Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
89. Akhir Dari Mimpi Buruk


__ADS_3

Dia tak begitu mengerikan, seperti perempuan sangat cantik tapi juga seperti lelaki wajahnya tampan. Matanya biru laut kekuning-kuningan seperti senja yang menemani laut saat sore hari menjelang, hidungnya mancung runcing, rambutnya tergerai panjang dan lurus. Dia melangkah mendekati Juliet lalu berlutut. Jarak mereka sangat dekat Juliet mulai bisa melihat perbedaan di antara mereka. Orang itu memiliki telinga lancip seperti ujung hidungnya, berbeda dengan orang kebanyakan yang selama ini Juliet temui. Warna kulitnya begitu putih sampai terlihat pucat.


Saat orang itu tersenyum Juliet akhirnya bisa bernafas lega, dari pakaiannya yang serba putih seakan memiliki aura dan sifat berbeda dengan orang yang sebelumnya.


“Kau, kau siapa?” ucap Juliet terbata. Hal aneh pun terjadi lagi, orang yang tunduk di depan Juliet itu berucap layaknya manusia tak seperti tadi saat memakai bahasa aneh yang tak bisa di mengerti.


“Kau baik-baik saja?” suaranya berat tapi tersirat kelembutan di dalamnya.


Dari suaranya Juliet yakin kalau dia seorang lelaki. “Kau... mengerti bahasaku?”


Dia tak menjawab karena tengah fokus dengan kalung yang ada di tangan, kalung milik Juliet yang sempat di rebut tadi. “Manusia memang sangat lemah, tapi aku baru tahu kalau ada sosok manusia seperti dirimu! Ini milikmu?” dia mengulurkan tangannya mengembalikan kalung kepada Juliet. Dia bahkan tersenyum tampak seperti malaikat yang memantulkan sinar dari balik pakaian putih yang dikenakan. Hanya tinggal menunggu sayap itu muncul di punggungnya, setidaknya itu yang sempat terbesit di pikiran Juliet.


Seperti adegan di film yang pernah dia tonton, cerita barby yang bertemu pangeran berkuda putih. Lumayan jauh tapi adegan itu yang Juliet ingat. “T.terima kasih!”


Tepat saat Juliet mengambil kalung dari tangannya, ekspresi wajah orang itu berubah. Senyumnya seketika hilang, mata membulat terkejut saat merasakan tangannya seperti di sengat arus listrik tepat di bagian yang bersentuhan dengan Juliet. Perhatiannya sempat tertuju pada telapak tangan sebelum akhirnya sadar Juliet telah menghilang dari hadapan tanpa jejak.


Juliet telah berada di tempat semula. “Eh... tempat ini??” bingung karena secara tiba-tiba dia kembali ke tempat itu. Semua serba berwarna putih tapi ada hal lain yang baru dia sadari, Juliet telah kehilangan kalung itu dari tangannya. “Di mana kalungnya? Juliet harus segera mencari jika tidak ibu bisa marah kalau tahu kalungnya telah hilang.” Ketika sibuk mencari samar-samar Juliet mendengar suara ibunya tengah memanggil.


“Juliet?”


Di kejauhan Juliet melihat setitik cahaya terang yang semakin bergerak mendekat, perlahan cahaya itu semakin membesar seperti akan melahap tubuh Juliet yang mungil.


“Juliet?”


Suara Bunga semakin jelas terdengar di telinga, Juliet perlahan membuka mata saat melihat ibunya ada di sana Juliet tahu dia telah kembali dari alam mimpinya. “Ibu?”


“Sayang? Astaga akhirnya kau bangun juga!” Bunga sangat lega melihat putrinya sadar, akhirnya setelah hampir satu munggu sejak Juliet di temukan pingsan di taman belakang rumah kakeknya anak pun sadar. Bunga memeluk erat tubuhnya.


“Juliet, paman senang melihatmu sudah sadar.” Davien mengusap lembut kepalanya. Hampir beberapa hari tak mendapat kabar dari Juliet akhirnya Davien tahu apa yang terjadi setelah Bunga menghubunginya.

__ADS_1


Juliet mendapat perawatan di rumah sakit serta cairan infus agar tubuhnya tidak lemas karena lebih dari tiga hari tak kemasukan makan dan minum.


Bunga bersyukur setelah kejadian itu Juliet tak lagi bermimpi buruk, bahkan bisa tidur nyenyak tanpa takut terbangun dan mengigau.


Karena kejadian itu juga, Bunga meminta Marvel untuk menunda pertunangan mereka.


“Maaf, Juliet tidak bermaksud menghilangkan kalung milik Ibu” ucap Juliet penuh penyesalan.


“Tidak apa-apa sayang, kau jauh lebih berharga ketimbang kalung itu bagi Ibu” Bunga mengecup kening putrinya.


***


Terlihat Keiko menghadiri acara lelang, banyak sekali lukisan yang akan di lelang dalam acara itu. Dia tengah sibuk melihat satu persatu lukisan yang terpajang di dinding tembok sepanjang lorong menuju ruangan tempat inti acara di mulai.


