Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#116 Kontrak


__ADS_3

Cici masih melamun sambil menatap layar digitalnya di atas meja. Bukan karena sedang membuat laporan namun dia sedang melamun.


Entah apa yang sedang dia pikirkan saat itu, aroma kopi yang mencuat dari cangkir di sebelah laptopnya seketika menarik perhatiannya hingga dia mengalihkan pandangannya ke arah cangkir berwarna putih di sebelah laptopnya.


"Kamu baik baik saja?" salah satu sekretaris yang bekerja di dalam satu ruangan dengan Cici memulai pembicaraan. Tangannya menepuk kecil pundak Cici.


Senyum manis mewarnai bibir perempuan yang sedang murung itu.


"Aku baik baik saja" dia mendongak untuk melihat ke arah teman kerjanya dan kembali mengulas senyum lagi.


"Kamu tidak ikut meeting?"


"Aku baru mau ke sana. Kamu yakin tidak apa apa?" Sekretaris itu nampak sedikit khawatir saat melihat raut wajah Cici memerah.


"Badanmu panas" ujarnya setelah menyentuh dahi Cici dengan tengannya.


Dahi Cici nampak berkerut seolah dia sedang manahan sakit kepala yang teramat.


"Nanti aku akan minum obat, cepatlah pergi nanti telat loh"


Ada keraguan di raut wajah teman kerjanya saat akan meninggalkan Cici sendirian di ruang itu.


"Ok, aku tinggal ya" ucapnya sembari melangkah keluar.


Cici hanya mengangguk pelan, sambil menyeruput kopinya dia kembali melihat ke layar digital di atas mejanya.


Nyeri di kepalanya malah semakin terasa, wajahnya juga nampak pucat, mungkin karena efek kemarin karena dia sempat kehujanan.


Dia beranjak dari kursi dan melangkah keluar dari ruang kerjanya, kemudian pergi ke menuju ruang OB untuk sekedar meminta obat dan mengambil air putih.


Sesekali Cici menunduk untuk memijat pelan keningnya berharap sedikit membantu menghilangkan rasa nyeri.


Brrruuugghh!!


Yang ada Cici malah menabrak Aryo hingga tubuhnya terpental, namun belum sempat terjatuh ke lantai laki laki itu menarik tangannya mendekap tubuh perempuan itu dengan erat.


Cici nampak terkejut ketika melihat Aryo sedang memeluk tubuhnya, tangannya bergerak meraih dada Aryo untuk menjauhkan dirinya dari tubuh laki laki itu. Namun kekuatan tangannya seakan tiba tiba menghilang seiring dengan rasa nyeri yang semakin hebat di kepalanya.


Aryo mengawasi raut wajah Cici, tatapan matanya menyapu di setiap sudut mata hidung dan mulut perempuan yang sedang di peluknya.


"Kamu baik baik saja?" ada rasa kehawatiran di wajah Aryo ketika melihat ke dua pipi Cici memerah, bahkan terpancar hawa panas dari tubuh Cici yang sedang di dekapnya itu menjalar ke tubuh Aryo.


"Lepas" suara Cici terdengar tak berdaya, kelopak matanya terlihat sangat berat saat harus menatap Aryo yang jauh lebih tinggi darinya.


Cici nampak pasrah, tubuhnya melemas dan menyandarkan kepalanya di dada Aryo.


Sementara Aryo mendaratkan bibirnya di kening Cici untuk memastikan suhu badan perempuan itu karena ke dua tangannya tengah memeluk dan tak bisa bergerak saat menahan tubuh Cici yang berat.


"Kamu demam?" ucapnya kemudian.


"Aku baik, , baik, , saja" Cici mulai tak bisa menahan tubuhnya hingga akhirnya dia memasrahkan tubuhnya ke dalam dekapan Aryo.


Seketika Aryo langsung membungkuk meraih kaki Cici dan menggendong mendekap tubuh perempuan itu.


♡♡♡


Sebelum berangkat kerja tadi pagi Cici sempat mengirim pesan singkat kepada sahabatnya, Luna untuk memberi tahu di mana Adrian akan mengajaknya bertemu membahas kontrak kerja.


Saat itu Luna duduk di bangku sebuah caffe yang tak begitu teelihat ramai. Hanya ada beberapa pengunjung yang datang di jam jam sibuk kerja.


Lumayan lama dia menunggu Adrian hingga sudah menghabiskan setengah gelas coffe milknya.


Sesekali dia membolak balikkan gambar desain yang sudah dipersiapkan sejak beberapa hari kemarin.


"Maaf membuatmu menunggu lama" suara rendah dan berat seorang laki laki memecah pikiran Luna seketika.


"Oh, tidak masalah" Luna kembali duduk setelah sejenak berdiri menyambut Adrian


Suasana terasa sadikit canggung saat laki laki di depan Luna hanya diam mengawasi wajahnya tanpa berbicara membahas masalah kontrak atau pun menanyakan desain miliknya.


