
Dua orang pegawai yang sempat dibantu oleh Bunga terlihat berlari kecil menghampiri setelah melihat Davieh pergi meninggalkan kantin.
Mereka tertawa riang. "Apa kau dan presdir memiliki hubungan yang sangat istimewa?" ucap salah satu pegawai yang kini duduk di depan Bunga.
"Kenapa pakai ditanya lagi!" sahut temannya. "Bukankah kau melihat mereka berci–," ucapnya terputus pipinya merona ketika ingin melanjutkan ucapannya, sementara pandangannya kini langsung tertuju ke Bunga.
Perempuan itu tertunduk malu menyembunyikan wajahnya. Kedua pegawai yang kini menatap Bunga terlihat saling menyenggol menggunakan lengan mereka seakan sedang memberi isyarat kepada teman di sebelahnya untuk berucap.
"Kau saja!".
"Kenapa aku, bukankah kau yang mendapat bantuan darinya tadi?" bisiknya agar Bunga tidak mendengar.
"Mm... itu, masalah tadi saat kau membantuku menyelesaikan pekerjaan, aku mohon jangan sampai presdir mengetahuinya, ya?" ucap perempuan itu dengan kedua tangan ditangkupkan.
Bunga tersenyum dengan santai berucap. "Tenang saja, aku tidak akan memberitahu presdir tentang hal itu!" Bunga menatap mereka berdua, dua perempuan itu terlihat sedang menatap makanan yang ada di atas meja. Ya, teringat bahwa Davien sempat berucap kalau dia akan menghubungi pelayan untuk memastikan bahwa dia menghabiskan makanannya atau tidak maka dari itu Bunga memiliki ide agar makanannya habis tak tersisa.
"Apa kalian mau membantuku? Sebagai balas jasa karena aku sudah membantu pekerjaan kalian!"
Mereka saling melempar pandang dengan penuh tanda tanya. "Apa itu?" ucap salah satu pegawai dengan kerutan halus di kening. Dia sudah merasa khawatir kalau Bunga akan meminta imbalan yang lebih.
"Kalian harus menghabiskan makanan ini!"
Seketika ekspresi wajah kedua pegawai itu terlihat sangat gembira. "Apa?" mereka sekali lagi saling menatap tak percaya, dengan senang hati kedua pegawai tersebut menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa mereka setuju membantu Bunga menghabiskan makanannya.
Dengan senang hati kedua pegawai itu langsung mulai memakan makanan yang ada di depan mata mereka.
***
Di desa di mana Bunga dilahirkan beberapa mobil berwarna hitam pekat nampak beriring-iringan menuju ke rumah Bunga. Rumah tua yang mulai terlihat reot dan hampir rubuh karena sudah lama tak ada yang merawat semenjak Bunga tinggal di Kota.
Beberapa lelaki dengan mengenakan setelan jas hitam rapi terlihat keluar dari mobil, mereka berjalan menuju ke arah rumah Bunga.
Ketua pemimpin mereka nampak terlihat sedang memastikan kondisi dalam rumah tersebut, ketika merasa rumah itu tak berpenghuni dia kembali berjalan ke mobil kemudian mengetuk pintunya.
__ADS_1
Lelaki itu membungkukan badannya kemudian berbincang dengan seseorang yang ada di dalam mobil. "Tuan sepertinya rumah ini sudah tidak berpenghuni!"
Seorang lelaki paruh baya terlihat memganggukkan kepala setelah mendengar ucapan dari anak buahnya.
Setelah mendapatkan perintah baru dari Tuannya lelaki itu kemudian berjalan ke sisi lain kembali masuk ke dalam mobil yang kemudian dikuti oleh anak buah lainnya.
***
Di tempat lain Davien tengah sibuk sedang memainkan ponselnya, seharian penuh tersenyum tak pernah hilang dari bibirnya. James yang duduk di sebelah pun melirik kemudian ikut tersenyum tipis.
Saat itu Davin sedang membalas pesan singkat dari Bunga namun tak lama senyum tipis itu pun menghilang ketika dia melihat notif pesan masuk dari Keiko.
James yang duduk di sebelahnya melirik ke layar ponsel milik Davien, samar-samar dia melihat kalau lelaki itu mendapatkan pesan dari seseorang, seketika ujung matanya langsung beralih ke arah wajah Davien. Dia melihat ekspresi wajah Tuannya langsung berubah seketika saat mendapat pesan itu.
Davien menyadari bahwa James sedang mengawasinya, cepat-cepat dia menoleh menatap tajam ke arah James. Seakan dia tak suka ketika James seolah memergoki dirinya.
James langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain saat Davien menatapnya sengit. Namun ekspresi wajahnya terlihat bahwa dia sedang menahan senyum.
"Apa saya boleh memberi saran?"James berucap dengan hati-hati, agar tidak menyinggung perasaan lelaki yang kini duduk di sampingnya, terlihat sedang melamun menatap ke keluar dari balik kaca.
"Tidak perlu!" ucapnya dengan angkuh, Davien merasa harus menjaga image. Dia memperlihatkan sikap seolah dia tidak membutuhkan saran dari James.
Lelaki yang sedang fokus menyetir itu pun tersenyum, dia sudah bisa menebak sebelumnya bahwa Davien pasti akan menolak, namun dia sangat yakin tak lama lagi Davien pasti akan mengiyakan sarannya.
Davien terlihat menghela nafas kasar kemudian menoleh kearah James dengan sengit lalu berucap. "Apa?"