Dari arah masuk Marvel yang baru saja tiba, melihat Keiko tengah berdiri di depan sebuah lukisan. Langkah yang sempat terhenti mulai bergerak lagi mendekat. “Kau juga datang?” ucapnya setelah berhasil mendekati Keiko, berdiri di sampingnya dengan kedua tangan berada di saku celana.


“He? Kau!” Keiko terkejut refleks memalingkan wajahnya, hendak pergi tapi terlanjur lelaki itu menahan tangannya.


Keiko hanya diam tak menjawab dan masih enggan menatap Marvel.


Lelaki itu terkekeh kemudian berucap dengan santai. “Ini mengingatkanku pada kejadian dulu... setiap marah kau akan selalu memblokir nomorku hingga pada akhirnya kau datang dan meminta maaf karena telah mengabaikanku!”


“Itu tidak akan pernah terjadi lagi!” sahut Keiko.


“Kita harus bicara! Ikutlah denganku di sini ada banyak orang yang akan mendengar!”


Marvel mengajak Keiko ke atap gedung, mereka berbincang di sana sembari melihat pemandangan kota di siang hari.


“Katakan sekarang, waktuku tidak banyak! Lelang akan segera dimulai!” Keiko sangat ketus dan terkesan dingin.

__ADS_1


“Kenapa kau menghindariku?”


“Tidak! Itu hanya perasaanmu!’


“Benarkah? Lalu kenapa kau memblokir nomorku?” Marvel tidak marah, dia bahkan berucap dengan tenang dan senyum tipis.


“Aku tidak melakukannya!” Keiko mengambil ponsel lalu memastikan ucapan Marvel. “Oh, maaf mungkin saat itu aku tidak sengaja menekannya!”


Marvel dibuat bingung dengan sikapnya. “Apakah kau benar-benar tidak ingat dengan ucapanmu waktu malam kau mabuk?”


“Aku bahkan sudah berniat tidak ingin membahasnya lagi! Kudengar acara pertunangan kalian ditunda? Sepertinya aku lebih tertarik membahas itu.”


Marvel mulai memperlihatkan wajah serius. “Iya, aku yakin kau pasti sudah mendengar tentang semuanya. Di luar itu, ada hal yang jauh lebih penting!”


“Lima menit lagi lelang dimulai! Aku harus turun ke bawah!” Keiko berusaha mengalihkan pembicaraan. Terlihat jelas kalau dia sangat kesal meskipun usahanya menutupi semua itu tidak berhasil membuat Marvel percaya kalau dia baik-baik saja. “Baiklah kalau tidak ada yang lain aku akan pergi!”


Marvel terdiam melihat Keiko berjalan menuju pintu yang menghubungkan ke tangga darurat. “Kau memintaku membatalkan acara pertunangan dengan Bunga! Kau lupa itu?” serunya.


Keiko terpaku tak lama kemudian dia memutar tubuhnya dan kembali mendekati Marvel. “Kau bilang malam itu aku mabuk, lalu... kenapa kau menganggap ucapanku itu hal yang serius?”


“Biasanya orang mabuk akan mengatakan hal yang sebenarnya dia rasakan. Kau membuatku bingung Keiko! Walaupun aku dan semua orang tahu kau menyukai Davien... ketika mabuk malam itu kau jelas-jelas menyebut namaku!” bibirnya semakin mengembang.


Keiko menunduk menghindari tatapan matanya. “Hanya karena ucapanku dan apa yang terjadi malam itu di antara kita kenapa sikapmu jadi berubah?”


“Bukan aku yang berubah... tapi kau! Aku ingin bertanya satu hal padamu untuk terakhir kali. Siapa aku di dalam hidupmu, Kei!??”


Secara cepat perempuan itu mengangkat kepalanya, menatap Marvel dengan raut wajah terkejut. Selain syok mendengar pertanyaan, Keiko juga dikejutkan saat Marvel memanggilnya dengan nama kecil. Nama pemberian Marvel ketika duduk di bangku sekolah. Menandakan kalau persahabatan mereka saat itu begitu dekat. Jelas, karena Keiko selalu bergantung pada Marvel dalam segala hal. Marvel yang memendam perasaannya kepada Keiko memilih diam setelah mengetahui kalau perempuan itu menyukai Davien. Tetapi Marvel tak pernah sekalipun meninggalkan Keiko dalam keadaan apa pun dan berharap suatu saat nanti perasaannya akan terbalaskan.


Selama bertahun-tahun Marvel tak pernah mengeluh telah menjadi tempat curhat Keiko mengenai permasalahan cintanya yang bertepuk sebelah tangan kepada Davien, sebisa mungkin selalu ada dan standby ketika perempuan itu membutuhkan. Hingga semuanya berubah saat Marvel bertemu Bunga di taman kota.

__ADS_1


Senyum Bunga saat itu berhasil mencuri perhatiannya. Saat di mana Marvel ingin menyerah dari Keiko, Bunga hadir dalam hidupnya. Tetapi ketika itu terjadi Keiko mulai merasa kehilangan terlebih lagi saat Marvel mengurus bisnisnya d Amerika sekaligus menemani Bunga. Meskipun sempat ada kendala akhirnya Bunga mencoba membuka hati. Tetapi malam itu saat Keiko mabuk telah berhasil menggoyahkan hati dan perasaan Marvel.


__ADS_2