
Matahari menyinarkan sinarnya melewati celah kaca menyapu wajah Bunga yang masih tertidur pulas. Dia semalam hampir tak bisa memejamkan mata karena perdebatannya dengan Davien membuatnya sulit untuk memejamkan mata.
Perempuan itu bangun kesiangan, perlahan membuka mata dan telah menyadari bahwa dia masih berada di atas ranjang kamar Davien. Dengan cepat Bunga mengubah posisinya menjadi duduk di atas ranjang.
Semalam Bunga ingat bahwa dia tidur di sofa ruang tv tapi ternyata tengah malam Davien memindahkan dirinya ke dalam kamarnya.
Pandangannya mulai mengawasi setiap ruangan, dia tak melihat Davien ada di sana. Bunga melompat dari atas ranjang berlari keluar memastikan keberadaan lelaki itu. 'Sepertinya dia sudah pergi!'
Saat menoleh menatap jam dinding ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 8, Bunga benar-benar kesiangan.
Dia panik, setelah selesai mandi dengan rambut yang belum di sisir dia mengenakan kemeja sambil membawa tas dan berlari keluar dari rumah, sementara tangannya sibuk mengancingkan kemeja.
Bunga berpikir bahwa pagi ini keadaan Davien akan membaik tetapi ternyata salah, sepertinya lelaki itu masih marah dengannya.
Davien bahkan sengaja membiarkan Bunga tetap tidur tanpa membangunkannya seperti biasa. Perempuan itu berlari ke halte bus, wajahnya nampak gelisah tak bisa tenang karena yakin saat sampai di tempat kerja dia pasti akan mendapatkan omelan dari Loria.
***
Loria terlihat sedang menyiapkan minuman, beberapa kali dia menggerutu dan mengomel karena sampai saat itu juga Bunga belum sampai di tempat kerja.
Brag!!!
Suara pintu yang dibuka secara paksa dari arah luar membuat Liora terkejut, seketika menolehkan kepala ke arah sana.
Hah! hah! hah! Nafasnya terengah-engah.
Loria semakin terkejut melihat Bunga berdiri di tengah dengan rambut acak-acakan serta kancing baju yang ternyata posisinya tak tepat, 1 kancing baju bagian atas ternyata tinggi sebelah.
"Ya ampun... ada apa denganmu Bunga? Sudah berangkat kesiangan, tampilanmu seperti orang gila! Kau kenapa?" Loria berjalan mendekati, pandangannya menyapu dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kau tidak tidur semalaman?" ucapnya setelah melihat mata panda di wajah Bunga.
"Maaf kak, aku benar-benar minta maaf datang terlambat. Aku semalam tidak bisa tidur!" Bunga merengek seperti anak kecil, melempar tasnya begitu saja di atas sofa setelahnya membuka loker mengambil baju dan pergi ke ruang ganti.
"Hei! cuci wajahmu! sisir rambutmu presdir sudah menghubungi pantry beberapa kali untuk meminta kopinya!" seru Loria.
"Yaaa! Aku tahu, setelah ini aku akan menyiapkan kopi dan segera mengantarkannya." Bunga bergegas mengganti pakaian setelahnya keluar dan segera menyiapkan kopi.
"Ada apa denganmu, kenapa bisa sampai seperti ini?" Loria memindahkan beberapa gelas berisi minuman ke atas troli khusus yang digunakan untuk membawa minuman dan snack ke ruang kerja.
"Aku juga tidak tahu Kak, bagaimana bisa aku kesiangan seperti ini." Bunga mencoba mengelak padahal dia tahu jelas alasannya kenapa.
Tak mau berlama-lama, setelah selesai membuat kopi Bunga langsung bergegas mengantarkannya.
__ADS_1
***
Sesampainya di sana, Bunga berdiri di depan pintu, berdehem menetralkan perasaan sebelum mengetuk pintu.
Tok tok tok!!!.
Setelah mengetuk pintu Bunga perlahan membukanya, dia tak langsung mengarahkan pandangannya ke Davien.
