
David terlihat sedang memainkan ponselnya di halaman belakang. Sesekali dia nampak menghela nafas kasar karena lengannya terasa nyeri. Itu akibat dia terlalu memaksakan saat tadi berusaha menggoda Aileen.
Dahinya berkerut ketika mendapat panggilan dari Ius.
"Halo?" Laki laki itu memutar kepalanya, merenggangkan otot di sekitar leher yang terasa kaku.
"Maaf PresDir mengganggu waktu istirahat Anda. Ada beberapa bekas yang harus di tanda tangani" suara Ius terdengar tenang dari seberang sana.
"Haruskah malam ini?"
"Maaf PresDir, , kalau malam ini anda sibuk, saya akan mengantar berkas itu besok"
David segera memutus panggilannya.
Dreett dreett!!
Laki laki itu menyelidik lagi kearah ponselnya, dan kali ini dia mendapatkan panggilan dari Mamahnya.
"Halo Mah?"
"Sayang, , apa Aileen ada di rumahmu??" dari suaranya, Luna terlihat sangat khawatir. Ketika pulang dari luar negeri dia tidak mendapatkan Aileen berada di sana. Sementara Iris sudah terlelap dan para pelayan berada di kamar mereka masing masing.
"Iya, dia ada di kamar sedang menyelesaikan pekerjaannya" David mulai melangkah perlahan menuju pintu.
"Aileen bekerja?"
"Tidak Mah, dia bilang hanya ingin mencoba keberuntungan, ,aku sudah menyuruh Aileen untuk membawa desainnya ke kantor Mamah. Tapi dia menolak dengan alasan karena malu" David telah menginjakkan kakinya di dapur, dia membuka kulkas dan mengeluarkan sebotol air mineral.
"Malu??, , sama Mamah??" Luna terkekeh senang di seberanh sana.
"Mamah dengar dari kepala pelayan kamu terluka?, , bagaimana dengan lukamu?"
David hampir tersedak minuman yang masih tertahan di tenggorokannya.
Dian pun terbatuk batuk.
"David kamu baik baik saja??"
"Iya mah, hanya tersedak minuman, aku tidak apa apa, , aku sudah menemui Dokter Brian"
"Ya sudah kalau kamu baik baik saja, Mamah lega mendengarnya. Sudah hampir larut malam, kamu istirahat ya"
"Iya" David memutus panggilan. Dia melangkah masuk menuju kamar. Matanya melihat Aileen yang sudah terlelap di atas ranjang.
David berjalan mendekat, perempuan itu tertidur dengan posisi berlawanan dengan arah ranjang. Bahkan laptopnya pun masih menyala.
David menyelidik ke layar digital itu. Dia menyimpan file milik Aileen kemudian menutupnya. Meletakkan Laptop di atas meje.
David duduk di samping Aileen, menatap wajah polos yang sedang memejamkan matanya.
Tangannya bergerak meraih pipi Aileen, mengusap lembut dengan punggung jarinya.
Tidak ada rasa bosan sedikit pun ketika memandangi wajah manis itu. David merebahkan tubuhnya di samping Aileen, dengan perlahan agar tidak menimbulkan gerakan di ranjang yang akan mengganggu perempuan itu.
__ADS_1
David mengangkat kepala Aileen, dengan hati hati meletakkannya di atas lengan yang tak terluka, sengaja memakai lengannya sebagai bantalan untuk Aileen saat tidur.
Dia terkejut ketika perempuan itu menggerakkan tubuhnya, Aileen kini meringkuk menghadap ke arah tubuh David seolah mencari kehangatan di sana.
Dia menggerakkan kepala mencari kenyamanan, kemudian memendam wajahnya ke dada David. Seolah mengenal aroma harum itu, Aileen yang terlelap semakin mendorong tubuhnya merapat hingha tak berjarak dengan tubuh laki laki itu, sementara satu tangannya lagi tengah memeluk Aileen.
David tersenyum, mengecup ujung kepala Aileen, kemudian memejamkan matanya.
♡♡♡
Paginya David yang masih terpejam mulai terganggu dengan aroma kopi yang merebak di sekitar ruang kamar. Matanya mulai terbuka sedikit demi sedikit, dan membulat penuh ketika tak mendapatkan Aileen di sisinya.
David mengusap wajahnya gusar, dia bergegas beranjak dari ranjang, mempercepat langkahnya menuju dapur.
"Kamu tidak membangunkanku?" suara berat itu seketika menarik perhatian Aileen, hingga perenpuan itu mengalihkan pandangannya ke David yang baru saja bangun.
"Maaf aku harus bergegas pergi" Aileen melepaskan celemek, lalu menyiapkan sarapan untuk David di atas meja.
"Pergi??, , lalu aku bagaimana?" raut wajah David seperti anak kecil yang kehilangan mainannya, terlihat memelas untuk membuat orang dewasa iba.
"David, ada kepala pelayan dan yang lainnya. Aku hanya sebentar, aku juga sudah menyiapkan air hangat di kamar mandi untukmu, , maaf aku harus segera pergi" Aileen melempar senyum kearah David. Laki laki itu tak ingin Aileen pergi tanpa meninggalkan kecupan. Dia meraih lengan Aileen mencoba untuk menghentikan perempuan itu.
"Apa lagi?, , aku sudah hampir kesiangan"
"Kamu tidak ingin menciumku sebelum pergi?" David memasang wajah memelas, dia berharap Aileen mau memenuhi keinginannya.
