
Tubuh Aileen terpaku melihat pemandangan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Jantungnya berdetak dengan cepat hingga memaksa nafasnya memburu. Dadanya terasa perih ketika melihat perempuan itu mendaratkan sebuah kecupan di pipi David.
David dan Aileen saling menatap satu sama lain. Perempuan itu terlihat ragu ketika ingin melangkah masuk lebih kearah dalam.
Aileen mencoba menelan ludahnya dengan susah payah.
Tubuhnya bergetar ketika selangkah demi selangkah dia berjalan mendekat kearah sana.
Setelah berhasil mengecup pipi david, Carol yang menyadari bahwa ada seorang perempuan yang masuk ke ruang kerja itu langsung menarik tangannya. Tetapi David dengan sengaja malah menahan kedua tangan Carol agar bertahan di dadanya.
Aileen mengalihkan pandangan matanya kearah tangan David yang sedang menggenggam tangan Carol.
Carol terlihat mengerutkan dahinya, dia menunduk melihat kearah David ketika laki laki itu berusaha menahan tangannya.
"Bukankah dia menyuruhku untuk pergi??"
Carol kembali mengangkat wajahnya dan menatap kearah Aileen.
"Kenapa ketika perempuan ini masuk, David malah menahan tanganku??"
Carol tersenyum sinis, ujung matanya kemudian mengerucut kearah Aileen.
"Kamu??"ucapnya meurujuk kepada Aileen.
"Sayang bukankah dia yang menjadi model di iklan perusahaan Ayahmu kemarin??"
David masih terdiam, dia sengaja menahan tangan Carol agar bertahan melingkar di tubuhnya. Dia ingin melihat Aileen akan bereaksi seperti apa ketika melihatnya.
"Sayang???, , cocok!, , kalian benar benar terlihat sangat cocok!!, , beruntung aku belum terlalu jauh berharap kepada laki laki menyebalkan ini. Playboy kelas kakap memang benar benar sebutan yang pas untuknya!!"
Aileen menghela nafas panjang sebelum akhirnya dia meletakkan botol termose itu di atas meja.
"Maaf, , mungkin aku datang di waktu yang tidak tepat. Tetapi aku datang kemari karena harus mengantar ini" Aileen terlihat sangat gugup, dia selalu berusaha untuk menghindari kontak mata secara langsung dengan David.
Laki laki itu hanya diam, senyum tipis mewarnai bibirnya ketika melihat ekspresi wajah Aileen saat itu.
"Terima kasih, seharusnya kamu tidak perlu repot repot untuk mengantar ini. Atau karena sengaja ingin bertemu denganku dan menjadikan ini sebagai alasannya??" David menarik tubuhnya maju mendekati meja hingga secara tak langsung membuat Carol melepaskan tangannya.
Dia meraih botol termose itu, kemudian menatap Aileen dan botol di tangannya secara bergantian.
Aileen berusaha keras menahan perasaannya. Dia hanya memamerkan senyum terpaksa kearah David.
"Iris tadi meminta tolong kepadaku untuk mengantarkan minuman itu. Dia memohon karena Kakaknya sempat mengeluh sakit perut tadi pagi" Aileen menyipitkan matanya kearah David.
"Mungkin karena dia terlalu banyak minum kemarin malam! hingga mabuk dan tidur di kamar orang" Dengan lantang Aileen berucap, bahkan tanpa keraguan sedikit pun.
Carol yang merasa seperti tak di anggap mulai bergerak mencari perhatian David. Perempuan itu menyentuh pipi David dan memaksa laki laki itu menghadap kearahnya.
"Sayang kamu minum sampai mabuk??, , bukankah Dokter bilang kamu tidak boleh banyak minum??"
Aileen terkekeh, ada rasa jengkel di dalam hatinya ketika melihat perempuan itu bersikap manis kepada David. Dia merasa hubungan mereka berdua sepertinya sudah sangat dekat. Hingga apa yang menjadi larangan bagi David perempuan itu sangat mengetahuinya dengan baik.
