Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#12 DEG DEGan


__ADS_3

 


Terlihat senyum lebar di bibir luna, entah pikiran apa yang terbesit di kepalanya, hingga dia yakin kalau barack pasti bisa membantunya.


 


"Dari kemarin kamu menyebut namanya? jangan jangan, tunggu sudah berapa lama kamu mengejar dia?" tanya barack penasaran sambil menyeruput kopinya.


"Berapa lama??? kaya yang tahu banget kalau aku udah lama mengejar dia?" tanya luna dengan wajahnya yanh mulai jutek.


"lagian mana ada yang mau deket sama" kata kata barack terputus saat melihat wajah luna mulai terlihat galak.


"Ngatain aku gembel sekali lagi! aku batalkan untuk membantu kamu" kata luna dengan nada mengancam.


"Terus, ,aku harus manggil siapa? yang cocok sama penampilanmu?" barack mengejek lagi.


"namaku tu luna! tidak bisa ya manggil namaku!" kata luna.


"Lalu bagaimana denganmu? sepertinya kamu juga tidak bisa manggil namaku!" kata barack membalas luna.


Memang dari mulai awal bertemu mereka tidak pernah saling mnyebut nama satu sama lain.


"huuuufftt" luna menghelas nafas dengan kasar.


"Sudah sore, antar aku pulang, jangan bilang kamu mau ninggalin aku kaya kemarin" kata luna mengalihkan pembicaraan.


Barack langsung beranjak dari kursinya.


"Kamu mau kemana?" tanya luna.


"Jadi pulang tidak?" tanya barack sambil berjalan meninggalkan luna.


"Owh iya, ,kirain" luna beranjak dari duduknya dan jalan tergesa gesa mengejar barack.


 


Sepanjang perjalanan, barack dan luna hanya diam, tak sepatah katapun keluar dari mulut mereka.


Luna mulai menikmati pemandangan gedung pencakar langit dari balik kaca pintu mobil barack.


 


DREEEET DREEET ponsel luna bergetar.


Aku ingin engkau selalu, hadir dan temani aku, di setiap.


"Hallo iya mah, iya ini lagi di jalan, ,loh" luna melirik ke arah barack.


Barak yang menyadari kalau luna menatapnya pun kembali melirik ke arah luna.


"kenapa ngliatin gitu?" barack.


Luna mencoba menjauhkan ponselnya yang masih tersambung dengan mamahnya dan mencoba menutupi ujung ponselnya agar mamahnya tidak mendengar percakannya dengan barack.


"ko mamah tau aku lagi sama kamu?" tanya luna berbisi pada barack.


"hm" jawab barack pendek, sambil mengangkat ke dua pundaknya.


"E iya mah, aku lagi sama dia, ngapain? iya tapi ngapain mah ini udah sore,. hallo, hallo, ko malah di matiin!" kata luna sambil memasaukkan ponselnya ke dalam tas.


Sesekali luna melihat ke arah barack.


Tapi barack pura pura mengacuhkannya.


"Kenapa!!!" tanya barack dengan nada ketus.


"Ee, , kita putar balik ya, mamah menyuruh kita ke butik" kata luna.


Mendadak barack malah menghentikan mobilnya.


"Ko, berhenti" tanya luna kebingungan.


"Kalau kamu mau ke butik, ya udah turun sana, naik taxi" kata barack dengan nada dingin.


"Mamah menyuruh kita, itu artinya aku sama kamu! paham?" kata luna mulai emosi saat menghadapi barack.


"Aku tidak mau, mau ngapain coba" kata barack.


"Ya sudah, , aku tinggal telfon mamah lagi, kalau kamu tidak mau ikut, soalnya tadi aku denger juga ada suara mamahmu di sebelah mamahku tuh" kata luna dengan nada mengancam.


Tanpa berfikir panjang barack langsung putar balik mobilnya dan melanjutkan perjalanan menuju butik mamahnya luna.


 


Kira kira 15 menit kemudian mereka smpai di depan butik milik mamahnya luna.


 


"berhenti" kata luna.


Barack pun menghentikan mobilnyan dan luna langsung turun dari mobil itu, tapi tidak dengan barack, dia masih duduk manis di dalam mobil.

__ADS_1


"Ngapain masih duduk di situ, turun!" kata luna galak.


Tapi barack hanya diam saja tidak memghiraukan luna.


"kalau pengen urusannya cepat selesai mending nurut deh" kata luna sambil menutup pintu mobil.


Barack pun langsung turun dari mobil.


CEklek luna membuka pintu butik.


"Hallo teh luna, ditungguin juga dari tadi, sidah lama tidak mampir ke butik, akika kangen tau gak?" kata waria tangan kanan mamahnya, namanya maria.


Tapi luna tetep memaanggilnya cong, tau kan maksutnya.


"Apaan sih cong kaya tidak ketemu berminggu minggu saja!" kata luna sambil meletakkan tasnya di atas meja.


