
Davien menoleh ke arah suara itu berasal. Dia terkejut ketika melihat Bunga berada di sana.
Perempuan itu mendekat meletakkan keranjang belanjaan kemudian mengambil jam tangan milik Davien.
Bunga mengembalikan jam tangan itu kepada pemiliknya.
"Pres Dir, , di sini tidak ada sisitem barter" Bunga meraih tangannya, memaksa Davien mengambil kembali jamnya.
"Aku yang akan membayarkan tagihanmu, anggap saja aku sedang mencicil uang yang Pres Dir berikan kemarin kepadaku"
Entah apa yang di bicarakan Bunga, Davien hanya diam tak mendengarnya, matanya masih menatap Bunga yang mengenakan pakaian santai. Kaos baby pink dengan celana panjang yang melekat di kaki mungilnya serta rambut yang di kuncir sembarang hingga sebagian anak rambutnya berantakan menutupi bagian leher.
Davien menelan ludahnya dengan susah payah, aroma tubuhnya semakin menyengat menusuk sampai ke dalam dada. Dia tak sadar kini tangannya telah bergerak dengan sendirinya merapihkan anak rambut itu ke bagaian telinga.
Bunga memaku tubuhnya, dadanya berdetak kencang saat jari Davien menyentuh telinganya.
"Pres Dir?" dia menoleh cepat, Bunga telah menggam tangannya untuk menghentikan Davien yang sedang menyentuh telinganya.
Davien tersadar dengan apa yang baru saja dia lakukan. Dia terperanjat saat kelembutan serta kehangatan tangan Bunga menjalar ke seluruh permukaan kulit hingga kebagian terdalam tubuhnya. Pipinya merona, kemudian menarik kembali tangannya, memutar tubuh dan segera beranjak pergi keluar.
Bunga terburu buru membayar tagihan belanjanya dan segera melangkah ke luar mengejar Davien.
Pandangannya menyelidik ke sekitar, mobil Davien pun masih terparkir di sana. Tetapi Bunga tetap tak menemukan laki laki itu.
Bunga tak mau ambil pusing akhirnya dia memutuskan untuk berjalan kembali ke rumah. Menyusuri trotoar kemudian gang sempit ketika menuju pulang.
Di sisi lain Davien yang sempat bersembunyi pun mengikuti Bunga dari arah belakang. Menyamakan langkah seperti langkah kaki Bunga. Entah apa yang sedang di pikirkan oleh Davien, tetapi kakinya bergerak sendiri mengikuti aroma wangi tubuh Bunga yang terbang terbawa angin. Seakan menghipnotisnya hingga tak sadar dengan apa yang sedang dia lakukan.
Davien mengikuti Bunga sampai ke depan rumah. Setelah perempuan itu masuk, Davien sedikit merasa lega bahwa perempuan itu telah sampai ke rumah dengan selamat.
Davien bergidik menyadarkan diri kemudian.
"Apa yang sedang aku lakukan!!!"
♡♡♡
Davien melangkah masuk ke dalam kamar, melepas hoddie dan melemparkannya sembarangan.
Laki laki itu membuang tubuhnya ke atas ranjang. Memejamkan mata mengingat kejadian memalukan yang sempat dia lakukan terhadap Bunga.
Seharusnya Davien bisa mengendalikan diri untuk tak menyentuhnya.
"Apa yang sedang aku pikirkan tadi? bisa bisanya"
Terlebih lagi ketika mengingat saat dirinya bersikap seperti seorang penguntit ketika mengikuti Bunga pulang ke rumahnya, Davien merasa seperti orang bodoh.
Dia mengusap wajahnya gusar. Matanya terbuka lagi menatap langit langit, kemudian menoleh ke samping. Tangannya bergerak membuka nakas dan mengambil boneka kecil berbentuk matahari dari dalam sana.
Davien menatap boneka kecil itu sembari mengingat teman lamanya. Ada senyum manis yang menghiasi bibirnya ketika mengingat kejadian masa lalu. Boneka itu selalu memberinya kedamaian, Davien menggenggamnya kemudian memejamkan mata memasuki alam mimpi.
♡♡♡
"Lepaskan aku Davien" Essie berucap dengan lembut.
"Ini sudah saatnya kamu harus melupakanku!, , mulailah membuka hatimu untuk orang lain" Essie tersenyum, tangan yang semula menggenggam dengan erat kini perlahan melepaskan tangan Davien.
"Ikhlaskan kepergianku" cahaya terang membuat penglihatannya berkurang, Davien sempat memejamkan mata karena silaunya. Dan kini saat kembali terbuka dia melihat wajah seseorang yang nampak tak asing di matanya, perempuan itu sedang tersenyum. Mata coklatnya nampak bercaha menerangi jiwa serta hatinya yang gelap semenjak kepergian Essie. Hatinya yang sempat dingin kini terasa sedikit menghangat.
