
“Ibu?” Juliet menerobos masuk ke ruang inap. Ibunya terbaring di ranjang terpasang sepang infuse di tangan kirinya. Juliet sangat mengkhawatirkan keadaan ibunya, untuk pertama kali dia melihat perempuan itu terbaring lemah. “Ibu bagaimana keadaanmu?” matanya merah dan berkaca.
Mendengar suara putrinya, Bunga terbangun perlahan membuka mata. “Sayang? Kau sudah ada di sini?” dia tersenyum mengulurkan tangan kanannya yang langsung disambut oleh Juliet dengan melekatkan wajah ke telapak tangan ibunya.
“Iya, ini Juliet, Bu?” gadis itu tak bisa lagi menahan tangis kala melihat buliran air mata keluar dari ujung mata ibunya kemudian mengalir jatuh.
Huuaaaa.... tangisnya semakin menjadi.
“Juliet kenapa kau menangis?” sahut Aileen yang duduk di sofa bersama dengan Laura. Mereka berdua menemani Bunga selama persalinan begitu juga dengan Davien tetapi lelaki itu sudah pergi terlebih dulu setelah istrinya melahirkan.
“Nenek... Ibu, berita di media sosial tentang perusahaan ayah apakah semua itu benar?” Juliet mengusap matanya yang basah.
Bunga menghela nafas panjang setelahnya menganggukkan kepala. “Iya sayang semua itu benar, perusahaan ayahmu sedang berada di ujung tanduk!”
“Lalu... di mana ayah sekarang? Apa dia baik-baik saja?”
“Tenang Juliet... ayahmu baik-baik saja. Setelah Ibu melahirkan ayahmu segera pergi ke kantor karena mendapat panggilan dari James. Dia mengatakan ada investor yang akan membantu perusahaan ayahmu... jadi kau harus tenang sayang” ucap Bunga dengan lembut dan penuh perhatian.
“Benarkah?” Juliet masih belum percaya.
“Uhm! Benar Juliet... ibu tidak pernah berbohong padamu.”
“Jadi ayah pergi setelah Ibu melahirkan? Eh....” Juliet baru sadar kalau perut ibunya terlihat rata. “Tunggu!! Di.dimana perutmu Bu? Kenapa bisa rata apa bayinya hilang?” ucapnya panik.
Hahahaha.... kedua neneknya tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Juliet. “Bagaimana mungkin bayinya hilang Juliet? Ibumu sudah melahirkan, tentu saja perutnya jadi rata” jelas Laura.
“Oh iya, lalu Nek di mana sekarang bayinya?”
“Adikmu dibawa ke kamar sebelah. Kata Dokter dia harus berada di sana minimal dua sampai 3 jam! Apa kau ingin melihatnya?” tanya Aileen.
Juliet terdiam lalu melirik kearah ibunya yang sedang tersenyum mengangkat kedua alisnya. Bunga tahu benar kalau Juliet sempat cemburu mendengar ibunya hamil karena takut semua kasih sayang yang dia peroleh akan pindah kepada adiknya. “Tidak! Bagiku yang terpenting ibu baik-baik saja itu sudah cukup!” jelas Juliet berucap seperti itu, tidak mungkin baginya mengakui kalau dia benar-benar ingin melihat wajah adiknya.
Ghm! Bunga berdehem mencairkan suasana, sembari menahan senyum dia kemudian berucap. “Kau memiliki adik lelaki yang sangat tampan seperti ayahmu... dia benar-benar imut. Ibu sudah tidak sabar ingin segera menggendong Sean.”
“Eh... siapa itu Sean?” Juliet kebingungan.
“Sebastian Sean Fladimer... dia adalah adikmu!”
‘He? Hah! Dia bahkan memiliki nama sama denganku!’ gumam Juliet dalam hati. Melihat ibunya sangat gembira Juliet sangat penasaran dengan wajah adiknya. Di mana semua orang mengatakan kalau bayi itu sangat tampan. “Hallo?” Juliet pura-pura mengangkat panggilan, sebagai alasan agar bisa keluar dari kamar itu. “Maaf Bu, aunty Rebecca menghubungiku... aku akan keluar sebentar!”
