Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#165 Kegilaan 2


__ADS_3

"Barack kamu sudah gila!!" Luna menghujani laki laki di depannya dengan pukulan tepat di dadanya


Barack membuang shower ke lantai, kini tangannya bergerak mengusap dengan kasar bibir Luna.


Perempuan itu nampak sudah tak melakukan perlawanan lagi. Tubuhnya basah kuyup dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Dia mengotori bibirmu juga!!" Barack masih terus mengusap kasar bibir luna hingga lipstik yang menempel di bibir perempuan itu menyebar hingga ke pipi.


Barack menghentikan tangannya ketika matanya tertuju ke arah mata Luna, dia melihat perempuan itu tengah menangis Matanya sangat merah, seolah dia benar benar sedang kesakitan di dalam tangisnya.


Jantung Barack berdebar dengan sangat kencang, dia baru tersadar bahwa sikapnya menyakiti perempuan yang sangat dicintainya.


Barack menarik kedua tangannya, bergerak mundur menjauh dari Luna.


Laki laki itu terpaku melihat perempuan di depannya menggigil ketakutan. Dia juga merasa kesakitan ketika melihat Luna terluka karena dirinya.


Barack menghela nafas sebelum akhirnya menekuk kedua lututnya dan tunduk di hadapan Luna.


Dia menunduk menyimpan rasa kekecewaan pada dirinya karena telah lepas kendali hingga menyakiti perempuan di depannya.


"Maaf, , maaf Luna" Barack meraih lutut luna dan memeluk kaki perempuan itu dengan erat.


"Maaf, ,aku tidak bisa melihat orang lain menyentuhmu!" Barack beranjak, dia memeluk tubuh Luna kemudian.


"Aku tidak akan membiarkan Adrian menyentuhmu lagi!," Barack melepas pelukannya, kedua tangannya kini merangkup pipi Luna.


"Maaf, , , maaf Sayang!" bisiknya. Barack menghujani perempuan itu dengan kecupan di wajah dan keningnya.


Barack menatap lekat wajah Luna ketika tubuh perempuan itu menggigil kedinginan. Dia melepas gaun Luna dengan perlahan dan menggantinya dengan handuk kimono.


Laki laki itu membungkuk meraih kaki Luna dan menggendong tubuhnya, dia membawa Luna keluar dari kamar mandi.


Memposisikan perempuan itu untuk duduk di bibir ranjang.


Barack duduk di sampinya, kemudian menggunakan paha Luna untuk sandaran kepalanya.


Dia menarik tangan Luna dan meletakkannya di kepalanya sendiri. Seolah dia sedang mencari kenyamanan di sana.


Luna menunduk mengamati wajah Barack, air matanya mengalir menyatu di ujung dagunya hingga membesar dan akhirnya terjatuh di pipi Barack.


Barack mengusap pipinya, dia menatap air mata milik Luna yang ada ditangannya.


Laki laki itu bangun. Dengan lembut merangkup kedua pipi Luna dan mengarahkan wajah perempuan itu menghadap ke arahnya.


Barack menyandarkan kepalanya di kening Luna.


"Kamu masih marah denganku??" bisiknya dengan lembut.


"Aku minta maaf Sayang, aku janji tidak akan bersikap kasar lagi seperti tadi. Aku hanya tidak rela dia meyentuhmu"


Luna menggelengkan kepalanya, tangannya bergerak meraih tangan Barack yang berada di pipinya.


"Tidak!, , aku tahu perasaanmu. Aku minta maaf karena seharusnya aku lebih berusaha dengan kuat mendorong tubuh Adrian saat itu. Aku tidak tahu kalau dia akan men, , menc. Maaf Barack"


Barack mengusap air mata Luna dengan ibu jarinya.


"Tidak perlu minta maaf" Barack memejamkan matanya dan menempelkan hidungnya di hidung Luna.

__ADS_1


"Aku akan menghapus bekas dan ingatanmu tentang itu" Barack memposisikan kepalanya sedikit miring untuk mempermudah dirinya mencium bibir Luna.


Dia mulai ******* bibir mungil itu dengan lembut, Luna kini terlihat sudah memejamkan matanya.


Tangan Barack bergerak ke arah tengkuk Luna, mendorong kepala perempuan itu ke arahnya untuk memperdalam ciuamannya.


Laki laki itu perlahan mendorong tubuh Luna hingga jatuh ke atas ranjang.


Barack melepas ciumannya, menggunakan ke dua tangannya yang bertumpu di atas ranjang untuk menopang tubuhnya, memberi jarak antara dirinya dengan tubuh Luna.


Matanya menyapu wajah Luna dengan lembut, menikmati setiap apa yang dilihatnya.


Tangannya bergerak menyingkap rambut Luna yang masih basar itu dari atas dadanya. Ujung jarinya kini berada di perpotongan handuk kimono yang ada di tengah tengah dada perempuan itu.


Dia memaku tangannya, Sementara matanya kembali melihat ke arah Luna. Dia melihat wajah Luna yang masih sedikit menyimpan rasa trauma akibat perlakuannya.


Barack tersenyum, dia pun akhirnya memutuskan menarik tangannya kembali.


Dan mengecup kening Luna sebelum akhirnya membiarkan perempuan itu beristirahat.


"Aku tidak akan melakukannya, tidurlah!" Barack beranjak dari ranjang, setelahnya dia mematikan lampu kamar dan melangkah keluar.


♡♡♡


Waktu mulai menunjukkan tengah malam. Luna masih terjaga, dia tidak bisa memejamkan kedua matanya.


