Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
72. Butuh Waktu


__ADS_3

Di tengah-tengah rapat Davien sesekali mengalihkan pandangannya menatap Bunga memastikan untuk ke sekian, namun perempuan itu masih dingin bahkan seakan tak menghiraukan dirinya lagi. Davien semakin yakin pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Bunga.


Selesai rapat mereka pergi makan siang bersama. Davien ingin segera mencerca Bunga dengan berbagai macam pertanyaan, tapi di meja ada James juga sehingga dia tak mungkin membahas hal itu di depan sekretarisnya.


"Nona dan presdir silakan makan di sini, saya akan pindah ke meja sebelah" ucap James mencoba memberi ruang dan waktu kepada mereka berdua untuk berbicara karena sejak tadi dia sempat memperhatikan tingkah mereka berdua, James tahu kalau ada yang tidak beres saat itu tetapi Bunga justru menolaknya secara halus.


"Tidak perlu James! Kau duduk di sini saja!” Bunga menepuk pelan kursi di sampingnya.


Kedua bola matanya bergerak ke atas menatap wajah James yang masih berdiri dan terlihat bingung. Davien berharap James akan tetap pergi mencari meja lain.


James sadar bahwa Davien sedang memperhatikannya dia pun merasa canggung harus berada di antara mereka berdua bahwasanya James juga tahu sepertinya Davien ingin dia pergi dari meja itu.


Ekspresi wajahnya nampak kesal, Devien mengalihkan pandangannya ke piring sementara tangannya mengacak-acak makanan yang bahkan sesendok pun belum dia makan.


James merasa suasana di meja itu semakin menegang apa lagi dia sangat lapar, tapi makan semeja bersama mereka sepertinya James tak mampu menelan makanannya. Ghm! Dia pun berdehem menetralkan suasana lalu berucap. "Presdir, Anda dari tadi hanya mengacak acak makanan. Apa Anda tidak suka dengan makanannya? Anda ingin makan yang lain?"


Bunga tak menghiraukannya, dia lebih memilih sibuk dengan makanan yang ada di depan mata.


Begitu juga dengan Davien, dia bahkan tak menjawab tawaran dari James.


Tak ada percakapan yang terjadi di meja itu antara mereka berdua, sementara Davien masih bingung dan menerka-nerka apa yang membuat Bunga berubah drastis. Davien memilih diam dan rencananya akan membahasnya setelah sampai di rumah.


***


Sepanjang perjalanan kembali menuju kota A Bunga selalu membuang pandangannya ke arah luar dari balik kaca. Beberapa kali Davien memperhatikannya tetapi perempuan itu masih acuh bahkan untuk sekedar membalas tatapan matanya pun Bunga tak pernah melakukannya.


Benar-benar membuatnya frustasi. Sudah hampir berjam-jam Davien bahkan belum menggenggam tangannya. Akhirnya dia memutuskan untuk mencoba berharap Bunga tidak akan menghindar. Tangannya bergerak meraih tangan Bunga namun dengan cepat perempuan itu menghindar dengan cara halus. "Bunga aku–,"


"Aku sangat lelah, aku butuh tidur sebentar. James kalau sudah sampai kau bisa bangunkan aku?" Bunga bersedekap lalu menyandarkan kepala mencoba memejamkan mata.


Davien menghela nafas panjang menarik tubuhnya menyandarkan kepala Bunga ke bahu, karena belum terlelap Bunga kemudian menghindar lagi, kembali ke posisi semula menyandarkan kepala di sandaran kursi.


"Ada apa dengan perempuan ini?" gumam Davien dalam hati.

__ADS_1


***


Tak lama mobil mereka berhenti di halaman rumah saat ingin membantu Bunga turun dari mobil dia justru terkejut karena Bunga tiba-tiba bangun membuka pintu dan segera keluar dari mobil. Davien mengira kalau perempuan itu Terlelap dalam perjalanan.


Bola matanya bergerak mengikuti arah gerakan Bunga yang sedang berjalan masuk ke rumah.


Davien yang masih duduk di dalam mobil menarik tubuhnya ke belakang bersandar lalu menghela napas panjang. “Astagaaa!!! Ada apa dengan perempuan itu?!! Dia membuatku frustasi seharian ini!” serunya di dalam mobil.


"Presdir" ucap James.


