Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
81. Rencana Membawa Juliet Kembali Ke Amerika


__ADS_3

Perempuan itu sedang terdiam di depan kamarnya.


Tak lama setelah mendengar ucapan Davien, Bunga memutar tubuhnya dan mengurungkan niat masuk ke kamar itu. Raut wajahnya tampak begitu kesal, tapi sebisa mungkin Bunga mengendalikannya. “Lalu! Kenapa kau tidak langsung mengatakan padaku di mana kau meletakkan Juliet?!”


Davien menoleh menatap pintu kamar di ujung sana. “Juliet... ada di kamar itu!”


Bunga mengalihkan pandangan kearah di mana Davien menatap. Ekspresi wajahnya terpaku melihat kamar yang dulu pernah menjadi momok penyebab mereka berdua berpisah. Tak seharusnya Bunga marah karena kamar itu sekarang. ‘Itu sudah berlalu Bunga!’ batinnya.


Tanpa ragu Bunga melangkah, setelah sampai di sana bukannya segera membuka pintu tapi Bunga justru terdiam. Tak ingin masa lalu mengganggu pikirannya, Bunga pun memberanikan diri masuk ke dalam kamar. Melihat Juliet tengah terlelap Bunga langsung menghampirinya.


Melihat wajah Juliet yang begitu tenang Bunga tak percaya, hampir setiap malam Juliet selalu di hantui mimpi buruk. Selalu mengigau dan meracau entah membicarakan apa.


Bunga menghela nafas lega, senang karena melihat Juliet bisa tidur pulas. Sempat berkonsultasi ke banyak dokter namun mereka semua mengatakan tak ada yang terjadi dengan tubuh Juliet begitu juga dengan otaknya tak ada trauma atau gangguan penyakit lainnya. Dokter bahkan memberi resep obat tidur dosis aman untuk anak-anak tapi tak mampu mengatasi masalah Juliet.


“Sudah berapa lama dia seperti ini?” ucap Davien seketika mengejutkan Bunga yang tengah memejamkan mata menikmati rasa tenang yang belum pernah dia rasakan.


“Sejak kapan kau berdiri di situ?” Bunga berusaha menetralkan perasaan kagetnya.


Lelaki itu berdiri menyandarkan bahu sambil bersedekap. “Sejak kau memejamkan mata.” Sejenak Davien menatap wajah Bunga yang terlihat lebih tenang setelah melihat Juliet tertidur.


“Sejak kapan dia tidur?” Bunga penasaran.


“Mmm... mungkin hampir 2 setengah jam.”


“Apa Juliet–,’


“Tidak! Dia sama sekali tidak mengigau atau terbangun karena mimpi buruk!” Davien memotong pembicaraan. Melihat Bunga semakin tenang sepertinya ucapan Davien sudah menjawab semua pertanyaan yang belum sempat Bunga lontarkan. “Kau belum menjawab pertanyaanku, Bunga!” Davien mengingatkan Bunga atas pertanyaannya yang belum sempat di jawab.


“Juliet... sebenarnya dia–,”


“Kau mau kopi? Teh? Atau coklat panas?” sahut Davien lagi-lagi memotong pembicaraan, berusaha menawarkan minuman sebagai tanda bahwa lelaki itu ingin membicarakan banyak hal dengannya.

__ADS_1


Bunga terdiam sesaat, tidak ada salahnya juga menerima tawaran Davien. Setelah bertahun-tahun tidak bertemu dan kini ketika ada kesempatan mereka untuk saling bertatap muka Bunga tidak ingin selamanya selalu seperti ini, saling diam dan menghindar. Apa lagi kini ada Juliet yang membutuhkan sosok Ayahnya.


“Bunga?” Davien mencoba membuyarkan lamunannya.


“He? Uhmm... coklat” jawabnya ragu.


“Baiklah aku akan menyiapkannya untukmu” Davien keluar dari kamar itu.


Bunga mengikutinya dari arah belakang tapi tubuhnya terpaku saat menyadari sesuatu. Dia baru sadar kalau kamar itu telah berubah, jelas dalam ingatannya dulu kamar itu masih dipenuhi dengan barang-barang milik Essie. ‘Dia sudah membuang semuanya? Tapi... bagaimana dengan hatinya? Apakah Davien sudah... tunggu! Aaahh! Kenapa aku harus memikirkan itu?’


Davien telah menyiapkan coklat panas sesuai permintaan Bunga, meletakkannya di meja makan dan membuat secangkir kopi untuknya.


Perempuan itu keluar dari kamar dengan raut wajah bingung, tampak memikirkan sesuatu.


“Juliet terbangun?” tanya Davien, kemudian mengangkat gelas di tangannya memperlihatkan kepada Bunga bahwa coklat panasnya telah siap.


“Uhm... tidak, dia masih terlelap.” Bunga melangkah menuju pantry. Saat melihat Davien tengah menarik kursi, Bunga sempat dibuat berdebar karena lelaki itu ingin dia duduk di sana. Tak ada salahnya Bunga kemudian mendekat lalu duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh Davien. Namun Bunga sempat terkejut melihat lelaki itu mengambil kursi meletakkannya tepat di samping kursinya dan duduk di sana.


