
"Roland!!, , lepas!" Bunga berucap denga tenang. Dia sama sekali tak terlihat gugup. Tetapi dadanya seakan telah merasakan sebuah ledakan bom waktu ketika Roland bertindak melewati batas.
"Maaf aku harus pergi dari sini"
"Kamu melupakan hadiahmu Bunga" Roland masih mencari cara untuk mengulur ulur waktu agar Bunga tetap berada di sana.
Bunga merasa bahwa Roland telah memperdayainya.
"Apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan Roland??"
Tanpa dipaksa akhirnya laki laki itu melepaskan Bunga.
"Kamu baru menyadarinya??" senyumnya terlihat sinis. Menatap rendah kepada Bunga yang sedang berbenah diri karena kaosnya sempat berantakan akibat Roland memaksa untuk mendekap perempuan itu.
"Apa yang ingin kamu lakukan!" Bunga menatap waspada ke arah Roland. Dia berjalan perlahan mundur menjaga jarak dari Roland.
Laki laki itu masih tersenyum. Langkah kakinya perlahan maju mendekati Bunga. Tubuhnya terpaku ketika Bunga sudah tak bisa lagi melangkah mundur karena membentur sofa yang ada di belakangnya hingga akhirnya perempuan itu jatuh terduduk di sana.
Nafasnya memburu seketika, keningnya berkerut melihat sinar mata Roland yang sangat terlihat berbeda dari biasanya.
Laki laki itu semakin mendekat. Setelah berdiri tepat di depan Bunga, dia membungkuk menggunakan kedua tangannya yang bertumpu di sofa ketika mendekati Bunga. Roland mendekatkan tubuhnya hingga perempuan itu bergerak kebelakang menjauh.
"Roland!!, biarkan aku pergi dari sini. Apa sebenarnya yang ingin kamu lakukan?"
Seringaiannya semakin melebar memenuhi wajah.
"Karena sepertinya kamu sudah tahu. Aku tak perlu berbasa basi lagi denganmu!!" Roland menggerakkan kepalanya mendekati Bunga hinga kini jarah di antara wajah mereka sangatlah dekat.
"Ada apa denganmu sebenarnya??, , kenapa Roland?, kamu sengaja menggunakan hadiah sebagai alasan membawaku kemari??" matanya menyelidik ke arah mata Roland. Lak laki itu seakan sedang melihat mangsa yang siap untuk diterkam.
"Ya!, , aku memang sengaja melakukannya!"
__ADS_1
"Kenapa?, , untuk apa!" Bunga berani menatapnya tajam.
Dalam sekejap raut wajahnya berubah mengerikan, laki laki itu dipenuhi dengan aura gelap dan ekspresi wajah yang tak terbaca.
"Untuk apa lagi??, , membawa seorang perempuan ke hotel dan hanya berdua dengannya" Roland mendorong kepalanya semakin mendekat. Sementara Bunga menerik kepalanya kebelakang untuk menjauh.
"Selain untuk tidur denganku!! apa lagi memang yang bisa aku lakukan selain itu" Roland berucap tanpa ada rasa ragu. Salah satu tangannya telah meraih rambut Bunga dan memainkannya, laki laki itu sengaja menggoda, berusaha agar Bunga jatuh kedalam dekapannya.
Matanya membulat penuh. Dadanya terasa memanas dan tiba tiba sesak bersamaan dengan nafasnya yang memburu, sementara kedua tangannya kini tengah berusaha menahan agar laki laki itu tak semakin mendekat.
"Seperti ini kah wajah aslimu yang sebenarnya!!, , aku sempat berfikir bahwa kamu adalah laki laki yang berbeda. Tapi kenyataannya sama!!, laki laki brengsek dan tak berguna sama sekali" Bunga berucap dengan tenang namun penuh dengan tekanan. Berharap laki laki itu tahu bahwa Bunga sama sekali tak takut untuk melawannya. "Menyinggkir Roland!!" geramnya.
Laki laki itu terkekeh hingga kepalanya terdorong ke belakang.
"Apa kamu sudah gila Bunga!!, aku tak percaya bahwa kamu ternyata mudah sekali untuk di dapatkan!"
"Menyingkir Roland!!" Bunga dengan kuat mendorong laki laki itu ketika sedang lengah.
"Kamu tak akan bisa membukannya!" suaranya semakin terdengar mendekat.
Dengan cepat Bunga memutar tubuhnya. Membuat perisai untuk melindungi diri dengan kedua tangannya yang menyilang di dada.