"Aku tahu!!” sahur Davien. “Sepertinya dia sedang marah. Tapi aku tidak tahu alasannya kenapa dia marah" Davien mendongakkan kepala kemudian memejamkan mata sesaat.


"Perempuan adalah makhluk yang paling susah untuk di mengerti presdir, tidak banyak yang bisa Anda lakukan selain mengikuti permainannya" James mencoba memberi wejangan kepada Davien.


"Kau menyuruh aku diam? Ketika Bunga sedang marah, kau malah memintaku untuk diam?" Davien mengulangi pertanyaannya karena dia tak yakin dan meragukan hal itu.


Sementara James yang duduk di depan menganggukkan kepala sembari melihat bayangan Davien kaca sepion depan.


"Kalau dia sedang marah dan aku hanya diam apa itu tidak akan memperkeruh masalah? Sementara aku juga bingung kenapa dia marah... padahal tadi setelah keluar dari kantor perasaan dia masih baik-baik saja! Kenapa setelah datang ke kota X sikapnya berubah drastis seperti ini?" kerutan kasar terlihat di keningnya, Davien benar-benar tak tahu kenapa Bunga tiba-tiba marah hingga sampai tak menghiraukannya.


Ingatan James seakan menengok ke belakang sebelum bertemu dengan Bunga sifat Davien yang begitu keras kepala dan dingin seakan menjadi momok untuk hubungan mereka jika Davien tak bisa menghadapi Bunga dengan kepala dingin.


"Aku akan lakukan dengan caraku!" Davien meraih pintu membukanya dan bergegas keluar.


“Astaga, belum juga selesai berbicara dia sudah pergi!”


***


Lelaki itu berjalan masuk ke arah dalam menuju ke pantry setelahnya membuka lemari es mengambil sebotol air mineral, kemudian meneguknya perlahan.


Belum habis minuman yang ada di botol ujung matanya melihat bayangan Bunga keluar dari kamar. Devien kemudian menutup botolnya dan mengembalikan ke dalam lemari es seperti semula.


"Kau mau pergi ke mana?" lelaki itu melangkah mendekati Bunga dia melihat perempuan itu telah mengepak semua pakaiannya.

__ADS_1


Bunga memaku tubuhnya tak ingin membuat situasi semakin menegang dia lalu mencoba untuk membuat dirinya tenang. "Beri aku waktu untuk menyendiri" suaranya terdengar lemah.


Davien meraih tangan Bunga menggenggamnya erat menghentikan perempuan itu agar tidak melangkah pergi. "Kenapa? Kenapa kau tiba-tiba seperti ini!” Davien diam menunggu Bunga berucap, tetapi perempuan itu memilih untuk diam. “Bunga?? Kalau kau diam, sampai mati pun aku tidak akan tahu di mana kesalahanku! Katakan Bunga... kenapa kau tiba-tiba berubah seperti ini?!!”


Bunga menghela nafas panjang ekspresi wajahnya sangat kesal. "Terima kasih kau sudah meminjamkan baju milik Essie kepadaku selama beberapa hari saat aku tinggal di sini! Aku sudah mencucinya bersih. Aku juga letakkan semua gaunnya di atas ranjang. Sekarang kau bisa menyimpannya kembali ke tempat semula!!" Bunga mengalihkan pandangannya ke pintu kamar milik Essie.


Davien seketika tahu ke mana arah pembicaraan itu, dia kini sangat yakin kalau Bunga sepertinya sudah tahu tentang kamar itu. "Bunga–,” ucapannya terputus ketika Bunga memotong pembicaraan.


"Tidak perlu menjelaskannya lagi" Bunga sejenak terdiam seperti sedang menata hati untuk kembali berucap. "Beri aku waktu untuk menyendiri, aku butuh ketenangan untuk memikirkan semua ini!”


Kenapa di saat semuanya seperti berjalan lancar selalu saja ada masalah, di saat Davien dan Essie menjalin hubungan yang terlarang mereka bisa saling menguatkan untuk tetap bertahan. Dan ketika hubungan mereka berjalan mulus takdir seolah tak ingin melihat mereka bahagia, Tuhan mengambil Essie dari sisinya.


Bahkan sempat beberapa tahun Davien terpuruk setelah kepergiannya. Kini ketika hadir seorang wanita yang mampu menggantikan Essie dalam hidupnya masalah kembali datang.


