
Barack terus mengawasi wajah luna yang selalu tersenyum melihat ke arah layar ponselnya.
"Lihat apa senyum senyum gitu?" barack mulai penasaran.
"Foto foto yang tadi" jawabnya sambil terus melihat ke arah ponselnya.
"Jadi sekarang ponsel itu lebih penting ketimbang aku ya?" barack berucap seperti sedang berharap kepada luna agar segera meletakkan ponselnya dan beralih melihat ke arahnya.
Dengan segera luna meletakkan ponselnya di atas meja dan meraih handuk yang ada di tangan barack.
Luna turun dari atas ranjang dan berdiri menghadap ke arah barack sambil membantu barack mengeringkan rambutnya yang masih terlihat basah.
Barack melihat ke arah dada luna yang berada tepat di depannya.
Senyumnya terlihat sangat lebar.
Dia membenamkan wajahnya di dada luna, sedikit menyingkap handuk kimono yang menutupi dadanya
Mendaratkan ciuman ke dada luna, sambil sedikit menyesap agar meninggalkan tanda di kulitnya yang putih bersih itu.
Luna merasa seperti ada sengatan listrik yang menjalar dari tempat di mana barack sedang menciumnya, terasa barack sedikit menggit kecil seperti yang pernah dia lakukan dulu waktu mencium pundaknya.
Dia menghentikan gerakan tangannya dan membiarkan handuk kecil itu menutupi kepala barack.
Meraih ke dua pipi barack dan menengadahakan kepalanya ke arah wajahnya.
"Suka sekali ya kamu melakukan itu" tanyanya.
"Kali ini lebih merah loh, bahkan hampir terlihat menghitam" kata barack sambil menyingkap handuk kimono yang menutupi dada luna dan memperlihatkan kepada luna bekas ciumannya yang menghitam itu.
Luna menurunkan pandangan matanya ke arah dadanya sendiri dan melihat tanda itu berada di tengah tengah persis.
Dia hanya tersenyum malu.
Tatapan mata barack kali ini terlihat sangat nakal.
"Kamu ingin lagi" tanyanya dengan nada yang sangat lembut.
Lagi lagi luna tidak menjawab, dia hanya tersenyum, dan dari senyumnya itu sepertinya sudah memberikan jawaban yang diinginkan oleh barack.
"Tapi aku maunya di tempat lain" kata barack.
Kali ini tidak hanya matanya tapi nada bicaranya juga terdengar nakal.
Luna mencoba mencerna kata kata barack.
"Tempat lain??" luna mengulangi lagi pertanyaan barack.
"Mmm" barack mengangguk pelan sambil memeluk paha luna, karena posisinya kini lebih tinggi dari barack yang sedang duduk di bibir ranjang.
"Di mana?" luna bertanya kembali.
Barack hanya tersenyum, sambil melayangkan ciumannya ke arah bawah perut yang tepat berada di depan matanya.
Tentu saja handuknya juga masih tertutup dengan rapat.
Jantung luna semakin berdetak dengan kencang
Barack menengadahkan kepalanya ke arah wajah luna.
Mengamati ekspresi wajah luna yang mulai memperlihatkan keberaniannya.
__ADS_1
Luna berusaha menyandarkan kepalanya di kening barack.
Menghujani bibir barack dengan kecupan bertubi tubi.
Sepertinya luna sengaja membuat barack semakin bergejolak jiwanya.
Barack tidak sabar melihat tingkah luna yang sengaja menggodanya itu.
Di tariknya tubuh luna ke atas ranjang dan mengunci tubuh luna dengan ke dua kakinya.
Luna terbaring di bawah tubuh barack.
"Tunggu" suara luna terdengar sedikit serak di telinganya.
Barack merasa keheranan.
"Kenapa?" tanyanya.
"Terakhir kali kamu menyuruhku membuka kancing bajuku sendiri, namun kali ini aku yang akan dengan suka rela membukanya sendiri untukmu" sepertinya perkataan luna dengan sangat mudah di mengerti oleh barack.
Barack hanya tersenyum mendengar kata kata yang keluar dari mulut luna.
Luna melepas ikatan tali pinggang kimononya.
Perlahan dia membuka kimono yang menutupi bagian tubuh atasnya itu.
Ketika dengan berani luna melakukannya, Kini malah jantung barack berdebar dengan sangat kencang melihat keindahan tubuh luna tepat di depan matanya.
Barack langsung memeluk tubuh luna dengan sangat erat.
Barack meragu sepertinya dia merasa takut melakukan hal itu ke pada luna.
"Ada apa denganmu?, , kenapa sekarang nyalimu malah menciut?" tanya luna merasa keheranan.
