
"Terlambat sedikit saja, infeksinya akan menjalar ke lenganmu" ucap Dokter Brian, Dokter keluarga yang selalu menangani keluhan keluarga Barack sejak David masih kecil. Dia baru saja selesai menjahit luka di lengan David yang sempat semakin terlihat parah. Kini luka itu sudah tertutup rapat dan mendapat 3 jahitan di lukanya.
"Luka sekecil ini bisa membuat infeksi separah itu?" David yang duduk di bangku berucap dengan nada tenang. Sembari mengenakan kemejanya.
"Bukan masalah besar atau kecil luka itu" setelah mencuci tangannya, Dokter Brian duduk di kursi seberang meja.
"Pisau dapur itu sarang kuman! terlebih lagi melukaimu hingga sampai menganga seperti itu. Sedikit lebih dalam luka itu maka akan mengenai syaraf medianmu" kebetulan luka itu memang berada di perpotongan lengan, tepatnya di sendi siku bagian dalam. Jika saja tubuh Aileen lebih tinggi sedikit lagi, pisau itu mungkin akan mengenai bagian lengan atasnya, sehingga luka itu tidak akan separah ini.
David terdiam, hanya memikirkan Aileen. Tubuh kecil yang tak berdaya itu jika di dekapannya, memiliki tenaga yang cukup untuk melukai sampai separah itu, pasti karena dorongan rasa benci di dalam hatinya.
"Jangan terlalu sering menggerakkan lenganmu dulu, atau luka itu akan semakin parah. Jika itu terjadi kamu tidak bisa menggerakkan jarimu seperti semula"
David langsung menatap wajah Dokter Brian secepat kilat yang menyambar.
"Bukan rusak sepenuhnya" Dokter Brian mencoba menjelaskan setelah melihat ekspresi wajah David yang menggelap. Mencoba menenangkan laki laki itu.
"Hanya saja mungkin kamu kadang akan merasa kesulitan menggerakkan salah satu jarimu. Jika kamu memaksa untuk memakai lenganmu saat ini!, , istirahatlah dan minum obatnya sesuai yang aku sarankan" Dokter Brian berucap dengan nada menuntut, dia tahu kalau David termasuk orang yang terlalu menganggab remeh penyakit di tubuhnya, sebagai contoh Gastristis yang sampai saat ini kadang sering kambuh. Karena David susah untuk mengikuti anjuran dari Dokter.
David menghela nafas panjang menetralkan rasa penat di otaknya. Karena pekerjaan dan Aileen tentunya.
♡♡♡
Aileen berjalan dari mini market menuju arah pulang, dia sebelumnya membeli sesuatu dari sana.
Dret dreet!!
Aileen mengambil ponsel dan mengangkat panggilan itu.
"Hallo?"
"Dengan Nona Aileen?" seorang perempuan berucap dari seberang sana.
"Iya"
"Desain yang kamu kirim manager kami menyukainya, Beliau bilang besok ingin bertemu dengan anda"
Aileen memaku langkahnya. Raut wajahnya berubah gembira seketika.
"Benarkah?, , baik baik. Besok aku akan datang" Aileen memutus panggilannya. Perempuan itu terlihat sangat senang hingga lepas kendali, tanpa sadar dia melompat lompat kegirangan seperti anak kecil.
__ADS_1
Tin tiiinn!!
Suara klakson mobil dari arah belakang menarik perhatiannya hingga membuat Aileen mengalihkan pandangan kearah mobil itu. Dia merasa tidak asing dengan mobil yang berhenti di depannya.
Aileen sedikit membungkuk untuk mempermudah dirinya memastikan siapa orang yang ada di dalam.
Keningnya berkerut ketika melihat Abell keluar dari mobil.
"Aileen?" Laki laki itu tersenyum.
"Aku akan mengantarmu pulang" tambahnya.
Aileen menatap sinis kemudian melangkah pergi. Laki laki itu juga masuk ke daftar hitam karena sudah bekerja sama dengan David.
"Aileen??, , masih marah dengan taruhan itu" Abell mengikuti langkah Aileen dari arah belakang.
"Aku tidak marah dengan taruhan itu!!"Aileen memaku langkahnya, kemudian memutar tubuhnya ke belakang.
"Aku marah dengan orang orang bodoh yang melakukan pertaruhan itu"
Abell terdiam, dia tahu dia salah. Laki laki itu kini berfikir keras, bagaimana caranya membuat Aileen mau menerima tawarannya. Abell kemudian berucap.
Membuat Aileen menatap benci kearah Abell.
