
"Itu, , aku" Cici masih berusaha menata hatinya. Dia merasa kecewa dengan sikapnya sendiri, karena selama ini telah menolak Aryo.
Penyesalan memang selalu datang terlambat dan kini Cici sedang menikmati perasaan itu.
"Ya ampuuunn! bahkan setelah orangnya pergi juga kamu masih belum bisa mengakui perasaanmu sendiri" Luna terus berusaha memaksa sahabatnya itu untuk mengungkapkan isi hatinya.
"Hei! kenapa jadi kamu yang emosi!!!" Cici mulai sadar dari lamunannya, bahkan dia berucap dengan nada tinggi ke arah Luna.
"Lagian cuma bilang, ya aku suka sama dia, aku mencintainya, aku tidak bisa jauh darinya. Cuma bilang begitu saja kenapa susahnya minta ampun?" Luna membalas ucapan Cici, perempuan itu juga menaikkan nada bicaranya.
Tangannya bergerak meraih gelas berisi air dingin dan menyesepnya sampai habis. Seolah dia benar benar kehabisan tenaga ketika menghadapi Cici yang terlalu lambat dalam memahami perasaannya sendiri.
"Ya! ya! ya!, , aku memang menyukainya. Aku mencintainya. Dan aku tidak bisa jauh darinya. Apa lagi?? apa lagi yang ingin kamu dengar dari mulutku?" nafas Cici terngah engah ketika berhasil mengungkapkan isi hatinya di depan Luna.
"Begitukah?" suara seorang laki laki terdengar dari arah belakang Cici.
Perempuan yang barusaja merasa patah hati itu seakan mendapatkan angin sejuk ketika mendengar suara yang tak asing di telinganya.
"Apa yang terjadi?, , apa aku terlalu berhayal?" Cici menepuk pelan telinganya untuk memastikan kalau dia tidak sedang berhalusinasi. Dia tidak berani menengok ke arah belakang karena rasa takut akan kebenaran bahwa itu semua memang halusinasi menguat di benaknya.
Luna hanya memgangkat ke dua pundaknya ke arah Cici, pipinya terlihat sedikit mengembang ketika menahan senyumnya.
Aryo menghela nafas panjang.
"Kenapa tidak melihat ke arahku untuk memastikan sendiri? bahwa kamu memang sedang berhalusinasi atau tidak?" ucap Aryo, laki laki itu berusaha memaksa Cici memalingkan wajah ke arahnya.
Pipi Cici merona, jantungnya berdebar kencang. Kini dia bangkit dari kursi dan memantapkan hati terlebih dulu sebelum memutar tubuhnya.
Luna mengangkat ke dua alisnya sambil memamerkan senyum manis ke pada Cici.
Perlahan Cici membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah Aryo.
Dia memaku tubuhnya ketika melihat laki laki itu berdiri di depannya.
"Apakah, semua yang aku dengar barusan itu, , benar?" Aryo memastikan sekali lagi. Sikapnya masih terlihat dingin kepada Cici.
Tetapi wajah dan matanya tidak bisa berbohong bahwa laki laki itu merasa sangat senang ketika mendengar bahwa Cici juga menyukainya.
"Kenapa kamu ada di sni? kamu bilang akan pergi ke Tokyo" ucapnya dengan jengkel.
Aryo tersenyum ketika mendengar ucapan Cici yang terdengar lebih kesal setelah melihatnya. Seakan perempuan itu tahu kalau Aryo sengaja melakukannya.
Flash back on
"ARYO!!!, , , JANGAN PERGI!!!"
Aryo menghentikan langkah kakinya ketika mendengar suara teriakan Cici.
Bahkan laki laki itu belum sampat melakukan cek in. Dia masih berdiri di sisi lain sambil mengawasi sikap Cici yang terlihat sangat frustasi dari arah ke jauhan. Aryo tersenyum ketika melihat raut wajah Cici yang nampak menyedihkan saat itu.
Setelah melihat perempuan itu melangkah keluar, Aryo memutuskan untuk melangkahkan kakinya mengikuti Cici. Dan dia mengurungkan niatnya untuk pergi ke Tokyo.
Flash back off
Aryo menarik tangan Cici dan mendekap tubuh perempuan itu dengan erat.
"Bisakah aku mendengarnya sekali lagi?" bisiknya.
__ADS_1
Cici terdiam, perempuan itu merasa bersalah.
"Maaf" ucapnya dengan nada rendah.
Aryo melepas pelukannya. Salah satu tangannya bergerak meraih tengkuk Cici dan satu tangannya lagi menggenggam erat tangan perempuan itu.
"Kenapa?, ,"
"Mmm, , aku" Cici menunduk karena merasa malu
Sementara Aryo membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Cici.
"Apa kamu benar benar menyukaiku?"
Mata Cici langsung menatap tajam ke arah Laki laki yang sedang tersenyum kepadanya.
"Iya aku tahu, aku sudah mendengarnya tadi, tapi aku ingin mendengarnya lagi"
Ke dua pipi Cici semakin bersemua merah.
"Aku menyukaimu" gumamnya.
"Apa?, , aku tidak mendengarnya" Aryo menurunkan nada bicaranya hingga terdengar sangat rendah di telinga Cici, laki laki itu bahkan berucap dengan sangat lembut.
"Aku"
Aryo semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Cici.
"Ggghhmmmm!!!" Luna berdehem, dia berusaha menjadi pengganggu di antara dua orang yang sedang di mabuk asmara.
Aryo merasa malu, kini laki laki itu mengurungkan niatnya ketika ingin mencium bibir Cici.
