Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
101. Lamaran di Tengah Pesta Pernikahan 2


__ADS_3

0.2 Akhir dari kisah Davien dan Bunga.


***


Davien berlari keluar karena langkahnya tertinggal jauh dengan Bunga yang sedang menaiki tangga menuju ke bagian atas anjungan. “Bunga tunggu!” serunya, tapi perempuan itu mengabaikan panggilannya.


Bunga hanya ingin mencari udara segar menenangkan hati dan pikirannya tapi mendengar suara Davien seketika langkahnya bergerak semakin cepat sampai akhirnya dia tiba di atas anjungan.


“Bunga tunggu!!” Davien berhasil meraih tangannya. “Kau mengabaikanku?”


“Lepas Davien! Kenapa kau malah ada di sini, bukankah seharusnya kau bersama dengan perempuan itu?”


“Rebecca maksudmu?” tanyanya dengan tenang. Davien tak mendapat jawaban, tapi ketika melihat perempuan itu memalingkan wajahnya dia paham bahwa dugaannya memang benar. “Kenapa kau meninggalkan pesta? Kau juga mengabaikan panggilanku berkali-kali, kau mengacuhkanku... apa kau marah karena melihat aku lebih memilih memberikan bouquet itu kepada Rebecca bukannya padamu?”


“Lepas Davien! Tidak ada hubungannya dengan semua itu! Aku hanya ingin mencari udara segar!”


Setelah memejamkan mata beberapa saat mengontrol emosi dalam tubuhnya, Davien kembali berucap dengan tenang. “Aku tidak akan melepaskan tanganmu sebelum kau menjelaskan kenapa kau bersikap seperti ini?!”


Bunga berdiri membelakangi Davien dengan posisi salah satu tangannya masih digenggam erat. Setelah menghela nafas beberapa kali Bunga kemudian menoleh ke belakang. “Aku lelah Davien! Aku tidak ingin berdebat lagi denganmu... KENAPA KAU SELALU BERSIKAP SEPERTI INI!! KENAPA KAU PERLAKUKAN AKU SEPERTI INI!?” sejenak ucapannya terhenti karena nafasnya yang memburu, kedua matanya menatap lekat Davien yang menunggu jawaban pasti darinya. “Kau menang! Kau menang Davien... apa kau dengar? KAU MENANG DAVIEN? Kau berhasil membuatku mengakui semua ini! Aku cemburu melihatmu dekat dengan perempuan lain, aku kesal setiap kali kau memperlakukan perempuan lain dengan manis! Kau hanya boleh tersenyum padaku! Kau hanya boleh melihatku saja, bukan Rebecca atau perempuan lainnya!! Berhenti bersikap manis dengan siapa pun, aku tidak suka melihatnya!” Bunga mencurahkan segala kekesalannya sembari memukul Davien bekali-kali.


Lelaki itu hanya diam tak menepis ataupun melakukan perlawanan Davien justru mempersilakan Bunga meluapkan semua perasaannya karena memang itulah yang di tunggu-tunggu selama ini.


“Apa lagi yang ingin kau dengar dariku? Kenapa aku mengabaikanmu? Itu karena aku kesal, aku kesal denganmu! Kenapa aku meninggalkan pesta? Untuk pertanyaan ini sepertinya kau sudah mendapatkan jawaban yang kau inginkan! Kau benar-benar kejam! Setelah membuatku cemburu kau datang dan bertanya seolah tak terjadi apa pun sebelumnya?!! Kau benar-benar brengsek Davien! Kau menyebalkan!” saking puasnya meluapkan emosi Bunga tak mampu lagi menahan tangisnya. “Sekarang apa lagi? Apa maksud dan tujuanmu mengejarku sampai ke sini? Apa?!! Kalau kau ingin balas dendam karena selama tujuh tahun aku menghilang tanpa kabar... kau berhasil melakukannya Davien!”


“Aku tidak bermaksud balas dendam padamu Bunga, aku hanya ingin mendengar–,” ucapnya terhenti.


