
Leo melirik ke arah barack yang sedang berdiri memaku tubuhnya di samping luna.
Barack menghela nafas panjang sebelum memberi jalan ke pada leo untuk mendekat ke pada luna sesuai permintaan istrinya itu.
Leo melangkah dengan sangat berat untuk mendekati luna. Dia hanya berdiri mematung di dekat ranjang di samping luna.
Luna menepuk pelan ranjang di sampingnya untuk meminta leo duduk di situ.
Leo merasa ragu, dia menengok sedikit ke arah barack yang ada di belakangnya seolah dia sedang meminta ijin kepada suami perempuan yang meminta dirinya untuk duduk di sebelahnya.
Dia melihat gerakan kepala barack, seperti memperbolehkan dirinya untuk memenuhi keinginan luna.
Tanpa ragu leo duduk di samping luna.
Dengan sigap luna menyelipkan ke dua tangannya di pinggang leo, lalu memeluk tubuhnya dengan erat.
Leo menelan ludah dengan sangat susah, luna telah memposisikan dirinya di tempat yang penuh dengan rasa bersalah.
Barack menahan semua kepahitan yang kini memenuhi dadanya, hingga terasa sesak dan seperti tak bisa bernafas.
Menghelas nafas dengan panjang untuk menetralkan perasaannya yang teramat sangat sedih ketika harus melihat istri tercintanya justru memeluk orang lain setelah tersadar dari komanya.
"Bisa kita ke ruanganku untuk membicarakan hal ini?" ucap dokter kepada barack seketika memecah keheningan di ruang itu.
Barack mengangguk pelan, mengikuti arahan dokter dia keluar dari ruang itu dan memberi ruang kepada luna untuk dirinya dengan leo dan orang tuannya.
Aryo juga berjalan ke luar mengikuti barack dari belakang namun dia tak ikut masuk ke ruang dokter, dia lebih memilih duduk di ruang tunggu.
Pikirannya pecah ketika mendengar langkah kaki seseorang yang menggema di lorong rumah sakit, dia melihat cici sahabat luna berlari ke arahnya.
Nafas cici terengah engah berusaha mengatur nafasnya karena berlari dari area parkir sampai ruang inap luna.
Dia senang sekali mendengar kabar bahwa sahabatnya itu tengah sadar kembali.
Namun dia terdiam ketika melihat aryo duduk dengan wajah muram di kursi ruang tunggu depan kamar ruang inap luna.
"Kenapa wajahmu murung?, , apa luna sudah benar siuman?, apa dia sudah bisa bangun? apa dia baik baik saja?" ucapnya menghujani aryo dengan berbagai pertanyaan.
Aryo hanya mengangguk pelan.
"Masuklah, mungkin dia juga sedang menunggumu"
Cici segera membuka pintu dan masuk dengan tergesa gesa.
♡♡♡
Keheningan membentang di ruang dokter ketika dia menyebut nama ilmiah yang diidap oleh luna.
"Amnesia lakunar dan disosiatif???" ucap barack mengulangi perkataan dokter sebelumnya.
Dokter mengangguk pelan.
__ADS_1
"Keduanya terjadi secara bersamaan, lakunar terjadi karena cedera pada bagian limbiknya sehingga dia memiliki ingatan masa lalunya secara acak. Sedangkan disosiatif kemungkinan sebelumnya dia pernah stres karena memikirkan sesuatu yang sangat menguras tenaganya atau sangat memberi kenangan buruk di hidupnya dan kini terpacu karena kecelakaan, hingga dia melupakan informasi yang sangat penting bagi hidupnya sekali pun itu sangat pribadi baginya. Makanya dia mengingatmu tapi dia tidak ingat kalau kamu adalah suaminya.
Tanpa sadar dia memilih rekaman yang ada di otaknya secara acak" ucap dokter menjelaskan secara detail apa yang sedang di alami luna.
Barack hanya diam, aura kegelisahan menyelingkupi wajahnya.
Keningnya berkerut ketika harus memikirkan semua itu, dia melihat ke arah dokter dengan penuh tanda tanya.
"Bisa sembuh" ucap dokter seketika menjawab pertanyaan yang masih tersimpan di wajah barack.
"Pelan pelan, ingatkan kembali masa lalu kalian yang membuatnya bahagia, itu salah satu alternatif lain selain obat yang saya berikan nanti. Di mulai dari hal kecil tapi sangat berarti di hidupnya" tambahnya.
"Bisakah saya melakukan itu tanpa menyakitinya?" pertanyaan barack membuat dokter harus mengerutkan keningnya.
"Jangan memaksa, ketika dia berusaha dengan keras mengingat kembali maka bisa mencederai otaknya, tapi tidak berakibat fatal hanya saja dia akan merasa sakit yang teramat di bagian tertentu di kepalanya, pasti nanti saya siapkan obat pereda nyeri untuk istri anda" ucap dokter memberi sedikit kelegaan di hati barack, namun tetap saja dia merasakan kesedihan yang teramat.
"Untuk masalah kehilangan calon bayinya, usahakan sementara untuk tidak memberi tahunya, atau otaknya akan syok seketika membuat cedera otaknya semakin parah. Kami sudah membersihkan perut istri anda istilahnya kiret dalam kesehatan untuk mengeluarkan janin yang sudah tidak bisa berkambang di perutnya, nanti dalam beberapa hari akan mengakibatkan rasa nyeri di bagian dalam perutnya. Berilah dia pengertian lain untuk tidak menyinggung pasal kegugurannya" ucapan dokter mengakhiri pembicaraan mereka.