"Gmmm!!" Luna berdehem untuk mencairkan suasana.

__ADS_1


Hingga berhasil memecah lamunan Adrian.


"Maafn,oh iya aku lupa" laki laki itu meminta sebuah map kepada sekretaris yang senantiasa berdiri di belakangnya.


Kemudian dia menyodorkan map itu ke arah Luna.


"Kamu bisa membacanya terlebih dulu, kamu akan menandatanganinya atau tidak setelahnya keputusan ada di tanganmu" Adrian menatap mata Luna dengan lekat. Senyumnya terlihat sangat tipis seakan dia memang sedang menahannya agar rasa ketertarikannya kepada Luna tidak terlihat oleh perempuan yang kini sedang membaca isi kontrak itu.


Sesekali senyum Adrian melebar ketika Luna melihat ke arahnya di sela sela membaca isi lembaran kertas itu, sebelum kembali memahami isi kontrak kerjanya lagi.


"Oke tidak ada masalah" ucap Luna kemudian, seakan tidak ada masalah sedikit pun dengan lembaran yang berisi perjanjian kontrak kerjanya.


"Kamu setuju dengan semua persyaratannya?" Adrian memastikan.


Luna hanya mengangguk pelan saat itu.


"Kamu belum membaca di halaman terakhir" Adrian mengulurkan tangannya untuk membantu Luna membalikkan lembar kertas paling akhir.


Luna sepertinya tidak sengaja melupakan bagian terakhir, dipikirnya semua persyaratan sudah dengan baik di bacanya.


"Ketika kamu menandatanganinya, itu berarti kamu sudah siap bekerja denganku. Dan kamu tahu perusahaanku ada di paris" laki laki itu menghentikan ucapannya untuk mengawasi ekspresi wajah Luna.


"Itu artinya kamu harus ikut denganku pergi ke paris" terusnya.


Ke dua alis Luna terangkat, dia merasa terkejut saat mendengarnya. Untung kontrak itu belum sempat di tandatangani.


Dia lupa kalau Cici sempat bilang kepadanya bahwa rekan kerja Aryo itu memang perusahaannya berada di paris.


"Kenapa aku bisa melupakan hal itu??, , Barack pasti tidak akan setuju kalau aku bekerja di sana"


"Mm, , bisakah aku meminta waktu untuk memikirkannya?" Luna merasa sedikit canggung ketika harus mengatakan hal itu.


"Maaf, tentu saja kalau itu di perbolehkan" tambahnya.


"Suamimu?, , maksudku kamu mau minta ijin dengan suamimu?" Adrian seakan mengerti maksud hati Luna setelah melihat cincin yang melingkar di jari manis perempuan itu.


"Mm" Luna mengangguk tanpa keraguan sesikit pun.


"Oke, kamu bisa membawa map ini pulang bersamamu kalau kamu mau. Kamu bisa membahasnya dengan suamimu dan mempelajarinya lebih dalam lagi"


Senyum di bibir Luna mengembang saat mendengar ucapan dari Adrian.


Begitu juga sebaliknya, tatapan mata Adrian terlihat sangat menikmati senyum manis yang menghiasai bibir Luna.


♡♡♡


"Apa aku harus menolaknya?" Luna sedang mendiskusikan masalah kontrak kerjanya dengan Barack malam itu di ruang TV


Ujung bibir Barack mengembang saat mendengar Istrinya mengatakan hal itu.


Sementara matanya fokus menatap layar digital yang bertumpu di pahanya. Dia sedang sibuk dengan laporan laporan yang harus di periksa satu persatu.


"Kamu ingin menolaknya?" entah kenapa Barack merasa senang ketika Luna merasa ragu ragu saat mengambil keputusan, yang pasti dia tidak ingin Istrinya itu bekerja. Tapi kembali lagi dia tidak ingin membatasi Luna dalam mengembangkan bakatnya.


Luna merasa jengkel saat Barack masih melihat layar laptop.


Dia langsung mengambil alih laptop itu kemudian menutup dan meletakkannya di atas meja.


Barack nampak sangat terkejut. Matanya membulat dan menahan senyum saat Luna sudah berhasil duduk di pangkuannya.


"Apa yang sedang kamu lakukan? aku sedang memeriksa laporanku"


"Aku sedang berbicara denganmu tapi matamu menatap ke arah lain!, , kalau begini kan kami bisa fokus denganku!" ke dua tangan Luna meraih pundak Suaminya yang terlihat malu saat itu.


Barack terkekeh sambil memalingkan wajah karena Luna telah berhasil menggodanya hingga pipinya bersemu.


Luna merangkup ke dua pipi Barack dengan tangannya.


"Lihat aku!! jangan melihat ke arah lain"


"Iya iya, terus sekarang kamu mau gimana?" Barack membelai lembut rambut Istrinya.