Ucapan Barack yang mengatakan bahwa dia tak akan melakukannya benar benar sangat mengganggu pikirannya.


Sampai dia merasa apakah dirinya telah tergila gila dengan tubuh Barack karena dia merasa sangat kecewa ketika laki laki itu lebih memilih untuk pergi dari lada menyentuhnya.


Perasaan Luna sungguh terganggu malam itu, jiwanya sangat bergejolak akan sebuah keinginan.


Kini perempuan itu telah berdiri di balik pintu, dengan tangan yang sudah menggenggam erat handelnya, hanya tinggal memutarnya saja sehingga akan membawa dirinya ke pada laki laki itu.


♡♡♡


Luna melangkah keluar, matanya nampak menyelidik ke suluruh setiap sudut ruangan.


Dia melangkahkan kakinya perlahan ke arah lain untuk mencari keberadaan Barack.


Hingga sampai di pintu taman belakang, dia tetap tak menemukan laki laki itu.


Dia akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar. Namun langkah kakinya terpaku ketika dia berpapasan dengan Barack yang baru saja keluar dari sebuah ruangan, dengan tangan yang sedang berusaha memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. Wajahnya juga sempat terlihat tegang, namun seketika langsung menghilang ketika melihat wajah Luna.


Pandangan mata Luna menyelidik ke arah ruang di balik sana, sepertinya itu adalah ruang kerja. Karena sekilas dia melihat buku buku tertata rapih di rak sebelum Barack menutup rapat pintunya.


Mereka saling bertatapan, hingga akhirnya Barack mengulas senyum manis dipipinya.


"Apa yang menganggumu?? kenapa kamu belum tidur??" dia berjalan mendekat ke arah Luna.


Luna menggelangkan kepalanya dengan pelan.


"Mm, ,"


"Lalu?" Barack meraih tangan Luna dan menggenggamnya. Matanya menyapu wajah Luna dengan lembut dan penuh arti.


"Apa kamu mencariku?" tebaknya dengan sangat benar. Seolah dia sudah menangkap basah Luna yang kini pipinya mulai bersemu.

__ADS_1


"Maaf aku baru saja menyelesaikan urusanku" tangannya bergerak mengusap lembut wajah Luna, hingga pandangan mereka kembali bertemu dan saling menatap lagi dengan lekat.


"Aku tidak bisa tidur" ucap perempuan itu, dia tidak mungkin secara gamblang mengutarakan maksud hati mencari laki laki itu.


Senyum Barack terlihat hanya di salah satu ujung bibirnya dan terkesan menggoda ke pada Luna.


"Lalu???"


"Ya sudah kamu lanjutkan saja urusanmu. Aku akan kembali kamar!" Luna berucap dengan kesal.


Barack menahan tangan Luna ketika perempuan itu ingin melangkah pergi.


"Tunggu!!, , kamu belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kamu mencariku?" Barack menahan senyumnya ketika menunggu jawaban dari Luna.


"Lupakan!" Luna berusaha melepas tangannya dan genggaman.


Namun laki laki itu malah membungkuk dan menggendong tubuh Luna. Membawa perempuan itu masuk ke dalam kamar.


♡♡♡


Barack meletakkan tubuh Luna dengan perlahan, setelahnya dia membuka kancing bajunya satu persatu.


Laki laki itu membungkuk di atas tubuh Luna dengan kedua tangan sebagai penyangga.


Absnya terbentuk dengan sangat indah, hingga membuat Luna harus membulatkan mata ketika melihatnya.


"Kenapa kamu harus malu, jika kamu memang menginginkannya??" ucapnya kemudian. Seolah tahu isi pikiran Luna.


Pipi Luna bersemu, dia berusaha memalingkan wajahnya.


"Katakan!, , kamu menginginkanku atau tidak?" Barack meraih tangan Luna dan menuntunnya ke arah dada.


Jantung Luna semakin berdegub kencang, tangannya bertahan di dada Barack yang keras dan bidang. Pikirannya pun meracau kemana mana.


"Ya, , aku menginginkanmu!" bibir Luna berucap dengan sendirinya. Seokah dia tak sadar ketika mengatkan hal itu.


"Benarkah??" ucapan Barack seketika membuat Luna tersadar dari lamunannya. Setelah beberapa saat peremouan itu tertegun dengan tubuh Barack.


"Eee, , aku., , ???"


Barack terkekeh dia langsung memeluk tubuh Luna dengan erat.


♡♡♡


Sinar mata hari terasa sangat hangat pagi itu, hingga membuat sisa sisa salju yang membeku di pucuk ranting mencair karena kehangatannya.


Barack dan Luna masih bertahan di balik selimut. Perempuan itu terlihat memejamkan matanya, dia tertidur di dekapan Barack.


Laki laki itu membuka matanya ketika mendengar getaran ponsel dari atas nakas.


Tangannya bergerak meraih ponsel itu dan melihat ke arah layarnya.


Barack menarik tangannya yang telah menjadi sandaran kepala Luna. Dia melakukannya dengan sangat hati hati agar tak mengganggu.


Luna nampak menggerakan kepalanya untuk mencari kenyamanan, kemudian dia memutar tubuh, mengubah arah tidurnya memunggungi Barack sebelum akhirnya dia meringkuk dan tertidur kembali.


Barack beranjak dari ranjang dan menjauh dari Luna untuk mengangkat panggilan dari anak buahnya.

__ADS_1


"Hallo??" Barack, berucap dengan pelan sengaja agar tidak menarik perhatian Luna.


__ADS_2