Melangkah perlahan masuk kemudian menutup kembali pintunya. Karena rasa bersalah yang masih menggelayut di hatinya sampai detik ini, perempuan itu tak berani menatap matanya.
"Maaf presdir, saya terlambat" Bunga meraih cangkir dari atas nampan memindahkannya ke meja.
"Sekali lagi saya minta maaf karena datang terlambat" Bunga berucap gugup.
Perempuan itu perlahan menggerakkan bola matanya kearah Davien. Lelaki itu nampak sibuk menandatangani berkas yang ada di atas meja.
Ekspresi wajahnya datar tak terbaca, terlihat dingin bahkan seolah menganggap Bunga tak ada di sana. Bunga merasa percuma berbicara kalau lelaki itu masih diam tak menghiraukan dirinya.
Tidak ingin membuat suasana hatinya semakin memburuk, Bunga memilih pergi. Tetapi lelaki itu menghentikannya.
"Kau masih berbicara formal denganku?" ujung matanya terarah ke Bunga sementara tangannya sibuk membuka lembaran kertas.
Davien memilih menutup berkas dan mengembalikannya ke tumpukan map yang ada di atas meja. Mengarahkan pandangannya ke Bunga menatapnya lekat.
Lelaki itu sedang mengamati Bunga, rambut yang di kuncir namun tak rapi serta kemeja yang dimasukkan ke dalam celana namun terlihat berantakan.
Ghm! Dia berdehem seakan merasa bersalah karena sengaja tak membangunkan perempuan itu tadi pagi. "Semalam tidur nyenyak?" Davien berucap sembari menautkan jari jemarinya di atas meja.
Bunga senang Davien bertanya, meskipun nada bicaranya sangat dingin. "Davien... aku minta maaf untuk tadi malam, aku–," ucapannya terputus ketika mendengar suara ketukan pintu.
Tok tok tok!!!.
Setelah berhasil membuka pintu dari arah luar Keiko menerobos masuk ke dalam. Langkahnya sempat terpaku melihat Bunga ada di dalam ruangan.
Keiko merasa tidak nyaman tetapi dia berusaha untuk bersikap santai. Perempuan itu berlari kecil menghampiri Davien kemudian memeluk nya dari belakang mengalungkan kedua lengandi lehernya.
Saat itu juga Davien langsung mengalihkan pandangan ke Bunga, perempuan itu menundukkan kepala tak mau membalas tatapan matanya.
Dadanya seakan terasa mau meledak, panas seperti sengaja dibakar melihat pemandangan yang berada tepat di depan matanya, rasa panas di dadanya berubah nyeri. Tidak ingin melihat kedekatan mereka berdua yang terlalu intim Bunga pun memutuskan untuk undur diri. "Maaf, aku harus kembali bekerja permisi!" Bunga menundukkan kepala setelahnya melangkah menuju ke pintu. Namun ketika tangannya berhasil meraih gagang pintu tiba-tiba dia memaku langkahnya mendengar percakapan mereka berdua.
"Nanti malam kau sudah siapkan kado apa untukku? kau tidak lupa, kan? Besok ulang tahunku!" dari suaranya, Keiko terdengar sangat bahagia. Entah dia sengaja melakukannya atau tidak karena saat itu Bunga masih ada di sana.
__ADS_1
Davien sadar Bunga seakan sengaja menghentikan langkahnya, matanya masih mengawasi perempuan yang berdiri di depan pintu namun tak lama dia melihat Bunga melangkah keluar dari ruangannya.
Keiko melepaskan pelukannya lalu berdiri di belakang Davien. Ekspresi wajahnya berubah dingin seolah dia memang sengaja berucap demikian ketika mengetahui Bunga ada di ruangan itu.
***
Ucapan Keiko masih terngiang jelas telinganya, saat Keiko mengatakan bahwa besok adalah hari ulang tahunnya.