"David masih memiliki rahasia??, , rahasia apa memangnya?? berapa rahasia yang dia miliki sebenarnya!"
"Ikutlah denganku, aku akan mengantarmu pulang. Aku janji akan memberi tahumu tentang rahasia itu ketika sampai di rumah" Abell mengangkat kedua jarinya saat mengucapkan janji itu.
Entah apa yang menggerakkan hati Aileen hingga membuat dirinya menuruti keinginan Abell.
Mungkin karena menyangkut tentang David, hingga dia ingin sekali mengetahui rahasia apa itu.
♡♡♡
"Lebih baik tepati janjimu!, , jika kamu berbohong kamu akan tahu akibatnya" Aileen berucap dengan tenang.
Abell tersenyum canggung saat itu, kedua matanya teralihkan kearah barang yang di bawa oleh Aileen. Dia melihat barang itu seperti nampak tak asing di matanya.
Abell kembali fokus ke jalan sambil berfikir. Matanya kemudian terbelalak ketika menyadari itu adalah pembalut, dia sangat kenal dengan bungkus kotak bergambar bunga berwarna ungu yang ada di pangkuan Aileen, karena setiap hari dia selalu keliling di super market miliknya.
__ADS_1
Aileen menyadari kemana arah pandangan Abell. Membuatnya langsung menyembunyikan barang yang dia beli kearah belakang tubuhnya.
"Ee, ,tenang, tenang. Aku tidak melihatnya" Abell kembali mengalihkan pandangannya ke jalan. Pipinya merona padam.
Tak lama mobilnya berhenti ketika lampu merah di depan sana menyala. Berhenti di samping mobil yang di tumpangi oleh David, agak di belakang sedikit tepatnya
Di sisi lain, di dalam mobil. David yang duduk di kursi belakang menyadari bahwa mobil sport di sampingnya itu milik sahabatnya.
David menekan tombol dan membuka kaca mobilnya.
Abell yang melihat David ada di luar sana dan sedang melihat kearah mobilnya, juga menekan tombol, membuat kaca di mana Aileen duduk terbuka.
Dia melambaikan tangannya dengan senyum lebar kearah luar menyapa David.
Membuat Aileen menoleh dan bertemu wajah tunangannya yang ada di depan mata.
David memaku wajahnya ketika melihat Aileen berada di dalam mobil itu.
Tatapan mereka bertemu, Aileen menggerakkan tubuhnya. Ingin menyapa menjelaskan kenapa dirinya ada di dalam milik Abell.
Tetapi melihat ekspresi wajah David yang tenang seolah tak terjadi apa apa terlebih lagi acuh membuat Aileen mengurungkan niatnya.
David menoleh memalingkan wajahnya kearah lain, kemudian menutup kaca mobilnya. Aileen merasa bersalah dia kini tak bisa melihat wajah laki laki itu.
Mobilnya bergerak ketika lampunya berubah warna. Mobil di mana David berada berbelok kearah berlawanan dengan mobil yang di tumpangi Aileen.
"Kenapa kamu membuka kaca mobilnya!!, , David pasti salah paham!, , kamu sengaja kan!!" Aileen menghujani Abell dengan pukulan di lengannya.
"Tidak!, , dia dulu yang membuka kaca mobilnya, , aku hanya mengikuti dia saja!" suara Abell melemah di akhir kalimat, dia merasa bersalah. Terlebih lagi ketika melihat raut wajah David tak memperlihatkan ekapresi sedikit pun tadi, Abell merasa David sepertinya menahan amarah yang terlalu kuat di dalam hatinya.
Setelah sampai di kediaman keluarga Barack, Aileen melompat keluar dari mobil. Dia tidak membiarkan Abell masuk ke dalam rumah.
"Katakan rahasia lain apa yang kamu ketahui tentang David!!" Aileen menatap tajam.
"Kamu tidak mau membiarkan aku masuk terlebih dulu?" Abell bersikap seolah ingin melupakan janji itu.
"Abell!" geram Aileen seketika. Melihat laki laki itu hanya diam sambil memikirkan apa yang akan dia ucapkan kemudian, membuat Aileen menebak nebak apa yang akan di pikiran laki laki itu.
"Apa ini tentang perempuan lain!!" Aileen mencoba membuat kesimpulan sendiri. Ketika Abell masih terdiam. Mengingat bahwa David dulu seorang play boy, Aileen hanya berfikir tak jauh dari kata itu.
__ADS_1
"Mungkinkah ada perempuan lain di hati David??"