"Iiiiiiihhh., meuni kasep pisan nih aa barack, , mamah pinter ya nyariin jodoh buat kamu teh, hihi" maria mulai menggoda barack sambil mendekatinya.


"Jangan deket deket!" kata barack sambil menatap tajam maria.


"Atuh, meuni garang pisan sih, ," kata maria.


"Loh cong, mamah sama tante bowo dimana?" tanya luna sambil melihat ke sekitar, tapi dia tidak menemukan mereka.


Yang dia lihat hanya para pelanggan yang sedang memilah milah gaun.


"Mereka sudah pergi duluan teh, mereka sudah nyiapin gaun buat teteh sama jaz buat aa yang ganteng ini" kata maria sambil membuang senyum genit ke arah barack.


"Gaun buat apaan?" tanya luna sambil mengernyutkan dahinya.


"Adadeeehhh, ,kata nyonya ini tuh surrrpprriiissseee, , " kata maria.


"Apaan sih cong" kata luna.


"Lilis cepat ambilkan gaun sama jaz yang tadi sudah disiapin nyonya" kata maria menyuruh salah satu pegawai butik.


Tidak menunggu lama lilis langsung membawa gaun berwarna hijau lumut dan jaz buat mereka.


"Ini tidak ada gaun yang lain apa? tidak ada lengannya gini" tanya luna sambil menjembreng gaunnya karena gaunnya tanpa lengan, jadi semi kemben gitu.


"Ih teh luna mah, suka gitu, , ini juga kan gaun yang ngerancang teh luna, mau bikin tapi gak mau makai" kata maria.


"Ya aku bikin karena sekedar hobby, bukan karena pengen di pakai sendiri" kata luna.


"Kalau pengen urusannya cepat selesai mending nurut! tidak usah ribut!" kata barack membalikkan kata kata luna tadi.


"Heh, ,mau bales dendam ya" kata luna sambil melirik ke arah barack.


"Tuh si kasep mah kadang kalau ngomong suka bener, , hehe, , udah lah teh, mending buruan di pake sana, yang ini baut aa yang kasep pisan" kata maria sambil memberikan jaznya ke pada barack.


Tidak membutuhkan waktu lebih dari 5 menit barack pun keluar dari ruang ganti.


"Ee, jaznya aa di kesiniin saja, biar lilis simpan dulu" kata lilis sambil menyiapkan kursi buat barack.


"Sekarang aa duduk disini, biar rambutnya aku rapihin" tambahnya.


Tapi barack malah menatap tajam mata lilis, seakan akan mengisyaratkan jangan berani sentuh rambutku.


"Ee, ya sudah deh, ,kalau aa tidak mau silahkan duduk aja sambil nunggu teh luna" kata lilis merasa ketakutan.


Sedangkan luna di dalam ruang ganti masih ribet dengan gaunnya.


"Cong serius nih, mamah tidak nyiapin gaun yang lain?" teriak luna dari ruang ganti.


"Nggak ada teh, teteh harus pakai gaun itu, udah ih, buruan gak usah banyak cingcong" kata maria sambil membersihkan kukunya layaknya seorang waria yang lemah gemulai.


"Huffft" luna menghela nafas sambil keluar dari ruang ganti.


Barack terlihat begitu terpukau melihat luna dari pantulan cermin di depannya saat memakai gaun itu.


Terlihat bahu luna yang sangat putih dan munggil, gaun yang tidak terlalu panjang tapi pas di badan luna yang tidak terlalu tinggi itu


Pandangannya juga tidak berubah terus ke arah luna.


Matanya bertemu dengan mata luna di kaca itu barack pun mengalihkan pandannya ke arah lain.


"Ini ukuran M tapi di aku kebesaran bagian dadanya, kamu jahitnya yang bener dong, cariin yang lain napa" kata luna sambil terus memegangi gaunnya karena takut merosot, kalau tiba tiba merosot kan berabe soalnya dia tidak memakai bra dalamnya.


Karena kembennya udah membentuk bra pada umumnya gaun malam.


"Jangan di pegangi gitu dong teh, kan jadi jelek, nanti tinggal di benerin" kata maria.


"Ini gaunnya mau merosot terus cong, gimana ini" kata luna sambil terus memegangi kemben bagian atas gaun itu.


"Ini tanganya di lepas atuh, ,jangan di pegangi gitu" kata maria.


"Kalau tidak di pegangi merosot coooong bajunya kebesaran ini, kami gimana sih!!!" kata luna setengah emosi.


"Nggak usah nyalahin gaunnya atuh teh,. dada kamu aja teh kurang gedhhheee" kata maria sambil membenarkan gaun luna dari arah belakang.


"Eh bencong., tuh mulut memang kudu di poles pake sandal kayaknya" kata luna denhan nada mengancam kepada maria.

__ADS_1


Lilis yang mendengar kata kata maria malah tertawa terbahak bahak.


