyata masih terkunci dari dalam
Dok dok dok!!
__ADS_1
"Keiko!!, , buka pintunya!!" teriak Davien.
Perempuan itu terlihat menyandarkan kepalanya di setir mobil. Setelah mendengar suara Davien, Keiko dengan perlahan mencoba menyadarkan diri, dia mengangkat kepalanya menoleh ke arah pintu perlahan.
"Davien?"
Tangannya bergerak menekan tombol agar pintu bisa terbuka dari luar.
Dengan segera Davien membuka pintu, memasukkan setengah badannya ke dalam mobil untuk mempermudahkan diri ketika ingin menggendong Keiko kemudian membawanya keluar dari mobil memindahkan perempuan itu ke mobilnya.
Davien melakukannya dengan sangat perlahan dan hati hati ketika meletakkan tubuh Keiko, terlebih lagi ketika melihat keningnya yang sedikit lebam dan mengeluarkan bercak darah, Davien semakin merasa panik.
Setelah selesai memasangkan sabuk pengaman Davien berjalan ke sisi lain untuk masuk ke dalam mobil dan segera pergi meninggalkan lokasi.
waktu menunjukkan pukul 8.30 malam D Entertainment semakin terlihat sepi hanya ada beberapa penjaga yang sedang berpatroli.
Perempuan itu bahkan sampai tertidur di atas sofa, karena sangking lelapnya bunga tak sadar bahwa ponsel yang digenggamnya selama dia tertidur bergetar menyala beberapa kali.
Terlihat beberapa kali bahwa Marvel telah menghubunginya. Untuk yang kesekian kalinya akhirnya bunga terbangun dari tidurnya karena panggilan itu.
"Ya Tuhan jam berapa ini!" gumamnya sembari mengubah posisi menjadi duduk diatas sofa. sementara tangannya menatap layar ponsel yang ada di tangan.
"Kak Marvel? " bola matanya bergeser ke arah pojok kiri ponsel untuk memastikan berapa lama dia tertidur.
"Jam 9 kurang?... aku tidur selama itu?" Bunga membuang pandangannya, setelahnya beranjak dari sofa untuk memastikan keadaan sekeliling. Sambil melangkah menuju pintu bunga mencoba menghubungi Marvel.
"Halo Kak?" ucapnya setelah mendapatkan sahutan dari
"Bunga aku mampir ke apartemenmu sebentar tapi sepertinya kamu belum pulang" ucap Marvel dari ujung ponsel.
"Aku beberapa minggu ini aku akan sangat Sibuk dengan pekerjaanku" ucap Bunga sambil menekan tombol pintu lift terbuka dengan melangkah masuk kedalam.
"Sibuk dengan pekerjaanmu?.." tanya Marvel penuh dengan tanda tanya, keningnya pun sedikit terlihat kerutan tipis.
"Sebagai seorang OB apa yang kamu sibukkan di perusahaan Davien?"
". . ." bunga terdiam tak mungkin baginya untuk menjawab, jika dia juga akan menjadi asisten pribadi Davin di rumahnya.
Ting!!! pintu lift pun terbuka.
"Mmm, ,Kak Marvel maaf aku harus matiin panggilannya" Bunga seketika memutuskan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Marvel.
Bunga segera melangkahkan kakinya keluar dari lift dan bergerak cepat menuju ke ruang kerja davian karena bunga masih sangat penasaran kalau laki-laki itu lembur menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
tok tok tok!
Bunga meraih gagang pintu dan membukanya perlahan kemudian. Wajah serta padangannya terpaku ketika tak melihat Davien berada di dalam ruangan kerjanya.