“Iya sayang.”
“Halo aunty! Iya-iya baiklah... aku di rumah sakit!” Juliet bergegas keluar. Setelah berhasil menutup pintu Juliet langsung menjauhkan ponsel dari telinganya. “Sudah aman, kan? Aku yakin mereka tidak curiga!”
Juliet berjalan penuh waspada memperhatikan keadaan sekitar saat menuju ke kamar bayi. Hanya untuk berjaga-jaga kalau tak ada seorang pun dari pihak keluarganya yang akan melihat dirinya masuk ke dalam ruangan.
Setelah dirasa aman Juliet pun membuka pintu dan masuk ke dalam. Tapi tiba-tiba ada seorang perawat menghentikannya.
“Mmaf, tapi kau tidakbolh masuk ke dalam!” sahut perawat itu.
‘Astagaa!!! Menyebalkan!’ Juliet kemudian mengangkat kepalanya. Saat itu juga dia langsung menggunakan pesonanya untuk merayu suster demi bisa bertemu dengan Sean. “Ayolah suster aku mohon izinkan aku masuk sebentar saja ya!” Juliet terpaksa berakting manja, sembari menyandarkan kepala di bahu suster tersebut.
Seharusnya Juliet tidak perlubertingkah sampai sejauh itu karena kebetulan putri dari suster itu adalah penggemar berat Juliet. “Bukankah kau Juliet?” ucapnya.
__ADS_1
“He?” refleks Juliet berdiri menegakkan tubuhnya. “Oh, i.iya benar aku adalah Juliet!”
Suster kemudian mengeluarkan ponsel miliknya. “Mmm... bolehkah aku meminta fotomu?” suster itu berucap dengan manis. “Sebenarnya putriku sangat mengidolakan dirimu. Dia pasti senang kalau tahu aku bertemu denganmu saat ini. Jadi apa kau kebetaran jika aku mengambil fotomu?”
“Tidak, tapi suster... maukah kau bekerja sama denganku?”
“He??”
***
Akhirnya negosiasi dengan suster berjalan lancar. Juliet membiarkan suster itu mengambil foto dirinya sebanyak mungkin asalkan dia mau berjanji untuk mengizinkan Juliat masuk ke dalam.
Tidak hanya itu karena ternyata Julet juga meminta suster agar tidakmenceritakan kepada keluarganya kalau dia masuk ke dalam ruang bayi.
“Beruntung sekali susternya bisa diajak kerja sama!” gumamnya. Setelah menutup pintu, Juliet bergegas mencari keberadaan Sean.
Ada beberapa bayi di sana maka dari itu Juliet harus mau membaca satu persatu papan nama yang di setiap tempat tidur. Dimulai dari yang paling terdekat.
“Bukan ini!” Juliet harus hati-hati karena jika tidak keberadaannya akan mengganggu para bayi yang sedang terlelap.
Beberapa papan nama telah dia baca tapi belum juga menemukan nama adiknya di sana. “Sebas... eh, Sebastian Sean?? Waah akhirnya aku menemukan bayi kecil ini!” Juliet menggertakkan giginya. Seperti seekor rubah yang siap memangsa.
“Kita lihat apakah benar yang ibu katakan kalau Sean memiliki wajah tampan seperti ayah! Halah... semua orang juga tahu kalau bayi pasti memiliki wajah imut! Semoga saja keimutan Sean si calon perebut takhta nanti tak seimut wajahku saat kecil!” Juliet terus bergumam, meluapkan kekesalannya.
Perlahan tangannya membuka jaring yang digunakan untuk melindungi bayi karena sinar lampu di ruangan itu sengaja dibuat terang.
