Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
15 S3: Love's Romance Nampak tak asing


__ADS_3

Davien terlihat ragu ketika menggerakkan tangannya meraih pundak Bunga saat ingin menepuknya perlahan untuk memberikan ketenangan pada perempuan itu. Tetapi akhirnya Davien melakukannya. Mengusap kemudian menepuk kecil pundaknya.


Konsentrasinya buyar, perempuan itu sangat wangi. Bahkan seharusnya Davien bisa mencium parfum yang di kenakannya. Tetapi aroma parfumnya tak bisa mengalahkan aroma wangi tubuh Bunga yang khas. Davien menggerakkan kepalanya mengecup telinga Bunga yang tertutup oleh rambut.


"Bunga?"


Mendengar suara beratnya, Bunga seketika sadar matanya terbuka lebar dan melepaskan pelukannya.


Bunga masih terbaring menatap wajah Davien yang tepat ada di depan matanya. Bunga terpaku ketika Davien mengusap air matanya.


"Kamu menangis karena bermimpi buruk?"


Bunga tersadar dari lamunan sesaat, dia segera duduk menghindari kedetakannya dengan Davien.


"Maaf, , apa Pres Dir sudah mau pulang?" Bunga beranjak dari kursi dan berbenah diri. Merapihkan baju serta rambut yang sempat acak acakan.


Davien tersenyum tipis.


"Bersiap siaplah aku akan mengantarmu pulang"


"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri!" Bunga berucap dengan tenang, mencoba menolak tawarannya. dengan sopan.


"Aku bilang aku menunggumu di luar!" geramnya, Davien sempat menatap jengkel sebelum melangkah keluar dari pantry. Seolah memberi peringatan kepada Bunga bahwa Davien gak main main ketika menawarkan untuk mengantarnya pulang.


♡♡♡


Bunga melangkah perlahan ketika matanya menyelidik ke luar lobi. Dia melihat Davien tengah duduk di dalam mobil karena sengaja menunggunya. Bunga bersikap seolah tak melihatnya, dia lebih memilih jalan kaki melewati halaman kemudian keluar dari perusahaan menuju halte.


Davien yang melihatnya pun perlahan melajukan kendaraannya. Mengikuti Bunga dari arah belakang. Keningnya berkerut ketika merasakan sikap Bunga yang keras kepala. Perempuan itu seakan tak menggubris permintaannya. Davien masih bertahan terus mengikuti Bunga dari belakang, namun perempuan itu masih tak bergeming. Sesekali dia membunyikan klakson untuk menarik perhahian Bunga. Perempuan itu tetap diam.


Davien akhirnya menepikan mobilnya, melangkah turun menghampiri Bunga. Dia meraih tangannya dan memaksa perempuan itu masuk ke dalam mobil.


"Aku bilang aku bisa pulang sendiri!" Bunga memaku tubuhnya.


Davien terdiam tangannya masih menggenggam erat pergelangan tangannya. Sementara langkahnya terhenti tepat di samping pintu mobil yang sebelumnya telah di buka.


Davien menoleh menatap nanar ke arah Bunga.


"Ini sudah malam, aku akan mengantarmu" Davien meminta Bunga untuk masuk ke dalam mobil.


Bunga tak ingin beradu mulut dengannya, dia memilih mengalah dan masuk kedalam mobil.


Suasana terasa sangat hening, hanya bunyi mesin yang menggema di rongga telinganya.


"Mulai besok aku akan mengantar jemput kamu!" Davien berucap sembari menatap lurus ke depan.


"Tapi," suaranya tersekat, sadar bahwa tak ada gunanya melawan Davien. Bunga pun memilih untuk diam.


Suasana kembali hening, sesekali Davien menoleh ke Bunga melihat perempuan yang sedang melamun menyangga dagu dengan tangan dan menatap keluar dari balik jendela.


"Dimana Nenekmu?" Davien memulai pembicaraan lagi. Teringat bahwa perempuan itu sempat menangis sambil memanggil manggil Neneknya, Davien akhirnya memutuskan untuk menanyakan keberadaannya.


Bunga sejenak terdiam, melirik Davien sesaat sebelum akhirnya berucap.


"Sudah meninggal, ," ucapnya lirih.


Davien menghela nafas panjang.


"Siapa lagi selain Nenekmu yang kamu miliki?" Davien terus mencoba menggali informasi tentang Bunga.

