Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
110. Side Story 10 Lelaki Misterius


__ADS_3

“Ke mana kau akan pergi?” tanya Juliette. Sejak tadi senyum tak pernah hilang dari bibirnya selalu menghiasi wajahnya karena Juliet idolanya berada di sana.


Beberapa kali Xander melirik kekasihnya, melihat ekspresi perempuan yang dicintai tampak bahagia.


Sementara gadis yang duduk di kursi belakang masih terlihat syok, melamun bukan karena memikirkan dirinya yang terjebak di lingkaran kerumunan tapi karena kejadian aneh yang belum bisa dia terima dengan nalarnya.


Xander hanya diam fokus ke jalan karena sedang menyetir, tapi dia tahu kalau Juliet selalu memikirkan kejadian aneh yang baru saja terjadi. Dari kaca sepion yang ada di bagian depan terlihat bola matanya bergerak menatap bayangan Juliet yang terpantul di sana. Tatapan matanya terlihat santai seperti umumnya manusia lain yang sedang menatap satu obyek yang ingin dilihat tapi mata Xander yang begitu tajam hampir selalu membuat orang ketakutan seolah lelaki itu tengah mengintimidasi hanya dengan menggunakan tatapan matanya yang biasa.


“Juliet??!” seru perempuan itu lagi ketika tak mendengar sahutan.


“He?” Juliet tersadar dari lamunan. “Uhm... a.aku harus pergi ke rumah sakit X... bisakah kalian mengantarku ke sana?” ucapnya gugup. Juliet sempat mendengar kabar dari orang rumah yang mengirim pesan kepadanya, mengatakan bahwa ibunya akan segera melahirkan. Maka dari itu Juliet bermaksud untuk segera pergi menemuinya.


“Oh, oke tenang saja kita akan mengantarmu ke sana!”


Sesampainya di rumah sakit Juliet bergegas turun dari mobil. “Uhm... sebelumnya aku benar-benar berterima kasih karena kalian sudah menolongku. Suatu saat nanti jika kita bertemu lagi izinkan aku membalas kebaikan kalian!” ucap Juliet.


“Eh jangan sungkan Juliet, justru aku merasa senang bisa membantumu! Semoga siapa pun yang sedang di rawat di rumah sakit ini segera sehat kembali.”


Juliet mengangguk tersenyum tipis, tapi ketika ingin melangkah turun dari mobil pandangannya teralihkan ke kaca sepion depan. Di mana di sana Juliet bisa melihat kedua mata Xander dengan jelas sedang menatap kearahnya. Auranya begitu dingin dan misterius. “Terima kasih!” ucapnya sekali lagi tapi kini ditujukan hanya kepada Xander.


Lelaki itu tidak bereaksi hanya diam membisu membalas tatapan Juliet dari kaca sepion.


Greb!! Gadis itu kemudian berlari menuju lobi rumah sakit.


“Juliette? Kenapa denganmu? Bukankah kau bilang kau merasa senang karena bertemu idolamu?” Xander melihat perubahan ekspresi muram pada wajah kekasihnya.


“Tentu saja aku senang, tapi aku melewatkan momen untuk meminta tanda tangannya secara langsung padahal Juliet sudah ada di depan mata dan sangat dekat... tapi aku tidak tega karena dia terlihat begitu sedih dan sangat syok!”

__ADS_1


“Tetap berada di mobil, aku akan segera kembali!” Xander melepas sabuk pengamannya.


“Xander?!! Kau mau pergi ke mana?” seru Juliette.


Lelaki itu tak menyahut setelah turun dari mobil dengan santai dan langkah kakinya yang begitu lebar dia berjalan masuk menuju lobi.


“Permisi?!” ucapnya setelah berhasil menemukan keberadaan Juliet yang sedang berdiri di depan lift.


Gadis itu menoleh terkejut melihat keberadaan lelaki yang sempat menolongnya ada di sana. “Anda? E.e... apa ada sesuatu?” ucapnya gugup. Juliet yang begitu pendek merasa dirinya sangat kecil di depan Xander yang bertubuh tinggi dan tegap, postur tubuhnya sangat besar bahkan bisa dibilang melebihi batas normal tubuh manusia yang sering dia temui.


Lelaki itu sejenak terdiam menatap lekat kedua mata Juliet. Sementara Juliet yang sedang menunggu Xander berucap pun mau tidak mau ikut diam membalas tatapan matanya.


