
Ingin rasanya Bunga memberi garam yang banyak saat memasak makanan untuk Davien, sengaja meracuni untuk memberi pelajaran. Tetapi Bunga sekali lagi mencoba untuk menyingkirkan rasa jengkel serta bencinya terhadap Davien untuk sementara.
Sekali lagi Bunga berfikir rasional, pekerjaannya jauh lebih penting ketimbang harus memikirkan perasaannya.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Loria mengawasi Bunga yang tengah sibuk memasak.
"Pres Dir memintaku untuk memasak makanan kesukaannya!" raut wajahnya terlihat masam. Bunga kini tengah sibuk menata makanan di atas piring.
Sementara Loria masih kebingungan, keningnya berkerut kasar seolah benar benar merasa bingung dengan apa yang sedang terjadi.
"Tidak bisasanya Pres Dir meminta OG untuk memasak makanan kesukaannya!, , jangan jangan dia hanya ingin mencoba mengetesmu??"
Bunga tepaku memandangi makanan yang sudah tertata rapih di atas piring. Dia tak berfikir sampai ke arah sana. Mungki ucapan Loria benar, Davien hanya ingin mencari kesalahan Bunga agar bisa memecatnya.
Bunga menghela nafas panjang, dia beruntung tidak menambahkan garam untuk meracuni Davien.
Dia yakin bahwa dengan masakannya, laki laki itu akan mengakui bahwa Bunga memang memiliki keahlian.
♡♡♡
Bunga melangkah perlahan keluar dari lift, ujung matanya langaung tertuju ke arah pintu ruang kerja.
"Aku tidak tahu masalah apa yang dia miliki denganku. Jika karena masalah waktu itu. seharusnya sudah selesai!, , aku juga sudah melupakannya. Hanya saja aku masih berhutang uang itu dengannya! lalu kenapa dia sepertinya sangat membenciku!!"
Bunga masih berdiam diri di depan pintu, keraguan masih bergelayut di hatinya saat memikirkan akan berhadapan lagi dengan atasannya.
Dia terperanjak kaget ketika James membuka pintu dari arah dalam.
James melirik name tag yang tertempel di kemeja seragam yang di kenakan Bunga.
"Pres Dir sudah menunggumu!" James menggerakkan tubuhnya, sengaja memberi jalan kepada Bunga untuk masuk ke dalam.
Matanya sempat melihat ke arah Davien, laki laki itu terlihat sibuk menandatangani beberapa berkas di atas meja.
"Pres"
Davien mengangkat tangannya ke arah Bunga, meminta perempuan itu untuk berhenti berucap.
Bunga masih berdiri di tempat dengan membawa sebuah nampan di tangannya. Lumayan lama, hampir 10 menit Davien membiarkan Bunga berdiri menunggu dirinya menyelesaiakan pekerjaan. Dia mendengus kesal karena sikap Davien yang seolah menganggapnya tak ada.
Mendengar Bunga mendengus, Davien memaku tangannya. Sesaat berhenti sejenak menandatangani berkas.
"Apa aku membuatmu kesal!!" ucapnya dengan lirih namun tegas.
Bunga menelan ludahnya dengan susah payah. Menahan kesal karena sikap Davien yang begitu sangat menjengkelkan.
"Tidak Pres Dir, , tentu saja tidak!, , aku mampu bertahan berdiri di sini hingga berjam jam. Tetapi aku tidak yakin apakah makanan ini akan bertahan" Bunga berucap dengan nada tenang namun menantang. Jika saja dari awal Davien bisa bersikap baik sebagai seorang atasan mungkin bunga bisa bersikap sopan dan lebih baik lagi.
Davien mengerti kamana arah tujuan pembicaraan Bunga. Dia kemudian menarik tubuhnya ke belakang, menggerakkan kepalanya meminta kepada Bunga untuk meletakkan makanan itu di atas meja.
Bunga perlahan mendekat, sebelum meletakkan makanan itu dia sempat menyingkirkan berkas berkasnya.
