Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#4 PERTEMUAN 1


__ADS_3

Menjelang sore hari, sekitar pukul tiga lewat, Luna dan Cici masuk ke dalam sebuah restoran.


Selang beberapa menit kemudian sebuah mobil hitam milik Barack berhenti di parkiran tepat di sampung motor antik yang menyita perhatiannya. "Masih ada juga yang memakai motor butut seperti ini?" gumamnya setelah melihat motor antik milik Luna. Dia pun bergegas masuk ke dalam retoran menemui rekan kerjanya.


Berhubung restoran di situ sistemnya bayar dulu baru makan, maka Luna mengantri tepat di depan kasir. Sementara Cici menunggu di tempat duduk sambil sibuk dengan ponselnya.


Dari arah pintu masuk Barack yang baru datang langsung mengantri tepat di belakang Luna.


"Seperti biasa, tapi ingat kaaaan?" Luna sedang memesan makanan kesukaannya, semua pelayan di sana bahkan sampai hapal dengan makanan yang biasa Luna makan.


"Tidak pakai paprika, 'kan?" sambung pelayan kasir di penuhi tawa pada wajahnya.


Mau bagaimana lagi Luna dan Cici sering menghabiskan waktu di tempat itu, sehingga secara tidak langsung pekerja di sana sampai hapal dengan mereka berdua.


"Wah... aku malu karena kalian sampai hapal kebiasaanku! Oke kalau begitu aku tunggu pesananku di sana!" Luna menunjuk ke arah bangku di mana Cici berada. Luna kemudian membuka dompet membayar tagihan makanan yang di pesan.


Saat akan kembali ke meja, Luna memutar badannya dan langsung berpapasan dengan Barack yang berdiri tepat di belakangnya.


BRUG !!!


Wajahnya tenggelam di dada Barack yang begitu kekar.


"Aauuu!!!" rintihnya, memegangi kening yang sempat terbentur tulang dada Barack yang keras. Dia mendongak memastikan siapa orang yang ditabrak. Wajahnya langsung berpapasan dengan wajah Barack.


Luna hanya diam tertegun melihat wajah tampan lelaki yang berdiri tegap di depannya. Mereka saling lempar pandang, Luna begitu kagum melihat ketampanannya, sekejap dia lupa akan Aryo cinta pertamanya.


Namun tidak dengan Barack, dia melihat wajah Luna dengan tatapan yang aneh, sinis dan dingin. "Heh! gembel... awas!!" ucapnya dengan nada dingin dan langsung menusuk ke dada Luna.


Sontak perempuan itu langsung membulatkan mata, terkejut mendengar ucapan lelaki yang berdiri di depannya itu. "Ha?!! di... dia bilang apa barusan? gembel? yang benar saja! wajahnya si tampan tapi mulutnya tajam! busuk seperti hatinya!" batin Luna, sekilas kata tampan itu langsung hilang dari pikirannya.


"Gembel, gembel! kau juga gembel. Hanya tertolong saja dengan paras tampan, jadi orang tidak akan melihat kalau mulutmu itu tak sebaik tampangmu!" Luna menggerutu. Dia menyingkir dari pandangan Barack tetapi naasnya lagi, dia malah menabrak pelayan yang sedang membawa nampan penuh dengan piring dan gelas kotor.


BRUG !!!


Entah apa yang sedang dipikirkan Luna, hari itu dia begitu sangat ceroboh.


"Pyar!!! klontang klontang!!!"


Suara gelas pecah dan tutup mangkok yang terjatuh seketika langsung menyita perhatian orang-orang yang ada di dalam reatoran itu. Tutup mangkoknya menggelinding dan berhenti tepat di sebelah kaki Barack.


"Ee, maaf-maaf aku tidak sengaja, gelas yang pecah masukan ke dalam tagihanku saja" Wajahnya memerah karena merasa malu, semua orang terus memandangi Luna sambil berbisik. Luna pun mengambil tutup sup yang berhenti tepat di sebelah kaki Barack.