__ADS_1


"Tidak ada!" ucapnya seketika. Sebenarnya masih ada orang lain yang selalu mengganggu pikirannya. Dia seorang perempuan yang meninggalkannya sejak Bunga duduk di bangku SMP.


Dia adalah Ibunya, Laura lebih memilih pergi dan menikah dengan laki laki kaya dan memilih tak menganggap lagi Bunga sebagai Putrinya.


Matanya memerah seketika kemudian berkaca kaca setiap mengingat kembali tentang perempuan yang tega meninggalkannya. Bukan karena rindu melainkan karena benci hingga Bunga tak bisa mengendalikan perasaannya.


"Kamu menangis lagi?" ucap Davien ketika melihat Bunga mengusap air matanya.


"Tidak!, ,"


Bunga membuang pandangannya keluar. Pandangannya menyelidik ke setiap sisi jalan.


"Tunggu!" Bunga terkejut saat menyadari Davien mengantarnya pulang ke apartemen barunya.


Dia menoleh menatap aneh ke arah Davien.


"Dari mana kamu tahu aku pindah kemari?"


Davien menghentikan kendaraannya tepat di depan lobi apartement.


Sejenak terdiam ketika mendengar pertanyaan dari Bunga.


"James memberitahuku, dia sempat melihatmu keluar dari tempat ini tadi pagi"


Bunga terdiam mencoba mencerna ucapan Davien.


"Oh, ," tak lama Bunga melepas sabuk pengamannya. setelah itu dia melangkah keluar dari mobil. Menganggukkan sedikit kepalanya kemudian berjalan perlahan masuk ke dalam.


Davien masih terdiam, menatap Bunga yang semakin menjauh. Tak lama dia kembali menginjak pedal gas dan mengemudikan mobilnya.


♡♡♡


"Spesial untukmu" Aileen memutar tubuhnya menghadap David. Melingkarkan kedua tangan di leher Suaminya kemudian.


"Mandilah, , aku akan menyiapkan sarapan untukmu" perintahnya dengan nada lembut.


"Kiss me please!" David sedikit mendorong bibirnya maju, menunggu Aileen menciumnya.


Senyum manis mewarnai bibirnya sebelum menghadiahi David dengan sebuah kecupan.


David mengerutkan dahinya setelah mendapatkan sebuah kecupan dari Aileen.


"Aku bilang ciuman, bukan kecupan sayang"


Aileen terkekeh dia kemudian naik ke atas kaki David dan berjinjit untuk memudahkan dirinya ketika mencium bibir David. Laki laki itu hanya diam saat Bunga sibuk memainkan bibirnya.


"Astaga!, , haruskah kalian melakukannya di sini?" ucapnya dengan tenang, Davien yang baru saja datang terpaku di seberang meja setelah melihat kedua Orang tuanya sedang berciuman.


Davien menarik kursi, sembari duduk dia meraih roti dan pisau untuk mengambil selai coklat kesukaannya yang akan dia gunakan sebagai isian roti.


Aileen melepaskan pagutan bibir mereka, menyandarkan kepalanya di dada David untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.


"Maaf sayang, Mamahmu sudah tidak tahan. Aku bahkan sudah memintanya untuk melakukannya nanti saat kita berada di kamar. Tapi dia terus memaksaku melakukannya!" David berucap dengan tenang, sementara matanya menatap Aileen dengan tatapan menggoda.


"Apa sih!!" Aileen mencubit perutnya membuat David menghindar.


"Bagaimana dengan keadaanmu sayang?, , maaf. Mamah kemarin tidak bisa menjengukmu ketika kamu sedang sakit. Semalam kami juga baru saja pulang dari Tokyo. Bagaimana keadaanmu" Aileen berjalan mengitari meja mendekati Davien. Mencium ujung kepala Putranya kemudian.


"Tidak perlu khawatir Mah, , ada Bunga yang menjagaku kemarin" tangannya terpaku di udara ketika menyebut nama Bunga di depan kedua Orang tuanya.

__ADS_1


Sementara David dan Aileen saling melempar pandang satu sama lain. Sebelumnya mereka tak pernah mendengar Davien menyebut nama perempuan lain selain Essie.


Keningnya berkerut halus ketika menyelidik ke arah wajah putranya.


"Bunga??, , siapa dia?" Aileen mengangkat kedua alisnya.