Davien mengerutkan dahinya, ketika Bunga berada dekat di depannya. Lebih tepatnya di seberang meja saat meletakkan makanannya. Dia mngetahui bahwa Bunga masih belum memakai parfum itu.
"Ternyata kamu keras kepala!! kenapa parfumnya tidak kamu pakai!"
Bunga sempat memaku tangannya sebelum kembali bergerak mundur setelah berhasil meletakkan makanan di atas meja.
Merasa jaraknya masih terlaku dekat, Bunga melangkah mundur lagi.
"Maaf Pres Dir, aku tidak merasa mencium bau busuk yang keluar dari tubuhku!, , jadi sepertinya aku tidak membutuhkan parfum itu"
Davien tersenyum sinis matanya masih tak mau memandang Bunga yang berdiri di depannya.
Dia mulai meraih sendok semula nampak tak yakin dengan masakan Bunga yang terlihat kurang menarik.
Ketika ingin mencicipinya sesuap, Davien nampak semakin terlihat ragu.
Namun tiba tiba dengan sangat yakin Bunga berucap untuk meyakinkannya.
"Tenang saja Pres Dir, , aku jamin makanan itu bersih!"
Bunga mengawasi ekspresi raut wajahnya, belum sepenuhnya Davien memasukkan suapan pertama ke dalam mulut, tetapi raut wajahnya terlihat tidak yakin.
Karena sudah terlanjur basah Davien akhirnya mencicipi masakan yang di buat oleh Bunga. Davien menunduk menggunakan salah satu tangannya yang bertumpu di atas meja untuk menutupi raut wajahanya. Jarinya memijat perlahan keningnya yang terasa semakin pening.
"Bagaimana bisa!!, , masakannya pun terasa sama. Sial!! bahkan ini terlalu lebih enak di mulutku"
Davien berusaha menolak kebenaran bahwa masakan Bunga jaih lebih enak di banding masakan Essie, dari segi rasanya mereka sama tak ada perbedaan sesikit pun. Tetapi entah mengapa Davien merasa jangkel dan tidak suka ada orang yang hampir mirip bahkan menyerupai Essie walau pun bukan dari segi wajahnya.
Bunga menyelidik ke arahnya melihat Davien yang semakin tertunduk, dia merasa khawatir.
"Maaf, ,Pres"
__ADS_1
"Keluar!, , " ucap Davien seketika memotong pembicaraan.
"Apa Pres Dir"
"Aku bilang kelur!!" Davien tidak ingin menatapnya, karena bayang bayang Essie akan semakin melekat kepada Bunga jika Davien terus memaksa untuk melihat ke arahnya.
Bunga mencoba mengendalikan perasaannya untuk tidak menghiraukan Davien. Melihat ekspresi atasannya, Bunga merasa sedikit bersalah.
"Apa aku membuatnya terlalu pedas??, , tidak mungkin. Aku tidak memasukkan bubuk cabe sedikit pun ke dalamnya"
Bunga berjalan menuju pintu sambil terus berfikir dan mengingat ingat apa yang salah dengan masakannya hingga Davien terlihat seperti kesakitan saat mencicipinya.
Davien mengangat kepala setelah Bunga keluar dari ruangannya. Pandangannya manajam ke arah pintu sebelum akhirnya kembali menatap makanan di depannya. Ingin membenci Bunga yang hampir memiliki kemampuan memasaknya sama dengan Essie, terlebih lagi memiliki aroma tubuh yang sama, membuatnya semakin jengkel jika mengingat hal itu.
Davien membuang sendok begitu saja ke meja, menarik tubuhnya kebelakang. Membenamkan punggungnya di sandaran kursi sembari terus berfikir bagaimana caranya membuat Bunga keluar mengundurkan diri.
♡♡♡
Kantor mulai sepi, semua pegawai telah kembali dan hanya ada Bunga di pantri.
"Aku pulang Bunga, kemungkinan Pres Dir satu atau dua jam lagi juga pasti pulang" Loria mencoba menyemangati Bunga yang terlihat lelah.