“Astaga! Astaga... bagaimana bisa ini terjadi?” matanya berbinar saat melihat wajah Sean si bayi imut dan sangat menggemaskan. “Kenapa dia sangat menggemaskan, ya Tuhan aku bisa mati berdiri kalau terlalu lama menatapnya! Oh ya ampun dia benar-benar bayi terimut yang pernah aku lihat!” tanpa sadar Juliet mengambil foto Sean dari berbagai segala arah.
Momen yang tak pernah terbayangkan bagi Juliet adalah ketika Seam yang sedang terlelap mulai terbangun. Dalam keadaan mata masih terasa berat untuk dibuka, Sean si bayi kecil itu memaksa terus membuka mata. Momen itu terlihat sangat lucu, belum lagi kini yang terlihat hanya matanya yang berwarna putih, menandakan jelas kalau Sean masih sangat mengantuk.
Belum lagi ketika menguap, mulutnya yang mungil merah merona itu membuka kemudian membentuk huruf O disertai kedua tangannya yang ternungkus sarung tangan mulai mengusap wajahnya secara acak.
“Ya ampuuun! Sean kau sangat menggemaskan sekali!” saking gwmasnya Juliet sampai ingin menggigit pipinya yang gembil seperti anak bakpao. “Iiiihhh!!!! Yes! Yes! Yes!” Juliet melompat kegirangan karena berhasil mengabadikan wajah Sean yang begitu menggemaskan.
Saking bahagianya dia sampai lupa di mana kini dia berada. Suara hentakan kaki dan tawanya seketika membangunkan semua bayi yang tengah tisur pulas.
Ooeee! Ooeee!
“Mampus!” Juliet harus segera pergi jika tidak maka dia akan tertangkap oleh suster di sana.
***
Hah! Hah! Hah! Nafasnya terengah-engah akhirnya Juliet kembali ke ruang inap di mana ibunya berada. Kedatangannya yang secara tiba-tiba mengejutkan seluruh orang yang ada di ruangan itu.
“Astaga Juliet? Kenapa nafasmu sampai ngos-ngosan seperti itu sayang?” ucap Davien.
Mendengar suara ayahnya, perhatian Juliet langsung tertuju kepada Davien “Ayah?” langkahnya cepat menuju ke lelaki yang duduk di tepi ranjang. Juliet langsung memeluk ayahnya dengan erat.
“Julietku,” Davien membalas pelukannya lalu mendaratkan sebuah kecupan di kepala putrinya. “Kenapa denganmu Juliet? Kau memeluk Ayah seperti sudah lama tidak bertemu?”
“Aku hanya merindukan Ayah, bagaimana kabarmu hari ini, Ayah? Apa kau baik-baik saja?” Juliet merasakan kesedihan lagi setelah mengingat berita di media sosial.
Davien tahu jelas kalau putrinya itu sedih setelah melihat kabar berita mengenai perusahaannya. Perlahan tangannya mengangkat wajah Juliet yang tertunduk. “Apa yang kau pikirkan Juliet? Kau tidak perlu sedih seperti ini. Tenang saja semua permasalahan mengenai perusahaan Ayah yang diberitakan itu sudah teratasi.”
__ADS_1
“B.benarkah? Apa Ayah tidak bohong?”
“Kenapa Ayah harus berbohong padamu? Tadi James sempat menghubungi Ayah, dia bilang ada investor yang ingin bertemu dengan Ayah. Dia adalah Tuan Volker... katanya dia siap membantu permasalahan yang sedang dihadapi oleh perusahaanAyah!” jelasnya.
“Apa ayah serius?”
“Kau bertanya seolah meragukan ayahmu sendiri?!”
“Bukan begitu... hanya saja aku merasa buruk karena tidak tahu kalau Ayah sedang mengalami kesulitan.”
Semua terharu melihat kesedihan Juliet serta rasa peduli yang dia miliki terhadap ayahnya.
“Kau tidak perlu khawatir Juliet, kita semua baik-baik saja. Kau hanya perlu memikirkan pendidikanmu dan cita-citamu yang selama ini sudah kau bangun dengam susah payah!”
