
Baru saja Bunga melewati suasana tegang, rahasia yang tak ingin dia ungkap justru terungkap dari mulutnya sendiri. Ya, karena dia tidak ingin melihat Davien lebih terluka.
‘Apa selama bertahun-tahun menyiksaku itu tidak cukup bagimu? Kau masih ingin membuatku tersiksa dengan memakai nama yang kusiapkan untuk putri kita sebagai nama putrimu dan Marvel?!!!’
Kalimat yang diucapkan Davien seolah sebagai luapan kekesalan atas apa yang Bunga lakukan secara sengaja, mendengar suaranya, Bunga masih mengingat jelas betapa besar rasa sakit yang di derita oleh Davien. Bunga sampai tak sadar kalau sudah terlalu lama menghukum lelaki itu atas kesalahan yang Bahkan tidak mendapat kesempatan untuk memperbaikinya. ‘Jika saja... ya, jika aku bisa mengenyampingkan rasa egoku waktu itu!’ mungkin hal ini tidak akan terjadi tapi, Bunga hanya manusia biasa yang bahkan dia sendiri tak mampu menahan amarah.
Berada di pantry sendirian menikmati sisa kesedihan Bunga memikirkan semua tindakan yang telah dia lakukan. Masih berdiri di tempat semula menunduk menatap pecahan gelas yang berserakan di lantai. Bunga memutuskan untuk membereskan pecahan itu karena takut jika Juliet bangun akan melihatnya, tapi darah yang berceceran di sana mengingatkan Bunga pada tangan Davien yang terluka.
Setelah beranjak berdiri lalu menghela nafas panjang, Bunga beranjak mengambil kotak obat yang akan dia gunakan untuk membantu mengobati lukanya.
Sementara di sisi lain masih dengan keadaan tangan berlumuran darah Davien berdiri di tepi ranjang, menatap raut wajah Juliet yang sedang terlelap. Bahkan mata yang belum sepenuhnya mengering harus kembali basah, kesedihannya semakin mendalam menyaksikan putrinya telah tumbuh besar tanpa campur tangan darinya. Menikmati kesakitan sembari memejamkan rapat kedua matanya, membiarkan penyesalan memenuhi dadanya berharap itu bisa membantu sedikit menghilangkan rasa bersalah terhadap Juliet. Andai saja sebelum menjadikan Bunga miliknya Davien sudah selesai dengan masa lalunya mungkin hal ini tidak akan terjadi. ‘Ya, andai saja!’
Davien segera memalingkan wajah mengusap air mata setelah menyadari Bunga masuk ke dalam kamar. Perempuan itu mendekati dirinya, meraih tangannya dan memintanya keluar ikut bersama dari kamar itu.
Bunga menatap telapak tangannya yang masih dipenuhi pecahan kaca kecil di setiap lukanya. “Ikutlah denganku... aku akan membantu membersihkan lukamu dan mengobatinya!” ucapnya sembari melepaskan tangan Davien.
Lelaki itu masih diam di tempat semula, setelah Bunga keluar terlebih dulu kemudian Davien mengikuti namun terlihat dari raut wajahnya kalau dia enggan meninggalkannya.
***
“Haruskah kita ke klinik terdekat, minta suster jaga untuk mengobati lukamu?”
__ADS_1
Setelah melihat lukanya lumayan parah, Bunga merasa tidak sanggup melihat lukanya lalu bagaimana dia mau membantu Davien?
“Aku tidak ingin pergi ke klinik, temani saja Juliet aku bisa melakukannya sendiri.” Davien menyalakan keran, sebelumnya dia harus membersihkan darah yang melekat di tangannya.
Tidak mungkin membiarkan Davien mengobati lukanya sendiri. Bunga membantu membersihkan dari tangannya dengan mengusap perlahan bagian punggung dan telapak tangannya.
Mereka kini berada di ruang tv, Bunga duduk di sampingnya meletakkan tangan Davien di atas pahanya dengan beralaskan handuk yang sempat di pakai untuk membungkus tangannya.
“Aku akan mulai mengambil pecahan kacanya... mungkin sebagian ada yang terasa sakit.” Perlahan dan penuh perhatian Bunga mencabut pecahan kaca di telapak tangannya.