"Iya Kak Loria, , kamu hati hati"
Entah keberapa kali Bunga pergi ke ruangan Davien untuk memastika dari luar apakah laki laki itu sudah pulang atau belum.
"Bunga?" James keluar dari ruang kerjanya.
"E, , aku hanya ingin memastikan apakah Pres Dir sudah pulang atau belum" Bunga terlihat gugup.
James melirik jam yang melingkar di tangannya. Tak lama pandangannya beralih ke arah pintu.
"Sebentar lagi Pres Dir pasti pulang, kamu juga bisa bersiap siap untuk segera pulang"
"Benarkah?" wajahnya berbinar binar, senyum manis pun menghiasi bibirnya.
James tertegun melihat sanyum Bunga, perempuan itu terlihat manis dengan lesung pipit di pipi kanan ketika sedang tersenyum.
"Iya kamu boleh bersiap siap"
"Terima kasih" Bunga meraih tangannya, James merona. pipinya terasa menghangat saat Bunga menggenggam tangannya.
"E, , panggil saja aku James" ucapnya dengan malu.
Pekerjaannya memang tak terlalu membuatnya lelah, tetapi setiap memikirkan harus bertemu dengan Davien setiap saat membuat otaknya lelah terlebih dulu.
James terkekeh melihat sikap Bunga, tetapi tak lama senyumnya menghilang ketika ujung matanya mendapati bayangan Davien keluar dari ruang kerja.
Dia menundukkan kepala kemudian.
Davien memaku tubuhnya di sana.
"Aku pulang sendiri hari ini" ucapnya, meminta James untuk tidak mengantarnya pulang.
"Tapi Pres Dir?" James berusaha memaksa Davien untuk tak menyetir sendiri, dia merasa khawatir dengan stasannya. Karena Davien terlihat muram seharian ini.
Davien tidak menghiraukan James, dia melangkah pergi menuju lift kemudian masuk setelah pintunya terbuka.
♡♡♡
Davien berdiri di depan lobi menunggu satpam membawakan mobilnya dari parkiran.
Di sisi lain Bunga berjalan keluar dan berdiri tak jauh dari Davien.
Bunga sengaja berdiri di sana untuk menunggu Davien pergi terlebih dulu,
karena merasa jarak mereka terlaku dekat, Bunga memilih untuk menggeser tubuhnya sedikit menjauh.
"Bunga?" suara berat itu terdengar dari arah belakang. Roland berjalan menghampirinya dan berdiri di tengah tengah antara Davien Dan Bunga.
Roland menoleh dan melihat Davien yang berdiri di sampingnya.
"Pres Dir?" dia menganggukan kepalanya.
Davien hanya diam bahkan dia tak menoleh sesikit pun.
Karena sadar bahwa sikap atasannya memang pendiam dan dingin, Roland memilih untuk membiarkannya. Yang terpenting dia telah menyapa dan memberinya hormat.
Kini Roland kembali mengarahkan pandangannya ke Bunga.
"Kamu pulang sendiri??" ucapnya kemudian.
"E, ,aku" Bunga merasa tak enak hati ketika menjawabnya. Ujung matanya sesekaki melirik ke Davien yang masih berdiri mematung.
__ADS_1
"Aku bisa mengantarmu pulang, ini sudah terlalu malam untuk seorang perempuan pulang sendiri" Roland berusaha menawarkan bantuan untuk mengantar Bunga, dia merasa tidak tega melihat Bunga harus pulang sendiri.
Mereka memang bertemu secara singkat tetapi Roland merasa sanhat senang bisa bertemu dengan Bunga di tempat kerjannya. Dia juga ingin mengenal Bunga lebih jauh lagi.
"Maaf, , tapi" Bunga ragu, mereka bahkan belum sempat berkenalan.
Davien mendengar pembicaraan mereka, tetapi dia lebih memilih untuk diam karena merasa itu memang bukanlah urusannya.
Davien mengalihkan pandangannya ke arah lain, kemudian menghela nafas panjang.
Tak lama mobilnya datang, Davien berjalan ke sisi lain untuk masuk ke dalam mobil.