Dia meringis memamerkan rentetan giginya yang rapih dan putih bersih ke arah Barack. "Hii... maaf tidak sengaja" pipi Luna semakin memerah karena malu.

__ADS_1


"Dasar... ceroboh!!" umpatnya kepada Luna dengan tatapan sinis.


Luna berjalan kembali ke mejanya, sedangkan Cici mulai menggerutu karena mununggu Luna begitu lama hanya untuk memesan makanan.


"Lama sekali kau memesan makanan?" Cici mulai jengkel.


"Ada insiden kecil!"


"Lagi pula perasaan tadi di kantin kau sudah menghabiskan bakso 1 mangkuk, es jeruk 1 gelas. Sekarang sudah lapar lagi? kemana perginya makanan yang kau matan tadi?"


"Belum kenyang kalau belum makan nasi. Perutku masih merasa ada yang kurang."


"Dasar! perutmu itu memang terbuat dari tromboso, tahu?"


"What the meaning of tromboso? memang apa itu?" Luna penasaran.


"Kau tidak tahu? Sama, aku juga tidak paham apa itu tromboso!"


"Kau ini bagaimana ha! kau juga yang mengungkit-ungkit pasal tromboso, ternyata kau sendiri tidak paham! obatmu habis ya?" matanya sempat melirik jengkel ke arah Barack yang baru saja lewat di dapenya.


"Obat? kau pikir aku orang gila apa?!" melihat Luna memasang wajah kesal, Cici pun mulai penasaran. "Kau melihat siapa? sampai wajahmu ditekuk seperti itu?" Cici penasaran.


"Entah! aku hanya sedang kesal bertemu lelaki itu. Iya memang ganteng, ganteeeeeng banget. Tapi mulutnya pedas seperti cabai iblis!" Luna masih kesal ingin terus mengumpat kepada Barack.


"Wei! cabai setan maksudmu?"


"Yang mana?? Lelaki mana yang kau maksud! tapi... kalau sama yang satu itu bagaimana menurutmu? dia juga jahat, mulutnya juga pedas, oh tidak dia lebih sadis sepertinya! Bagaimana, menurutmu di antara mereka berdua siapa yang paling jahat mulutnya?" ucap Cici tentunya merujuk kepada Aryo.


"Kalau untuk Aryo itu pengecualian" Luna mencari pembelaan.


"Hah! selalu seperti itu!" Cici mulai kesal, dia membuang pandangannya ke arah lain. Dilihatnya seorang lelaki dari kejauhan, sedang berdiri menyapa rekan kerjanya. Lelaki itu nampak tidak asing di matanya. "Waaah... dia tampan sekali."


"Siapa?" Luna penasaran.


"Itu, lihatlah ke arah jam 1. Lelaki yang sedang berdiri" ujar Cici yang terus memandangi lelaki itu.


Kebetulan lelaki yang dimaksud Cici adalah Barack, dia sedang memanggil kasir guna membuatkan pesanan hidangan untuk rekan kerjanya.


"Iiiihhhhh! Astagaaa! Kau akan menyesal seumur hidup kalau sampai mengenalnya!" Luna tak terima Cici terkagum dengan lelaki itu. Padahal sebelumnya dia juga merasakan hal sama tapi melihat sifat aslinya membuat Luna muak.


"Tunggu-tunggu! Itu bukannya Barack? Aaaaaarrrg!!, benar Lun itu Barack, aku ingin menyapanya sebentar" Cici bangkit dari duduknya dan bermaksud untuk manghampiri Barack tetapi Luna cepat-cepat menarik tangannya. "Luna!!" Cici kesal karena Luna tak membiarkannya pergi.


"Barack siapa?" Luna kebingungan.

