Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#166 Mencuri waktu


__ADS_3

"Hallo??" Barack berucap dengan lirih.


"Bisa kita bertemu?" suara sahutan seorang laki laki terdengar dari seberang sana


Barack melirik ke arah Luna, melihat perempuan itu masih dengan posisi semula, Barack pun melanjutkan percakapannya dengan seseorang di ponselnya.


"Baiklah, aku akan mengirim alamat di mana kita akan bertemu" dia mamatikan ponselnya.


Kakinya melangkah perlahan mendekati ranjang, ujung matanya masih tertuju ke arah Luna yang masih memunggunginya. Setelah meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas, Barack berjalan ke arah kamar mandi.


Tak membutuhkan waktu lama, Barack keluar dari kamar mandi. Dia bersiap siap untuk pergi bertemu dengan anak buahnya.


Pandangan matanya mengawasi ke arah Luna yang masih terdiam, laki laki itu memutuskan untuk menghampiri Luna.


"Sayang kamu belum bangun?" ucapnya dengan lembut.


Barack mengecup kening Luna yang kini sudah membuka matanya.


"Badanmu panas?" Barack memastikan suhu tubuh Luna dengan punggung tangannya.


"Aku baik baik saja!" Luna berucap dengan susah payah, dia terlihat sangat lemas.


Barack hanya berfikir kalau itu semua pasti karena ulahnya semalam yang sudah menyiramnya dengan air dingin.


"Kamu tidak baik baik saja!, , kamu demam!, , kita ke dokter? aku akan mengantarmu sebelum aku pergi" ucapnya di penuhi nada kekhawatiran yang teramat.


"Tidak perlu, setelah istirahat sebentar juga akan kembali normal" suaranya terdengar sangat sumbang karena hidungnya pun seperti tersumbat, hingga membuatnya sulit untuk bernafas.


"Kamu yakin?, , setelah urusan selesai aku akan segera pulang. Sebentar aku akan menghubungi Lilis untu datang kemari, agar dia mengurusmu. Nanti aku juga yang akan menjemput David" Barack meraih ponselnya yang ada di atas nakas untuk menghubungi Lilis.


♡♡♡


Barack menghentikan mobilnya di salah satu depan Cafe. Dia terlihat berjalan ke arah dalam untuk menemui seseorang yang terlebih dulu sampai di sana.


"Maaf menunggu lama?"


Laki laki itu adalah anak buah Barack, dia yang diutus untuk mencari informasi tentang Adrian.


Dia menunduk memberi hormat kepada Barack.


"Apa yang kamu dapatkan?" Barack tak basa basi, dia langsung menuju ke intinya.


Anak buahnya mengeluarkan sebuah foto dan biodata dari orang yang berada di foto tersebut, kemudian menyodorkan keduanya ke arah Barack.


Kening Barack berkerut, matanya nampak menyelidik ke arah foto dan biodata secara bergantian.


Barack membaca biodata itu dengan teliti.


"Ernest??"


"Iya, itu nama mantan sekretaris Adrian yang berhenti 10 tahu yang lalu, dia ikut bekerja bersama Adrian selama 14 tahun. Dia menghilang setelah kematian Felis"


"Dia menghilang setelah kematian Felis??, ," Barack berucap untuk memastikan dirinya.


"Dia menghilang, atau bersembunyi??" tambahnya, Dahi Barack berkerut, dia memutar otaknya untuk berfikir keras


"Maksudmu?"


"Nathan bilang, ada seseorang yang mengirim surat gelap ke kantor polisi setelah Alex di fonis mati. Di dalam surat tertulis bahwa bukan Alex pelaku pembunuhan atas kematian Felis. Melainkan Adrian. Tapi di saat hari dimana dia seharusnya memberikan keterangan ke pihak kepolisian orang itu menghilang"


"Menurutmu, orang itu adalah Ernest??"


"Hanya dugaanku, Satya juga pernah mengatakan hal itu sebelumnya. Tetapi aku tidak bisa memastikan kalau Ernest yang mengirim surat itu ke pihak polisi" Barack menyelidik sekali lagi ke arah kertas di tangannya.


"Ini alamat rumahnya?"


"10 tahun yang lalu, itu memang tampat tinggalnya. Aku sudah pergi untuk mengecek tempat itu, tetapi di sana seperti rumah yang sudah tak ditinggali lama. Seluruh isi rumah hancur berantakan"


"Dia pasti tahu sesuatu, Ernest orang terdekat dengan Adrian. Menghilang setelah kematian Felis!. Rumahnya hancur berantakan!. Dia pasti saat ini sedang bersembunyi di tempat lain. Dia bersembunyi karena telah mengetahui kebenaran yang sesungguhnya" Barack menatap lekat ke arah Anak buahnya.


"Apa rencana kita selanjutnya?"


Barack mengela nafas panjang, dia berusaha menetralkan perasaannya yang semakin tidak nyaman.


