Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
97. Pengakuan


__ADS_3

Sepasang kaki milik Bunga terlihat berhenti melangkah tepat setelah masuk ke lobi. Pemandangan di depan mata mengalihkan perhatiannya.


“Ibu?” Seru Juliet.


Davien menoleh melihat Bunga sedang berjalan kearahnya. Meskipun begitu dia sama sekali tak berniat melepaskan tangan perempuan yang berdiri di sampingnya.


Berusaha untuk tidak peduli dengan mereka berdua, Bunga memilih fokus kepada Juliet yang berada di sisi lain. Posisi mereka bertiga saat ini berada di sebelah kanan dan kiri Davien, masing-masing menggandeng tangan lelaki itu.


“Juliet? Sayang... Ibu minta maaf sepertinya Ibu tidak bisa menemani Juliet sampai selesai casting. Juliet tidak marah, kan?” Bunga berusaha memberi pengertian.


“Um! Tidak apa-apa, Bu. Tenang saja Juliet pasti bisa... masih ada paman Davien. Juliet yakin paman akan menjaga Juliet. Ya, ‘kan? Paman?”


“Iya sayang.”


“Jangan lupa, ada aunty juga di sini” sahut perempuan yang berdiri di samping Davien. Tak lama kemudian dia mengulurkan tangannya ke Bunga. “Salam kenal... Saya Rebecca!”


Tentu saja dia perempuan yang sangat cantik, asli keturunan Prancis tanpa campuran. Bunga pun tak menyangkal dia jauh lebih muda. Dapat dipastikan kalau Davien pasti lebih tertarik dengan perempuan muda seperti Rebecca. Bunga melamun menatap Rebecca dengan segala pikiran tentangnya. Sampai-sampai lupa kalau perempuan itu sejak tadi menunggu balasan uluran tangannya.


Tidak hanya Juliet tapi Davien dan juga Rebecca dibuat bingung dengan sikap Bunga.


Ghm! “Bunga?” seru Davien sengaja menyadarkan perempuan itu dari lamunan.


“Ha?” seketika Bunga pun menoleh, saat sadar dia mendapati mereka bertiga sedang menatap kearahnya. “Oh, maaf! Kau bisa memanggilku Bunga!” ucapnya sembari membalas uluran tangan. “Baiklah, sayang... Ibu tinggal dulu! Baik-baik oke?” Bunga merasa canggung sesaat menatap Davien dan Rebecca secara bergantian. Tak lama kemudian akhirnya dia pamit pergi.


“Rebecca? Aku titip Juliet padamu sebentar? Aku harus mengantar Bunga kembali ke tempat kerjanya.”


“Oh, tentu!”


***


“Terima kasih!” Bunga enggan menatap wajahnya saat berucap, bahkan ketika dia hendak turun dari mobil.


“Tunggu!” Davien meraih tangannya. “Bunga? Kau baik-baik saja?” tanyanya memastikan karena sebenarnya Davien tahu apa yang menyebabkan Bunga bersikap aneh.


“Aku baik-baik saja. Kambalilah Juliet dan Rebecca pasti menunggumu!”


Bibirnya tersenyum melihat guratan cemburu dari wajah dan intonasi bicaranya. Tetapi Davien semakin senang melihat Bunga yang memperlihatkan sikap cemburunya dengan begitu bisa tahu bagaimana sebenarnya perasaan Bunga terhadap dirinya. “Rebecca? Dia salah satu artis di agensiku yang akan membintangi iklan bersama Juliet nanti.” Ucapannya mampu menghentikan Bunga yang berusaha membuka pintu. “Dia sama seperti artis-artis lain, aku tidak memperlakukannya dengan spesial!” Davien harus menahan senyum saat berucap, meskipun Bunga terus menundukkan kepala tak mungkin melihat senyumnya.


“Terlepas dari apa yang baru saja kau katakan, kalau aku boleh jujur... kalian berdua terlihat serasi!” Bunga akhirnya berani menatap mata Davien sambil memamerkan senyumnya.


Kini giliran Davien yang tampak kecewa mendengar ucapannya. Perlahan senyumnya menghilang. “Aku dan Rebecca serasi??”


“Iya!!” jawabnya tanpa ragu.


“Well... aku semang mendengar penilaianmu! Karena kita memiliki Juliet setidaknya aku butuh masukan darimu agar nantinya aku tidak salah pilih. Aku pastikan mencari yang terbaik untuk Juliet! Doakan saja aku dan Rebecca bisa semakin dekat.”