"Bukan siapa siapa!" Davien meletakkan pisau, melipat roti menjadi satu bagian kecil kemudian melahapnya perlahan.


"Kamu tidak sedang berbohong kan sayang?" Aileen menarik kursi dan duduk si seberang meja.


Davien menghela nafas panjang, meletakkan sisa roti di atas piring. Tangannya meraih segelas susu yang sudah di persiapkan oleh Aileen lalu menegugnya sedikit demi sedikit hingga habis tak tersisa.


"Mah, ," Davien mengalihkan pandangannya ke Ailean.


"Ceritakan bagaimana dulu Papah mendapatkan cintamu" Davien berusaha menglihkan pembicaraan.


Bukannya membuat Aileen tenang, dia dan David malah semakin resah ketika mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulutnya.


David berdehem mencoba mencairkan suasana.


"Bersikaplah sedikit agresif Davien, jika kamu ingin mendapatkan Bunga" David berucap seolah dia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Putranya.


"Kamu ingin mendapatkannya bukan??" ucapnya merujuk kepada Bunga.


"Lupakan Pah!, , aku sebenarnya hanya ingin tahu bagaimana perjalanan cinta kalian" Davien beranjak dari kursi, setelahnya berjalan mendektai Aileen. Mengecup punggung tangan dan ujung kepalanya kemudian melangkah pergi.


Aileen menghela nafas panjang.


"Setelah beberapa tahun dia tak bercerita mengenai masalah pribadinya, sekarang kamu malah menambah masalah!, , Davien pasti marah karena kamu menggodanya"


"Aku tidak sedang menggodanya, , aku hanya mengajari bagaimana caranya mendapatkan seorang perempuan" David mendekati Aileen yang masih terduduk di kursi. Tangannya telah merangkup pipinya.


"Aku berharap dia bisa mendapatkan perempuan sepertimu, ," David membungkuk mendekatkan wajahnya. Memempelkan hidungnya ke hidung Aileen kemudian berbisik.


"Sebelum aku mandi, , bolehkah kita melakukannya lagi?"


♡♡♡


Karena Bunga yakin bahwa Davien tak main main dengan ucapannya, perempuan itu memilih untuk berangkat kerja lebih pagi. Dia mempercepat langkahnya menuju halaman depan. Tetapi seketika langkahnya terpaku saat melihat Davien ternyata sudah berdiri sambil bersandar di mobilnya di halaman depan lobi.


Dadanya berdebar ketika menyadari bahwa laki laki itu terlihat sangat tampan. Setelan jas abu abu gelap yang melekat di tubuhnya membuat Davien semakin terlihat indah.


Ketika ingin mendekatinya, kakinya terpaku seketika saat Bunga melihat sebuah mobil berhenti di belakang mobil milik Davien. Ujung matanya mengerucut ke arah pintu yang terbuka.


"Ka Marvel??," Bunga ingin berlari menghampiri laki laki itu untuk menghindar dari Davien.


Tetapi tubuhnya kembali terpaku, bahkan tak bisa bergerak sedikit pun ketika melihat Marvel berjalan ke sisi lain dan membukakan pintu mobilnya untuk seseorang.


Matanya membulat, rahangnya menguat saat melihat wajah seorang perempuan yang sangat tak asing baginya keluar dari mobil.


Bunga sedikit menggerakkan tubuhnya mundur kebelakang, berusaha untuk menghindar.


Di sisi lain Davien yang sedari tadi telah mengawasi Bunga mulai mengalihkan pandangannya ke arah di mana Bunga melihat.


Davien terdiam melihat Marvel menggandeng tangan seorang pempuan. Mereka berdua rerlihat masuk ke arah dalam apartement.


Bunga memutar tubuhnya menyembunyikan diri ketika mereka berdua berjalan melewatinya. Dia menoleh melihat kearah Marvel dan perempuan itu ketika mereka berdua bergerak menjauh. Matanya menyelidik, berusaha memastikan bahwa perempuan itu tak menyadari keberadaannya. Nafasnya memburu, keringat dingin seketika membasahi keningnya. Bunga berusaha mengatur nafasnya saat merasa dadanya berdetak kencang tak beraturan.


Laura, perempuan yang tak ingin dilihatnya lagi, tiba tiba muncul kembali.

__ADS_1


"Apa hubungan mereka??"


__ADS_2