Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#95 mencari bukti


__ADS_3

Tangan barack menopang tubuhnya pada daun pintu kamar, dan satunya lagi masih memegang erat gagang pintu.


Membungkuk menyandarkan kepalanya ke pintu menikmati segala rasa gundah dan gelisahnya.


"Luna??" suara barack terdengar rendah dan serak kali ini.


"Aku tidak akan memaksamu, tapi bolehkah aku mengucapkan selamat malam terlebih dulu?" ucapnya dengan suara berat.


Barack menghela nafas panjang berharap jiwanya bisa tenang ketika kesedihan ikut hilang bersama hembusan angin yang keluar dari dadanya.


Dari seberang pintu nampak luna sedang bersandar membelakangi pintu kamar.


Mendengar ucapan barack yang terdengar menenangkan tapi seperti menusuk nusuk meninggalkan bekas luka di dalam dadanya.


Luna membalikkan tubuhnya dengan pelan, meraih gagang pintu dengan ragu.


Namun dia tidak sanggup menolak keinginan laki laki yang sedang menunggunya di seberang pintu lainnya.


Luna menghela nafas meyakinkan dirinya sebelum membuka pintu dan menemui barack.


Ketika pintu telah di buka dengan pelan, luna melihat raut wajah barack yang begitu menyedihkan, kesedihan, kegelisahan, frustasi bercampur menjadi satu menyelingkupi tubuhnya.


Barack melangkah maju, namun saat itu juga luna telah melangkah mundur menjauh dari pintu.


Barack sadar akan hal itu. Barack menyeringai menertawai dirinya sendiri saat luna memeperlakukan dirinya seperti seorang penjahat.


"Oke aku tidak akan melangkah maju lagi" ucapnya menenangkan luna.


"Jadi bisakah kamu tidak menjauh dariku" tambahnya dengan nada menuntut.


Wajah luna terlihat tegang, dia menggeleng pelan karena tidak bisa memenuhi keinginan barack.


"Lalu bagaimana caraku mengucapkan selamat malam padamu" tanyanya dengan penuh harap.


"Katakan saja, aku masih bisa mendengarnya" luna berucap dengan santai namun terdengar menyakitkan.


Barack terkekeh pelan.


"Jangan menguji kesabaranku luna" barack berhenti berucap seolah sedang memberi waktu kepada luna untuk memikirkan ucapannya.


"Jangan memaksaku untuk berbuat kasar denganmu" terusnya dengan dengan nada mengancam.


"Silahkan" luna tersenyum sengit ke arah barack sebelum melanjutkan ucapannya.


"Aku yakin kamu tidak mampu melakukannya" ucapnya tanpa keraguan sedikit pun kali ini.

__ADS_1


Barack kembali terkekeh sambil bertolak pinggang dengan salah satu tanganya dan satu tangannya lagi memijat kecil keningnya saat mendengar ucapan luna yang terdengar seperti menantang dirinya.


"Kenapa?, , apa tebakanku benar?" terusnya dengan nada angkuh.


Barack tersenyum.


"Oke!! kali ini kamu menang, anggap saja karena hari ini hari keberuntunganmu karena baru saja sadar dari tidur panjangmu" barack tersenyum nakal ke arah luna.


"Namun tidak akan ada lain kali!!" ucapan barack terdengar seperti ancaman bagi luna.


Luna menelan ludah dengan susah payah.


"Apa sudah cukup waktu yang aku berikan padamu untuk mengucapkan selamat malam!!" nada bicara luna terdengar sangat menjengkelkan seperti meminta barack untuk segera pergi dari hadapannya.


Barack hanya diam mengawasi wajah luna sambil berfikir bagaimana caranya mencuri kesempatan untuk menggoda luna.


Sementara luna mulai tak sabar hingga menutup pintu kamarnya.


"Tunggu!!" sela barack.


Luna menghela nafas, dia pun membuka pintunya kembali sebelum sempat tertutup rapat.


"Apa lagi!!" tanyanya dengan galak seolah dia mendesak barack untuk cepat menyelesaikan urusannya.


"Aku butuh bantal dan selimutku" ucapnya berusaha mengulur waktu untuk lebih berlama lama dengan istrinya.


Matanya kembali melihat ke arah barack, keningnya berkerut seolah tak ingin barack mengambil ke dua barang itu darinya.