"Maaf, , aku permisi dulu. Aku tidak akan mengganggu waktu kalian lagi" Aileen tersenyum manis kearah David, namun saat di mana dia membalikkan tubuh detik itu juga senyumnya menghilang.
"Apa ini??, , kenapa dadaku terasa sangat sesak!!, , bahkan untuk bernafas saja aku harus bersusah payah untuk melakukannya!"
Aileen melanglah keluar sambil menepuk pelan bagian dadanya. Berusaha membuat sedikit lega agar memudahkan dirinya untuk bernafas.
Sementara Carol yang masih bertahan di dalam sana mulai melihat kearah David dengan tatapan aneh.
"Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku David??"
__ADS_1
"Memang kamu pikir hubungan kita sedekat apa hingga aku harus menyembunyikan sesuatu darimu??" David mendorong tubuh Carol karena menghalangi jalannya.
David beranjak dari kursi kemudian melangkah keluar untuk mengejar Aileen.
"Serapat apa pun kamu menyembunyikannya dariku, , aku pasti akan bisa menemukannya David!"
♡♡♡
David meraih tangan Aileen, dia mencoba menghentikan perempuan yang sedang tersulut emosi.
"Ai??" dengan kuat David menarik tangan Aileen, hingga tubuh perempuan itu ikut tertarik kemudian membentur tubuhnya.
Brughh!!
David menggunakan satu tangannya lagi untuk menahan pinggang Aileen agar perempuan itu tak menjauh darinya.
Aileen berusaha berontak, agar David melepaskan tubuhnya.
"Lepas!!, , David!! di sini banyak yang melihat kita!!" tatapan Aileen menajam kearah David.
"Lalu, , apa kita harus mencari tempat yang sepi??" laki laki itu mengangakat kedua alisnya.
Aileen berdercak jengkel setelah endengar ucapan David.
"Ini bukan waktunya untuk bercanda!!"
"Kamu pikir aku sedang bercanda??. Aku tidak akan melepaskanmu!" bisik David. Membuat perempuan itu membulatkan mata seketika.
Aileen menatap tajam kearah David, dia benar benar tidak mengerti dengan jalan pikiran laki laki itu.
"Apa sebenarnya maumu??" Aileen menggertakan giginya untuk menahan suaranya agar tak mencuat keluar hingga menarik perhatian orang, dia menggunakan kedua tangannya untuk menahan dada David. Agar memeberi jarak di antara tubuhnya dan tubuh laki laki itu.
Tetapi David tak mau kalah. Dia juga semakin mengeratkan tangannya mendorong pinggang Aileen agar semakin merapat ketubuhnya.
"Kenapa kamu melakukan ini kepadaku Ai??, , " suara David terdengan parau, laki laki itu kemudian melepaskan tangannya perlahan.
"Memang apa yang aku lakukan kepadamu!!" raut wajah Aileen terlihat kebingungan.
David terdiam tak bisa menjawab pertanyaan Aileen.
"Dari awal kamu yang selalu berusaha untuk mendekatiku. Kamu yang selalu meyakinkanku kalau kamu benar benar menginginkanku, membutuhkanku. Beberapa hari ini kamu juga yang tiba tiba menghindariku, menjauhiku. Dan hari ini kamu memperlihatkan kepadaku kedekatanmu dengan perempuan lain. Lalu kenapa kamu bertingkah seolah akulah yang melakukan sesuatu kepadamu??"
Aileen melangkah mundur menjauh dari David ketika melihat bayangan Carol melintas di ujung matanya.
"Kembalilah!!, , kekasihmu sedang menunggumu!!" Aileen memutar tubuhnya, melangkah pergi menjauh dari David.
♡♡♡
"Hati hati ya Kak" Aileen menepuk pelan punggun Kenzi. Laki laki itu akan kembali ke Tokyo malam ini.