“Apa lagi yang ingin kau dengar? Oh... perasaanku? Kau ingin mendengarnya juga? Baiklah... aku akan mengakui semuanya Davien, sampai sekarang... detik ini perasaanku padamu masih tetap sama! Ya, aku menyukaimu Davien. Apa kau sudah puas? Kau pasti merasa bangga karena mendengar aku... perempuan yang pernah meninggalkanmu ini tak bisa melupakan dirimu! Kau pasti senang karena Tuhan bahkan membantumu menghukumku, aku benar-benar tersiksa melihat semuanya... please berhenti menghukumku seperti ini Davien!” pipinya basah, Davien tak sanggup lagi melihat Bunga yang terus memohon sambil menangis.


Akhirnya dia membawa Bunga ke dalam pelukan, memberinya kenyamanan agar lebih tenang. Tak hanya Bunga, tapi Davien juga merasakan sakit yang sama. Dia tak bermaksud membuat Bunga menangis sampai seperti itu, hingga Davien sadar kalau dia terlalu jauh mengambil langkah. “Maaf! Semua ini salahku. Dari awal aku hanya ingin mendengar tentang perasaanmu! Kenapa begitu sulit membuatmu mengakui bahwa kau menyukaiku? Jika dari awal kau mau jujur aku tidak akan berbuat jauh sampai melukaimu seperti ini? Berkali-kali aku mengatakan kalau aku tidak bisa melupakanmu, bahkan setiap kali aku menciummu memperlakukanmu seperti seorang kekasih kau malah membuatku frustasi karena selalu bersikap dingin dan seolah tak peduli! Maka dari itu aku terpaksa melakukan ini padamu!” Davien membenamkan wajahnya di perpotongan leher Bunga saat memeluk tubuhnya erat, melampiaskan segala kerinduan yang selama ini tertahan. Kini akhirnya Davien mampu meluapkan kerinduan kepada Bunga.


“Apa maksudmu?” masih dalam keadaan menangis Bunga berusaha mencerna semua penjelasan darinya.


Davien melepaskan pelukannya, tapi kedua tangannya kini beralih merangkup kedua pipinya. “Lupakan Bunga, lupakan apa yang terjadi malam ini! Yang harus kau ingat adalah... aku menyukaimu! Besok... seterusnya aku tetap menyukaimu. I Love you!” Davien mendaratkan sebuah kecupan di keningnya.


Bunga terpaku diam mendengar pengakuan Davien, terlebih lagi saat lelaki itu mengecup kedua matanya yang sedikit bengkak dan masih basah. “Apa ini?” Bunga semakin bingung tak percaya bahwa yang berdiri di depannya itu adalah Davien yang dia kenal.


“Kau bilang tidak mengenalku karena perubahan sikapku... tidak Bunga! Itu bukan aku, saat itu hanya sedang berpura-pura menjadi orang lain. Tapi sekarang, aku Davienmu yang dulu... Davien yang hanya bersikap manis padamu.” Davien menghadiahi satu kecupan lagi di tempat yang sama, yaitu bagian matanya sebelah kanan. “Davien yang hanya tersenyum padamu.” Kini berganti, mata sebelah kiri yang mendapatkan kecupan kedua kalinya. “Davien yang tak peduli dengan perempuan lain selain Bunga!” kali ini giliran bibirnya yang mendapat kecupan. “Davien... yang selalu dan selama menyukaimu!” Bunga belum sempat berucap, Davien terlebih dulu menyambar bibirnya. Menciumnya lembut tanpa pemaksaan dan perlakuan kasar sedekitpun.


Ciuman singkat tapi itu adalah ciuman termanis dari Davien setelah tujuh tahun mereka berpisah. Kembali Davien menarik Bunga ke dalam pelukannya. Karena terlalu rindu dengan aroma tubuhnya Davien lagi-lagi membenamkan wajahnya ke perpotongan antara leher dan bahu, menghidup puas aroma tubuhnya sampai punggungnya membungkuk karena yang Bunga jauh lebih pendek darinya.


