
David menarik tubuhnya lalu menyandarkan punggung di sandara kursi mobil. Laki laki itu menghela nafas sambil menengadahkan kepala.
Sejenak dia sempat memejamkan matanya. manikmati perasaan yang bergejolak di dalam hati, dia merasa tidak yakin kenapa dirinya selalu merindukan perempuan itu. Bahkan kini dia merasa tak sanggup berlama lama untuk pisah jauh dari Aileen.
David berdecak jengkel, dia membenci dirinya yang lemah karena seorang perempuan. Itulah kenapa David selalu menolak untuk jatuh cinta kepada seorang perempuan.
Perasaan di mana dia bersama Carol atau wanita lainnya sungguh sangat berbeda ketika David saat sedang bersama dengan Aileen.
Perempuan itu seperti Heroin, yang ketika kita mencicipinya sekali maka akan menimbulkan keinginann lagi dan lagi untuk menikmatinya. Seperti itulah yang sedang dirasakan oleh David.
David merasa tidak yakin bahwa saat ini dirinya berada di posisi itu. Di mana dia merasa tidak bisa jauh dari Aileen. Tetapi di sisi lain David juga sangat membenci dirinya yang tidak bisa mengontrol perasaannya ketika saat sedang bersama Aileen. Di sisi lain lagi David bukan tipe orang yang bisa menjalani hubungan dengan ikatan setatus. Baginya berkencan dan berpacaran adalah dua hal yang berbeda. Jika selesai berkencan setelahnya mereka bisa jalan masing masing, itu menurut pendapat David. Sementara kalau pacaran itu hubungan yang pastinya akan membuatnya pusing dan merasa ribet karena terlalu banyak larangan ini itu dari pasangannya. Itulah kenapa David tidak suka menjalin hubungan dalam suatu ikatan. Intinya karena laki laki itu masih ingin bebas tanpa ada yang melarangnya.
Tetapi semenjak hadirnya Aileen, sikapnya mulai berubah. Dia tak menyukai perempuan posesif. Namun kini malah dirinya yang bersikap posesif terhadap Aileen. Bahkan perasaan ingin memiliki tubuh perempuan itu menggebu gebu ketika dirinya berada di dekat Aileen, bahkan rasa kegelisahan dan tak tenang akhir akhir ini sering menyelingkupi tubuhnya.
"Apa seperti ini rasanya merindukan seseorang yang di cintai??"
"Tunggu!!, ,cinta??? apa aku sudah gila??." gumamnya, kemudian David menghela nafas panjang.
"Iya sepertinya aku gila karena perempuan itu" terusnya sambil memukul setir mobil.
David mulai memijat keningnya, tak luput dia kadang menarik, menjambak rambutnya sendiri karena bingung dan tak yakin dengan apa yang dia rasakan saat ini.
"Aku ingin mendengar suaranya"
David meraih ponsel dari dalam saku jas.
"Angkat Aileen!!, , biarkan aku mendengar suaramu sebentar saja!" David terlihat sangat frustasi. Dia berharap mungkin hanya dengan mendengar suara Aileen dapat memberi ketenangan di dalam hatinya.
"Hallo!!" Sahutnya dengan cepat ketika panggilannya tersambung.
"Ya??" suara Aileen menggema di telingga David seketika.
Laki laki itu terlihat menghela nafas penuh kelegaan. Suara Aileen seolah telah menyirami bagian dadanya yang gersang hingga kembali subur.
Namun setelah mendengar suara bising di sekitar Aileen, David mulai kembali terlihat tak tenang.
"Kamu dimana??" keningnya berkerut.
"Aku di Rumah Sakit!"
"Apa??, , Rumah Sakit mana!!" Raut wajahnya langsung berubah seketika.
Tanpa mendengar penjelasan dari Aileen terlebih dulu, David langsung mengendarai mobilnya dengan cepat menuju ke Rumah Sakit di mana Aileen berada.