Kenzi melepas pelukannya, tangannya mengacak acak ujung rambut Aileen kemudian.
Setelahnya Kenzi mengalihkan pandangan matanya kearah Iris. Perempuan itu terlihat murung ketika tahu bahwa Kenzi akan kembali ke Tokyo.
"Kemarilah" Kenzi membentangkan tangan menunggu Iris menyambut pelukannya.
Iris terlihat ragu, tetapi Aileen seketika mendorong tubuh perempuan itu kedalam dekapan Kenzi.
Dia terlihat malu sekaligus sedih. Tetapi Kenzi mempu membuat Iris kembali tersenyum.
Kenzi menunduk mendekatkan bibirnya ke daun telinga Iris.
__ADS_1
"Aku akan sering sering menghubungimu"
Iris menarik kepalanya menjauh dari Kenzi. Perempuan itu terlihat tersipu malu.
"Bolehkah aku melakukannya??" Dengan lembut Kenzi membelai pipi Iris.
Iris terkejut dengan pertanyaan Kenzi.
"Apa??" tanyanya kemudian.
"Menghubungimu, ,aku akan sering mengganggu waktumu nanti, bolehkah aku melakukan itu??"
"Oohh, , boleh" ucapnya dengan malas.
Kenzi menyelidik kearah wajah Iris yang terlihat sedikit kecewa.
"Apa kamu berfikir ke hal lain sebelumnya??"
" E, , tidak. Aku tidak berfikir kearah lain!"
Kenzi terkekeh, setelahnya dia menarik tangannya kembali.
"Aku akan masuk, jaga dirimu baik baik"
Aileen melambaikan tangannya kearah Kenzi ketika laki laki itu beranjak pergi.
Tetapi seketika Kenzi memaku langkahnya sebelum masuk melewati pintu pembatas antara pengunjung dan penumpang.
Laki laki itu memutar tubuhnya kemudian melangkah kembali mendekati Iris.
Kedua tangannya merangkup pipi perempuan itu.
"Aku pasti akan kembali" Kenzi kemudian mengecup bibir Iris dengan lembut.
Aileen yang menyaksikannya pun di buat terkejut. Dia membungkam mulut dengan tangannya rapat rapat, sementara matanya terbelelak lebar.
Kenzi menarik kepalanya menjauh dari Iris.
"Beberapa bulan lagi, aku akan kembali untuk menjemputmu!" Kenzi kembali mencium bibir Iris, kali ini ciumannya terjadi lumayan lama. Setelah mendengar panggilan untuk para penumpang Kenzi menyudahi pagutan bibir mereka.
Tangannya bergerak mengusap lembut bibir Iris yang basah sisa ciumannya.
Kenzi tersenyum sambil melangkah menjauh dari Iris.
Sementara perempuan itu masih terlihat syok. Iris merasa hampir mati berdiri karena ulah Kenzi. Dia sebelumnya tak menyangka bahwa Kenzi akan bertindak sejauh ini.
"Apa secara tidak langsung dia sedang melamarmu??" Aileen yang semakin mendekati Iris juga terlihat tak percaya dengan kejadian yang baru saja terkadi di depan matanya.
"Aileen, apakah aku sedang bermimpi??" mereka saling menatap satu sama lain.
"Bolehkah aku menamparmu untuk memastikan??" ucap Aileen tanpa rasa bersalah.
Pandangan Iris terlihat kosong, perempuan itu melamun kemudian mengangguk memperbolehkan Aileen menampar pipinya.
Plaaakk!!!
"Aaileeeeennn!! ini sangat sakit" Iris menggeram kesakitan. Aileen telah menamparnya dengan sangat kencang.
"Berarti kamu sedang tidak bermimpi??"
Iris baru tersadar, tangannya masih mengusap pipinya yang terasa panas.
__ADS_1
Mereka berdua pun terlihat senang hingga menautkan jari jemari mereka kemudian berlompat lompat kegirangan.