Sedangkan barack wajahnya memerah dan menahan tawanya sambil sesekali melihat ke arah luna dari pantulan kaca di depannya.


"Ya sudah ini udah aku seretin ya gaunnya, jangan di pegang lagi ntar jelek jadinya" kata maria sambil memapah luna duduk di kursi yang sudah di siapkan oleh lilis di sebelah barack.


Lilis mulai menyisir lembut rambut luna.


"Tunggu tunggu, rambut ku mau di apain?" kata luna hkawatir.


"Yaelah teh, ,cuma mau di rapihin, masak gaunnya udah cakep cakep begini rambutnya kaya gambel" kata lilis yang terlihat sangat polos.


Barack yang duduk di sebelah luna mencoba untuk menaha tawanya.


"memang bener bener ya, pegawai disini otaknya rada kurang waras semua" kata luna sambil mencoba menahan amarahnya.


"Siniin kakinya teh" kata maria sambil membukuk di depan luna.


"Ini lagi mau ngapain?" tanya luna kebingungan.


"Ya nyariin sepatu yang bagus dong teh, masak udah cakep cakep begini pake sepatu kets kan gak lucu" kata maria sambil membantu luna memakaikan sepatu ke kakinya.


"Yang ini aja ya" kata maria.


"Cariin yang haknya gak tinggi tinggi amat, soalnya aku tidak biasa pake sapetu berhak tinggi cong" kata luna.


"Iya teh, akika juga tau keles" kata maria.


"Udah teh, ,rambutnya udah selesai" kata lilis.


Rambut luna terluhat lebih segar, , tidak terlalu mewah si, hanya di catok sebentar dan di beri aksen curly bagian bawahnya.


"uuuuyyy uuuuyyy uuuuyyyyy, ,tuh kan teh kamu tu sebenarnya manis banget kalau rambutnya sering sering di ajak kesalon, , ih cewek ko males pergi kesalon yang ada rambutnya jadi kusut," kata maria sambil menatap luna dari cermin.


"Bisa ae lu cong" kata luna sambil sesekali melirik ke arah barack.


Tapi barack selalu mengalihkan pandangan ke yang lain


"Memang ya, cewek itu lama kalo ngapa ngapain" kata barack dengan nada sinis.


Karena sebenarnya dia sudah males banget ada di butik itu.


"Cerewet" saut luna.


"Owh iya teh ,, pake soflens ya" kata maria.


"ogah ah apaan sih, , malam malam juga, tidak usah, udah begini saja" kata luna sambil menatap dirinya di kaca.


"Masih lama tidak sih, aku tunggu di mobil" kata barack sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Tunggu dong kasep, ,jangan ditinggal calon istrinya, jadi kudu di gandeng biar tidak jatuh" maria mencoba menghalangi jalan barack.


"Minggir!!!" kata barak dengan nada galak.


"Hm hm" maria menggelangkan kepalanya.


"Sudah lah cong lagi pula aku juga bisa jalan sendiri" kata luna sambil beranjak dari duduknya.


Dan benar, baru saja berjalan dua langkah dia tidak bisa mengimbangi sepatu haknya.


Luna pun terjatuh, tapi belum sempat jatuh ke lantai barack menarik tangan luna dan mendekap tubuh luna ke palukannya.


deg deg deg., jantung luna serasa mau copot.


Wajahnya memerah, aliran darahnya terasa panas sekali, saat ini dia berada di pelukan barack


Kepalnya ada di bagian pundak barack. Saking kencengnya detak jantung lunapun sampai sampai bisa terdengar di rongga telinganya.


"Ya ampuuuunnnn kasep, , akika juga mau dong di peluk kaya teh luna, iiiihhh bikin iri deh" kkata maria kegirangan.


Barack langsung melepaskan luna dari pelukannya.


"Kalau tidak biasa pake sepatu hak tinggi,. tidak usah sok sokan!" kata barak dengan nada ketus sambil meninggalkan luna dan berjalan keluar dari butik itu.


Saat di depan mobil, barack mencoba mengatur nafasnya pelan, karena sebenarnya dia juga merasa deg degan.


"Heh ganteng tapi galaknya minta ampun,. teteh ati ati ya, ooh iya sampai lupa, tadi mamah bilang teh luna di suruh ke restoran hotel A ceunah, suxes ya teh" kata maria.


"Suxes apaan!!!" kata luna sambil kembali berjalan pelan pelan menuju mobil.


 


Saat di dalam mobil luna merasa gelisah, dia tidak bisa tenang, lebih tepatnya dia sama sekali tidak nyaman dengan gaunnya itu.


Barack sesekali melirik ke arah luna yang sedang membenarkan kemben didadanya.


 


"Bisa tenang tidak?" tanya barack dengan ketus.


Luna pun hanya melirik sebel ke arah barack yang begitu cuek dan tidak punya hati sama sekali.

__ADS_1


"Perasaanku kenapa jadi tidak enak begini ya?" kata luna dengan nada lirih.


***


__ADS_2