Bagi Davien rasa sakit di tangan itu tak seberapa dibandingkan luka di hati dan mungkin juga perasaan Bunga. Belum lagi jika Juliet tahu bahwa dia ayah kandungnya, Davien tak bisa membayangkan apa yang akan anak itu pikirkan tentang dirinya. Ada kemungkinan yang harus Davien terima dengan lapang dada jika nantinya Juliet menjauh karena membenci dirinya atau akan menerima dengan senang hati bahwa dia ayah kandungnya.
Tetapi di samping itu yang menarik perhatian Davien saat ini adalah sosok perempuan yang duduk di sampingnya. Perlahan pandangannya beralih menatap wajah Bunga dari samping. Perempuan itu tengah sibuk dengan tangannya. Dari sekian rasa sakit yang dia lewati selama bertahun-tahun ini masih ada Bunga yang jauh lebih merasa sakit karena harus menjalani hidupnya sendiri di saat mengandung putrinya.
Matanya memerah menahan tangis, entah berapa ratus kali Davien melakukannya malam itu. “Maaf!” ucapnya lirih.
Tangan Bunga terpaku, terhenti sejenak setelah mendengar permintaan maaf darinya. “Aku seharusnya yang meminta maaf karena membiarkan tanganmu terluka seperti ini.”
“Maaf membiarkanmu melewati semuanya sendiri, Tuhan menghukumku dalam keterpurukan selama bertahun-tahun karena telah membuatmu menjalani hidup berat berdua dengan Juliet. Memang sudah seharusnya aku mendapatkan hukuman itu... tapi, bodohnya aku justru membuat seolah semua ini salahmu.”
“Semua sudah lewat,” Bunga meletakkan pinset, lalu mengambil kapas untuk membersihkan sisa darahnya. “Kau harus menatap ke depan untuk melanjutkan hidupmu! Lagi pula... aku tidak sendirian saat itu, aku merasa beruntung ada Antonio dan juga kak Marvel yang menemaniku sampai detik ini.”
__ADS_1
Ekspresi wajah Davien langsung berubah, meskipun tidak terlalu mencolok tapi terlihat jelas ketika mendengar Bunga menyebut nama Marvel. Perempuan itu seakan mengingatkan kalau Marvel selalu ada bahkan semenjak mereka saling mengenal, Marvel sepertinya tidak pernah menyakiti Bunga. “Aku senang mendengarnya, aku senang karena Marvel selalu ada untukmu. Dia lelaki yang baik.”
“Iya, sejak awal aku mengenalnya... dia selalu memperlakukanku dengan lembut. Berada di sekitarnya membuatku merasa dikelilingi kebahagiaan. Dia orang yang sangat hangat, selalu memanjakanku dan juga Juliet” tanpa sadar Bunga justru menceritakan hal yang tidak ingin di dengar oleh Davien.
“Uhmm... aku ikut senang kalau kau bahagia.”
“Oh, maaf aku malah curhat denganmu. Sebentar lagi ini akan selesai... aku hanya perlu menutup lukanya.” Bunga canggung dan gugup tapi sebisa mungkin dia berusaha tenang di samping Davien.
Ujung matanya melirik cincin yang melingkar di jari manisnya Bunga. “Bunga?” ucapnya kemudian.
“Iya?”
“Umm... bolehkah aku menyimpan cincin itu?” ucapnya ragu, tapi tidak bermaksud meminta kembali barang yang sudah diberikan kepada Bunga. Hanya saja Davien berencana ingin menghancurkan cincin itu dan menggantinya dengan yang baru. Dia tidak ingin Bunga menyimpan barang yang akan mengingatkannya dengan masa lalu yang buruk.
“He?” pikir Bunga dia ingin menyimpan cincin itu sebagai kenang-kenangan, tetapi karena Davien memintanya kembali maka dia tak bisa berbuat apa-apa. “Oh, tentu saja... lagi pula” ucapnya terhenti saat melepas cincin di jarinya.
“Kenapa?” tanya Davien penasaran. “Aku berencana ingin mengganti dengan yang baru.”
Bunga merasa berat hati saat ingin berucap, tapi dia harus mengatakan yang sebenarnya. “Umm... tidak perlu Davien, bagaimana aku harus mengatakannya padamu tapi... aku, tidak bisa lagi menyimpan cincin itu. Alangkah baiknya jika cincin itu tetap berada bersama denganmu.”
Davien terdiam berusaha mencerna ucapan Bunga yang seketika membuat hatinya gelisah. “Kenapa?” suaranya lirih nyaris kehilangan semangatnya.
__ADS_1
“Aku... dan kak Marvel, lusa nanti akan bertunangan.”