Perasaan Bunga sedikit demi sedikit mulai membaik setelah mengetahui bahwa apa yang Davien lakukan selama ini hanya untuk membuat dia mengakui perasaannya.


Merasa tak puas Davien memeluknya semakin erat sampai tubuh Bunga terangkat memaksa kedua kakinya harus berjinjit untuk menjangkau tubuh Davien yang tinggi. “Katakan sekali lagi Bunga, aku ingin mendengarnya, please!”


“E... aku, aku menyukaimu!”


“Hanya suka?” sahut Davien tanpa melepaskan pelukannya.


“Aku juga menyayangimu!”


“Hanya sayang?” lagi-lagi Davien membuat Bunga gugup, sepertinya lelaki itu tidak puas hanya mendengar pengakuannya saja.


“Aku... aku, a.aku mencintaimu!” pipinya semakin merona, Bunga malu saat mengatakan kalimat itu.


Dan sesuai dugaannya Davien masih tetap merasa tidak puas. “Hanya cinta??”


Bunga mendorong tubuhnya sedikit menjauh, sampai batas di mana dia bisa melihat wajah Davien. Hampir tak percaya Bunga malam itu dia bisa melihat wajah Davien memerah seperti udang rebus, ekspresi wajah malu yang membuat lelaki itu terlihat imut dan lucu. “Lalu apa yang bisa membuatmu percaya kalau aku tidak hanya menyukaimu, mencintaimu, menyayangimu?”


“Entahlah... bagaimana kau saja! Aku bahkan selalu membuatmu yakin kalau aku menyukaimu tanpa harus mengatakan kalimat pengakuan!”

__ADS_1


Setelah menelaah ucapannya, Bunga akhirnya paham dengan apa yang diinginkan oleh Davien. Tanpa basa-basi kedua tangannya yang masih melingkar di leher Davien bergerak menarik agar lelaki itu mendekat sampai membungkuk kembali seperti semula.


Davien terkejut akhirnya Bunga berinisiatif menciumnya terlebih dulu.


“Ibu?? Ayah??” seru Juliet yang berada di bagian haluan tepatnya di deck bagian depan. Posisinya berada di bawah setara dengan anjungan di mana Bunga dan Davien berdiri di bagian atapnya.


Seketika Bunga dan Davien gelagapan saling menjauh setelah mendengar suara Juliet dari arah bawah.


“Tunggu! Juliet kau memanggil paman Davien apa barusan?” Bunga terkejut pasalnya dia memang belum tahu kalau Davien telah mengaku kepada Juliet bahwa dia ayah kandungnya.


“A.Y.A.H Ayah! Ibu tidak salah dengar kok, Juliet memanggil paman Davien dengan sebutan Ayah!” serunya lagi.


“Ba.bagaimana bisa? Kau yang meminta Juliet memanggilmu ayah?” Bunga masih tidak percaya.


“Tidak, itu atas dasar kemauannya sendiri. Karena Juliet sudah tahu bahwa aku ayah kandungnya.”


“Davien jangan bercanda! Kau yakin Juliet tidak marah? Dia bisa menerima semua itu saat kau bicara dengannya?”


“Bunga, kita bahas hal itu nanti saja. Ada yang lebih penting dari itu.” Davien tersenyum penuh tanda tanya membuat Bunga bingung penasaran.


“Apa?”


“Lihatlah ke atas... kau melihat bintang jatuh??” tunjuknya pada salah satu sisi langit gelap tepat di samping bulan yang mulai redup.


“Ya, aku melihatnya!” Bunga mulai fokus dengan beberapa bintang yang berkilau di sana. “Tapi jangan pernah bilang padaku untuk memohon permintaan darinya!” tambahbya.


Davien tersenyum tahu kenapa Bunga membenci hal itu, karena permintaannya pada bintang jatuh waktu itu justru berujung pada perpisahan mereka. Tak lama setelah itu Bunga dan Juliet yang berada di deck bawah dikejutkan dengan suara ledakan.


BOOOOOOOOM!!! DUUUUAARR!!!