♡♡♡
Dia melihat ke arah Barack yang sudah terlebih dulu turun dari mobil dan menunggunya di sana.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" ucap Luna, ketika melihat Barack sedang memandang ke arahnya dengan tatapan terpesona.
Malam itu Luna terlihat sangat cantik menggunakan gaun pesta berwarna merah padam, dengan tatanan rambut yang tersusun rapih.
Barack mengajak Istrinya ke sebuah undangan pesta ulang tahun perusahaan yang di adakan oleh rekan bisnisnya di sebuah hotel.
"Kamu selalu berhasil membuat hatiku berbunga bunga bahkan hanya dengan memandangmu saja" ucapnya berusaha menggoda Luna.
"Kamu terlihat sangat cantik malam ini" Barack meraih tangan Luna, dia mendaratkan sebuah kecupan hangat di punggung tangan Istrinya.
Perempuan itu tersnyum dan membalas kecupan Suaminya di salah satu pipi laki laki itu.
Laki laki itu membalas senyum Luna.
"Ayo" Barack mempersilahakan Luna menggandeng lengannya.
♡♡♡
Di dalam sana Barack megajak Luna menemui rekan bisnisnya.
Dia seakan merasa bangga bisa memperkenalkan Istrinya itu.
__ADS_1
"Dia sangat cantik" ucap seorang Istri dari rekan kerja Barack kepada Luna.
Barack memalingkan wajahnya ke arah Luna yang setia berdiri di sampingnya.
"Dia memang selalu terlihat sangat cantik setiap hari" Barack membuat Istrinya semakin merasa tersanjung.
"Silakan nikmati pestanya, aku tinggal sebentar ya" ucap perempuan itu sambil melangkah pergi.
Barack kembali menatap Luna dengan lekat, hingga membuat perempuan itu menunduk karena merasa malu.
"Kenapa? jangan sembunyikan wajah cantimu" laki laki itu meraih dagu Luna dan memaksa perempuan itu kembali melihat ke arahnya.
Luna terkekeh kemudian, tangannya bergerak menepuk kecil dada Suaminya.
"Woooowww, , kalian terlihat sangat serasi malam ini" suara Helena terdengar sangat keras dari arah belakang Luna, bahkan mengalahkan suara musik yang menggema di ruang itu. Hingga memaksa Luna memalingkan wajahnya ke arah perempuan itu dengan cepat.
Raut wajahnya berubah seketika, saat melihat Perempuan yang sempat membuatnya cemburu, kini berada di antara dirinya dan Barack.
Matanya menatap tajam ke tangan Helena yang sedang meraih pundak Barack. Tangan perempuan itu bahkan bergerak pelan menuruni lengan Suaminya.
"Kamu tidak ingin mengenalkan Istrimu ini padaku?" ucap Helena kemudian.
"Helena, jaga sikapmu!" bisik Barack, sembari menggerakkan pundaknya untuk memberi isyarat kepada Helena agar perempuan itu berhenti menyentuh bagian tubuhnya. Barack menggelengkan kepalanya seakan dia tahu Helena sengaja melakukan hal itu.
Helena tertawa dia memang sengaja menggoda Barack di depan Istrinya.
Perempuan itu kini tersenyum ke arah Luna sembari mengulurkan tangan.
"Helena" ucap perempuan itu, dia memperkenalkan diri ke pada Luna.
Luna terdiam, dia berusaha keras manahan debaran jantungnya yang semakin keras karena menahan emosi.
Tangannya bergerak pelan menyambut uluran tangan Helena.
"Luna, ,Istrinya Barack" ucapnya dengan lambat dan penuh penekanan. Seolah dia sengaja ingin membuat Helena mendengar ucapannya dengan jelas.
Luna menarik tangannya kembali dan memeluk lengan suaminya kemudian. Dia srngaja memperlihatkan kepemilikan atas laki laki itu kepada perempuan di depannya.
Helena terkekeh lagi. Dia tahu dengan benar bahwa Luna sepertinya sudah merasa cemburu dengannya.
"Luna" Barack meraih tangan Istrinya.
"Aku akan mengambilkanmu minum" Ucapnya sembari melepas tangan Luna yang melingkar di lengannya.
Perempuan itu mengangguk pelan. Dia membiarkan Barack pergi untuk mengambil minum.
"Kalian terlihat sangat serasi" Helena berucap dengan nada rendah, namun terdengar seakan mengejek kapada Luna.
"Owh, , terima kasih. Bahkan kamu orang kesekian kalinya yang mengatakan hal itu" Luna memamerkan senyum manis, namun terlihat mematikan bagi Helena.
Helena tertawa kecil, perempuan itu merasa tak puas hanya dengan menggoda Luna sampai ditingkat itu.
"Kalungmu terlihat sangat indah" ucapnya sambil menyentuh kalung yang melingkar di leher Luna. Kalung itu adalah kalung yang kemarin deberikan oleh Barack pada Luna.
Luna memalingkan wajahnya ketika ketika Helena menggerakkan kepalanya mendekati kalung itu.
"Tetapi kenapa aku merasa tidak asing ya dengan kalung ini" Helena menarik kepalanya kembali, perempuan itu kini meraba bagian dagunya sendiri. Tangannya bergerak menuruni leher, seakan dia sedang menarik perhatian dari Luna.
__ADS_1
Dan benar saja, Helena berhasil membuat Luna melihat ke arah lehernya, tatapan matanya menurun ke arah bawah leher Helena yang terekspose.
Luna memaku ke dua matanya ketika melihat kalung yang menggantung di leher perempuan itu.