Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#149 Kebersamaan


__ADS_3

Setelah mobil berhenti di tempat biasanya supir menjemput David. Luna langsung meloncat keluar dari mobil. Matanya menyelidik ke seluruh tempat itu.


Nafasnya memburu karena tak menemukan Putranya di dana. Dan jelas saja, malam itu sudah lewat pukul 9 malam.


Mini market masih buka, tempat itu sangat ramai orang berlalau lalang. Namun matanya tak dapat menemukan David.


"Mbak" Lilis meraih pundak Luna. Dia mencoba menenangkan perempuan itu.


"Dia tidak mungkin pergi jauh Lis. Ya ampuuun kemana dia pergi?" Luna memijat pelan keningnya, seolah dia benar benar sudah kehilangan akal untuk mencari keberadaan David.


Pikiran buruk menggelayuti benaknya.


"David!! di mana kamu sayang?. Mamah takut terjadi sesuatu dengamu. Apa yang harus Mamah lakukan jika kamu menghilang seperti ini"


Ekspresi wajahnya terlihat datar, namun Air mata mulai menetes dengan sendirinya.


"Kita berpencar!" ucapnya seketike.


"Mbak tapi!" Lilis mencoba menghentikan Luna. Namun keinginan perempuan itu sungguh sangat besar.


Luna mengusap airmatanya yang membasahi pipi.


"Aku akan naik taxi. Kamu jangan khawatir. Pergilah dengan supir" perintah Luna tak terbantahkan.


Lilis berjalan menuju ke mobil, dia menyuruh supir pergi ke arah lain untuk mencari David.


Luna menekuk ke dua lututnya, perempuan itu berjongkok menyimpan wajahnya di sela sela lutut.


"Baru semalam Mamah melihat senyum kamu sayang. Dan sekarang kamu menghilang??. Kenapa tidak cerita dengan Mamah jika memang kamu ada masalah, jangan perg seperti ini"


Seketika wajah Luna memaku, dia berdiri dan meraih ponsel dari dalam saku jaket tebal yang membalut tubuhnya. Dan detik itu juga salju berjatuhan dari langit. Membuat udara semakin bertambah dingin di sana.


Luna menyalakan GPS, dia melihat posisi David melalui ponselnya.


Wajahnya penuh harap, semoga Putranya tak mematikan ponselnya. Perempuan itu menghela nafas lega ketika dia mendapatkan lokasi keberadaan David.


Dia berlaki cepat ke arah jalan menghentikan taxi dan menuju ke tempat, di mana David berada.


"Tolong antarkan aku ke Nice"


♡♡♡


Barack membantu David melepas sabuk pengamannya. Anak itu tertidur pulas ketika dalam perjalanan pulang.


Perjalanan jauh yang cukup memakan waktu lama, karena Barack harus keluar kota ketika ingin membawa David ke pantai.


Karena di tempatnya hampir semua pantai sudah tertutup salju. Dan untungnya ada beberapa bagian di sana, masih ada pantai yang airnya belum membeku. Walau pun udaranya sudah terada dingin.


Mereka berdua memekai kaos couple berwarna baby pink yang di beli oleh Barack ketika berada di pantai. Tentunya malam itu merka di balut jaket tebal karena di daerah Barack tinggal, salju mulai turun dengan lebat.


Barack membuka pintu dengan perlahan agar tak menganggu David. Dia turun dan mengitari mobil menuju ke arah berlawanan untuk membuka pintu di mana David barada.


Laki laki itu menggendong tubuh David. Membawanya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Barack meletakkan David di atas ranjang yang berada di ruang santai. Ruangan itu terbuka hingga bisa melihat pandangan pantai yang sudah membeku dari sana.


Barack sebenarnya ingin menjual rumah itu juga, namun rumah itu ada kenangan di mana dirinya dan Luna menikah. Sehingga Barack memutuskan untuk tetap merawat rumah itu dengan baik.


Laki laki itu menarik selimut, menutupi tubuh David hingga pinggangnya. Sejenak dia duduk di tepi ranjang. Menatap lekat wajah Anak kecil itu.


"Kenapa aku bisa sangat menyukaimu?"


Tangannya bergerak mengusap pipi David dengan lembut.


"Mungkin, Putraku juga sudah sebesar dirimu saat ini?, , "


David terbangun karena merasakan gerakan di ranjang itu.


"Kamu terbangun?" Barack merasa menyesal telah membuat David terganggu tidurnya.


Anak itu langsung mengubah posisinya, dia duduk menghadap ke arah Barack.


"Maaf sudah membuat Om harus menggendongku" ucapnya kemudian.


"Bicara apa kamu!!, , Omlah yang seharusnya meminta maaf karena sudah mengganggu tidurmu"


David tersenyum, dia turun dari ranjang dan berlari mengitari rumah itu.