Tetapi langkahnya terhenti setelah berhasil membuka pintunya. Dia sempat melirik sinis ke Bunga di selingi senyum tipis yang mengejek.
"Apa itu??, , kenapa dia melihatku seperti itu??"
Bunga menghela nafas, merasa jengkel dengan Davien yang seolah benar benar merendahkannya.
"Apa sebenarnya yang aku lakukan hingga dia benar benar membenciku???, , apa perlu aku meminta maaf karena kajadian kemarin??"
"Bunga??" suara Roland seketika membuat Bunga sadar dari lamunan.
"He??, , maaf, ,e"
"Roland!!, panggil saja Roland, tidak perlu ada embel embel lain" dia mengulurkan tangannya, menunggu Bunga membalas.
Bunga pun membalas uluran tangannya.
"E, , iya aku"
"Bunga!" Roland menyebut namanya.
"Aku sudah tahu namamu" laki laki itu tersenyum.
"Aku antar kamu pulang"
"Tidak perlu, aku bisa" ucapanya terputus ketika Davien menginjak gas mobil hingga membuat kebisingan di telinganya.
Bunga menatap jengkel ke arah Davien yang ada di dalam mobil, laki laki itu kemudian melajukan mobilnya dengan cepat.
♡♡♡
Sudah berusaha menolak dengan sopan tetapi Roland tetap memaksa untuk mengantarnya pulang.
Perempuan itu sedikit membungkuk kepada Roland yang berada di dalam mobil sebelum laki laki itu pergi setelah mengantar Bunga.
Dia menghela nafas panjang, baru sehari bekerja tetapi sudah serasa satahun lamanya. Bunga melangkah masuk ke dalambrumah, meletakkan tas kemudian pergi ke kamar mandi.
Menatap bayangan dirinya di cermin, mencari kekurangan yang membuat Davien tak menyukainya.
"Apanya yang salah??" Bunga bahkan mencium aroma tubuhnya sendiri untuk memastikan bahwa apa yang di katakan Davien tidak benar.
Bunga tak mencium bau apa pun dari tubuhnya. Bahkan bau busuk seperti yang dikatakan Davien kepadanya.
Bunga mengehela nafas. Layaknya seperti pegawai lain di senagi atasannya, Bunga juga menginginkan hal itu.
"Apa sebenarnya yang dia benci dariku"
Bunga membungkuk, menyiram wajahnya dengan air dingin kemudian.
♡♡♡
Bunga terlihat sedang memilah milah belanjaan untuk kebutuhannya selama beberapa hari, tetapi pikirannya kacau ketika mendengar suara yang nampak tak asing di telinganya.
Bunga menggerakkan kepala untuk memudahkan dirinya melihat ke arah kasir, dia melihat seorang laki laki berdiri memakai hoddei berwarna hitam di sana.
Matanya mengerucut, Bunga mengerahkan semua tenaganya ke telinga agar bisa mendengar dan memastiakn siapa pemilik suara itu.
Davien lupa membawa dompetnya. Ingin membatalkan coklat yang telah di beli tetapi dia merasa malu.
"Aku bisa meninggalkan coklatnya sebentar??, , aku akan pergi mengambil dompetku!" ucapnya dengan tenang, namun wajahnya memerah karena malu.
Penjaga kasir hanya diam, menatap wajah Davien dengan tatapan tak percaya.
Melihat wajah penjaga kasir yang nampaknya ragu dengannya, Davien akhirnya memutuskan untuk membayar dengan jam tangannya.
"Kamu bisa menjual jam ini, uangnya untuk membayar tagihanku! dan sisanya bisa kamu ambil"
"Tapi tuan"
"Jam itu bisa untuk membeli rumah!" ucapnya memotong pembicaraan. Davien tak punya cara lain untuk membayar coklatnya. Jadi terpaksa memberikan apa yang melekat di tubuhnya karena teringat dompet tertinggal di atas nakas.
"Maaf Tuan tetapi, atasanku bisa marah jika"
__ADS_1
"Masukkan saja ke dalam tagihanku"