♡♡♡
Setelah sampai di Rumah Sakit David langsung meloncat turun dari mobil. Tak menghiraukan perutnya yang sudah perih karena dari siang dia belum makan, David malah sibuk mencari Aileen di sana.
David berlari kecil masuk ke dalam lobi Rumah Sakit, sambil menyelidik kesetiap sudut ruangan dia melangkah mendekati meja reseptionis.
"Permisi!" David berusaha mengatur nafasnya yang memburu.
"Iya Tuan ada yang bisa saya bantu?"
"Apa ada pasien baru bernama Aileen?" Nafas david masih terdengar kasar, dadanya pun terasa nyeri karena merasakan kehawatiran yang teramat.
"Maaf, , kami belum mendapat laporan tentang pasien baru bernama Aileen"
David terlihat semakin kebingungan, sambil mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya. Dia berjalan mendekati salah satu pilar di sana.
"Kenapa dia senang sekali membuatku khawatir!!, , apa lukanya kembali membuka!!"
David menjauhkan ponsel yang semula sempat dia tempelkan ke telinga setelah tak mendapat jawaban dari Aileen.
Sekali lagi dia mencoba menghubungi perempuan itu.
"David??" suara mungil Aileen menggema di telinga David, laki laki itu seketika memutar tubuhnya. Ujung matanya langsung tertuju dimana suara itu berasal.
Senyum tipis bahkan hampir tak terlihat menghiasi bibir David. Laki laki itu mempercepat langkahnya menghampiri Aileen.
Ada kelegaan di dalam hatinya, seperti berkilo kilo pemberat yang sempat menggantung di dadanya telah menghilang sudah. Tangannya meraih jemari perempuan itu, sentara matanya menyapu setiap jengkal tubuh Aileen untuk memastikan keadaannya.
"Kamu baik baik saja???, , kakimu?" David tak bisa membayangkan apa yanga akan terjadi dengan dirinya jika mengetahui Aileen terluka lagi.
"Aku baik baik saja!" Aileen merasa heran ketika melihat wajah David yang tak seperti biasanya. laki laki itu terlihat sangat berantakan.
"Aku malah lebih mencemaskanmu!, , kenapa kamu terlihat berantakan!"
David tersadar bahawa dirinya telah bersikap berlebihan kepada Aileen. Dengan cpeat David menaraik tanganya kembali dan memasang wajah datarnya.
"Baguslah kalau kamu baik baik saja!, , lalu kenapa kamu ada di sini?. Siapa yang sakit?" David membuang padagan kearah lain, dia bersikap seolah tidak mengkhawatirkan keadaan Aileen. Namun terlambat, Aileen ternyata sudah menyadarinya sejak tadi hingga membuat perempuan itu menahan senyumnya.
"Adiknya Koyoko!, , kamu ingin menemuinya" Aileen mengangkat kedua alisnya kearah David untuk memastikan apakah laki laki itu mau menerima tawarannya.
David hanya melirik kearah Aileen.
"Boleh!" ucapnya kemudian tanpa ragu.
♡♡♡
Dari balik tembok kaca, David dan Aileen terlihat mengamati keadaan di dalam ruangan ICU itu.
Mereka melihat Koyoko mengenakan pakaian khusus sebagai stndarisasi ketika masuk ke dalam ruang ICU, perempuan itu sedang duduk di samping ranjang untuk menemani adiknya.
__ADS_1
"Adiknya mengidap kanker otak. Aku sengaja memaksa Koyoko untuk membawa adiknya berobat di Rumah Sakit yang lebih besar. Agar adiknya segera mendapatkan perawatan intensif"
David hanya terdiam mengamati keadaan di dalam sambil mendengarkan ucapan Aileen.
Ujung matanya bergerak mengikuti gerakan tubuh Koyoko yang beranjak dari kursi dan berjalan melangkah kearah pintu.