James menahan tawanya, dengan sangat cepat lelaki yang duduk disampingnya pun merubah pikiran seketika. James berdehem menetralkan perasaan sebelum dia mulai berucap. "Kalau saya ada di posisi Tuan, setelah kita kembali ke Paris nanti saya akan menemui Nona Keiko untuk membicarakan masalah perihal hubungan saya dengan dia."
Mendengar ucapan James, Davien hanya diam matanya menatap jauh kedepan. Sementara ekspresi wajahnya benar-benar tak bisa ditebak.
"Di sini saya harus menjadi lelaki tegas! lelaki yang bisa mengambil sikap, lelaki yang bisa mengambil keputusan jadi–," ucapannya terputus ketika Davien memotong pembicaraan.
"Jadi, secara tidak langsung kau mengatakan kalau aku adalah lelaki yang tidak bisa mengambil keputusan dan tidak tegas?" tatapan matanya semakin tajam.
__ADS_1
James sudah mengetahui kalau Davien pasti tersinggung dengan ucapannya. James pun mencoba menelan ludahnya dengan susah payah kemudian barucap untuk membela diri. "Saya hanya mengibaratkan jika itu adalah saya Tuan, bukan berarti saya–," ucapannya lagi-lagi terhenti karenna Davien memotong pembicaraan.
"Itu secara tidak langsung kau mengatakan kalau aku ini lelaki plin-plan!!"
Tanpa memperjelas James justru merasa senang karena Davien ternyata akhirnya paham dengan maksud ucapannya.
Davien melihat kalau asistennya itu kini sedang menahan senyum. "Apa kau sedang tersenyum? Kau menertawakanku!" Davien mulai jengkel.
James berdehem kemudian berucap. "Tidak Tuan, mana mungkin saya berani menertawakan Anda" James berucap dengan sopan namun nada bicaranya terdengar sangat menjengkelkan bagi Davien.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Bunga kembali ke apartemen bermaksud untuk mengambil beberapa pakaian namun di depan lobby dia berpapasan dengan Laura.
Sempat Bunga terdiam menatap Laura dengan penuh arti sebelum akhirnya dia memilih pergi meninggalkan perempuan yang telah melahirkannya itu.
"Bunga!" ucap Laura memanggil nama putrinya ketika perempuan itu mulai melangkah pergi.
Seketika Bunga menghentikan langkahnya. "Kenapa? bukankah kita sudah sepakat untuk tidak saling menyapa?" Bunga bahkan enggan menoleh ke arahnya, dia berucap sambil memunggungi perempuan paruh baya itu.
"Sepakat? apa aku pernah menyetujui hal itu! Itu keinginanmu bukan keinginanku!" perempuan itu berucap dengan angkuh, sebagai seorang ibu dia tak tahu bagaimana caranya berucap lembut kepada putrinya.
Jelas saja karena setelah melahirkan Bunga dia lebih memilih pergi bersama lelaki lain, jadi sebagai seorang ibu bagaimana mungkindia tahu dan mengerti cara untuk menjalin hubungan baik dengan darah dagingnya sendri. Bahkan sepertinya Laura tak memiliki pengalaman itu.
"Bunga!!! aku ini ibumu!" Laura meraih lengannya , mencengkeramnya kuat. "Bisakah kau bersikap sopan sedikit padaku? setidaknya tatap aku jika kau sedang berbicara denganku!" ucap perempuan itu dengan nada tenang namun ekspresi wajahnya nampak memperlihatkan bahwa dia sedang menahan amarah.
Bunga memutar tubuhnya menatap Laura dengan tajam namun tenang. Setelahnya pandangan matanya bergerak menurun ke lengan Laura yang semakin erat cengkeraman tangannya. "Apa kau pernah mengajarkan itu kepadaku??" Bunga kembali mengarahkan pandangannya ke Laura, namun tatapan matanya berubah tajam benuh kebencian.
Bahkan dengan sekali melihatnya saja Laura tahu Bunga seperti sedang terbakar amarah.
"Bersikap sopan dengan orang yang sudah melahirkanku? Atau bersikap sopan dengan orang yang tega meninggalkanku! Apa kau pernah mengajarkan itu kepadaku!! Di saat aku benar-benar membutuhkan, di saat aku benar-benar ingin di perhatikan, kau justru lebih memilih pergi dengan bajingan itu!" Bunga terkekeh geli, senyumnya lebih terlihat ke arah mengejek. "Aku masih ingat! bahkan sampai sekarang kenangan buruk itu masih membekas, di mana kau mendorongku kuat ketika aku menahanmu untuk tidak pergi!" Bunga berucap dengan tenang, namun kata katanya sungguh sangat tajam. Matanya memerah hingga kilauan bening itu dengan sendirinya mencuat keluar mengalir melewati pipi.
Bunga sudah tak sanggup mengendalikan emosi yang sudah menggunung di dalam hati. Dia memejamkan mata sesaat, kemudian menarik nafas dalam untuk melegakan dadanya berusaha untuk tetap tenang dalam tangisnya. "Sudahlah! berkali-kali aku sudah mengatakan kalau aku sudah tidak ingin berhubungan denganmu! hari dimana kau lebih memilih pergi meninggalkanku dan nenek, bagiku detik itu juga kau sudah bukan lagi Ibuku!" dengan lantang bahkan Bunga terlihat tak ragu ketika mengucapkannya.
Laura menggertakkan giginya hingga terlihat urat halus di pelipis. Dia sudah bersiap ingin membalas ucapan putrinya, bibirnya sempat terbuka namun seketika terpaku tak dapat digerakkan ketika melihat Marvel tiba-tiba sudah berdiri tak jauh di belakang Bunga.
__ADS_1