“Pastinya... aku lihat kau seperti sudah nyaman berada di sampingnya, kau biarkan dia menyentuh wajahmu. Kau juga membiarkan dia menggandeng lenganmu! Aku sama sekali tidak melihat kau risih atau marah seperti dulu. Aku senang kau akhirnya membuka hati untuk perempuan di sekitarmu... tidak angkuh dan galak lagi!” Seketika nafasnya memburu. Merasa kesal karena kenyataannya perlakuan Davien berbanding terbalik dengan ucapannya. Terlebih lagi setelah kemunculan Rebecca di antara mereka. “Aku juga melihat senyum Juliet saat berada di sampung Rebecca... perempuan itu sepertinya tulus!”


Sesaat hening, bukan ini yang Davien inginkan. Tetapi dia ingin sekali mendengar pengakuan perasaan Bunga yang sebenarnya. Setelah memutuskan menerima lamaran dari Marvel meskipun pertunangan mereka dibatalkan, Davien tetap kecewa dengan keputusan Bunga yang seolah mengenyampingkan perasaannya. Itulah sebabnya dia sengaja berucap menolak untuk kembali bersama Bunga saat di depan Marvel malam itu. Davien yakin kalau Bunga pasti mendengar percakapan mereka, maka dari itu dia sengaja ingin memberi pelajaran kepada Bunga.


“Bunga!? Bolehkah aku bertanya sesuatu?”


“Umm! Katakan karena sebentar lagi aku harus pergi ke ruang rapat!” Bunga menghindari tatapan matanya.


“Jika... malam itu Marvel tidak membatalkan pertunangan kalian, akankah kau akan tetap bersama dengannya dan melanjutkan hubungan kalian ke jenjang pernikahan?” matanya tak pernah lepas dari Bunga yang selalu menunduk.

__ADS_1


“K.kenapa kau menanyakan hal itu?” Bunga terbata.


“Aku butuh jawaban, Bunga! Bukan pertanyaan!” sahutnya. “Kau akan melanjutkan hubungan kalian ke pernikahan?” tambahnya mengulangi pertanyaan yang belum di jawab oleh Bunga.


Perempuan itu tak mampu menjawab, malah membuang muka melihat ke luar mobil.


“Benarkah kau sudah menghapus namaku dari hatimu?”


“Lalau bagaimana denganmu sendiri?? Kau dan Rebecca–,” secara cepat Bunga menoleh menyahut pembicaraan.


“Memang apa yang sudah aku lakukan Bunga? Apa kau mendengar dengan telingamu sendiri kalau aku dan Rebecca akan bertunangan? Menikah?! Aku berucap hanya meneruskan cerita yang sudah kau karang sendiri! Tapi reaksimu sudah seperti ini. Kau tidak tahu bagaimana rasanya menjadi diriku malam itu!!” kedua alisnya terangkat secara bersamaan, bibirnya tersenyum tipis seolah menangkap basah Bunga yang secara tidak langsung mengakui kalau dia cemburu melihat Davien berdekatan dengan perempuan lain. Pandangannya melembut kepada Bunga tapi sebaliknya, tatapan perempuan itu tampak dipenuhi kekesalan dan kemarahan. “Sikapmu yang seperti ini... seakan sedang memberitahu kalau kau cemburu dengan Rebecca!” ucapnya santai disertai senyuman yang mengembang.


Deg!! Dadanya seketika berdesir panas hingga terasa nyeri. Pipinya merona merah padam. Bunga memalingkan wajahnya. “Maaf aku harus pergi, semua orang sudah menungguku!” tanpa panjang lebar Bunga segera beranjak keluar.


***


“Aunty, Juliet harus ke kamar kecil!” suara mungilnya mengalihkan perhatian Rebecca dari ponselnya.


“Oke sayang, Aunty antar ke kamar kecil ya? Lagi pula kau sudah selesai casting, Bukan?”


“Tidak perlu, Aunty di sini saja... Juliet bisa pergi sendiri!”


“Kau yakin? Baiklah... anak pintar, hati-hati oke?”


“Siap Aunty!” Juliet melangkah cepat menuju ke toilet. Setelah membuang air kecil dia segera mencuci tangannya di wastafel.


Toilet yang cukup besar mampu menampung lebih dari 10 orang sekaligus saat membuang air kecil secara bersamaan. Tetapi bisa lebih dari 10 orang, lainnya bagi mereka yang hanya sekedar mencuci tangan atau membenarkan riasan.


Kaca terpampang luas di depan Juliet, dengan lima wastafel berderet di sana saat mencuci tangannya. Tak lama perhatiannya teralihkan ke pintu di mana seorang anak perempuan dan perempuan dewasa masuk ke dalam. Juliet ingat anak itu bernama Rachel karena dia termasuk rivalnya dalam memenangkan casting iklan.


Mendengar suara dan raut wajahnya yang garang Juliet yakin perempuan itu pasti Ibu dari anak kecil yang berdiri tak jauh darinya. Anak itu berdiam diri dengan raut wajah ditekuk menghadap ke kaca.