Setelah melepas pakaian khususu untuk masuk ruang ICU, Koyoko berjalan keluar menemui Aileen.
"Aku akan menemani adikku di sini!, , kamu tidak apa apakan pulang sendiri??" Ucapnya kepada Aileen.
"Iya, , kalau begitu aku pergi sekarang ya?" Aileen memeluk sahabatnya sebelum pergi meninggalakan tempat itu.
Koyoko mengarahkan pandangannya kearah David, kemudian menundukkan kepalanya sebelum kembali masuk ke dalam.
David berjalan mengikuti langkah Aileen sambil terus mengingat ingat wajah Koyoko.
♡♡♡
Mobil yang di tumpangi David terlihat berhenti di lampu merah.
Di dalam sana David masih terus berusaha mengingat wajah Koyoko yang nampak tak asing baginya.
Sementara Aileen yang duduk di sampaingnya hanya melirik sambil menyelidik kearah David.
"Ada apa denganmu?"
David menyipitlan matanya.
"Temanmu itu, , aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat"
"Dia bekerja di tempat karaoke itu. Kamu kan sering kesana, , ya pastilah sering bertemu dengannya!" Aileen bersedakap, dia terlihat jengkel ketika mengingat tempat karaoke itu.
David melirik kearah Aileen. Dia menatap perempuan itu dengan lekat.
"Kamu juga bekerja di sana kan?" ucapnya dengan nada menuduh.
Aileen menghela nafas panjang sebelum menceritakan yang sebenarnya kepada David.
"Aku malam itu sebenarnya hanya menggantikan Koyoko yang hari itu tidak bisa masuk kerja!!, ? itu pun juga sehari!" gumamnya di akhir kalimat.
Entah kenapa David merasa senang ketika mengetahui kebenaran bahwa Aileen bukan pekerja tetap di tempat itu.
"Tunggu!!, , tapi aku benar benar merasa pernah melihat temanmu itu di tempat lain!" David terlihat sedang berfikir keras untuk mengingatnya.
"Iya!!, ,aku melihatnya beberapa waktu yang lalu dengan Jacq di hotel X" dia merasa girang karena akhirnya bisa mengingat perempun itu.
"Apa??" Aileen langsung mengalihkan pandangnnya kearah David.
"Apa mereka berkencan??" gumam David, kemudian menipiskan bibirnya. Dia juga merasa tidak yakin dengan hal itu.
"Memangnya kalau seorang laki laki dan perempuan itu berkencan" Dia sejenak menghentikan ucapannya seolah tak yakin dengan apa yang akan dia ucapkan selanjutnya.
"Apa mereka harus pergi ke hotel" Dengan polosnya Aileen melontarkan kalimat yang seketika membuat David terkekeh.
Laki laki itu mengalihkan pandangannya kearah Aileen, dia menatap wajah perempuan itu dengan lekat.
"Kalau iya, , apa kamu berfikir kenapa aku belum membawamu ke hotel, begitu??" ucpaan yang keluar sari mulut David membuat Aileen menganga dan membulatkan penuh matanya.
"Tidak tidak!!! aku tidak pernah berfikir seperti itu!, , " pipi Aileen bersemu. Dia sepetinya sadar telah melempar pertanyaan yang seharusnya tak di lontarkan kepada David.
David mendorong tubuhnya mendekati Aileen yang dudu di sampingnya. Mendekatkan wajahnya hingga tinggal sejengkal jarak diantara wajah mereka.
David semakin memeperdalam tatapan matanya, kemudian berbisik.
"Jika kamu tidak keberatan, , kita bisa pergi ke hotel sekarang" suara David terdengar sangat rendah hingga Aileen yang mendengarnya merasa kegelian. Sementara senyum sensual itu menghiasi bibir David.
Aileen terkejut dengan apa yang diucapkan oleh David, mulutnya semakin terbuka lebar hingga akhirnya dia membungakam mulutnya dengan tangannya sendiri.