"Bawa semua anak buahmu untuk mencari keberadaan Ernest!, , sebelum kita kedahuluan Adrian, karena pasti laki laki itu akan mengejar Ernest sampai dapat!" terlebih lagi kini Adrian sedang dalam keadaan tidak baik karena masalah kejadian semalam. Dia ingin segera menjebloskan Adrian ke dalam sel, karena hanya itu salah satu jalan yang bisa membuat dirinya dan Luna hidup dengan nyaman tanpa di bayang bayangi rasa ketakutan.


♡♡♡

__ADS_1


Di sebuah kota yang lumayan jauh dari perkotaan, terlihat seorang laki laki memakai masker hitam untuk menutupi sebagian wajahnya. Dia terlihat keluar dari sebuah minimerket dengan membawa sebuah kantong plastik.


Dia keluar dari tempat itu dengan pandangan mengawasi ke arah sekitar, seolah dia sedang berjaga jaga dari seseorang.


Laki laki itu memaku langkahnya ketika merasa seseorang sedang mengikuti dirinya dari arah belakang. Tak perlu berfikir panjang, dia langsung berlari sekencang mungkin.


Melewati setiap gang, hingga harus naik pagar bahkan melompat untuk menghindari laki laki yang sedang mengejarnya.


Akhirnya dia menemukan tempat aman untuk bersembunyi sementara, sambil menunggu mereka mereka yang mengincarnya pergi dari tempat itu.


Laki laki itu membuka maskernya, untuk mempermudah dirinya bernafas. Dia kelelahan karena harus memanjat pagar beberapa kali untuk menghindari orang yang sedang mengejarnya.


Laki laki itu adalah Ernest, orang yang sedang di cari oleh Barack.


Kini dia sedang menghindar dari kejaran anak buah Adrian.


Setelah beberapa menit dan situasi kembali lebih nyaman, Ernest keluar dari tempat persembunyiannya.


Dia berjalan perlahan dengan waspada menuju ke tempat tinggalnya yang sekarang.


Ernest telihat memasuki sebuah rumah tua yang tak jauh dari tempat di mana tadi dia sempat bersembunyi.


Di sana dia tinggal sendiri dan tak ada seorang istri mau pun anak.


Setiap hari dia hidup dengan mengais sampah dan di jualnya kembali untuk membeli sebungkus nasi dan minum demi bertahan hidup.


Hidupnya seperti di neraka, dia selalu berpindah pindah tempat untuk menghindari kejaran anak buah Adrian.


♡♡♡


"Ayah!!" David berteriak memanggil Barack setelah melihat laki laki itu berdiri di samping mobilnya.


David berlari ke arah Barack dengan wajah penuh kegembiraan.


"Semalam Mamah tidak pulang, apa dia bekerja sampai larut malam?"


"Mamah sedang demam Sayang, maaf karena Ayah semalam tidak memberimu kabar. Kita pulang ya?" Barack mengusap lembut kepala David.


Anak kecil itu hanya menganggukkan kepalanya.


♡♡♡


Luna berusaha bangun, dia kini memposisikan dirinya duduk di atas ranjang. Pipinya terlihat sangat memerah karena demamnya.


Lilis meletakkan nampannya di atas nakas dan membantu memasang bantal di belakang punggung Luna agar perempuan itu merasa nyaman.


"Terima kasih" ucap Luna.


Lilis tersenyum, dia mengambil sebuah termometer dan memberikannya kepada Luna.


Setelah beberapa saat, Lilis mengambil alat itu dari mulut Luna.


"41??? Mbak suhu tubuhmu sangat tinggi!, , bagaimana kalau kita pergi ke dokter?" ucapnya dengan rasa penuh kekhawatiran.


"Tidak apa apa setelah minum obat nanti juga mereda"


"Kalu begitu aku akan menyuapimu!" Lilis mengambil piring dengan beberapa jenis lauk dan menyuapi Luna dengan perlahan.


Hanya beberapa suap, setelah itu Luna tak mau lagi dan dia memilih untuk meminum obatnya.


"Mbak Luna istirahat lagi ya?, , aku akan memasak untuk makan malam nanti, sebelum mas David pulang"


Luna hanya mengangguk dan mempersilakan Lilis keluar dari kamar.


♡♡♡


"Mah??" suara David terdengar nyaring di rongga telinga Luna ketika anak itu masuk ke dalam kamar dan berlari ke arahnya.


Barack mengikutinya dari arah belakang.


Luna tersenyum, dia membalas pelukan putranya.


Setelah berhasil memeluk Luna, tiba tiba David menarik tubuhnya menjauh dari peremouan itu.


"Mamah baik baik saja?, , tubuh Mamah panas sekali?"


Luna semakin terlihat pucat saat itu, Barack yang semula masih berdiri untuk berganti baju, kini dia berjalan mendekati Luna.

__ADS_1


Menggunakan punggung tangannya untuk memastikan suhu tubuh Luna.


"Kamu sudah minum obat?"


Perempuan itu menganggukkan kepalanya.