__ADS_1


"Kau lupa? bukankah tadi waktu makan siang di kantin aku memberitahu tentang lelaki itu, yang fotonya ada di majalah" Cici menjelaskan.


"Entah, aku tidak ingat!" jawab Luna sepele.


"Pokoknya aku harus bertemu dengan Barack. Ini kesempatan emas bagiku bertemu pengusaha muda sukses seperti dia. Siapa tahu nanti bisa ikutan tertular rejekinya aaahhhh" Cici bahkan sempat menghayal.


"Apa kau sudah gila! lagi pula dia sepertinya juga sibuk. Siapa tahu itu rekan kerjanya" Luna berusaha menenangkan cici.


"Iya juga... tapi" kata Cici memelas.


"Sudahlah... lagi pula untuk apa mengagumi lelaki kasar seperti itu! tampan dari mana? lagi pula tak ada sedikitpun ketampanannya denga Aryo" Luna mulai membanding bandingkan.


"Hei... itu kaca matamu sepertinya perlu diganti, dibanding Aryo, Barack jauh lebih tampan dan berkharisma!" Cici tak terima. Mereka berdua akhirnya beradu mulut. "Sudah tampan mapan, tinggi, maco, ahhh sesempurna itu masih kau bilang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Aryo yang sok itu?" Cici pun mulai memanas.


"Tahu dari mana kalau dia mapan?" Luna memainkan ponselnya.


"Dari penampilannya hahahah" Cici penuh semangat.


"Alah penampilan orang jaman sekarang suka menipu contohnya saja aku, ya walaupun tadi dia sempat memanggilku gembel, tapi sebenarnya aku anak orang kaya hahahah... siapa tahu dia malah sebaliknya!" Luna penuh emosi mengingat lelaki itu menyebutnya gembel.


"Dia, 'kan pewaris grub Wibowo Lun, tunggu-tunggu!!! dia memanggilmu gembel?? hahahahah... serius?! Memang benar apa kata Barack kalau kau seperti gembel!" Cici semakin kegirangan.


"Waaahhh keterlaluan kau, sekarang kau juga ikut-ikutan seperti dia. Sudahlah kita putus!! putus persahabatan putus segalanya!" Luna jengkel sembari berjalan keluar dari restoran.


"Maaf, bagaimana dengan makanannya?" ucap pelayan yang baru saja datang mengantar makanan.


"Kalian terlalu lama! Lagi pula selera makanku juga sudah hilang, terserah mau kalian apakan makanan itu!"


Cici berlari mengejar Luna yang sedang kesal. "Hei gembel, tunggu aku donk!" ejeknya kepada Luna.


Saat di parkiran Luna berjalan sambil cemberut menuju ke arah motor antiknya.


"Luna tunggu! kau serius marah?" teriak Cici sambil mengejar Luna yang jalannya mulai cepat.


"Bodo amat, terserah kau saja malas aku berteman denganmu!" Luna tengah memakai helmnya.


"Ngambek si ngambek tapi serius kau mau maninggalkan aku di sini?" Cici tak mau tertinggal, dia pun tergesa-gesa memakai helmnya.


Luna menyalakan motor kesayangannya, tapi sayang mesin motornya malah diam tak mau menyala. "Ini motor antik kenapa harus ikutan ngambek!! Ci! dorong motornya!" Luna melangkah turun dari motornya.


"Hah! serius kau menyuruhku mendorong motor?"


"Dorong sekarang juga atau kita beneran putus!"

__ADS_1


"Kau kejam sekali! cantik-cantik disuruh dorong motor. Mana motor butut lagi... antik dari mana coba? besok-besok beli mobil BMW seperti ini Lun. Jadi kita tidak akan sengsara seperti ini!" Cici nunjuk ke arah mobil Barack yang ada di sebelahnya.


"Kenapa harus beli, di rumah ada dua. Akunya saja yang malas memakai mobil" Luna terus beradu mulut dengan Cici sambil mendorong motornya.


__ADS_2