"Kenapa?? bukankah kita sudah berkencan dari beberapa minggu yang lalu? David melanjutkan ucapannya.
Dada Aileen berdetak tak karuan, darahnya berdesir ketika suara lembut yang sengaja di buat agar terdenga sexsi itu menggema ditelinganya.
Ujung matanya bergerka kearah lampu yang sudah berubah warna. Aileen pun langsung mengalihkan pembicaraan.
"Lampunya sudah berubah, jalankan mobilmu!!"
David menarik kembali tubuhnya menjauh dari Aileen. Dia tersenyum senang kemudian setelah berhasil menggoda Aileen.
♡♡♡
"Kenapa berhenti di sini!!" protesnya ketika mengetahui David menghentikan laju kendaraannya di depan sebuah restoran.
David melepas sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya.
"Aku belum makan siang tadi, karena sibuk memikirkan" Seketika David memaku bibirnya. Tidak mungkin baginya mengakui kalau dirinya memikirkan Aileen seharian ini.
"Karena aku terlalu banyak memikirkan pekerjaan!!" tambahnya, David kemudian melangkah turun dari mobil dan berjalan kearah lain membukakan pintu untuk Aileen.
"Aku tidak lapar!!" Aileen berusaha menolak ajakan David, dia juga tidak mau turun dari mobil.
"Kalau begitu pilihanmu hanya ada dua!!, , kita makan sekarang. Atau kita ke hotel!!" ucapnya tersirat akan sebuah ancaman. David tahu Aileen pasti tak bisa membantahnya kali ini.
"Kita makan!!, , sekarang" perempuan itu akhirnya keluar dari mobil yang kemudian membuat David terkekeh karena sikap dan rasa ketakutan Aileen.
__ADS_1
Di sela sela makan malam, Aileen memutuskan untuk memulai pembicaraan.
"Setelah ini aku ingin langsung pulang!!"
David meraih gelas dan menegug isinya perlahan. Setelahnya dia berucap dengan nada berat.
"Kenapa buru buru?, , apa kamu tidak suka berada di dekatku?" David berucap seolah dia bisa membaca pikiran Aileen.
Tanpa basi basi Aileen pun berucap.
"Ya!!, , anggap saja seperti itu!"
David meletakkan gelas keatas meja dengan sedikit tekanan. Sengaja agar terdengar keras hingga Aileen mengalihkan pandangan kearahnya.
Dan ketika ujung mata Aileen bergerak melihat wajah David, saat itu juga laki laki itu berucap lagi.
"Apa kamu tidak menyukai saat saat sedang bersamaku?"
"Kenapa memangnya?" dahi Aileen berkerut.
"Aku sedang bertanya, kenapa kamu menjawab pertanyaanku dengan sebuah pertanyaan lagi!, , "
"Yaa, ,anggap saja selerti itu!, ," lagi lagi Aileen menjawabnya dengan sepele.
"Dan setelah apa yang aku lakukan kepadamu, tidak adakah sedikit rasa di hatimu untukku?" ujung mata David mengerucut kearah Aileen.
"Tidak!" Aileen menjawab dengan pasti tanpa keraguan.
"Tidak???" David berucap dengan penuh penekanan, mengulangi ucapan Aileen untuk memastikan selali lagi.
"Ee, , sedikit!"
"Apa maksudmu??" David merasa bingung dengan jawaban Aileen yang berputar putar..
"Maksudku!!"
Dreett!! dreett!!
Ucapan Aileen terpotong ketika ponselnya bergetar. Tangannya bergerak meraih ponsel dari dalam tas dan memastikan siapa yang sedang menghubunginya.
"Kak Kenzi??"
Aileen seketika melirik kearah david yang sedang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
Dengan sedikit ragu, Aileen mengangkat panggilan dari Kenzi tanpa menjauh dari David agar laki laki itu tak mencurigainya.
