Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#163 Pengakuan


__ADS_3

Ruangan itu mulai terlihat ramai, alunan denting piano menggema di setiap sudut membuat kesan romantis di pesta itu.


Tak hanya staf yang bekerja di Grub Dirga tetapi ada beberapa para pemilik perusahaan lain yang mereka undang.


Luna dan Adrian nampak datang bersama, laki laki itu membantu melepaskan jaket bulu yang melekat di tubuh Luna. Ruangan sengaja di buat sehangat mungkin agar tamu yang datang bisa mengenakan gaun malam mereka.


Luna terlihat sangat cantik, dia mengenakan gaun berwarna merah padam yang menjutai dengan belahan tinggi sampai pertengahan lututnya.


Gaun tanpa lengan, dengan potongan leher berbentuk v menambah kesan sexi perempuan itu. Terlebih rambut yang tertata rapih membuatnya semakin elegan.


Luna dan Adrian bergabung dengan staf lain yang sudah terlebih dulu sampai di sana. Berbincang bincang sembari menunggu Direktur mereka datang. Karena yang akan membuka acra tersebut adalah Barack.


Tak selang berapa lama, terlihat Barack masuk ke dalam ruangan. Dia datang seorang diri.


Semua orang yang menghadiri pesta hampir semua mata mereka tertuju kepada Barack.


Dia terlihat sangat berkharisma, rambut yang di belah samping dengan sebagian menutupi hampir separuh matanya dan di sisi lainnya di sisir rapih ke belakang. Laki laki itu terlihat sangat tampan.


Dia juga mengenakan jas yang senada dengan gaun milik Luna, merah padam. Sebelumnya mereka tak ada niatan untuk memakai warna yang sama malam itu.


Pandangan mata Luna tertuju ke arah pintu masuk, dia melihat Barack sedang berjalan melangkah menuju podium. Langkahnya sempat terhenti beberapa kali karena beberapa orang dari perusahaan lain telah sedang memberi selamat kepadanya atas kedudukan tertingginya di Grub Dirga.


Mata Luna tak pernah beralih ke arah lain, selalu tertuju kepada Barack.


Tetapi lelaki itu bersikap seolah tak melihat Luna.


Adrian yang berdiri di samping Luna pun mengetahui sikap perempuan itu sudah sangat berbeda sejak beberapa hari yang Lalu setelah malam di mana perempuan itu menginap di rumah Barack.


♡♡♡


Setelah selesai membuka acara dan memberi sambutan, Barack menyerakan sepenuhnya acara kepada pihak EO.


Di sisi lain Luna ingin menghampiri Barack yang tengah berjalan turun dari podium, namun langkahnya terhenti ketika Barack lebih memilih untuk menghindarinya dan bergabung dengan rekan kerjanya.


Luna terlihat kecewa, dia akhirnya berjalan untuk mengambil jaket bulunya dan keluar menuju balkon. Perempuan itu nampak murung sambil menatap jauh ke depan.


"Ada apa sebenarnya??, , kenapa dia selalu menghindariku saat di keramaian??. Apa aku terlalu buruk baginya??"


Luna terdiam, tatapannya terlihat kosong saat itu.


Dari arah belakang Adrian berjalan menuju ke arahnya.


"Kamu baik baik saja?" ucapnya kemudian, seketika membuat Luna tersadar dari lamunannya.


"Ee??, , iya, aku hanya tidak nyaman dengan keramaian"


Adrian mengangguk, seolah dia mengerti.


"Aku ada sesuatu untukmu" Laki laki itu mengeluarkan sebuah kotak kecil berbentuk persegi dari dalam saku jas dan meletakkannya di telapak tangan perempuan itu.


"Apa ini?" Luna mengamati kotak itu.


"Bukalah!"


"Ini??, , apakah?" batin Luna.


Luna membuka perlahan kotak itu, dan seperti dugaannya. Ada sebuah cincin di sana dengan beberapa berlian berukuran kecil di atasnya.

__ADS_1


"Ini??"