"Tapi kenapa badanmu lebih panas dari tadi pagi?, ,kita ke dokte, tidak!! kita ke Rumah Sakit dan tidak ada penolakan!!"


Barack berucap seolah dia tahu Luna akan menolak untuk pergi ke Rumah Sakit.


Akhirnya dia pun Dia menggendong Luna dan membawanya keluar dari kamar.


♡♡♡


"Dia hanya demam, , Anda tidak perlu khawatir, saya sudah menyuntikkan obat ke dalam cairan infus. Dalam satu jam mudah mudahan panasnya akan menurun" setelah memeriksa keadaan luna Dokter pun keluar.


Barack mendekati Lun dan duduk di bibir ranjang.


"Maaf sayang. Itu pasti karena semalam aku menyimrammu dengan air dingin!" Barack mengusap lembut wajah Luna. Wajahnya terlihat akan guratan rasa penyesalan yang sangat dalam.


"Iya, , aku sudah tidak memikirkan itu lagi. David dimana?" Luna nampak membuang pandangannya ke arah lain untuk mencari keberadaan Putranya.


"Dia di rumah, aku menyuruh Lilis menjaganya, ini sudah malam. Kamu istirahat ya?, , aku akan berjaga di sini. Oh ya besok jika aku berangkat kerja, aku akan menyuruh Anak buahku berjaga di depan"


"Kenapa?, , " dahi Luna bekerut.


"Mmm tidak apa apa, , hanya saja aku akan merasa tenang ketika ada orang yang menjagamu" Barack mengecup kening Luna, setelahnya dia beranjak dari ranjang.


Namun Luna meraih tangannya, dan menghentikan langkah Barack.


Laki laki itu memalingkan wajahnya ke arah Luna dan mengangkat kedua alisnya.


"Kenapa?"


"Bisakah kamu menemaniku tidur di sini?, aku pikir ranjang ini cukup untuk kita berdua"


"Kamu tidak akan bisa bergerak dengan nyaman nanti?, , kalau aku tidur di sini bersamamu" Barack mencoba menolaknya dengan halus, walau pun sebenarnya dia juga ingin sekali menemani Luna tidur di sana.


"Lupakan!" Luna menarik tangannya, dia kini mengubah arah tidurnya dengan memunggungi Barack


Laki laki itu terkekeh, akhirnya dia memutuskan naik ke atas ranjang mengangkat kepala Luna agar bersandar di salah satu tangannya, kemudian satu tangannya lagi melingkar di pinggang Luna dan memeluk peremouan itu dari arah belakang.


"Tidurlah, aku akan memelukmu sampai besok pagi" Barack mengecup kepala Luna sebelum akhirnya memejamkan matanya.


Sementara dari sisi lain Luna terlihat tersenyum manis.


♡♡♡


"Selagi aku sedang tidak ada di sini, kamu harus berjaga di luar. Jangan biarkan orang lain masuk!" Barack berucap dengan lirih kepada Anak buahnya yang telah berdiri di depan pintu kamar inap.


Laki laki itu hanya menganggukkan kepala


Setelahnya Barack pergi meninggalkan tempat itu.


Tak selang waktu berapa lama, seorang dokter dengan mengenakan masker terlihat berjalan ke arah ruang kamar inap di mana Luna berada.


Dia melewati Anak buah Barack dan masuk ke dalam ruang itu.


Dia melangkah mendekat ke arah Luna yang tengah tertidur di atas ranjang.


Dokter membuka maskernya, dan ternyata dia adalah Adrian. Dia menyamar menggunakan pakaian Dokter dan masker untuk menutupi wajah. Agar mempermudah dirinya untuk bertemu dengan Luna.


Luna merasakan ada gerakan seseorang yang telah brdiri di depannya. Dia pun perlahan membuka mata. Betapa terkejutnya perempuan itu ketika melihat Adrian tengah tersenyum sambil menatapnya.


Luna langsung bangun, dia terduduk di atas ranjang dengan waspada. Dia benar benar sangat muak melihat wajah laki laki yang sudah menghancurkan rumah tangganya.


"Sssshhhhhh!!!, , jangan berteriak. Aku tidak akan menyakitimu!" Adrian berucap dengan lirih, dia membungkuk mendekati Luna menggunakan kedua tangannya untuk menyangga tubuhnya di atas ranjang.


Tubuh Luna bergetar, dia menarik dirinya ke arah belakang menjauh dari Adrian.


"Apa yang kamu lakukan disini?"


"Jangan takut Luna" Adrian ingin meraih kening Luna dan membelai lembut di sana, tetapi perempuan itu terlanjur menghindar.


Laki laki itu terkekeh setelah mendapat penolakan dari Luna.


"Aku hanya ingin melihatmu, bagaimana kamu bisa berada di sini?" sikap tubuhnya memang terlihat tenang namun pandangan mata Adrian terlihat tak seperti biasanya, kali ini terlihat lebih mengerikan di banding malam itu. Malam di mana laki laki itu menciumnya secara paksa.

__ADS_1


__ADS_2