Pasalnya Aileen tahu jika Kenzi yang sedang menlponnya pasti dia akan merebut ponsel itu darinya. Dia bisa memastikan itu setelah kemarin David sempat mengubah nama Kenzi di kontak ponselnya dengan nama Si bodoh.
Dan Aileen tidak ingin David melakukan hal yang nantinya kana membuat kesalah pahamann di antara dirinya dan Kenzi.
"Gmmm" Aileen berdehem menetralkan perasaannya sebelum menjawab panggilan itu. Sementara matanya tertuju kearah David yang masih setia menatapnya bahkan saat ini pandangan mata David semakin terlihat menajam kearahnya.
"Hallo?" ucapnya menyahut panggilan tersebut.
"Aku ada di bandara Charles De Gaulle" suara Kenzi terdengar dari ujung ponsel Aileen. Charles De Gaulle adalah bandara Internasional yang berada di paris.
Mata Aileen terbelalak. Dia tak pernah menyangka kalau Kenzi akan datang ke paris untuk menemuinya.
"Benarkah?" Raut wajah Aileen berubah drastis. Guratan kebahagiaan terlihat jelas di wajah perempaun itu.
David yang mengamati wajahnya dari tadi mulai semakin penasaran.
"Baiklah aku akan segera menjemputmu!" Aileen mematikan ponselnya, dia kemudian beranjak dari kursi tanpa menghiraukan keberadaan David di sana.
"Tunggu!!" David telah menahan tangan Aileen, dia mencengkeram pergelangan tangan perempuan itu.
"Mau kemana kamu. Makananmu belum habis" David menggunakan kepalanya untuk menunjuk makanan milik Aileen yang masih ada di atas meja.
"Aku sudah kenyang!!, , aku harus segera pergi ke Bandara!, lepaskan tanganku" Aileen mencoba untuk melepaskan diri dari genggaman tangan David.
"Ke Bandara?, , ini sudah hampir jam 9 malam. Kamu mau ke bandara sendiri?" Kening David mulai terlihat berkerut. Dia sangat tidak menyukai jawaban yang keluar dari mulut Aileen.
"Lepas!, , aku harus pergi sekarang!!"
"Tidak mau!!, , katakan padaku. Mau bertemu dengan siapa di Bandara??" Pandangan mata David semakin menajam. Dia tidak ingin Aileen pergi saat itu.
David sudah membuat Aileen merasa jengkel hingga akhirnya dia secara gamblang menyebut nama laki laki itu di depannya.
"Kak Kenzi!!, , aku harus menjemputnya di Bandara!!" Aileen berucap tanpa keraguan sedikit pun.
Aileen tidak ingin tahu kalau ucapannya akan membuat David semakin tak bisa menahan emosinya. Baginya yang terpenting sekarang adalah pergi menemui Kenzi.
"Aki tidak mengijinkanmu menemui laki laki itu!"
"Kenapa!!" Kedua Alis Aileen menyatu, dia seolah sedang berusaha melawan perintah laki laki itu. Bagi Aileen David tak berhak melarangnya untuk bertemu dengan Kenzi.
"Karena kamu"
"Berhenti mengucapkan kalau aku ini milikmu!!" Aileen memotong pembicaraan kemudian Dengan sikap berani dia menentang laki laki itu.
"Aku bukan milikmu!!, aku bukan milik siapa pun!!, aku milik diriku sendiri!!"
Dan saat itu juga tangan Aileen langsung terlepas dari genggaman David.
__ADS_1
Aileen sedikit terkejut ketika David melpaskan tangannya dengan mudah. Karena biasanya David tak akan semudah itu melapaskan Aileen.
Dadanya berdenyut hingga terasa sangat nyeri di bagian sana, David mengalihkan pandangannya dari Aileen ketika dia melepaskan tangan perempuan itu. Baru kali ini dia mendapat penolakan secara mentah mentah dari seorang perempuan, dan saat ini juga David merasa berada di titik terendah di hadapan seorang perempuan.