Hening, untuk kedua kalinya setelah kejadian di jalan raya Juliet bisa merasakan suasana aneh itu lagi. Tapi ketika menatap matanya semakin dalam, mata Xander seolah mengajak Juliet memasuki alam lain. Entah itu nyata atau hanya bayangan Juliet saja, tapi setelah melihat matanya yang berwarna biru Juliet seakan ditarik masuk melewati sebuah cahaya putih.


Sinarnya yang terlalu terang memaksa Juliet memejamkan matanya sesaat. Setelahnya secara perlahan matanya kembali terbuka. Tetapi saat itu Juliet telah menemukan dirinya berada di suatu tempat aneh yang sangat tidak asing baginya.


Semuanya putih seolah tak berujung, tempat itu mengingatkan Juliet pada mimpi beberapa tahun lalu sebelum kalung milik ibunya hilang. Hah! Hah! Nafasnya berubah kasar. ‘Bagaimana bisa aku tiba-tiba berada di sini?’


‘Suara itu lagi?’ Juliet mendengar suara berat yang tak asing telinganya.


“Permisi?!”


Suara itu semakin terasa dekat, Juliet merasa ditarik paksa keluar dari tempat itu oleh suara lelaki yang didengarnya.


“Nona? Anda baik-baik saja?” Xander berucap dengan nada berat. Matanya yang tajam menyipit kearah Juliet.


“Eh??!” Juliet tersadar dari lamunan. Ekspresi wajahnya berubah seketika. Bibirnya mengembang tersenyum seperti tak ada beban. “Ada yang bisa aku bantu, Paman?” sahut Juliet.

__ADS_1


Xander terdiam sesaat kemudian menunduk seperti sedang mengendalikan sesuatu dalam dirinya. Setelah itu tangannya bergerak mengeluarkan nota kecil dan pena dari saku yang tersimpan di dalam jas. “Kau bisa tanda tangan di sini?” dia mengulurkan nota catatan dan pena kearah Juliet.


Gadis itu menyambutnya dengan senyum ceria. “Tentu saja, Paman!” Juliet mengambil alih pena dan nota dari tangannya. “Siapa nama Paman? Aku akan menuliskannya di sini!”


“Itu untuk kekasihku!” sahutnya.


“Waaahhh... beruntung sekali perempuan yang menjadi kekasihmu, Paman! Hehe... katakan padaku siapa namanya? Aku akan menulisnya di sini.”


Sesaat Xander terdiam, entah apa yang sedang dia pikirkan tapi ekspresi wajahnya yang datar membuat orang di sekitarnya tak bisa membaca apa yang ada di pikirannya. “Juliette!”


“Ya?” Juliet merasa teepanggil namanya.


“Juliette, itu nama kekasihku!” jelasnya.


“Oh! Haha... maaf aku pikir Paman sedang memanggil namaku. Wah bisa kebetulan seperti ini... nama kita sama. Juliet!”


“Doble t dan diakhiri dengan e!” tambahnya, Xander berucap menjelaskan penulisan nama Juliette untuk kekasihnya. Pelafalan yang sama hanya saja penulisannya yang berbeda untuk nama mereka.


“Ah, aku mengerti!” Juliet telah menulis nama dengan huruf yang sama seperti nama dirinya.


JULIET. Tapi setelah mendengar penjelasan dari lelaki itu Juliet mencoret nama yang baru saja di tulis olehnya. JULIET lalu menggantinya dengan JULIETTE.


“Silakan!” Juliet mengembalikan pena dan nota kepada Xander. “Maaf harus ada coretan di sana, karena aku sempat salah menulis nama kekasihmu, Paman!”


Xander tak bereaksi apa pun kecuali mengucapkan sepatah kata kepada Juliet. “Terima kasih!”


“Oke Paman! Salam untuk kekasihmu yang bernama Juliette!” gadis itu melambaikan tangannya kearah Xander tak lupa memamerkan senyum ceria sebelum masuk ke dalam lift.

__ADS_1


Apa yang sebenarnya terjadi saat itu, Juliet yang tadinya muram sedih kini berubah ceria seolah tak terjadi apa pun hari itu. Seketika lupa dengan insiden mengerikan di jalan raya tadi yang nyaris merenggut nyawanya.


Juliet bahkan pergi menemui ibunya dengan perasaan tenang bercampur bahagia saat berada di dalam lift.


__ADS_2