Barack membenamkan wajahnya di antara leher dan pundak luna yang sudah terbuka lebar.
"Aku taku" barack berbisik di telinga luna.
"Takut kenapa?" tambahnya.
Terasa dada barack mendorong tubuh luna ketika sedang menghela nafas panjang.
"Aku takut menyakitimu".
Barack menarik lagi kepalanya untuk melihat wajah luna, dia hanya memastikan apakah luna akan merasa kecewa dengannya atau tidak.
Sesekali dilihatnya dada luna yang terlihat sangat indah seperti sedang melambai lambai ke arahnya, namun barack tak kuasa menahan rasa ketakutannya ketika nanti menyakiti bagian tubuh luna secara tidak sengaja.
Luna hanya tersenyum ke arah barack.
"Kalau begitu aku yang akan mulai".
Luna meraih wajah barack dan mencium bibirnya dengan lembut.
Hingga pada saat sampai di puncaknya barack mulai terlihat meragu lagi.
Namun luna meyakinkan dirinya dengan menganggukkan kepalanya ke arah barack.
Ketika dia mendengar jerit ke****** dari mulut luna, barack semakin tidak bisa menghentikan dirinya sendiri.
Senyum luna membuat barack semakin berani melakukannya lagi dan lagi.
Rasa hejolak di dalam dirinya sudah tidak bisa terkontrol.
Pagi harinya badan luna terasa sangat ngilu, di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
Rasanya dia tidak ingin bangkit dari ranjangnya yang masih terus membuatnya merasa nyaman.
Sekilas nampak luna tengah membuka matanya mengawasi wajah barack yang masih tertidur dengan nyenyak.
Luna membenamkan tubuhnya ke dada barack sambil memeluk barack dengan erat.
Kini setiap bangun tidur dia harus terbiasa dengan aroma tubuh barack yang melekat di tubuhnya.
Barack membalas pelukannya dengan mata yang masih tertutup.
Barharap luna jangan cepat cepat bangun, dan terus seperti ini sampai nanti.
Di balik pintu dari arah luar kamarnya aryo dan cici masih bertengkar perihal masalah siapa yang akan mengetuk pintu kamar barack.
"Kamu saja yang ketuk, buruan ih, keburu ketinggalan pesawat kan kita harus ke hotel dulu ambil barang barang sama KTP ku" aryo mencoba memaksa cici untuk mengetuk pintu.
"Iiiiiiih, ,kenapa harus aku??, , kan tidak enak kalau mengganggu mereka" cici berusaha menolak.
"Masak iya kita harus menunggu mereka keluar dari kamar".
"memang pesawat kita berangkat jam berapa sih?".
"Jam satu, tapi kan kita mampir ke hotel dulu, lagi pula sekarang satu jam sebelum keberangkatan juga sudah harus sampai di bandara kalau tidak, kita tidak bisa ikut penerbangan sesuai jadwal yang sudah di tentukan" aryo terus nerocos berbicara.
"Kita langsung pergi saja deh,btidak usah pakai acara pamit pamitan, nanti gampang masalah pamit kita bisa telpon kan?".
"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi sih, ,kan tidak jadi ribet kaya gini" kata aryo sambil berjalan menuju pintu keluar.
"Idenya baru ja muncul di kepalaku, gimana sih ni orang" cici berusaha mengejar aryo yang telah berjalan duluan.
Di dalam kamar, luna seperti mendengar suara aryo dan cici dari arah depan pintu.
Luna bermaksut untuk bangun dari tidurnya, namun barack malah semakin mengencangkan pelukannya ke tubuh luna.
"Jangan bangun dulu" bisik barack dengan lirih, matanya pun masih tertutup rapat.
"Tapi, , aku barusan mendengar suara aryo dan cici di depan pintu, siapa tahi mereka mau berpamitan" luna berucap seperti berusaha memohon kepada barack untuk bangun dan melihat ke luar kamarnya.
"Nanti mereka juga bisa telepon" sahut barack.
"Kasihan merekanya barack".
"Kalau tidak mau diam, aku bungkam mulut kamu loh" kata barack dengan nada penuh ancaman.
Luna pun langsung diam mengikuti perkataan barack dia kembali membenamkan tubuhnya ke pelukan barack.
Barack merasa menang kali ini, terlihat dia memamerkan senyum manis di wajahnya.
***
Yang pakai aplikasi mangatoon bisa bantu author buat vote novel author ini.
Sekarang selain vote pakai koin juga bisa vote pakai poin sudah ada pilihannya.
__ADS_1
Bagi yang belum bisa vote pakai poin, bisa di upgrade mangatoonnya ke versi baru.
terima kasih sebelumnya😘