"Rumah Om sangat nyaman" David mengulas senyum manis ke arah Barack.


Mata Barack bergerak mengikuti David.


"Kamu menyukainya?"


"Andai Mamahku mau di ajak tinggal di sini" gumamnya.


"Kenapa?" Barack tak bisa mendengar dengan baik ucapan David.


"Ee, , tidak Om. Bukan apa apa!" David melangkah mengikuti laki laki itu menuju ke arah dapur.


Barack membuka kulkas, mengambil sebotol susu murni. Menuangkannya ke dalam panci kecil, memanaskan sebentar sebelum memebrikannya kepada David.


"Minumlah" Barack menyodorkan segelas susu hangat itu ke arah David yang setia berdiri di sampingnya.


Barack berjalan ke arah ruang Tv, dan David pun mengikutinya dengan gelas yang masih menempel di mulutnya.


Barack sedikit melirik ke arah David, dia merasa geli ketika melihat Anak itu selalu mengekorinya kamanapun dia pergi. Barack mencoba menggoda David.


Setelah duduk di sofa, dia langsung beranjak lagi, berjalan ke arah halaman belakang. Seperti yang sudah di perkirakan David pun demikian, sembari menghabiskan susunya sedikit demi sedikit dia mengikuti Barack berjalan ke arah halaman belakang.


Laki laki itu terkekeh kemudian.


David menjauhkan gelas dari bibirnya. Dia merasa Barack sengaja melakukan hal itu.


"Om sengaja menggodaku ya!!" Ucap David, dia meletakkan gelas yang sudah kosong di atas meja.


Barack pun tertawa, dia senang bisa menganggu David.

__ADS_1


"Om tidak menggodamu" Barack berucap seolah dia memang tidak ingin terlihat dengan sengaja melakukannya.


"Om pasti sengaja kan!!" David berlari ke arah Barack, laki laki itu terlanjur menjauh terlebih dulu sebelum David menangkapnya.


Barack berlari ke arah luar halaman belakang. Di sana salju nampak sudah sangat lebat. Mereka berdua berlari berkejar kejaran seperti sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara.


Seharian David selalu tersenyum ketika menghabiskan waktunya bersama dengan Barack. Begitu juga dengan laki laki itu.


Kini David nampak berhenti, dia menghela nafas. Sementara tangannya bergerak membuat bola bola kecil dari salju.


Barack seakan tahu apa yang selanjutnya akan di lakukan oleh Anak itu.


Dia pun melakukan hal yang sama. Mulai membuat beberapa bola kecil dari salju.


Namun belum selesai satu buah, Davit telah berhasil melemparinya dengan bola salju ke arahnya.


Barack menatap David dengan membulatkan penuh matanya, namun bibirnya tersenyum lebar.


David pun tertawa senang.


Barack tak mau kalah. Dia semakin gencar membuat bola bola salju yang lebih besar.


"Aduh Om, , ampun. ampun. Kenapa bola salju Om besar sekali"


Barack tertawa ketika melihat David lari terbirit birit saat melihat bola saljunya yang sangat beasar.


♡♡♡


"Maaf Pak!!, , bisakah kamu lebih cepat?" Luna semakin tidak sabar, dia ingin segera bertemu dengan putranya.


Perjalan menuju ke Nice tak membutuhkan waktu lama. Beberapa menit kemudian dia akhirnya sampai.


Matanya menyelidik ke luar.


"Ini bukankah jalan menuju rumah Barack"


Luna baru tersadar bahwa Nice, adalah tempat di mana dia dan Barack menikah.


Pandanganya beralih ke layar ponselnya. Dia melihat dirinya semakin sekat dengan posisi David.


"Berhenti pak!" ucapnya seketika.


Perempuan itu memaku tubuhnya saat taxi berhenti tepat di depan rumah Barack. Dadanya berdetak dengan sangat kuat.


"Tidak mungkin, , apa benar David ada bersama dengan Barack?? apa yang David lakukan di sini??" apa Barack sudah mengetahui kalau Dia adalah Putranya?"


Luna menggeleng tak percaya. Pikirannya mulai meracau, dia tidak pernah mengira sebelumnya. Bagaimana mungkin David bisa bersama dengan Barack. Hal yang seharusnya tidak mungkin akan terjadi.


Tangan Luna bergerak pelan membuka pintu, dia turun dari mobil. Sesekali dia mengalihkan pandangannya ke arah layar untuk memastikan sekali lagi bahwa David memang berada di sana.


Luna ingin sekali menyangkalnya, namun kenyataan bahwa Putranya memang berada di sana.


Langkah kakinya terlihat semakin pelan ketika semakin dekat dengan pintu.

__ADS_1


Luna nampak ragu, dia berusaha menata hatinya sebelum tangannya menekan bel rumah itu.


Luna menghela nafas panjang kemudia.


__ADS_2