"Menikahlah denganku" ucapan yang keluar dari mulut Adrian seketika menghentikan langkah Barack yang berada di sisi balik tembok, dia mendengar kalau laki laki itu sedang melamar Luna. Dia sempat ingin menemui Luna ketika melihat perempuan itu keluar menju balkon, tetapi Adrian terlebih dulu menghampirinya.


Barack memaku tubuhnya, laki laki itu hanya berdiam diri menikmati perasaannya. Ingin rasanya menghampiri mereka dan membawa pergi perempuan itu. Namun Barack mengurungkan niatnya.


♡♡♡


Luna tak percaya Bahwa laki laki di depannya itu sedang melamar dirinya.


"Adrian??, , aku pikir kita selama ini hanya berteman baik" ucapnya dengan penuh keraguan.


"Tak ada pertemanan murni diantara seorang laki laki dan perempuan Luna, aku tidak menginginkan yang Lain. Aku hanya menginginkanmu" Adrian bergerak meraih tangan Luna dan menggenggamnya.


"Adrian?" Luna berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Adrian.


"Beberapa tahun ini aku ada di sampingmu. Tetapi kamu tidak pernah melihat ke arahku! aku menyukaimu Luna!!" Tangan Adrian kini meraih kedua lengan Luna.


"Tapi aku, ,"


"Kamu ingin kembali kepadanya??, , laki laki yang sudah menyakiti hatimu?" nada bicara Adrian semakin berat, kedua matanya menatap tajam ke arah Luna.


"Aku pikir itu hanya salah paham" Luna mencoba berasumsi.


"Kamu munafik Luna!!"


Luna membulatkan matanya ketika mendengar ucapan Adrian, laki laki itu tidak pernah berucap kasar sebelumnya.


"Bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu padaku?,, "


"Dari dulu kamu tidak pernah bisa melupakan dia bukan??, ," Adrian mencengkeram dengan erat kedua lengan Luna.


"Adrian!!, , kamu menyakitiku!" Luna berusaha melepas tangan Adrian. Raut wajah Adrian berubah menjadi mengerikan, dia menjadi seorang yang sangat berbeda dari sebelumnya. Matanya seolah ingin memcabik cabik perempuan yang ada di depan matanya.


Namun dalam sekejap aura gelap yang sebelumnya menyelingkupi tubuh Adrian kini menghilang dan berganti dengan kelembutan. Dia seolah memiliki dua kepribadian yang bertolak belakang.


"Maaf, , apa aku menyakitimu??" laki laki itu seolah tidak sadar ketika dia melukai Luna. Adrian pun melepaskan tangannya.


Luna menghela nafas panjang, dia meraih tangan Adrian, dan mengembalikan kotak kecil itu kepadanya.


"Aku tidak bisa menerima ini"


Adrian menatap lekat kotak yang kini ada di tangannya, ujung matanya mengerucut dengan sangat tajam.


"Maaf, karena telah mengecewakanmu, aku juga berterima kasih karena, , selama aku terpuruk kamu selalu ada di sampingku. Tetalai sekali lagi aku benar benar minta maaf Adrian. Aku sudah menganggapmu seperti kakakku sendiri. Mungkin aku menyakiti perasaanmu dengan ucapanku ini. Aku harap setelah kejadian ini kita bisa berhubungan baik seperti dulu lagi!"


Adrian terkekeh dengan sinis, pandangan matanya terlihat merendahkan perempuan di depannya.


"Jangan naif Luna!!, , aku tidak bisa bersikap baik lagi, dengan sesorang yang sudah menyakitiku!!" laki laki itu melirik dengan tajam ke arah Luna.


Luna bergerak mundur satu langkah, dia melihat amarah semakin membesar di mata Adrian.


"Sepertinya selama ini usahaku untuk memisahkan kalian berdua percuma saja!!" Adrian berucap dengan nada santai, dia bergerak maju mendekati Luna. Aura gelap kembali menyelingkupi tubuh laki laki itu.


Dia merasa sudah tak bisa bersikap baik di depan Luna amarah sekan membakar habis hatinya, karena penantian selama bertahun tahun tak mendapat respon baik dari Luna.


"Apa maksud ucapanmu??" ujung mata Luna mengerucut, menyelidik kearah laki laki itu.