Barack keluar dari ruang dokter berjalan menuju ke ruang inap luna dengan langkah yang tak pasti.
Aryo melihat barack berjalan ke arahnya, dia berdiri untuk menunggu kabar dari barack tentang ke adaan luna.
Sementara cici tengah keluar dari ruang inap dengan wajah murung.
Melihat wajah barack yang sangat frustasi cici berusaha mendekatinya.
Duduk di samping barack yang sebelumnya sudah ada aryo di sebelahnya.
"Kamu baik baik saja?" tanyanya.
"Apa sih, kan aku cuma nanya doang" gumam cici.
"Gimana? apa kata dokter?" tanya aryo mmbuat barack mengalihkan pandangan ke arahnya.
♡♡♡
"Luna, bagaimana ke adaanmu?" ucap bu bowo sambil memeluk tubuhnya.
Luna mengerutkan dahi ketika melihat orang tua dari laki laki yang tadi di tolaknya sedang memeluknya dengan erat.
"Eee, , aku baik baik saja tante" wajah luna meragu saat akan membalas pelukan bu bowo.
"Kamu tidak ingat dengan laki laki yang tadi di dekatmu?" tanyanya seketika membuat luna harus mendorong pelan tubuh bu bowo yang masih memeluknya.
"Ingat!, , dia putramu bukan?" jawaban dari mulut luna seketik menciptakan keheningan di antara mereka.
"Kamu tidak ingat dia siapa?" bu cokro menambahkan.
"Ingat mah, dia barack. Dia laki laki yang di pilih mamah untuk di jodohkan dengan luna kan?"mendengar jawaban luna kali ini membuat mereka yakin kalau luna tidak mengingat bahwa barack adalah suaminya.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu" luna mengawasi wajah orang tuanya, bu bowo dan leo yang masih setia ada di sampingnya.
__ADS_1
"Apa ada sesuatu yang salah dengan ingatanku?" tanyanya seolah dia tahu setelah lama tertidur dari komanya dia merasa ada yang salah dengan ingatannya.
"Tidak, kamu sudah cukup dengan baik mengingat semuanya, sekarang lebih baik kamu istirahat" leo membelai lembut kepala luna sambul menyiapkan bantal untuknya.
Senyum manis menghiasi bibir luna, seperti tak ada ingatan yang hilang akan laki laki yang di sampingnya danselalu memperlakukan dirinya dengan baik itu.
♡♡♡
"Amnesia?" ucap aryo dan cici bersamaan.
Mereka kaget mendengar kata itu keluar dari mulut barack.
Pandangan mata barack kosong, jiwanya seperti sedang melayang pergi menjauh dari raganya.
"Gimana kalau kita coba benturkan kepalanya sekali lagi, siapa tahu dia bisa mengingat semua ingatannya" cici berusaha mencairkan suasana namun dia tahu itu tak berhasil, malah yang ada mendapat teguran dari aryo yang melotot ke arahnya.
Cici kembali membalas aryo dengan membulatkan ke arahnya.
"Namanya juga usaha" gumamnya.
Barack menghela nafas dalam dalam.
"Kalian pulanglah, aku akan menemani luna" ucapnya sambil neranjak dari kursi.
"Aku akan menemanimu" cici mengikuti barack dari arah belakang.
"Biarkan mereka berdua" aryo menarik tangannya dengan cepat hingga tubuh cici terhuyung dan hampir jatuh.
Dengan sigap aryo menarik pinggang cici dan mendekap tubuh cici kepelukannya.
Wajah mereka bertemu hingga saking dekatnya hidung mereka sampai menempel satu sama lain.
Aryo terdiam menikmati debaran jantungnya yang dengan cepat memacu nafasnya.
"Lepas nggak?, teman lagi berjuang di dalam malah kamu enak enakkan sok romantis romantisan!" ucapan cici seketika mengacau pikiran aryo.
Aryo segera melepas tangannya yang melingkar di penggang cici.
"Sudah di tolongin bukannya bilang terima kasih!" ucap aryo dengan nada menuntut kepada cici.
"Lagian juga yang bikin aku hampir jatuh kan kamu!! dasar mesum!" ucap cici sambil bergegas membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan takut keburu aryo membalas makiannya.
"Mesum??, , awas saja nanti" batin aryo.
♡♡♡
Luna melirik sinis ke arah barack yang baru saja masuk ke dalam ruang inapnya.
Dengan sigap luna bangun kembali dan sengaja memeluk lengan leo bahkan menyenderkan kepalanya di pundak leo yang masih senantiasa berada di samping untuk menemaninya.
Barack dan leo hanya saling lempar pandang, tak bisa di pungkiri kalau ada rasa cemburu di dalam hatinya karena seharusnya ketika luna sadar yang berada di samping luna adalah dirinya bukan orang lain, namun barack meyakinkan dirinya bahwa saat ini bukan waktunya untuk memikirkan hal itu.
__ADS_1
Cici baru saja masuk dan melihat pemandangan yang sengit di antara mereka bertiga. Dia berusaha menenangkan barack dengan menepuk pundak dan mengajaknya duduk di kursi sofa yang berada di dalam ruangan.
♡♡♡