"Kalau kamu keberatan aku memakai yang di atas ranjang, bolehkah aku masuk untuk mengambilnya sendiri di dalam almari?" ucap barack seolah dia bisa membaca isi pikiran luna, dia juga mendesak luna untuk mengijinkan dirinya melangkah masuk ke dalam kamar.


Luna tidak punya pilihan lain selain mengijinkan barack untuk mengambil sendiri ke dua barang tersebut.


Luna menggeser tubuhnya memberi jalan kepada barack untuk masuk ke dalam kamar.


Mata luna terus mengawasi langkah barack sementara tubuhnya tetap berada di samping pintu untuk berjaga jaga.


Barack berjalan ke arah almari sambil tersenyum lebar, dia mengambil bantal dan juga selimut dari dalam almari dan di tumpuk menjadi satu untuk memudahkan dirinya membawa ke dua barang itu.


Langkahnya terhenti di depan luna yang sedari tadi tak pernah mengalihkan pandangannya ke arah lain karena selalu fokus ke pada barack.


Barack menghadapkan tubuhnya ke arah luna.


"Aku lupa harus menggosok gigiku dan mencuci wajah sebelum tidur, , jadi bisakah aku"


Luna mendengus kasar, memaksa barack menghentikan ucapannya.

__ADS_1


"Cepat lakukan apa pun yang kamu inginkan setelah itu lekas ke luar dari sini" ucapnya kemudian.


Barack mendorong bantal dan selimut ke arah tubuh luna hingga memaksanya untuk membantu membawakan dua barang itu ketika barack akan masuk ke dalam kamar mandi.


Luna berdecak jengkel dengan terpaksa dia membantu barack membawa bantal dan selimutnya.


Lumayan lama barack berada di dalam kamar mandi, hingga membuat luna jenuh dan hampir berteriak memanggil namanya.


Namun belum sempat berteriak, barack terlebih dulu keluar dari kama mandi.


Barack menipiskan bibirnya sambil berjalan ke arah luna, membungkuk untuk mengambil bantal dan selimut dari tangan luna yang barada jauh di bawahnya.


Ke dua tangannya memang sudah meraih bantal dan selimut namun dia belum mengambil alih dari tangan luna.


Luna menunduk menghindari tatapan mata barack yang terlalu dekat saat berusaha nengambil dua barang dari tangannya.


Barack meniup pelan wajah luna hingga memaksa untuk menutup ke dua matanya karena terpaan angin dari mulut barack.


Dengan begitu barack bisa mendaratkan sebuah kecupan lembut di bibir luna di saat dia lengah.


Dengan cepat luna membuka matanya hingga membulat penuh ketika barack berhasil mengecup bibirnya.


Barack tersenyum lebar.


"Satu kosong" ucapnya penuh kemenangan sambil berjalan keluar dari kamar, meninggalkan luna sendiri sesuai keinginannya.


Barack tahu, dia tidak mungkin memaksakan kehendak pada istrinya itu, jadi sementara dia lebih memilih untuk bersabar.


Mata luna mangerucut sambil mengawasi ke arah barack, berharap dia segera menjauh dari pintu kamarnya.


Dan ketika melihatnya menjauh berjalan ke arah ruang tv barulah luna menutup pintunya.


Luna memutar tubuhnya membelakangi pintu dan menyandarkan dirinya di sana.


Sementara matanya memandang luas di setiap sudut ruangan, dia mulai melangkahkan kakinya menyusuri setiap sudut mencari segala sesuatu yang bisa membuktikan kalau dirinya kini sudah bersetatus menjadi istri barack.


Entah apa yang sedang dipikirkan oleh luna namun dia tidak begitu saja percaya dengan ucapan cici.


Sejenak dia memaku tubuhnya.


"Mana mungkin cici berbohong padaku tentang masalah serius??, , , tapi tidak apa lah kalau bisa menemukan bukti lain kan bisa lebih meyakinkan kalau mereka memang tidak berbohong!"


Luna meneruskan kegiatanya membuka setiap laci, membuka setiap lapisan baju siapa tahu barack menyimpannya di bawah baju yang sudah tertata rapih.


Luna tidak menemukan apa pun hampir di setiap tempat yang sudah di obrak abriknya.

__ADS_1


Bahkan dia tak menemukan sehelai baju miliknya di almari kecuali di dalam tas yang baru hari ini di bawa oleh barack setelah membawanya pulang dari rumah sakit.


__ADS_2