__ADS_1


"Ya!!, , seperti ucapanmu. Malam itu antara Helena dan Barack hanya salah paham! salah paham yang aku ciptakan sendiri. Untuk membuat kalain berpisah" Adrian terkekeh kemudian.


"Kamu tidak mungkin melakukannya!" Luna mengawasi setiap gerakan tubuh laki laki itu.


Luna menelan ludahnya dengan susah payah. Dia merasa seperti sedang menghadapi orang lain yang berada di tubuh Adrian.


Di sisi lain Barack terlihat masih mengawasi gerakan Adrian, dia sudah bersiaga jika Adrian melakukan hal buruk kepada Luna.


Luna melangkah mundur ketika Adrian semakin mendekat.


"Adrian!!" ucapnya dengan nada memohon.


"Adrian kendalikan dirimu, banyak orang yang akan melihat kita. Kenapa kamu jadi seperti ini?" Luna memeluk tubuh sendiri dengan kedua tangannya. Seperti sebuah perisai untuk melindungi diri sendiri dari Adrian.


Tangan Adrian mencengkeram lengan Luna, bahkan kini lebih kuat dan mengguncang tubuh perempuan itu.


"Kenapa? kenapa kamu melakukan ini padaku Felis!!!"


Luna terkesiap ketika Adrian memanggilnya dengan nama orang lain.


"Aku bukan Felis!!, , "


"Kalian mirip!!, sifat kalian sangat mirip!!, , di saat aku menolong kalian. Kenapa kalian malah mengecewakanku!!" Adrian berucap dengan tenang namun penuh dengan amarah di dalamnya.


"Tidak!!, , aku tidak mengenal Felis!, , aku tidak tahu siapa itu Felis. Dan aku tidak pernah mengecewakanmu. Kamulah yang membuat aku harus melakukan ini. Kamu yang membuat aku berpisah dengan Barack. Dan sekarang kamu menuduhku telah mengecewakanku!!" Nafas Luna memburu dia sudah mulai tersulut emosi.


"Lepaskan aku Adrian!!" luna menggertakkan giginya, seakan dia menahan kekecawan yang teramat.


"Lepass!!!" Luna mencoba melepas tangan Adrian yang sedari tadi mencengkeram lengannya.


Namun laki laki itu malah semakin berulah.


Di saat Barack melangkah untuk menolong Luna, dia melihat Adrian tengah mencium paksa perempuan itu.


Barack mempercepat langkahnya, menarik pundak Adrian hingga laki laki itu menjauh dari Luna.


"Singkirkan tangan kotormu dari wanitaku!!" Barack menghadiahi Adrian dengan sebuah pukulan keras di wajahnya, hingga tubuh laki laki itu terpental dan membentur tembok.


Barack meraih tangan Luna dan membawanya lergi dari tempat itu.


Mereka melewati rerumunan orang hingga menarik perhatian mereka yang sedang menikmati pesat di sana.


Sementara Adrian tersenyum menikmati kepahitan, tangannya mengusap darah yang mengental dari mulutnya, akibat ulah Barack.


Adrian menendang pot bunga yang ada di sekitar tempat itu untuk melampiaskan kekesalannya.


♡♡♡


Adrian menghentikan laju mobilnya, dia membuka sebuah kotak dan mengeluarkan sebuah botol berwarna putih.


Laki laki itu terlihat sangat bersusah payah untuk mengatur nafasnya yang memburu. Dia mengeluarkan beberapa pil dari dalam botol dan menelannya dengan bantuan air beberapa teguk.


Kedua tangan Adrian berada di atas stir mobil, dia menunduk menenangkan diri di sana.


Setelah beberpa menit dan obat itu bereaksi, Adrian seolah mendapatkan ketenangan kembali di dalam tubuhnya.


Dia terlihat sedang memukul stir mobilnya dengan kuat. Dari wajahnya terlihat bahwa laki laki itu sangat menyesal telah menyakiti Luna.

__ADS_1


Dia sangat frustasi, namun kini dia merasa tenang, merasa bisa mengendalikan dirinya dengan baik


__ADS_2