“Ibu tidak mau dengar, kau harus bisa mendapatkan iklan ini! Kau paham!” geramnya lagi, kedua mata membulat lalu mendorong kepala Rachel beberapa kali. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan Ibunya berlaku kasar sampai-sampai wajah Rachel memerah menahan marah, hanya diam dan menerima perlakuan kasar orang tuanya. “Jangan keluar dari sini sebelum kau mengeringkan air matamu! Kau paham!” sekali lagi dia mendorong kepalanya sebelum keluar dari toilet meninggalkan Rachel.


Juliet sejak tadi diam pura-pura mencuci tangannya. Setelah melihat Ibu dari Rachel pergi dia bergegas mengambil tisu yang tersedia di sana dan memberikannya kepada Rachel.


Anak kecil itu masih diam tak beranjak sedikit pun, bahkan dia tak menanggapi tisu yang diberikan oleh Juliet.


“Kau harus tetap semangat!” ucap Juliet sembari meraih tangannya lalu memberikan tisu di atas telapak tangan Rachel.


Tetapi maksud baiknya tak disambut manis oleh Rachel. Secara kasar dia menepis tangan Juliet bahkan melempar tisu yang sempat diremas sebelum mendarat di wajah Juliet. “Kita bahkan tidak saling mengenal!! Tidak usah sok bersikap manis denganku! Aku benci seseorang bersikap baik karena kasihan padaku... aku tidak butuh belas kasih darimu!! Ya, kau pasti tertawa di dalam hati melihat Ibuku memperlakukanku dengan buruk! Ini pasti menjadi tontonan yang sangat menyenangkan bagimu!!” mereka seumuran, tapi gaya bicaranya saat marah seperti orang dewasa yang sudah mengalami banyak kesulitan di dalam hidupnya. Bisa dipastikan kalau Rachel sering diperlakukan tidak adil oleh orang tuanya.


Juliet terpelongo saat Rachel memarahinya, ini pertama kali ada seseorang yang berucap kasar melampiaskan kemarahan padanya. Tubuhnya bergetar, di samping takut Juliet juga merasa kasihan dengannya. “A.aku hanya mem.mbantumu aku tidak berniat... menertawakanmu, maaf!” Juliet meremas jari-jemarinya gelisah.


“Hah! Terserah apa katamu... ke depannya mari jangan saling menyapa, bersikaplah seolah kita tidak pernah bertemu! Aku benci anak sok baik seperti dirimu!” setelah mengusap matanya yang basah Rachel keluar dari toilet meninggalkan Juliet.


***


Selesai Casting Juliet meminta Davien untuk mengantarnya pulang karena Bunga masih sibuk mengikuti rapat.


“Lalu, Juliet ingin pulang ke rumah kakek?” tanya Davien yang sedang menyetir, mereka dalam perjalanan pulang.


“Tidak! Juliet ingin pulang ke rumah ibu!” dia tampak lemas, di samping lelah Juliet masih terbayang-bayang kejadian di toilet.


“Rumah ibu?” keningnya berkerut memikirkan rumah yang di maksud oleh Juliet. “Rumah baru Juliet di paris? Apa Juliet ingat alamat rumahnya?’

__ADS_1


“Bukan rumah baru, paman! Kata ibu itu apartemen pemberian dari kekasihnya terdahulu!”


‘Apartemen?’ gumamnya dalam hati. Jika benar apa yang dipikirkan Davien maka apartemen yang di maksud adalah apartemen pemberian darinya. Tanpa berpikir panjang dia segera membawa Juliet ke apartemen itu.


Sesampainya di lobi Juliet yang tersadar dari lamunan justru terdiam mematung saat menemukan dirinya tengah berada di halaman lobi tempat tinggalnya. “Dari mana paman tahu apartemen milik ibu di sini? Perasaan tadi Juliet belum memberitahu kepada paman alamatnya, kan?”


Davien tersenyum melihat reaksi Juliet, itu artinya dugaan bahwa tempat yang dia tuju adalah benar apartemen pemberian darinya dulu di mana Juliet dan Bunga tinggal sekarang. Meskipun Mr.Rodrigo meminta Bunga tinggal di kediamannya, Bunga tetap menjadikan apartemen itu rumah utama baginya. “Uhm... banyak hal yang paman ketahui tentang ibumu, Juliet! Salah satunya tentang apartemen ini. Apa Juliet ingin mengetahui cerita tentang Ibumu yang belum Pernah Juliet dengar?”


“Waah! Sepertinya asyik paman. Kita berbincang di dalam sambil menemani Juliet mengerjakan tugas bagaimana? Paman tidak keberatan?” Juliet antusias mendengar Davien menawarkan kisah tentang ibunya.


Tak usah ditanya Davien langsung menyetujui tawaran dari Juliet.