Aileen melirik kearah kepala pelayan yang sedang berdiri memunggunginya sebelum mengecup David.
Dia pun memenuhi keinginan laki laki itu dengan mengecup pipinya.
Karena tidak ingin berdebat di pagi hari, Aileen merangkup pipi David, menghujani wajah laki laki itu dengan kecupan.
Di pipi sebelah kanan, pipi sebelah kiri, kening kemudian yang terakhir bibirnya.
"Hati hati" David tersenyum ketika Aileen memenuhi keinginannya.
♡♡♡
Sepanjang hari David menghabiskan waktunya di ruang kerja, terlabih lagi setelah Ius datang dengan membawa beberapa map di tangannya.
David berusaha melatih lengannya sedikit demi sesikit agar bisa kembali seperti semula. Walau pun masih terasa nyeri dia tetap terus berusaha.
"Maaf sudah membuatmu repot repot membawa berkas ini kemari"
Ius tertegun, dia sedikit terkejut ketika Atasannya itu meminta maaf atas sesuatu yang sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang sekretaris. Baginya David tak perlu mengatakan hal itu.
"PresDir tidak perlu meminta maaf"
David melirik, kemudian tersenyum kearah Ius. Dia sesekali terlihat memandangi ponselnya, seolah seperti sedang menunggu kabar dari seseorang.
Aileen, dia pasti menunggu kabar dari perempuan itu. Baru juga dia pergi dua jam yang lalu, tetapi David sudah tidak sabar ingin mendengar suaranya.
David meletakkan pena, sejenak dia berhenti dari aktifitasnya untuk menandatangani berkas itu. Dia meraih ponsel kemudian menghubingi Aileen.
__ADS_1
Raut wajahnya semakin muram, ketika Aileen tak mengangkat panghilannya. Tidak hanya sekali, David menghubunginya berkali kali.
Membuat Ius yang berada di sana menjadi salah tingkah serta harus menahan senyum karena melihat sikap David yang uring uringan hanya karena seorang prempuan. Dia merasa sikap David sangat lucu, karena sebelumnya tak pernah melihat dia seperti itu.
♡♡♡
"Maaf sudah merepotkanmu semalam, aku pastikan kontrak kerja itu akan cepat selesai. Yaaa, , paling tidak lama lamanya satu bulan, maaf kamu harus memaklumi itu. Karena perusahaan kami terlalu banyak orang sepertimu yang harus kita urus satu persatu"
"Iya aku mengerti" Aileen memamerkan senyum termanisnya.
"Baiklah Nona Aileen, pihakku akan menghubungimu nanti" Perempuan paruh baya itu mengulurkan tangan kearahnya.
Dengan senang hati Aileen membalas uluran tangannya.
Dia menghela nafa panjang penuh kelegaan di hatinya. Aileen merasa sangat senang, berharap dia akan segera bekerja sama dengan mereka. Aileen meraih ponsel dan berniat menghubungi Lena. Tetapi keningnya berkerut ketika melihat laporan 103 panghilan tak terjawab dari David.
"Astagaaa!!, , ada apa dengan laki laki ini?" Aileen melirik ke jam yang melingkar di tangannya.
"Baru juga belum genap 3jam aku meninggalakannya, sudah sebanyak ini dia mencoba menghubungiku??
Dreeet Dreet!!!
Aileen mengangkat kedua alisnya ketika melihat David menghubunginya lagi.
"Pasti dia akan marah??"
Aileen mendengus kesal sebelum mengangkat panggilan itu, dia sudah membayangkan kalau David pasti akan marah besar.
Perlahan Aileen mengarahkan ponselnya kearah telinga.
"Ha, , halo?"Ucap Aileen terbata.
"Sayang kamu dimana??" suara David penuh dengan kelembutan dari seberang sana, membuat Aileen terdiam sejenak.
"Ai??, ,kamu mendengarku?, , kamu di mana?" David tetap merendahkan suaranya.
"E, ,aku masih ada di"
"Aku akan menjemputmu" sahut David.
"Tetap berada di tempatmu sampai aku datang!" David memutuskan panggilan tanpa memberi kesempatan kepada Aileen untuk menjawab.
♡♡♡
Aileen memusatkan perhatiannya kearah mobil yang baru saja datang dan berhenti di depannya.
Laki laki bertubuh tegap dengan mengenakan pakaian santai itu keluar dari mobil lalu menhampiri Aileen. Dia membungkuk melingkarkan lengannya di paha Aileen, mengangkat tubuh perempuan itu dengan sangat gembira, seolah bertemu dengan kekasih yang sudah lama tak jumpa.
"David, turunkan aku, , di sini banyak orang yang melihat kita" Aileen menunduk, menatap David yang ada di bawhanya itu terlihat merona.
"Biarkan mereka melihatnya, , biar semua orang tahu bahwa kamu adalah milikku!" David mendongakkan kepala, mengarahkan bibirnya sedikit maju, seakan meminta Aileen untuk menyambut bibirnya itu.
"David!, , jangan di sini, orang orang akan melihat kita" Aileen menyelidik kearah sekitar, dia terlihat malu ketika orang yang berlalu lalang melihat kearahnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Aku tidak perduli, aku sudah sangat merindukanmu, , jika kamu tidak mau melakukannya di sini, , apakah kita harus melakukannya di dalam mobil?" Laki laki itu tersenyum lebar, sementara Aileen membulatkan mata. Sambil tersenyum dia memukul pundak kekasihnya.