Ruangan berukuran 2×2 meter terasa sangat sunyi, Bunga melamun, tak lama dia mengeluarkan ponsel dari dalam saku mengusap layar kemudian melihat salah satu aplikasi, ada alarm pengingat bawa ternyata besok juga bertepatan dengan hari di mana neneknya meninggal.
Sebelum kejadian semalam jauh hari Bunga sudah berencana ingin mengajak Davien ke desa untuk mengunjungi makam neneknya. Tetapi mengingat bahwa hubungan mereka sedang tidak baik Bunga pun memilih untuk pergi sendiri nantinya.
Dia menghela nafas panjang melegakan dada. Saat ini pikirannya tengah mengingat kembali di mana Keiko yang tiba-tiba menerobos masuk ke dalam ruang kerja dan memeluk Davien tanpa merasa canggung. Kejadian itu membuat hatinya kembali terasa nyeri, nyaris detak jantungnya tak beraturan.
Berusaha mencoba menahan rasa cemburu yang menggebu. Bunga seakan sedang memantapkan diri sebelum melangkah keluar dari lift.
***
"Kau sengaja melakukannya? Kenapa?" Davien seakan tahu apa yang dilakukan oleh Keiko, saat memeluknya di depan Bunga itu memang suatu hal yang disengaja.
Keiko melangkah ke sisi meja dan duduk di kursi. "Aku cemburu melihat kalian! Aku tidak tahu apa yang ada di otakmu, aku juga tidak habis pikir kenapa kau lebih memilih perempuan itu dari pada aku!"
Mengingat semalam mereka sempat berbicara banyak walaupun tak semuanya Bunga mendengar tetapi Keiko tahu bahwa lelaki yang kini duduk di depannya itu sudah menjatuhkan pilihannya kepada Bunga.
"Yaa... mau bagaimana lagi, aku juga tidak bisa memaksakan kehendakku" Keiko menatap Davien dengan lekat seolah sedang membaca ekspresi wajahnya. "Tapi... aku juga senang karena semenjak kepergian Essie akhirnya kau bisa membuka kembali hatimu untuk perempuan lain" ada senyuman tipis yang menghiasi wajahnya entah apa yang semalam mereka bicarakan tetapi Keiko sudah merelakan kalau Davien lebih memilih Bunga.
"Apa kau yakin kau tidak akan melukai perempuan itu?"
Seketika ujung matanya langsung tertuju ke Keiko ketika mendengar pertanyaan perempuan itu. "Apa maksudmu?!" kerutan halus terlihat di keningnya, Davien merasa pertanyaan Keiko sengaja untuk memancingnya.
"Karena aku belum yakin kau sepenuhnya memberikan hatimu untuknya, siapa namanya? Bunga? ya!" perempuan itu mengangguk menjawab pertanyaannya sendiri. "Aku belum yakin kalau kau tidak akan melukai perasaannya, karena aku juga sangat yakin kalau jauh di dalam lubuk hatimu nama Essie masih tersimpan rapi di sana. Bahkan masih menduduki tahta tertinggi di hatimu iya, kan?" kedua alisnya terangkat secara bersamaan.
Davien mendorong tubuhnya ke belakang bersandar di kursi mencoba membuat dirinya senyaman mungkin di sana. "Kau berucap seolah tahu semuanya, tapi di sini aku yang merasakannya Keiko, bukan kau!"
Keiko tertawa terbahak-bahak hingga suaranya menggema di setiap sudut ruang, dia menertawai sikap Davien sementara bagi lelaki itu tak ada hal lucu yang pantas untuk di tertawakan.
"Kenapa kau tertawa?"
"Tidak, aku hanya berharap sahabatku ini bisa memegang ucapannya. Aku ingin kau bahagia Davien, dengan siapa pun, kepada siapa kau menuruh hatimu aku harap kau tidak menempatkan Essie di antara kalian."
Ekspresi wajah Davien seketika berubah menjadi serius ketika mendengar ucapan Keiko.
__ADS_1