Mungkin ini memang kesalahan Davien karena dia tidak jujur. Dan jika dia ada di posisi Bunga hal yang sama pun akan terjadi, akan merasakan sakit hati seperti apa yang sedang dirasakan oleh Bunga saat ini.


Tetapi Davien tak bisa menghapus begitu saja kenangan Essie dalam hidupnya. Davien menganggukkan kepalanya perlahan sembari melepas tangannya. “Baiklah... lakukan apa pun yang kau inginkan!”


Bunga terkejut ketika Davien memenuhi keinginannya. Bunga terkekah geli bercampur jengkel, seharusnya tak seperti ini. Seharusnya lelaki itu mencoba menahan agar Bunga tidak pergi, membuatnya bertahan walaupun terus menolak.


Seperti apa yang dikatakan James, perempuan adalah makhluk yang paling rumit. Susah untuk di mengerti ketika Bunga meminta waktu menyendiri lalu Davien memenuhi keinginannya, Bunga justru marah. Tapi jika tidak di turuti Bunga akan tetap marah. davien serba salah tapi dsri awal semua kesalahan dimulai dari Davien.


Bunga semakin kecewa. "Oke! Baguslah... dengan begini aku tahu sebenarnya untuk siapa hatimu!!" Bunga melangkah pergi.


"Apa yang harus aku lakukan Bunga? Kau tidak mau menjelaskan, kau tiba-tiba marah, kau tiba-tiba diam... jengkel!. Jika saja kau mau menjelaskan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi... Ayolah kita duduk bersama kita bicarakan semuanya dengan kepala dingin. Kau yang meminta waktu menyendiri dan ketika aku memenuhi keinginanmu kau bilang seolah hatiku bukan untukmu?" Davien meluapkan kekesalannya. "Sekarang apa maumu? Aku minta kau tetap di sini kau pun menolak! Katakan padaku Bunga, aku harus bagaimana?" Davien kemudian diam tak tahu apalagi yang harus dia lakukan karena sepertinya memohon kepada perempuan yang sedang terbakar emosi itu hanya akan menambah masalah semakin runyam. Maka dari itu Davien lebih memilih untuk membiarkan Bunga menyendiri seperti apa yang dia inginkan.


"Sepertinya tanpa aku memberitahu kenapa aku seperti ini kau pun sudah bisa menebaknya dengan benar! Aku harap dengan ini kau bisa memikirkan lagi ke mana kita akan membawa hubungan ini!" pandangan mereka saling bertemu menatap satu sama lain dengan lekat.


"Seharusnya tidak seperti ini Bunga, seharusnya–,"


"Memang harus seperti ini!" sahutnya dengan cepat dan nada setengah berteriak. Bunga menghela nafas kasar sebelum kembali berucap. "Memang seharusnya sudah seperti ini!! Atau sampai kapan kau akan menyembunyikannya? Beruntung hari ini aku mengetahui semua! Kalau tidak... jika hubungan kita lebih jauh maka ketika aku tahu kau masih menyimpan namanya di hatimu, mungkin saat aku terluka... aku tidak akan setegar ini! Bisa jadi aku akan menyesal seumur hidupku!”


Davien terpancing amarahnya, karena tidak ingin membuat semuanya semakin parah dia akhirnya meminta Bunga untuk pergi. "Baiklah Bunga. Keputusanmu untuk keluar dari ini sepertinya memang pilihan yang telat, setelah kau tenang kita akan bicarakan ini bersama" ucapnya tenang tanpa apa amarah.

__ADS_1


"Tidak! Sampai kapan pun kalau kau masih setengah hati... aku tidak ingin bertemu denganmu!! Dan jika nanti kau sudah bisa melepaskan dia sepenuhnya, aku berharap masih menyimpan perasaan untukmu!" Bunga terlihat sangat kesal dia mempercepat langkahnya menuju pintu kemudian keluar dari rumah itu.


Lelaki itu hanya diam berdiri mematung setelahnya menolehkan kepala menatap kearah pintu kamar milik Essie. Tidak tahu apa yang harus dia lakukan tetapi sepertinya membiarkan Bunga untuk menyendiri saat ini adalah pilihan yang tepat.


__ADS_2