***


“Yaaa! Juliet lupa sandinya paman... berapa ya?”


Di saat Juliet berpikir memutar otak Davien mencoba menekan beberapa tombol di pintu masuk tapi ternyata Bunga telah mengganti sandinya. Tak kehabisan akal Davien pun menggunakan kartu akses miliknya.


Tit!! Pintu pun terbuka.


Juliet tampak tidak percaya melihat Davien memiliki kartu yang sama dengan kartu milik ibunya.


Lelaki itu tersenyum melihat reaksi Juliet yang lucu, dia kemudian masuk ke dalam. Pandangannya langsung menyapu seluruh ruangan. Ini pertama kali dia menginjakkan kaki setelah dulu datang ke apartemen dan menghancurkan segala isinya.


Bunga mengganti semua perabotan dan hiasan sama persis dengan yang pernah Davien hancurkan.


Terlepas dari rasa penasaran kepada Davien, Juliet lebih memilih masuk ke kamar dan mengganti pakaiannya. Tak lama kemudian dia keluar mengenakan pakaian lain. “Paman mau minum apa? Juliet ambilkan untuk paman” ucapnya sembari melangkah menuju pantry lalu membuka kulkas.


Davien tengah berdiri di sisi ruangan menatap sebuah foto, terlihat Bunga dan Juliet saat masih bayi tersenyum ke kamera. “Apa pun yang Juliet siapkan untuk paman, paman pasti akan meminumnya.” Davien berjalan menuju ke sebuah sofa membawa foto tersebut di tangannya.


“Silakan paman!” Juliet membawa dua gelas berisi susu, meletakkannya di meja.


Setelah meletakkan foto di atas meja, Daviem mengambil gelas miliknya. Ketika meminumnya dia masih fokus menatap foto itu sampai-sampai Davien hampir tersedak menyadari kalau Juliet memberinya susu. Eh! Davien menjauhkan gelas dari bibirnya. “Susu?” kedua alisnya terangkat heran, pandangannya mengarah ke Juliet di mana anak itu sibuk meneguk segelas susu sampai habis tak tersisa. Davien tak menyangka Juliet akan memberinya susu, hal yang tak sempat terpikir olehnya. Jelas Davien maklum karena tahu Juliet masih kecil. Dia tersenyum menyikapi kepolosan putrinya.


Aakhhhh! Juliet telah menghabiskan susunya. “Juliet hebat, kan? Langsung habis susunya!” melihat susuk milik Davien masih utuh Juliet pun bertanya. “Paman tidak suka susu?”


“Suka, suka sekali... hanya saja paman sedikit terkejut... haha!”


“Oh, ya paman bilang tadi ingin memberitahu cerita tentang ibu? Juliet sudah siap mendengarnya!” Juliet mengambil posisi duduk ternyaman menghadap ke Davien, bahkan menyimpan rambut di sisi kanan dan kiri ke belakang telinga bersiap mendengar cerita.


“Tapi, ada satu hal yang harus Juliet ketahui. Sebelumnya maukah Juliet berjanji setelah mendengar ucapan paman nanti, Juliet tidak akan menjauh ataupun menghindari paman?”


“Kenapa paman tiba-tiba bicara seperti itu? Juliet jadi merasa takut.”


Belum apa-apa Davien sudah melihat Juliet muram, padahal dia baru saja memberinya peringatan apa lagi nanti kalau Juliet mengetahui tentang kebenaran hubungan antara mereka berdua, karena Davien berencana ingin menceritakan semuanya tentang hubungannya dengan Bunga dan hubungan di antara mereka berdua yaitu antara dirinya dan Juliet.


“Pernahkah Juliet merasa ingin bertemu dengan ayah kandung?”


Juliet terdiam dengan ekspresi wajah datar tak terbaca mendengar Davien membahas perihal ayah kandungnya.


Reaksi Juliet membuat Davien langsung down, kehilangan semangat dan kepercayaan diri untuk mengakui semuanya. Juliet terlihat sedih bahkan hanya setelah mendengar pertanyaannya saja. “Juliet?”


Anak itu terdiam mengubah posisi duduk yang semula menghadap ke Davien kini beralih ke depan, tampak muram dan lesu tak bersemangat seperti awal sangat antusias menunggu cerita.


Davien akhirnya mengambil keputusan untuk tetap mengakui semuanya, tak peduli nanti Juliet akan membenci atau menjauh karena Davien pasti akan berjuang lebih keras agar bisa dekat lagi dengan Juliet. “Juliet?? Paman–,” dadanya serasa mau meledak, belum juga dia mengakui tapi debaran jantungnya serasa berdetak 1000 kali lipat dari biasanya. Panas dingin melebihi saat dia menyatakan perasaannya kepada Bunga.

__ADS_1


“Paman... adalah, ayah kandung Juliet!”


__ADS_2