__ADS_1


"Masak iya aku harus bekerja di luar negeri?" ucap Luna, sementara tatapam matanya terus tertuju ke arah bibir Barack.


"Karena memang perusahaan Adrian ada di sana. Mau nggak mau kamu harus ikut dia ke Paris dong" Ucap Barack dengan santai.


"Sebenarnya ini kesempatan besar buatku, tapi aku tidak mungkin kan kerja di luar negeri"


Melihat wajah Luna yang mulai terlihat murung, Barack hanya bisa memberikan alternatif lainnya.


"Kenapa kamu tidak mendesain untuk perusahaannku saja. Kita bisa bekerja sama"


"Sama saja kan! artinya aku cuma numpang nama. Aku maunya membangun bianisku sendiri merintis usahaku dari kecil"


"Tidak apa apa dong. Kan kamu Istriku jadi perusahaanku yang di Paris juga milikmu. Lalu kenapa kamu harus bingung bingung bekerja dengan orang lain"


Luna berdercak jengkel, dia turun dari pangkuan Suaminya dan berpindah duduk di sofa. Lalu bersedekap sambil menatap jengkel ke arah Tv.


"Percuma membahas masalah ini denganmu. Kamu tidak akan mengerti"


Barack merangkul pudak Luna dan meraih dagunya memaksa wajah perempuan itu menghadap ke arah wajah Barack.


"Aku mengerti keinginanmu, tapi kalau harus ke luar negeri, , itu tidak mungkin Luna"


Luna memalingkan wajahnya.


"Aku tahu, kalau begitu aku akan menolaknya! semoga saja ada kesempatan lain suatu saat" ucapnya sambil menutup map yang berisi kontrak kerjanya. Dia beranjak dari sofa untuk pergi ke kamarnya.


Namun Barack meraih tangan Luna dan menariknya agar kembali duduk di atas sofa.


"Kenapa kamu tidak bernegosiasi dengannya?" Barack mendekap tubuh Luna dari arah samping.


"Maksudmu?" wajah Luna terlihat sangat antusias mendengar ucapan Barack, tersirat dari wajahnya bahwa dia sangat berharap akan ada alternatif lain yang di ucapkan oleh Suaminya.


"Kamu harus bernegosiasi dengannya, kamu kan bisa menggambar semua desainmu di sini, dan hasilnya bisa kami kirim. Tanpa harus ikut dia kerja di Paris kan?"


"Kalau dia menolak?" kening Luna mulai berkerut, karena dia tidak yakin dengan ucapan Barack.


Tangan Barack bergerak meraih kepala Luna, lalu membelai lembut rambutnya.


"Dia pasti akan setuju, , . Karena kamu adalah Luna"


Seketika Luna langsung memejamkan matanya. Kerutan halus di keningnya kini nampak terlihat kasar hingga terlihat lebih dalam.


"Karena kamu adalah Luna"


Suara Barack terus menggema di rongga telinganya. Ada serpihan ingatan akan dirinya dengan Barack di sana. Dimana dirinya tengah berdiri di samping Barack yang terlihat sangat tampan saat memakai setelan jas yang melekat di tubuhnya.


"Kamu baik baik saja?" suara Barack meracau pikiran Luna hingga membuat dirinya membuka kembali ke dua matanya.


"Apa sebelumnya kamu pernah mengatakan hal itu?" ke dua mata Luna menyapu wajah Suaminya.


Barack hanya diam sambil berfikir keras, dimana dia pernah mangatakan hal itu sebelumnya.


"Kamu mengingat sesuatu?"


Luna hanya diam, dia sendiri tidak yakin dengan ingatannya itu.


"Aku hanya melihat, kamu dan aku ada di halaman rumah, di sana ada keramaian dan" kembali Luna berusaha keras mengumpulkan serpihan ingatannya yang baru saja terlintas di pikirannya.


"Kamu memakai jas, , dan"


Barack mengerutkan keningnya seakan dia tahu ingatan Luna itu mengarah kemana.


"Dan?" ucapnya seolah menunggu kalimat terusan dari mulut Istrinya.


Dia sedikit menunduk untuk memudahkan dirinya melihat wajah Luna.


"Dan??" ucap Luna, bola matanya mulai melihat ke bibir Barack saat Suaminya itu semakin mendekati wajahnya.


"Dan apa?" suara Barack mulai terdengar lirih dan parau.


"Da, dan, , " Luna sudah tidak bisa berfikir ketika Barack sudah melumat bibirnya dengan lembut, setelahnya berubah menjadi ciuman penuh hasrat, memaksa bibir Luna agar membuka mulutnya hingga indra perasanya masuk dan dengan leluasa menari nari di sana, menikmati kemanisan bibir Luna, hingga menyesapnya lembut. nafas mereka pun memburu ketika Barack melepas ciumannya.

__ADS_1


__ADS_2