Posisi mereka sangat dekat, Bunga sampai bisa mencium aroma sampo yang digunakan Davien saat mandi. Merasa canggung Bunga berusaha menggeser kursinya namun belum sempat beranjak, Davien langsung menahannya.


“Tidak perlu menjauh, aku tidak akan menggigitmu!” ucapnya lembut.


Masih saja lelaki itu mampu membuat Bunga berdebar. Padahal dulu dia yakin cintanya untuk Davien sudah mati, tapi nyatanya saat bertemu lagi Bunga bisa merasakan perasaan itu muncul kembali ke permukaan. Tetapi Bunga tidak gegabah bisa jadi itu hanya gugup karena perlakuan Davien yang mulai berubah hangat.


Lelaki itu menyangga kepala menggunakan satu tangan yang bertumpu di atas meja sementara yang satunya lagi masih tetap di tempat semula menahan kursi agar Bunga tak menjauh. Sementara arah duduk dan matanya menghadap ke Bunga semakin membuat suasana lebih canggung.


“Sekarang... ceritakan apa yang terjadi dengan Juliet” Davien menatapnya lekat menunggu Bunga menceritakan semuanya.


“Uhm... s.sebelumnya, kenapa kau ingin tahu tentang Juliet?”


“Jawab saja dulu pertanyaanku, Bunga. Nanti akan ada giliranmu bertanya padaku!”

__ADS_1


Glek! Bunga menelan ludahnya susah payah, tiba-tiba saja dadanya semakin gugup dan berdebar tak karuan.


“Bunga? Apa kau baik-baik saja? Kenapa pipimu memerah?” Davien berusaha menyentuh dahinya untuk memastikan kondisi Bunga.


“Tidak apa-apa! Aku tidak sedang demam.” Bunga meraih tangan Davien kemudian menjauhkan dari keningnya. Tetapi tangannya terpaku saat merasa Davien menggenggam balik tangannya. Bunga enggan menoleh karena dapat dipastikan wajahnya dan wajah Davien akan saling berdekatan.


Davien masih menggenggam tangannya meskipun dia bisa merasakan perempuan itu sedang berusaha menarik tangannya secara perlahan. “Bunga?” suaranya semakin lembut merasuk ke otaknya.


“Ya?” sekuat mungkin Bunga tak menoleh kearahnya, meskipun jelas lelaki itu sedang menatap lekat wajahnya dari samping. Sialnya lagi detak jantungnya yang belum kembali normal seperti semula lagi-lagi dibuat bekerja keras karena detakkannya semakin kencang dari sebelumnya ketika lelaki itu berucap lembut tepat di sampingnya, seakan terasa berbisik di telinga.


“Lihat kearahku!” Davien bisa menangkap kegugupan yang teramat di wajahnya. Bibirnya tersenyum saat melihat raut wajah Bunga tak bisa membohongi apa yang sedang dia pikirkan. “Minum coklatnya selagi hangat!”


Bunga terkejut dan Langsung menoleh menatap tangannya. Davien tengah memaksa tangannya yang sempat di genggam beberapa saat tadi untuk menerima secangkir coklat.


“Tanganmu sangat dingin, cangkir ini akan sedikit menghangatkan tanganmu, genggam seperti ini, oke?” Davien memberi contoh kepada Bunga agar meletakkan cangkir di tengah-tengah kedua tangannya.


“O.oh!” Bunga sempat salah sangka, entah apa yang dia pikirkan sebelumnya tapi sempat dia berpikir ke hal lain saat Davien menggenggam tangannya.


Davien tersenyum seakan tahu bahwa Bunga merona karena salah sangka dengan perlakuannya.


“Tentang Juliet,” Bunga memulai pembicaraan untuk menutupi rasa malu. “Dulu sebelum pindah ke Paris semuanya baik-baik saja. Tapi semenjak malam pertama Juliet menginap di rumah kakeknya, dia tidak bisa tidur nyenyak. Setiap satu jam sekali pasti bangun dan menangis. Namun sebelumnya dia akan mengigau seperti meminta tolong... begitu juga dengan bicaranya mulai meracau aneh.”


“Aneh?”


“Iya, seperti... ah terlalu sulit mengingat kata-katanya. Bahasa yang Juliet gunakan saat meracau terdengar aneh dan aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan.”


Davien semakin menyimak dan tertarik mendengar cerita tentang Juliet. “Tak ada sedikit pun kalimat atau satu kata yang bisa kau dengar dengan jelas?”


“Uhmm!” Bunga menganggukkan kepala. Aku sudah membawanya berobat dan menemui psikiater.. karena takut terjadi sesuatu padanya tanpa sepengetahuanku.”


“Lalu apa kata mereka?”

__ADS_1


“Tidak ada yang terjadi pada Juliet. Hasil pemeriksaan semuanya menyatakan kalau Juliet bersih. Sudah 2 tahun ini dia tidak bisa tidur dengan nyenyak, setiap satu jam pasti dia terbangun. Menangis ketakutan, berkeringat basah seperti habis berlari jauh dengan nafas terengah-engah. Selalu seperti itu sampai aku pernah memutuskan untuk kembali membawa Juliet ke Amerika.”


“Kenapa?”


__ADS_2