Suara ledakan kembang api di atas langit menambah keindahan malam itu. Kembang api menyala warna-warni dengan bentuk berbeda-beda setiap meledak di atas sana.


“Davien? Juliet akan melihat kita!” sahutnya.


“Tenang saja... Juliet terlalu sibuk menikmati kembang api!”


Benar memang Juliet tampak gembira melompat-lompat girang melihat puluhan kembang api meledak di atas langit. Juliet kini tak sendiri karena semua orang yang berada di pesta beranjak keluar setelah melihat kembang api menyala di atas langit. Semua berhamburan keluar tanpa terkecuali Marvel dan Keiko.


Karena suara kembang api lumayan keras, Davien membisikkan sesuatu di telinganya agar Bunga bisa mendengar jelas. “Katakan sekali lagi Bunga, aku ingin mendengarnya!”


Bunga tampak malu mendongak menatap wajah Davien, karena posisinya berdiri membelakangi lelaki itu, Bunga kemudian meminta Davien kembali membungkuk mendekatkan telinganya dengan punggung sedikit maju memudahkan Bunga saat berucap. Satu tangannya menyentuh di pipi saat membisikkan kalimat yang ingin Davien dengar. “I love you!”


“Terima kasih sayang!” Davien mendaratkan kecupan di keningnya.


Entah kenapa dadanya berdesir melebihi saat mereka bertemu setelah sekian lama, hanya karena Davien memanggilnya dengan sebutan sayang jantung Bunga nyaris meledak seperti kembang api di atas sana.


DUUUUUUAAAARRRR!!! Kembang api terakhir meledak dengan sangat keras. Tapi kembang api itu tak seperti kembang api lainnya. Ada yang lebih istimewa hingga membuat seluruh penghuni kapal bersorak ramai.


Uwuuuuuuuu!!!


Wooaaaahh!!


“Apa itu?” Bunga tak menyangka masih ada kejutan lain malam itu. Kembang api terakhir yang meledak di langit berakhir dengan munculnya kalimat yang membuat semua orang iri.


Kelip-kelip sisa kembang api terakhir memunculkan kalimat yang bertuliskan MARRY ME BUNGA.


“Ha?” Bunga menganga, terkejut sampai harus menutup mulut dengan kedua tangannya.


“Maukah kau menikah denganku?”

__ADS_1


TERIMA!


TERIMA!


TERIMA!


Semua orang yang berada di deck bawah bersorak kearah mereka berdua, begitu juga dengan Juliet.


Tak perlu menunggu jawaban dari Bunga, Davien kemudian memasang cincin ke jari manisnya. Sebagai pengganti cincin yang pernah Davien minta kembali waktu lalu.


Lagi-lagi semua orang di bawah sana bersorak setelah Davien memakaikan cincinnya. Tak hanya sampai di situ, mereka dimanjakan oleh Davien yang sengaja pamer kemesraan, setelah mengecup jari mabis di mana cincin itu berada kini lelaki itu berganti mencium bibirnya di depan semua orang membuat kaum perempuan menjerit histeris saat melihat adegan itu.


Tetapi ada satu hal yang terlewatkan, Davien lupa bahwa Juliet ikut serta menyaksikan apa yang tengah mereka berdua lakukan. Beruntung ada Marvel yang refleks segera menutup kedua mata Juliet menggunakan tangannya.


“Maaf Juliet sayang, tapi adegan ini hanya untuk orang dewasa!”


“Paman Marvel, apakah ini bentuk dari balas dendam karena dulu paman juga diperlakukan seperti ini saat kecil? Hmmm!!!”


Marvel tertawa geli mendengar ocehannya, sementara Keiko yang melihat hanya tersenyum mencubit perut suaminya.


“Au, sakit” ucapnya gemas sembari mengecup pipi Keiko. “Tunggu saja pembalasan dariku malam ini!” tanpa menarik bibirnya yang masih menempel di pipi, Marvel beralih mengecup bibirnya sesaat sebelum perhatiannya kembali ke dua orang yang tengah bermesraan.