“Benar Julet, baik Nenek Laura maupun Nenek Aileen dan juga Kakek Davin kita semua mendukungmu. Apa pun yang terjadi nanti kau harus ingat kalau kita selalu ada untuk, Juliet!”
“Terima kasih Nek, terima kasih untuk kalian semua! Juliet sayang kalian.”
Semua orang tersenyum gembira, itu merupakan momen terindah meskipun harus berada di ruang inap. Ada satu lagi anggota keluarga baru yang belum ada di sana bersama mereka.
“Permisi?” seorang suster masuk ke dalam dengan membawa Sean yang sedang menangis.
Oooeee! Ooeee!
“Maaf Nyonya, sepertinya bayi Anda ingin menyusu. Sejak tadi dia terus menangis dan tidak mau berhenti.” Suster terus berucap menjelaskan apa yang terjadi di ruang kamar bayi.
Sementara itu tersangka dari kericuhan yang menyebabkan semua bayi menangis berusaha menjauh. Ketika semua perhatian semua orang tertuju pada Sean, dengan santai Juliet berpura-pura sibuk membalas pesan. Perlahan dia melangkah ke sisi lain menuju ke sisi ranjang lainnya.
Ternyata Juliet sedang melihat hasil jepretan wajah adiknya yang tersimpan di ponsel. ‘Wah... ada 326 hasil fotonya! Gila banyak sekali aku mengambil foto bayi itu! Haha... tapi terlalu sayang kalau aku harus memilih beberapa yang terbagus karena semuanya sangat menggemaskan....” Juliet terus sibuk dengan dirinya sendiri.
“Juliet sayang, kau tidak ingat melihat wajah adikmu? Kemarilah... wajah Sean sangat lucu” ucap Nenek Sileen.
Hehe.... “Tapi maaf Nek, biarpun Ibu melahirkan 1000 kali tetap saja tidak akan ada yang bisa menandingi keimutan wajahku saat bayi!” sahutnya.
Semua orang menagan tawa geli karena sikap cemburu Juliet yang terlihat jelas. Mereka rahu bahwa Juliet tidak benar-benar membenci Sean. Terlebih lagi Bunga, feelingnya mengatakan kalau putrinya itu justru sangat menyayangi adik laki-lakinya.
Dan itu memang benar adanya, Juliet tampak sibuk menatap setiap foto Sean yang tersimpan di galeri ponselnya.
Hihi.... Juliet tertawa setiap melihat ekspresi lucu Sean yang tertangkap kamera.
“Kenapa dengan putrimu itu?” tanya Davien yang duduk di samping istrinya.
“Entahlah, mungkin dia sedang asyik dengan dunianya sendiri!” Bunga menyandarkan kepala di bahu suaminya, sementara Sean sudah tidur pulas setelah perutnya terisi penuh dengan asi.
Davien tersenyum melihat keluarga kecilnya semakin utuh dengan kehadiran Sean. Tak ada lagi yang dia inginkan jika semua sudah ada di depan mata. “Kau juga harus istirahat sayang!” dia mendaratkan kecupan di kening Bunga begitu juga di kening Sean yang tidur di samping ibunya. Davien kemudian menghampiri Juliet yang ternyata tertidur sambil duduk di sisi ranjang.
Davien mengangkat Juliet lalu membawanya ke sofa. Tak lupa dia juga menghadiahi putrinya kecupan di kening. Melihat Juliet terlelap sambil menggenggam ponselnya, Davien berinisiatif mengambil ponsel itu. “Tidur nyenyak Julietku!”
Sebelum meletakkan ponsel milik Juliet di atas meja Davien sempat ingin melihat isinya. Tapi setelah melihat foto yang digunakan sebagai wallpaper ponselnya, Davien mengurungkan niat. Sempat dia terkekeh sebelum akhirnya meletakkan ponsel itu ke atas meja.
Ternyata Juliet memakai foto wajah Sean yang sedang menguap sampai mulutnya membentuk huruf O sebagai wallpaper ponselnya. Dari ratusan foto yang dia simpan, foto itu termasuk salah satu yang menjadi favoritnya.
End
__ADS_1