Bayangan wanita bermata coklat itu kemudian menghilang perlahan berganti dengan bayangan gadis kecil. Ingatan di mana saat seorang gadis kecil itu memberinya sebuah boneka tiba tiba muncul.
__ADS_1
Setelah memberikan boneka matahari kepada Davien, gadis kecil itu tersenyum kemudian bayangannya semakin samar dan kembali menghilang kemudian perlahan berganti dengan wajah seorang perempuan bermata coklat yang tadi sempat menghilang. Perlahan wajahnya semakin terlihat jelas hingga Davien bisa memastikan siapa perempuan itu.
"Pres Dir!!" suaranya menggema di telinga, membuat Davien yang tengah tertidur lelap terbangun dari tidurnya.
Nafasnya memburu, keringat dingin pun terlihat membasahi keningnya.
Davien bingung, kenapa bisa perempuan itu tiba tiba muncul di mimpinya.
Laki laki itu mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian menghela nafas panjang mencoba menetralkan perasaannya yang gelisah.
Ujung matanya melirik ke boneka bunga matahari yang terlepas dari genggamanya. Setelah beberapa saat menatapnya, Davien meletakkan boneka itu ke atas nakas
♡♡♡
Selesai membersihkan ruangan, Bunga bermaksud beranjak keluar dari ruangan. Tetapi ujung matanya tertarik dengan hiasan kaca milik Davien.
Dia kembali melangkah mendekati hiasan itu, mendekatkan kepalanya untuk bisa melihat lebih dengan jelas bagian dalam. Senyum manis menghiasi bibirnya saat melihat boneka mungil seorang perempuan berambut coklat yang berada di dalamnya.
Bunga menggerakkan tangannya, dia ingin sekali menyentuh hiasan itu.
"Berhenti!!" suara berat itu terdengar tenang, namun tersirat sebuah amarah besar di dalamnya.
Suara dari arah belakang membuat Bunga memaku tangannya di udara. Dengan cepat dia menoleh dan memutar tubuhnya. Nafasnya memburu karena terkejut dengan Davien yang tiba tiba muncul.
Sorot matanya pun terlihat menajam menusuk sampai ke dalam dadanya.
Bunga bergerak menjauh, tak bisa di pungkiri saat itu dia benar benar ketakutan.
Davien mendekatinya membuat Bunga melangkah mundur ke belakang. Tubuhnya terpaku ketika tak bisa mundur lagi karena bifet di belakangnya. Davien menggunakan satu tangannya untuk mengunci Bunga agar tak bisa bergerak ke arah lain. Davien kemudian menunduk menatap wajah Bunga.
"Apa Loria tidak memberitahumu tentang apa yang boleh dan tidak boleh di lakukan di ruang kerjaku!!" ucapnya lambat dengan nada tenang, agar Bunga bisa mendengarnya dengan baik. Davien semakin bersemangat mengintimadasi Bunga ketika melihat rona ketakutan melingkupi tubuhnya. Bunga yang biasa berani menatap dan melawannya kini terlihat tertunduk ketakutan.
Bunga menghindari tatapan matanya, seolah menyadari kesalahan fatal apa yang telah dia perbuat. Pandangannya tertuju ke arah depan, Jantungnya berdegub kencang ketika melihat dada Davien tepat berada di depan matanya.
Bunga terganggu dengan aroma parfum Davien yang menyeruak ke dalam hidungnya. Karena hal itu semakin membuat jantungnya berdetak tak beraturan.
"Iya, , maaf Pres Dir. Loria sudah memberitahuku. Maaf sekali lagi aku minta maaf" Bunga membungkuk, kemudian berjalan melewati Davien keluar dari ruangan.
Davien menoleh ke pintu, matanya masih menatap ke arah sana. Merasa masih belum bisa menerima Bunga yang bersikap lancang.
Tak lama pandangannya tertuju ke arah sebuah coklat yang berada di atas meja. Davien melangkahkan kakinya kemudian duduk di kursi. Tangannya bergerak meraih coklat dan menatapnya sejenak sebelum menyimpannya di dalam laci.
♡♡♡
Setelah keluar dari ruang kerja, Bunga berusaha menghela nafas, mencoba mengontrol detak jantungnya yang sempat tak terkendali. Menepuk dadanya secara perlahan dan berulang ulang sembari berjalan menuju lift untuk kembali ke pantri.
"Tunggu!"
Seorang perempuan menghentikan langkahnya saat ingin melangkah masuk ke dalam lift. Bunga memalingkan wajah melihat Olive berjalan mendekatinya.