***


Davien menyudahi ciumannya kemudian mengusap bibir Bunga yang basah menggunakan ibu jarinya. “Benarkah ini bukan mimpi kalau kau menerima lamaranku?”


“Kalau begitu haruskah aku membangunkanmu agar kau sadar kalau ini bukan mimpi?” sahut Bunga.


“Jangan sayaaang! Sekalipun ini benar-benar mimpi, aku berharap tidak akan pernah bangun dan memilih tidur untuk selamanya!” Davien mengecup sekilas bibirnya.


“Hei Davien!! Sudahi kemesraan kalian!! Kau tidak kasihan padaku ha? Lihatlah kemari... sampai kapan aku harus menjaga kesucian mata Juliet agar tidak ternoda oleh tingkah kalian berdua. Apa kalian lupa kalau aku dan Keiko baru saja menikah? Kenapa jadi kalian yang terlihat seperti pengantin baru??” saru Marvel menyuarakan isi hatinya.


Haha.... Davien tertawa puas melihat Marvel sengsara karena ulahnya. “Bagaimana kalau malam ini biarkan aku berdua dengan Bunga. Untuk Juliet aku titipkan dia pada kalian berdua?”


“Sial! Turun kau!! Kita duel saja sampai pagi satu lawan satu!”


Semua orang dibuat tertawa dengan pertengkaran mereka berdua seperti anak SMA.


Sementara itu saat mereka berdua terus mengoceh perhatian Juliet mulai teralihkan pada sosok lelaki yang tengah berjalan menuju ke ujung kapal tepat di atas anjungan. ‘Eh? Paman yang waktu itu, kan?’ batinnya. Entah apa yang dilihat karena lelaki itu hanya berdiam diri menatap jauh ke depan, tak sedetik pun pandangannya teralihkan. Wajahnya tampak pucat sama seperti sebelum-sebelumnya setiap Juliet melihat lelaki itu. Benarkah lelaki itu nyata atau hanya ilusi Juliet, karena dari raut wajahnya yang putih pucat lelaki itu tampak seperti mayat hidup. Juliet mulai penasaran dengan apa yang sedang dilihat olehnya.


Untuk memastikan akhirnya Juliet mengalihkan pandangannya menatap jauh ke depan tepat di mana lelaki itu menatap. Tidak ada apa pun di sana, bahkan sinar rembulan telah menghilang tertutup awan. Hanya kegelapan yang bisa dilihat dengan mata telanjang, jelas saja karena di depan sana tepatnya di tengah laut tak ada cahaya sedikit pun yang membantu penglihatan.


“Juliet kita harus masuk, udara semakin dingin di sini sayang” ucap Bunga yang baru saja datang menghampiri.


“Kemari sayang!” Davien mengulurkan kedua tangannya, bermaksud menggendong putrinya.


Juliet menurut, tepat saat berada di gedongan, matanya kembali mencari sosok lelaki itu tapi ternyata dia sudah tak ada di sana, lelaki itu telah menghilang. Pandangannya menyapu setiap sisi kapal tapi tak ada sedikit pun jejak yang tertinggal untuk mencari keberadaannya. Mungkinkah ini hanya ilusi? Sejak terakhir Juliet mimpi aneh bertemu dua lelaki di dalam mimpi, sepertinya Juliet lebih sering berhalusinasi. Juliet terlelap dengan mudah dalam gendongan.


Mereka berdua melangkah perlahan pergi sambil bergandengan tangan membawa kebahagiaan bersama dengan mereka.


“Aku sangat bahagia malam ini!” Davien mengecup punggung tangannya. “Katakan padaku Bunga, apa permintaanmu pada bintang jatuh malam itu!”


“Uhmm... aku ingin selamanya bersama denganmu!”


“Waaah... serius? Kenapa permintaan kita bisa sama?” sahut Davien.


“Benarkah?”


Jelas, karena pada dasarnya semua orang akan meminta hal yang sama dengan mereka, untuk bisa hidup bersama dengan orang yang mereka cintai.

__ADS_1


~Bab selanjutnya side story


__ADS_2