"Roland berikan kuncinya!!" Bunga menaikkan sedikit nada bicaranya.
Laki laki itu tertawa keras hingga suaranya terdengar nyaring di rongga telinga.
"Aku sudah tidak ingin bermain main lagi denganmu Bunga! berhenti bertingkah dan jadilah perempuan penurut. Maka aku akan memperlakukanmu dengan baik"
"Roland!!!" Bunga berteriak mengancam.
"Berteriaklah sepuasmu!, , karena tak aka ada yang mendengarnya. Tapi aku harus mengingatkanmu. Lebih baik kamu simpan tenagamu itu. Berteriaklah nanti ketika aku sedang memberikan kenikmatan terhadap tubuhmu!" Roland membungkuk meraih kaki Bunga dan mengangkat perempuan itu ke atas pundaknya dengan paksa.
__ADS_1
Bunga meronta dan terus berulah, meminta agar Roland memelpaskannya.
"Roland aku mohon jangan lakukan ini!!, , lepaskan aku!!!"
BRUGH!!
Roland membuang tubuhnya ke atas ranjang, matanya seolah memperlihatkan betapa dirinya sangat kehausan dengan tubuh Bunga. Seolah perempuan itu seperti segelas minuman yang akan membantunya menghilangkan dahaga.
Bunga menyeret tubuhnya menjauh sampai ke ujung ranjang, tetapi Roland dengan cepat naik ke ranjang mendekat dan telah berhasil menarik kedua kakinya secara paksa hingga Bunga semakin lebih dekat dan terbaring di sana.
Roland membungkuk menggunakan kedua tangannya sebagai penyangga tubuh yang bertumpu di atas ranjang. Sementara laki laki itu kini berada di atasnya. Memberi jarak di antara tubuhnya dengan tubuh Bunga agar mempermudahkan dirinya ketika mengawasi serta menatapnya lekat. Pandangannya menelisik dengan lancang setiap jengkal tubuhnya.
Roland menggunakan kedua tangannya untuk mengunci kedua tangan Bunga di atas ranjang ketika perempuan itu berusaha bangun dan melawannya.
"Aku sudah memperingatkanmu untuk bersikap manis!! aku bisa saja berbuat lebih kasar jika kamu terus terus melawan!"
Bunga sudah tak bisa berbuat apa apa lagi, ketika berusaha untuk mendorongnya agar menjauh laki laki itu malah semakin kuat melawannya. Kilauan bening terlihat mencuat dari ujung matanya.
"Aku mohon!" suaranya terdengar parau. Tak tahu lagi bagaimana caranya membuat Roland mau melepaskan dirinya.
"Jangan Bunga!, jangan menohon saat ini. Memohonlah nanti ketika kamu sudah merasakan kenikmatan yang aku berikan kepada tubuhmu. aku yakin kamu pasti akan terus memohon kepadaku untuk melakukannya lagi dan lagi!"
Bunga menyipitkan matanya, menggertakkan gigi hingga rahangnya menguat ketika menahan amarah.
"Kamu benar benar sudah gila Roland! lepas!!!" Bunga mencoba melepaskan tangannya, tetapi cengkeraman tangannya semakin menguat hingga pergelangan tangannya memerah. Bunga ingin menjerit tetapi suaranya tersekat hingga tertahan di tenggorokan.
"Davien!!"
Hanya nama laki laki itu kini yang terbesit di benaknya. Bunga berulah menjejakkan kakinya untuk melepaskan diri. Tetapi percuma semua tenaga yang dia kerahkan untuk melawan tak sebanding dengan kekuatan laki laki yang kini sedang terbakar api hasrat penuh keinginan untuk bersetubuh dengannya.
"Aku sudah tak ingin bermain main denganmu!!" Roland mendorong tubuhnya mendekat, bermaksud ingin mengecup bibir Bunga yang terlihat menggoda tetapi perempuan itu menghindar hingga akhirnya kecupan mendarat di pipi. Roland tersenyum sinis ketika mendapat penolakan dari Bunga, Roland tak ingin mendapatkan penolakan lagi dia melepaskan kedua tangan Bunga kemudian merangkup dengan kuat rahangnya ketika mencium bibirnya secara paksa.
__ADS_1
Bunga memukuli pundaknya ketika meminta Roland menghentikan ciumannya yang semakin terasa ganas hingga terasa sakit di bibirnya. Tak ada hal lain yang bisa Bunga lakukan kecuali mendorong serta menjambak rambutnya agar Roland menjauh dan melepaskan ciumannya.