"Jadi, kamu OG yang melayani Pres Dir sekarang??" ucapnya dengan sinis.
"Iya, kenapa?" Bunga menjawabnya dengan nada menantang.
Matanya menyelidik ke tubuh bunga yang jauh lebih tinggi darinya.
"Jangan mencoba menggodanya!"
Bunga terkekeh mendengar ucapan Olive.
__ADS_1
"Jangan berfikir telalu jauh, aku datang kemari untuk bekerja bukan menggodanya!"
"Tidak ada yang tahu isi hatimu!, , orang sepertimu bisa saja mempunyai mimpi untuk berada di atas dengan cara cepat! sehingga menghalalkan segala cara untuk mencapainya dengan menggoda para bos besar"
Bunga mengepalkan tangannya berusaha mencoba menahan emosi yang terus ingin mencuat keluar dari dada. Dia lebih memilih diam dan pergi meninggalkan Olive, tetapi sepertinya usaha untuk menghindari pertikaian tak ada hasilnya karena Olive terus memancing amarahnya yang tertahan.
"Kamu pasti sudah menjual tubuhmu untuk mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan!"
plak!!
Bunga menampar wajahnya dengan keras hingga telapak tangannya sampai terasa panas.
"Jaga mulumut!!" geramnya.
"Jika memang aku menjual tubuhku itu tidak ada urusannya denganmu!! kenapa kamu selalu mencari masalah denganku! kamu merasa tersaingi dengan perempuan rendahan sepertiku? tenang saja aku bahkan tidak teetarik dengan Pres Dir di Perusahaan ini!!, , jika kamu memang menyukainya, kejar dia. Jangan menggangguku seperti ini!" Bunga berucap dengan bersungguh sungguh, dia hanya ingin bekerja untuk menyambung hidup bukan untuk mencari masalah seperti ini.
Olive terdiam, menikmati rasa panas yang menjalar ke permukaan kulitnya.
"Kamu berani menamparku!!" Olive mengangkat tangannya bersiap membalas tamparan yang di berikan oleh Bunga.
"Hentikan Olive!!" Davien yang baru saja keluar dari ruang kerjanya, kini telah di buat jengkel dengan pertengkaran dua karyawannya.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" ucapnya kepada Olive.
"Pres Dir, , dia menamparku!" Olive mencari pembelaan di depan Davien.
Davien menatap tajam ke arah Bunga, sementara perempuan itu memalingkan wajah karena sudah merasa yakin bahwa Davien pasti akan menyalahkannya.
"Tidak akan ada asap jika tidak ada api!!, , " pandangannya kembali kepada Olive.
Bunga yang sempat merasa sesak di bagian dadanya karena berfikir Davien akan menyalahkannya, kini merasa lega karena laki laki itu ternyata berpihak kepadanya.
"Pres Dir!, , kamu lebih membelanya" Olive melirik jengkel ke arah Bunga.
"Kembali ke ruanganmu!, , bukankah ini jam kerja?, , kenapa kamu berkeliaran di luar!" Davien berucap dengan tegas, tidak ingin bersikap manis di depan para pegawainya yang telah melanggar peraturan.
Olive sempat menatap sengit ke arah Bunga sebelum khirnya pergi kembali ke ruang kerjanya.
"Pres Dir" ucap Bunga menghentikan langkah Davien, saat laki laki itu beranjak pergi meninggalkannya.
"Maaf" Bunga berucap dengan bersungguh sungguh.
Laki laki itu menghentikan langkahnya lalu menoleh. Dahinya berkerut ketika mendengar ucapannya.
Bunga hanya ingin menjalin hubungan baik antara atasan dan bawahan seperti pada umumnya. Dia ingin meminta maaf agar Davien tak lagi membencinya.
"Maaf soal kejadian waktu itu"
Davien tak bergeming, dia malah mengeluarkan dompet dan mengambil selembar uang.
"Aku tidak ingin punya hutang denganmu. Ambillah aku kembalikan uangmu"
"Untuk coklat itu??" Bunga berucap untuk memastikan.
"Aku" belum selesai berucap Davien pergi meninggalkannya.
"Pres Dir??" Bunga berusaha menghentikannya. Dia ingin mengejar Davien untuk mengembalikan uanganya tetapi laki laki itu tetap berjalan menjauhinya.
"Bunga!" Roland memanggilnya,membuat perempuan itu berhenti mengejar Davien.
__ADS_1
Sementara Davien yang mendengar suara Roland langsung memaku langkahnya. Menoleh dan melihat ke arah Bunga yang sedang bercakap dengan Roland.
Davien kemudian menghampiri Bunga meraih tangannya dan menyeret perempuan itu masuk ke dalam ruang kerjanya.